Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan siang bersama
Jika kamu merasa sakit, menangislah sampai hatimu lega. Setelah itu, berhenti dan tataplah ke depan. Masih banyak jalan menuju kebahagiaan.
{ Adnan}
🌞🌞🌞
Usai kepergian Alina. Riko pun turut menyusulnya keluar ruangan. Ia meminta Adnan, untuk mempertimbangkan pendapatnya sebaik mungkin.
Riko keluar, melirik sekilas pada Alina. Wanita itu tampak sedikit murung. Tentu saja. Bagaimanapun ia mendapati sebuah berita yang menyangkut perusahan keluarganya. Hati kecilnya tetaplah bersedih, meski terbalut senyum tipis yang terlukis indah di bibirnya.
Riko kembali melangkah. Ia berniat pergi ke lantai 5, untuk bertemu kembarannya. Dengan menggunakan lift khusus, Riko sampai di lantai yang diinginkan. Baru saja keluar dari lift, tiba-tiba dari arah kanan seorang gadis yang membawa sebuah cup kopi menabraknya hingga menumpahkan sedikit kopi ke kemeja Riko.
"Ya Allah, maaf." Tangan gadis itu mengambil sebuah tisu di saku rok sepan-nya yang hanya di bawah lutut, dan langsung membersihkan noda kopi di baju Riko. "Maaf, aku tadi buru-buru."
Tanpa melihat siapa lelaki yang telah ditabraknya ia terus mengoceh.
"Kamu kerja di sini juga, ya?" tanyanya. Diam sebentar, lalu berucap kembali. "Aku anak magang di sini, baru seminggu. Mereka semena-mena. Mentang-mentang aku anak magang, masa nyuruh aku beli ini beli itu. Kesel banget."
Riko diam mendengarkan keluhan gadis yang berambut hitam sebahu dengan tahi lalat di bawah bibir kanan.
"Kamu anak magang juga, ya?" Gadis itu masih belum menyadari siapa yang ditabraknya. "Nah, sekarang sudah sedikit pudar nodanya."
Tinggi badan gadis itu yang hanya se-dada Riko membuat ia harus mendongkakkan kepala, untuk melihat Riko. Bola matanya membulat sempurna begitu melihat laki-laki di hadapannya. Ia mundur dua langkah, lalu membungkukkan setengah badan. "Maaf, Pak Riko. Saya kira Bapak anak magang."
Riko tersenyum. "Namamu siapa?"
Gadis itu menegakkan kembali badannya. "Hah!"
"Saya tanya, namamu siapa?"
"Lily, Pak."
"Cantik."
Lily terperanjat kaget mendengar pujian itu.
"Maksud saya, namamu cantik seperti bunga Lily."
"Ah, iya."
Tiba-tiba Riki datang, menepuk bahu kembarannya sembari berbisik, "Lo ngapain? Ternyata Lo suka juga gangguin anak magang."
Riko menggeleng sembari menarik tangan Riki menjauh dari Lily. Dahi gadis itu mengkerut. Perlakuan Riko pada Riki seolah seperti pasangan. Apa mungkin mereka berpacaran? Lily yang tidak tahu bahwa Riki dan Riko adalah saudara kembar hanya bisa berasumsi sendiri.
"Ganteng, sih. Tapi, kalau suka sesama jenis. Serem juga," gumam Lily sembari melangkah menuju meja seniornya.
Sementara itu Riko membawa Riki ke ruangan lelaki bermulut lemes tersebut. Riki terus menerus menggoda kembarannya sepanjang jalan.
"Ngaku aja, Lo," ujar Riki begitu mereka sampai di ruangan bercat abu muda.
Riko duduk di sopa. Melipat kedua tangan di dada, dan mengangkat satu kaki ke atas layaknya seorang bos. "Apa yang mau diakuin, Bambang!"
"Lo suka sama anak magang baru itu, ya?" Riki duduk di sopa dekat Riko. "Gue kasih tau Mami, biar dikawinin!"
"Nikah, Bambang!" Riko memukul tangan kanan Riki. "Ketemu aja baru tadi. Gimana bisa suka!"
"Masa? Tapi, tadi gue perhatiin kayaknya Lo ngeliatinnya tajem bener. Udah, kek, silet."
"Gue ke sini mau ngomongin proyek, bukan mau gibah!"
"Emak-emak aja pada doyan gibah. Masa kita yang muda ketinggalan."
"Gue laporin si Lia, tau rasa!"
Seketika Riki diam. Ia tak ingin Riko melaporkan pada kekasih hatinya. Bisa-bisa saat makan siang nanti, gadis itu akan memberikannya siraman rohani.
💓💓💓
Waktu bergulir begitu cepat. Jam istirahat pun datang. Adnan keluar ruangan, mendekat pada meja Alina. "Ayo, sholat dulu. Nanti, kita makan di restoran terdekat."
Alina mengangguk tanpa menatap. Ia mematikan ponsel, kemudian berdiri. Mereka berjalan ke arah pintu lift. Tiba-tiba tangan Adnan menggenggam tangan Alina. Membuat sang empunya menunduk malu.
Adnan mengikis jarak di antara mereka. Mata Alina menutup perlahan. Lalu, terdengar Adnan berbisik tepat di telinga istrinya. "Kalau engga dipegangin, takutnya kamu nyasar. Jangan tutup mata. Aku engga mau cium kamu."
Seketika Alina membuka mata lebar-lebar. Menginjak kaki Adnan sekencang mungkin.
"Aduh, kenapa kakiku yang jadi sasaran?" Adnan merasakan sakit bekas injakan sepatu hak tinggi istrinya. "Aku berkata benar. Aku memang engga niat cium kamu."
"Jangan ngomong lagi!"
lift terbuka. Alina melangkah lebih dulu menuju mushola yang berada tepat di belakang area kantor. Apa yang ia pikirkan? Bisa-bisanya berpikir yang tidak-tidak.
"Malunya," gumam Alina dengan tangan menutupi muka.
Rombongan karyawan beragama muslim mengerjakan salat berjama'ah. Kali ini Riko bertindak sebagai imam. Lily yang berada di tengah-tengah barisan jama'ah wanita sesekali meliriknya.
Usai salat semua orang bubar. Termasuk Adnan, Alina, Riki, dan Riko. Riki tampak bersemangat, karena siang ini Amelia menunggunya di kedai depan kantor. Riki juga tak luput mengajak Riko, dan pasangan pengantin baru agar bergabung dengannya.
Tidak ada yang menolak. Jam makan siang semakin mepet. Semuanya keluar kantor, lalu menyebrang jalan sebentar. Kini, keempat orang itu berada di kedai Felixia. Salah satu kedai yang menyajikan masakan aneka ayam. Mulai dari ayam goreng, ayam bakar, ayam penyet, sate ayam, sop ayam, ayam geprek, juga lainnya.
Tidak ada tempat khusus. Mereka berbaur dengan pengunjung yang lain. Tak ada gengsi atau rasa malu. Bagi sekelas Adnan, ini lebih menyenangkan. Kini, Amalia sudah bergabung dengan mereka. Lesehan, tempat kedai ini memang memiliki konsep tempat duduk tersebut. Kita duduk di atas lantai beralaskan tikar dengan meja panjang dan besar.
Riki duduk di samping Amalia berhadapan dengan Adnan dan Alina. Adnan tak ingin melepaskan genggaman tangannya pada Alina. Hanya Riko yang duduk sendiri di tengah-tengah kedua pasangan mesra.
"Aa Riki, Neng besok mau dinas keluar kota," ujar Amalia.
"Berapa hari, Cimutku?" tanya Riki.
Riko menjulurkan lidah, muak. Kedua pasangan somplak itu memiliki panggilan nama yang menggelikan.
"Kenapa Lo? Iri, bilang, Bos!" sungut Riki pada kembarannya.
"Idih. Gue mana pernah iri sama Lo, Bambang!" ketus Riko.
"Aduh, entos atuh. Ulah parasea wae ( Aduh, udah dong. Jangan bertengkar Mulu)," tegur Amalia.
Alina menyaksikan adegan demi adegan tersebut. Menikmati kehangatan yang tercipta. Jarang sekali ia melihat saudara seakur mereka. Hatinya berdenyut, merasakan kenyaman dari keluarga ini. Ribuan cinta ia dapatkan tanpa harus mengemis.
Adnan memperhatikan gerak-gerik istrinya. Tampak Alina memejamkan mata sebentar. Ide jahil tercetak di otak Adnan. Ia sedikit merapat ke Alina, lalu berbisik, "Jangan bilang kamu tutup mata minta dikecup."
Adnan segera menarik diri, memandang ke depan. Di mana Amalia masih berusaha memisahkan kedua anak kembar yang tak berhenti saling melempar pendapat.
Alina membuka mata, menatap tajam pada suaminya. Mengapa lelaki itu kian hari kian berbeda dari sifat sebelumnya? Saat bekerja, Adnan menjadi bos yang penuh perintah. Tidak ada keringanan, meski Alina adalah istri sah. Begitu selesai bekerja, laki-laki itu langsung merubah diri menjadi sesosok manusia yang usil dan menyebalkan.
" Dia seperti bunglon," batin Alina.
...****************...
BERSAMBUNG~~
Jangan lupa like, coment, dan vote🥰🥰