Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29. Getaran di ujung jari
Sejak barang-barang Nadia dipindahkan dari paviliun belakang ke salah satu kamar kosong di lantai bawah rumah depan, atmosfer di dalam rumah tua peninggalan neneknya Ubay itu berubah total. Rumah yang biasanya terasa sepi, dingin, dan hanya diisi oleh suara langkah sepatu bot Ubay yang berat, kini terasa lebih hidup. Ada aroma minyak telon yang samar, wangi deterjen pakaian perempuan, dan gemericik air di wastafel dapur yang lebih sering terdengar.
Namun, tinggal bersama dalam satu atap utama ternyata melahirkan kecanggungan baru yang jauh lebih mendebarkan.
Malam itu, hujan gerimis membasahi kota, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang. Di ruang tengah, televisi tabung 21 inci menyala, menampilkan acara bincang-bincang malam yang suaranya sengaja dikecilkan. Nadia duduk di atas sofa kayu panjang, bersandar pada bantal kapuk rajut tebal. Kakinya selonjoran, dibalut kaus kaki rajut longgar untuk menghalau dingin. Udara malam ini rupanya membuat janin di dalam perutnya yang sudah masuk bulan kelima itu menjadi sangat aktif.
Sementara itu, di ujung sofa yang sama, hanya berjarak sekitar satu meter, Ubay duduk dengan posisi santai. Jaket jeansnya sudah dilepas, menyisakan hitam polos yang mencetak jelas lekuk otot lengannya.
Tampangnya kelihatan cuek setengah mati. Matanya lurus menatap layar ponsel pintarnya, jempolnya bergerak naik-turun seolah-olah dia sedang sibuk membalas pesan dari anak-anak pangkalan pasar atau mengecek setoran harian kopi gerobak listriknya.
Tapi itu cuma pura-pura. Fokus Ubay sama sekali tidak ada di layar ponselnya yang sedari tadi hanya menampilkan menu utama yang digulir naik-turun tanpa arah.
Dari balik sudut matanya, Ubay sedari tadi melirik diam-diam ke arah samping. Pria gondrong itu memperhatikan bagaimana tangan kanan Nadia yang kurus bergerak memutar, mengelus permukaan perut buncitnya dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Gerakan tangan Nadia itu begitu berirama, seolah sedang menenangkan sang buah hati yang sedang menari-nari di dalam sana.
Melihat pemandangan itu, ada sebersit letupan aneh yang mendadak membakar dada Ubay.
Jempol Ubay yang ada di atas layar ponsel mendadak berhenti bergerak. Matanya menatap lekat-lekat jemari Nadia. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, mendadak muncul sebuah keinginan yang luar biasa kuat. Ubay merasakan dorongan yang sangat besar untuk ikut mengulurkan tangannya yang kasar, meletakkannya di atas perut buncit Nadia, dan ikut merasakan kehangatan yang ada di sana.
Namun, sedetik kemudian, Ubay langsung tersadar. Ia menelan ludahnya dengan berat, lalu membuang pandangannya kembali ke layar ponsel dengan rahang yang mengeras.
Ubay memperingatkan hatinya sendiri dengan keras. “Sadar, Bay. Lu siapa? Lu berdua memang suami istri, tapi cuma di atas kertas. Status lu itu tameng, mandat, tanggung jawab buat melindungi dia dari omongan orang luar. Tapi buat hal-hal intim kayak suami istri pada umumnya? Gak, Bay. Gak boleh. Lu gak punya hak buat menyentuh dia sembarangan.”
Ubay menghembuskan napas pendek lewat hidung, berusaha menekan debaran jantung berandalannya yang mendadak berpacu tidak karuan. Ada benteng tak kasat mata bernama "sungkan" dan "tahu diri" yang sengaja ia bangun tinggi-tinggi di antara mereka.
Di sela-sela pergulatan batin Ubay, Nadia tiba-tiba tersentak kecil.
"Eh..." bisik Nadia pelan.
Tangannya yang berada di atas perut langsung berhenti bergerak. Matanya melebar, menatap ke arah perut buncitnya sendiri dengan raut wajah kaget yang sangat lucu. Tak lama kemudian, sebuah senyuman manis dan tulus langsung terbit di bibir Nadia. Ia terkekeh sendiri, tampaknya sang bayi baru saja memberikan tendangan yang lumayan kuat dari dalam rahim.
"Kenapa, Nad?" tanya Ubay, akhirnya bersuara karena tidak bisa lagi menahan rasa keponya. Ia menurunkan ponselnya ke atas lutut, menoleh sepenuhnya ke arah Nadia.
Nadia menoleh, wajahnya merona merah muda saat mendapati Ubay sedang memperhatikannya. "Ini, Mas... bayinya mendadak aktif banget malam ini. Barusan dia nendang agak kencang di sebelah sini, sampai kulit perut saya kayak ikut nonjol sedikit."
"O ya?" Ubay menaikkan sebelah alisnya, matanya langsung turun menatap ke arah perut Nadia.
"Iya, Mas. Tuh... tuh, gerak lagi. Kelihatan nggak, Mas?" ujar Nadia bersemangat, menunjuk ke bagian kanan perutnya yang tertutup daster batik longgar.
Ubay mencondongkan tubuhnya sedikit. Dan benar saja, di balik kain daster yang tipis itu, ada gerakan menggelombang kecil yang samar namun nyata. Bayi itu seperti sedang menyapa dunia luar dari dalam tempat persembunyiannya.
Melihat gerakan ajaib itu secara langsung, kerongkongan Ubay mendadak terasa tersumbat. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk menyentuh yang tadi sempat ia tekan setengah mati, kini meluap kembali dengan intensitas dua kali lipat lebih hebat. Ubay benar-benar ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya sentuhan dari kehidupan kecil yang berdenyut di sana.
Nadia yang melihat tatapan Ubay yang begitu dalam dan terpaku pada perutnya, mendadak merasa dadanya berdesir aneh. Ruangan tengah yang dingin itu rasanya mendadak berubah hangat. Nadia bisa menangkap gurat kerinduan dan rasa takjub yang murni dari mata elang suaminya.
Entah keberanian dari mana, atau mungkin karena bawaan hatinya yang belakangan ini mulai merasa sangat bergantung pada sosok pelindungnya, Nadia menggeser duduknya sedikit mendekat ke arah Ubay.
"Mas Ubay... mau coba pegang?" tawar Nadia lirih, suaranya hampir menyerupai bisikan di antara derai gerimis di luar.
Ubay tersentak, matanya mendongak menatap sepasang mata teduh Nadia. "Gue? Pegang?"
Nadia mengangguk pelan, wajahnya makin memerah, namun matanya memancarkan ketulusan. "Iya. Biar Mas Ubay tahu rasanya kalau dia lagi main di dalam."
Ubay ragu-ragu. Ia mengangkat tangan kanannya dari atas lutut. Tangan yang penuh dengan kapalan, kulit yang mengeras karena kerasnya kehidupan pasar, dan beberapa bekas luka goresan akibat perkelahian jalanan. Ubay merasa tangannya terlalu kotor dan terlalu kasar untuk menyentuh sesuatu yang begitu suci dan rapuh seperti perut buncit istrinya.
"Ndak usah lah, Nad. Tangan gue kasar, nanti anak lu malah kaget," tolak Ubay pelan, mencoba menarik kembali tangannya.
"Nggak apa-apa, Mas..." potong Nadia lembut. Tanpa disangka, Nadia mengulurkan tangannya sendiri, menangkap jemari tangan Ubay yang besar, lalu menuntunnya perlahan untuk diletakkan di atas permukaan perut buncitnya.
Deg!
Begitu telapak tangan Ubay bersentuhan langsung dengan kehangatan perut Nadia, sekujur tubuh sang preman jalanan itu mendadak kaku, mati kutu. Kulitnya terasa panas dingin, dan ada sengatan listrik yang aneh yang langsung mengalir dari ujung jarinya menembus sampai ke ulu hati.
Nadia pun ikut menahan napas. Sentuhan tangan Ubay yang lebar dan hangat di atas perutnya memberikan rasa aman yang luar biasa besar, membuat jantungnya berdegup berandalan di dalam dada.
Satu detik... dua detik... keheningan magis menyelimuti mereka.
Sampai akhirnya... Dug!
Sebuah sundulan kecil dari dalam rahim mengenai tepat di tengah telapak tangan Ubay.
Mata Ubay seketika melebar sempurna. "Nendang dia, Nad! Dia nendang tangan gue!" seru Ubay spontan, wajah sangarnya mendadak berubah drastis menjadi penuh binar bahagia layaknya anak kecil yang baru mendapat mainan baru.
Nadia tertawa kecil melihat ekspresi langka Ubay, air mata haru sedikit menggenang di sudut matanya. "Iya, Mas. Dia tahu kalau yang pegang itu Mas Ubay."
Ubay tidak melepaskan tangannya, ia membiarkan telapak tangannya tetap di sana selama beberapa menit, menikmati setiap pergerakan kecil dari janin tersebut. Di bawah temaram lampu ruang tengah, kedua manusia itu saling bertatapan dalam diam.
Ada rasa yang mengalir tanpa perlu diucapkan lewat kata-kata. Mereka berdua tahu, ada perasaan berbeda yang kini tumbuh subur di antara mereka, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekedar status di atas kertas atau rasa tanggung jawab. Namun, baik Ubay maupun Nadia, sama-sama memilih untuk menyimpan rasa itu rapat-rapat di dalam hati, menyangkalnya dalam diam karena takut merusak kedamaian rapuh yang baru saja mereka bangun bersama.
***
untuk Axel aku tunggu karna untuk keluargamu