NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Setelah berbaring berpelukan selama hampir setengah jam, ternyata baik Elio maupun Alena sama sekali tidak bisa terlelap. Suasana yang hangat dan posisi tubuh yang saling menempel rapat justru membuat detak jantung mereka berdua terus berpacu kencang, menggantikan rasa kantuk yang sempat terasa. Bagi Elio, merasakan kelembutan tubuh Alena yang menempel di dadanya dan menghirup wangi alami gadis itu membuat pikirannya semakin melayang, dan hasrat yang sempat muncul tadi tidak kunjung mereda. Sementara itu, bagi Alena, rasa malu dan gugup masih menyelimuti hatinya, ditambah lagi dengan keberadaan benda keras milik Elio yang terasa jelas di belakangnya, membuat ia tidak bisa tenang dan matanya tetap terjaga.

“Kita berdua sama-sama tidak bisa tidur, ya?” bisik Elio pelan, memecah keheningan malam. Suaranya terdengar rendah dan berat, seolah sudah terisi oleh rasa rindu dan gairah yang semakin membara.

Alena hanya mengangguk perlahan tanpa menoleh, wajahnya masih terbenam di atas bantal. “Rasanya jantungku berdebar terlalu kencang… bagaimana bisa tidur dalam keadaan begini?” gumamnya lirih, suara yang terdengar bercampur antara malu dan bingung.

Mendengar jawaban itu, senyum nakal terukir di bibir Elio. Ia mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi ke leher Alena, lalu tanpa peringatan lebih dulu, ia menggigit bagian pundak gadis itu dengan lembut namun cukup terasa. Gigitan itu tidak menyakitkan, justru menimbulkan sensasi geli dan panas yang menjalar ke seluruh tubuh Alena.

“Ah… Elio!” desah Alena pelan, suaranya keluar tanpa sengaja karena terkejut dan merasakan sensasi yang aneh namun menyenangkan itu. Tubuhnya sedikit menggigil, dan ia mencoba menggerakkan bahunya untuk melepaskan diri.

Namun, gigitan itu justru membangkitkan keberanian Elio yang semakin besar. Sebelum Alena sempat memprotes atau menegurnya, gadis itu tiba-tiba membalikkan badannya dengan gerakan cepat, menghadap lurus ke arah Elio. Matanya melotot, menatap pria itu dengan pandangan yang seolah ingin mengatakan “kamu berani sekali”, seolah sedang menatap musuh yang baru saja berbuat salah. Wajahnya masih memerah, namun tatapannya terlihat campuran antara marah, malu, dan rasa penasaran yang tidak bisa disembunyikan.

“Kamu ini memang tidak bisa diam, ya? Baru saja dibilangin, sudah berani menggigit lagi…” kata Alena dengan nada yang berusaha tegas, namun suaranya terdengar lebih lembut dan bergetar daripada marah sungguhan.

Namun, pandangan tajam itu tidak membuat Elio mundur sedikit pun. Justru, tatapan itu terlihat semakin menggemaskan di matanya. Tanpa memberi kesempatan bagi Alena untuk melanjutkan kata-katanya, Elio tiba-tiba menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman di bibir Alena dengan gerakan yang terburu-buru namun penuh gairah. Ciuman itu tidak lembut seperti biasanya, melainkan penuh rasa ingin memiliki dan keinginan yang meluap, membuat Alena terkejut seketika dan matanya terpejam rapat tanpa sadar.

Bibir Elio bergerak cepat menjelajahi setiap sudut bibir Alena, membuka sedikit mulutnya untuk membiarkan lidah mereka bertemu dan saling bertaut. Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga napas mereka berdua terasa memburu. Saat baru melepaskan ciuman itu sebentar untuk menarik napas, Elio langsung menggerakkan tangannya, melingkarkan lengan kuatnya di pinggang Alena, lalu dengan lembut namun pasti menarik tubuh gadis itu hingga terangkat sedikit dan duduk tepat di atas pangkuannya.

“Elio! Apa yang kamu lakukan? Ini posisi yang tidak nyaman!” seru Alena terkejut, tangannya langsung menekan dada Elio untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Posisi duduk di atas pangkuan pria itu membuatnya merasa sangat canggung, dan ia mulai bergerak gusar, menggeser pinggangnya ke kiri dan kanan untuk mencari posisi yang lebih pas.

Namun, gerakan kecil itu justru menimbulkan reaksi yang sangat jelas pada tubuh Elio. Begitu pinggang lembut Alena bergeser-geser di atasnya, Elio langsung mengerang tertahan, matanya terpejam rapat dan tangannya segera mencengkeram pinggang Alena dengan kuat namun tetap lembut, menahan gerakan gadis itu agar tidak bergerak lagi. Wajahnya terlihat menegang, napasnya terasa semakin berat dan tidak teratur.

“Jangan bergerak seperti itu, Alena… kalau kamu terus bergerak, aku tidak bisa menjaga diriku lagi,” bisik Elio dengan suara yang parau dan berat, suaranya terdengar tertekan seolah menahan sesuatu yang sangat besar.

Alena tertegun, berhenti bergerak seketika. Ia menatap wajah Elena yang terlihat tertekan itu dengan bingung, namun sebelum ia sempat bertanya apa yang terjadi, Elio perlahan melepaskan cengkeramannya pada pinggang Alena. Dengan gerakan yang lambat namun tegas, ia menurunkan tubuh gadis itu kembali ke posisi berbaring, lalu menggeser sedikit posisinya sendiri agar berada tepat di hadapan Alena.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Elio menurunkan tangannya ke bagian pinggangnya sendiri, lalu perlahan membuka kancing dan menarik celana pendek tidurnya turun hingga berhenti di bagian lutut. Gerakannya dilakukan dengan tenang, namun cukup membuat jantung Alena berdegup kencang melihat apa yang akan terjadi.

Begitu celana itu terbuka, Alena langsung melototkan matanya lebar-lebar, tidak percaya dengan apa yang terlihat di hadapannya. Wajahnya seketika berubah menjadi merah padam, bahkan terasa lebih panas dari sebelumnya. Matanya terfokus pada bagian tubuh Elio yang tadi hanya bisa ia rasakan, kini terlihat jelas bentuknya—besar, panjang, dan terlihat menegang keras seolah siap meledak. Alena menelan ludahnya sendiri secara tidak sadar, merasa terkejut sekaligus sedikit takut melihat ukurannya yang terlihat sangat besar dan asing baginya.

“Ya Tuhan… itu… itu…” gumam Alena terbata-bata, matanya berusaha memalingkan wajah namun rasa penasaran membuatnya tetap melirik dengan pandangan terkejut. Tangannya secara refleks menutup mulutnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

Melihat reaksi polos dan terkejut itu, Elio justru merasa semakin terangsang sekaligus terhibur. Ia tersenyum miring, lalu dengan lembut ia mengangkat salah satu tangan Alena yang masih menutup mulutnya, membawanya perlahan turun ke bawah hingga tepat berada di depan miliknya. Ia menempatkan telapak tangan Alena di atasnya, membuat gadis itu merasakan langsung betapa keras, hangat, dan berdenyutnya benda itu.

“Lihat dan rasakanlah, sayang. Ini milikku, dan hanya milikmu yang berhak menyentuhnya,” bisik Elio dengan suara rendah dan penuh gairah, napasnya terasa panas menerpa wajah Alena. “Jangan takut… coba sentuh dan mainkanlah perlahan. Aku ingin merasakan sentuhan tanganmu yang lembut ini.”

Alena tertegun kaku, tangannya terasa gemetar hebat di atas benda itu. Rasanya sangat panas dan terasa berdenyut-denyut di bawah telapak tangannya, membuat seluruh tubuhnya ikut merinding. Ia menatap wajah Elio yang terlihat memohon dan penuh keinginan, lalu kembali menatap tangannya yang tergeletak di sana. Rasa malu bercampur rasa ingin tahu dan rasa sayang membuatnya tidak sanggup menolak permintaan itu.

Dengan gerakan yang sangat pelan, ragu-ragu, dan penuh hati-hati, Alena mulai menggerakkan tangannya. Ia mengelus bagian atasnya dengan lembut, merasa teksturnya yang halus namun padat. Setiap kali ia menggerakkan tangannya sedikit saja, ia bisa merasakan Elio menggigil hebat dan mengerang pelan, suaranya terdengar sangat menyenangkan dan membuat jantung Alena semakin berdebar.

“Ya… begitulah… lebih lembut lagi… pelan saja…” bisik Elio terbata-bata, matanya terpejam rapat menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh gadisnya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa, seolah seluruh rasa lelah dan penat seharian hilang digantikan oleh kenikmatan yang membara.

Alena mulai sedikit berani, meskipun wajahnya tetap memerah dan jantungnya terus berpacu. Ia mengikuti gerakan yang ia rasakan paling pas, sesekali memegang sedikit lebih erat namun tetap berusaha lembut, melihat reaksi Elio sebagai panduannya. Setiap kali ia menggerakkan tangannya, ia bisa merasakan benda itu semakin mengeras dan terasa semakin panas di tangannya.

Di tengah keheningan malam itu, hanya terdengar suara napas yang memburu, desahan pelan, dan gerakan lembut tangan Alena yang terus memainkan milik Elio. Meskipun suasana terasa sangat panas dan penuh gairah, namun keduanya tetap menjaga batas, tidak melampaui apa yang masih bisa mereka kendalikan. Elio sesekali mencium kening, pipi, dan bibir Alena dengan lembut, mengucapkan kata-kata yang penuh rasa sayang untuk menenangkan hati gadis itu.

“Kamu terlihat sangat cantik dan polos saat melakukan ini… aku sangat mencintaimu, Alena,” bisik Elio di sela-sela desahannya, suaranya terdengar penuh rasa syukur dan kebahagiaan.

Alena hanya bisa menunduk dan tersenyum malu, namun tangannya tetap bergerak dengan lembut. Di dalam hatinya, ia merasa sangat dekat dan terhubung dengan Elio, seolah tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Meskipun momen ini terasa sangat baru dan membuatnya gugup, ia tahu bahwa hal ini adalah bagian dari rasa cinta dan keintiman yang akan semakin mempererat ikatan mereka.

Setelah beberapa menit yang terasa sangat panjang namun menyenangkan, Elio akhirnya menghentikan gerakan tangan Alena dengan lembut. Ia menarik tangan gadis itu naik kembali, lalu memeluk tubuh Alena erat-erat, menempelkan wajahnya di dada gadis itu sambil mengatur napasnya yang masih terasa tidak teratur. Ia menghela napas panjang, merasakan rasa lega dan tenang yang luar biasa setelah melepaskan gairah yang selama ini terpendam.

“Cukup dulu, sayang… kalau terus begini, aku takut tidak bisa menahan diri lagi,” bisik Elio dengan suara yang masih sedikit berat, namun sudah terasa lebih tenang. Ia mencium dada Alena melalui kain baju tidurnya, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap mata gadis itu dengan pandangan penuh rasa sayang.

Alena menatapnya kembali, wajahnya masih terlihat memerah namun dengan senyum lembut yang terukir di bibirnya. Ia mengusap rambut Elio dengan lembut, merasakan kehangatan yang terasa begitu menenangkan.

“Kamu benar-benar membuatku belajar banyak hal baru setiap malam, Elio,” gumam Alena pelan, nada bicaranya terdengar sedikit mengeluh namun penuh kasih sayang.

Elio tertawa kecil, suara itu terdengar merdu dan menenangkan di tengah keheningan malam. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu mempererat pelukannya agar Alena merasa terlindungi dan nyaman.

“Dan aku akan terus mengajarkanmu semuanya secara perlahan, seiring berjalannya waktu. Tapi ingat, semua ini hanya karena aku mencintaimu, dan hanya denganmu aku bisa merasakan hal seindah ini,” jawab Elio lembut.

Keduanya pun akhirnya berbaring kembali dalam posisi berpelukan, namun kali ini dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan damai. Rasa kantuk yang sempat hilang kini perlahan kembali datang, digantikan oleh rasa lelah yang menyenangkan setelah momen keintiman yang baru saja mereka lalui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!