Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Lamaran di Depan Gerbang
Malam semakin larut ketika mobil sedan mewah berwarna hitam metalik milik Dallas Enrique perlahan berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Guinevere. Suasana di dalam kabin mobil begitu sunyi, hanya menyisakan deru halus mesin dan alunan instrumen piano yang mengalir tenang dari pemutar audio.
Dallas melepaskan cengkeramannya pada setir, lalu menoleh ke samping. Di kursi penumpang, Bellamy masih duduk dengan anggun. Gaun beludru hitamnya tampak kontras dengan warna kulitnya yang bersih, dan sepasang matanya yang seindah malam terus menatap Dallas tanpa berkedip sejak mereka meninggalkan restoran atap.
"Kita sudah sampai, Nona Guinevere," ucap Dallas, suaranya terdengar kaku, berusaha mempertahankan ekspresi dingin andalannya yang mulai goyah akibat tatapan intens itu.
"Nona Guinevere?" Bellamy menaikkan sebelah alisnya, sebuah senyuman nakal terukir di bibirnya yang merah merona. Ia memajukan tubuhnya, bersandar pada pembatas tengah kursi hingga jarak mereka mengikis drastis. "Bukankah beberapa jam yang lalu di atas sana aku sudah memintamu memanggilku Bellamy? Atau kau lebih suka memanggilku 'Sayang'?"
Dallas berdehem pelan, matanya refleks melirik ke luar jendela untuk menyembunyikan semburat merah yang kembali menjalar di telinganya. "Jangan mulai lagi, Bellamy. Ini sudah larut. Kau harus masuk dan beristirahat."
"Bagaimana aku bisa beristirahat kalau pria yang kuinginkan belum memberikan jawaban yang memuaskan?" Bellamy mengulurkan tangan kirinya, dengan berani menyentuh rahang kokoh Dallas, memaksa pria itu untuk kembali menatap lurus ke dalam manik matanya.
Dallas menegang. Sentuhan jemari halus Bellamy terasa seperti sengatan listrik bertegangan rendah yang mengacaukan seluruh sistem pertahanan logikanya. "Aku sudah menyuruh Hans menyiapkan setelan jas untuk pesta gala minggu depan. Bukankah itu berarti aku sudah menerima undanganmu?"
"Itu hanya untuk pesta gala, Dallas," bisik Bellamy, suaranya merendah, berubah menjadi serak dan penuh dengan aura kepemilikan yang mutlak. "Aku tidak sedang mencari pasangan semalam yang akan melambaikan tangan padaku begitu lampu aula pesta dimatikan."
Dallas menyipitkan matanya, jakunnya naik turun saat merasakan embusan napas hangat Bellamy di wajahnya. "Lalu... apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?"
"Aku menginginkanmu seutuhnya," Bellamy memberikan penekanan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya. Ia memajukan wajahnya satu sentimeter lagi, mengunci pandangan Dallas tanpa ampun. "Aku ingin kau menjadi pasangan hidupku yang sesungguhnya. Bukan hanya sekadar rekan di atas kertas kerja sama bisnis distrik barat yang baru saja kita tanda tangani."
Dallas tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan. "Pasangan hidup...? Kau tahu apa yang kau bicarakan, Bellamy? Aku ini—"
"Aku tahu persis siapa dirimu, Dallas Enrique. Dan aku tidak peduli dengan semua label sampah yang diberikan orang-orang di luar sana kepadamu," potong Bellamy dengan tegas, sifat barbarnya sebagai mantan nona mafia Minerva mulai mendikte kata-katanya. "Aku tidak butuh pria lemah seperti Javier yang sibuk dengan egonya. Aku butuh pria tangguh dan jenius sepertimu untuk berdiri di sampingku, menghancurkan siapa saja yang berani mengusik kita."
Bellamy perlahan menurunkan tangannya dari rahang Dallas, bergerak turun menyusuri kerah kemeja pria itu, lalu dengan berani menyelipkan jarinya di antara kancing kemeja atas Dallas yang terbuka, menyentuh kulit dadanya yang hangat.
"Aku ingin kau menjadi pasanganku di depan hukum, di depan seluruh dunia..." Bellamy menjeda kalimatnya sejenak, tatapan matanya berubah menjadi sangat gelap, penuh dengan gairah dan provokasi yang berani. "...dan menjadi pasanganku di atas ranjang juga. Menemani malam-malamku, memelukku, dan memilikiku seutuhnya tanpa ada yang bisa melarang."
Deg.
Benteng pertahanan Dallas yang ia bangun selama belasan tahun runtuh total dalam satu detik. Ucapan blak-blakan dan super agresif dari Bellamy membuat otaknya mendadak macet. Pria yang biasanya mampu mengendalikan rapat bisnis bernilai triliunan rupiah dengan wajah datar itu kini benar-benar dibuat salah tingkah dan kehilangan kata-kata.
Dallas menangkap pergelangan tangan Bellamy yang berada di dadanya, cengkeramannya kuat namun tidak menyakiti. Napasnya memburu berat, menatap Bellamy dengan campuran antara rasa tidak percaya, gairah yang tersulut, dan rasa penasaran yang membuncah.
"Kau... kau benar-benar wanita gila yang berbahaya, Bellamy," kata Dallas, suaranya terdengar sangat serak dan dalam. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau pancing malam ini. Jika aku benar-benar menerima tawaranmu... aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Tidak akan pernah."
Bellamy justru tersenyum sangat lebar—sebuah senyuman cegil caper yang penuh kemenangan. Ia sama sekali tidak takut dengan ancaman dingin Dallas. Malahan, ia membalikkan tangannya yang dicengkeram, justru balik menggenggam jemari kokoh Dallas dengan erat.
"Itu memang yang kuharapkan, Dallas," sahut Bellamy tanpa rasa takut sedikit pun. "Jangan pernah lepaskan aku. Karena mulai detik ini, aku sudah menandai dirimu sebagai milikku."
Bellamy menarik tangannya perlahan, lalu mengecup pipi kiri Dallas dengan cepat sebelum pria itu sempat bereaksi. Dengan gerakan yang sangat luwes dan anggun, Bellamy membuka pintu mobil dan melangkah keluar ke udara malam yang dingin.
Ia berbalik sekali lagi di depan pintu mobil yang terbuka, menatap Dallas yang masih duduk membeku di kursi kemudi dengan telinga dan wajah yang memerah sempurna.
"Sampai jumpa minggu depan di pesta gala, Pasanganku," goda Bellamy sambil mengedipkan sebelah matanya, sebelum akhirnya menutup pintu mobil dengan bunyi klek yang solid dan berjalan masuk melewati gerbang mansion dengan langkah penuh kemenangan.
Di dalam mobil, Dallas Enrique bersandar pada kursinya, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Ia menyentuh pipinya yang baru saja dikecup oleh Bellamy, lalu melirik bayangan dirinya di spion tengah. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan obsesi baru dan ketertarikan yang tak terbendung perlahan muncul di wajah kakunya.
"Bellamy Guinevere... kau benar-benar mengubah permainan ini," gumam Dallas, sebelum akhirnya menginjak pedal gas dan memacu mobilnya membelah kegelapan malam dengan jantung yang masih berdegup kencang.
...****************...
Di balik kegelapan salah satu jendela lantai dua mansion Guinevere, sepasang mata menatap lurus ke arah gerbang dengan kilat kebencian yang begitu pekat. Odelia berdiri membeku di balik tirai tipis, mencengkeram kain brokat gorden hingga robek di beberapa bagian.
Wajahnya tampak distorsi di bawah temaram sinar bulan. Ia menyaksikan dengan jelas bagaimana Bellamy keluar dari mobil sedan mewah milik Dallas Enrique, lengkap dengan senyuman kemenangan yang begitu memuaskan di wajah cantiknya.
"Kau..." desis Odelia, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. "Anak sialan... Kau pikir kau bisa membodohiku?!"
Odelia bukanlah wanita bodoh. Setelah kegagalan total rencana ranjangnya bersama James yang berakhir tragis di kamar paviliun belakang bersama Pak Dodi, ia langsung menyusun kepingan-kepingan kejadian. Kopi yang tertukar, ketepatan waktu yang terlalu sempurna, hingga sikap Bellamy yang mendadak berubah drastis sejak sore itu di tepi kolam.
Semua petunjuk mengarah pada satu orang: Bellamy Guinevere.
Odelia tahu betul, gadis sialan itulah yang telah merusak seluruh rencana besarnya dan membuangnya ke dalam pelukan seorang sopir miskin. Rasa benci dan dendam yang mendalam kini mengunci pandangan Odelia pada siluet Bellamy yang berjalan santai memasuki pelataran rumah.
"Kau sudah menghancurkan hidupku, Bellamy," bisik Odelia dengan seringai yang mendadak berubah menjadi mengerikan di kegelapan kamar. "Jangan harap kau bisa tersenyum di pesta gala minggu depan. Jika aku harus hancur, maka aku bersumpah akan menyeretmu masuk ke dalam neraka yang sama!"
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣