NovelToon NovelToon
You Are Mine

You Are Mine

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Cintamanis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 5
Nama Author: An Nisa

Hidup itu penuh dengan pilihan, dan kita diharuskan untuk memilih tapi kita juga diharuskan untuk menerima hasil dari pilihan kita ~ Banyu Biru

Bagaimana perasaanmu jika hanya karena pesan dari mendiang kakekmu yang mengharuskan dirimu menikah diusia dua puluh enam tahun, ibumu menjodohkan dirimu dengan seorang gadis yang sudah memiliki kekasih, karena kekasihmu selalu menolak lamaran darimu.

Banyu Biru, diminta oleh sang ibu untuk segera menikahi kekasih hatinya yang sudah ia pacari selama empat tahun lebih. Tetapi sialnya kekasihnya selalu saja menolak lamaran dari dirinya.

Pada akhirnya ibunda Banyu menjodohkan dirinya dengan seorang gadis cantik yang masih berstatus mahasiswi dan bahkan masih memiliki kekasih, hanya karena Banyu kini sudah berusia dua puluh delapan tahun.

Apakah Banyu dan gadis itu akan menerima perjodohan tersebut?

Atau mereka akan menjalin pernikahan kontrak seperti novel-novel yang sedang booming saat ini?

Simak kisah mereka dalam cerita ini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21

Jingga tersentak saat tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangannya dengan begitu kasar.

"Kita harus bicara,"

Jingga menatap suaminya, meminta izin untuk berbicara dengan Kevin sebentar.

Banyu mengangguk, meskipun sedikit tidak rela. Masih ia pandangi istrinya yang diseret sedikit menjauh darinya. Tatapannya berubah datar. Ada rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, melihat tangan istrinya digenggam pria lain. Rasa apa itu, Banyu tidak tahu.

Dengan langkah pelan, Jingga mengikuti Kevin. Tangannya terus diseret ke tempat yang lumayan sepi. Ia sedikit meronta saat Kevin tak kunjung berhenti. Dan dengan sisa tenaganya, Jingga menghempaskan tangan Kevin.

"Kamu apa-apaan sih, Vin." Sungut Jingga, ia mengusap-usap pergelangan tangannya yang sedikit memerah.

"Kamu yang apa-apaan. Kamu ghosting aku setelah kita dinner waktu itu. Terus tiba-tiba Riana dan Keyra ngasih aku undangan pernikahan kamu. Dan kamu nggak ngejelasin apa-apa sama aku." Kevin berucap dengan penuh emosi. Sesekali tangannya menunjuk-nunjuk Jingga, menyalahkan gadis itu.

"Kamu pikir aku apa hah? Aku ini pacar kamu, dan tanpa kata putus kamu ninggalin aku dan menikah dengan pria lain."

"Pokoknya aku nggak mau putus sama kamu," imbuhnya masih berbalut emosi.

Jingga menatap nanar pria di depannya ini. Sungguh, Jingga tidak ingin menyakiti siapapun. Ia hanya mengikuti apa yang orang tuanya inginkan. Apa ia salah?. Jingga hanya tidak mampu menyampaikan semuanya pada Kevin. Bagaimanapun juga, ia sangat mencintai Kevin, bahkan hingga saat ini.

Sudut bibirnya terangkat sebelah. Kevin menatap Jingga dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

"Ternyata benar apa yang Iren katakan. Kau tidak selugu wajahmu. Ternyata kau sama saja dengan wanita lain di luar sana."

Jingga semakin dibuat bingung. Apa yang sudah kakaknya itu katakan pada Kevin?. Kenapa ia disamakan dengan gadis lain diluar sana?.

Flashback on

Seorang pria berdiri di sebrang gedung kampusnya. Sedikit senyum tersungging pada bibirnya. Ia tidak tahu kenapa ia bisa sebahagia ini. Padahal ini bukan pertama kalinya ia memberi kejutan pada kekasihnya.

Ya, Kevin ingin memberikan Jingga kejutan dengan adanya dia di sini dan bukan di kota sebelah. Bayangan wajah terkejut Jingga dan pelukan hangat darinya, memperlebar senyum Kevin.

Senyumnya semakin lebar, saat Kevin melihat Jingga keluar dari gerbang kampus sendiri. Dari sana, Kevin bisa melihat Jingga celingukan, kemudian tersenyum pada seseorang yang berada di atas sebuah motor. Kevin yakin, seseorang yang Jingga hampiri adalah seorang pria. Kevin mengeraskan rahangnya saat Jingga tersenyum begitu manis kepada pria itu. Kevin Semakin meradang saat pria itu membantu Jingga memakaikan sebuah masker dan mengaitkan helm. Tangannya terkepal dengan begitu kuat saat Jingga mulai menaiki motor tersebut dan meninggalkan pelataran kampus bersama pria itu.

Hatinya terasa begitu perih, melihat gadis yang ia cintai tengah pergi dengan pria lain yang ia tidak tahu siapa pria itu.

Kevin menoleh ke kanan saat sebuah tepukan dibahu ia terima. Ia menatap gadis yang berdiri di sampingnya itu dengan tatapan tajam. Ia masih terlarut dalam emosi, hingga siapapun yang ia temui pasti akan terkena imbasnya.

"Ternyata orang yang keliatan polos bisa selingkuh juga ya," ujar gadis itu dengan senyum licik.

Kevin tak menanggapi. Ia hanya diam menatap lurus ke depan.

"Huh, Kevin, Kevin. Ternyata playboy kayak lo masih bisa ya ditipu sama cewek sok polos kayak adek gue."

"... "

"Gue kasih tahu. Dia itu masang muka polos cuma buat narik simpati para cowok. Nanti kalau sudah dapet baru akan keliatan sendiri gimana aslinya. Contohnya kayak yang lo liat tadi."

"Tutup mulut, lo! Kalau lo nggak mau gue dorong ke jalan raya dan mati ketabrak mobil." Kevin menatap nyalang gadis yang ia tahu kakak dari kekasihnya. Tak menunggu jawaban, Kevin melangkah meninggalkan Iren menuju mobilnya.

"Heh, Vin. Gue cuma mau ingetin lo. Jingga itu sama aja sama cewek diluar sana. Murahan, Munafik." Iran berteriak saat Kevin mulai memasuki mobilnya. Senyum miring tersungging pada bibirnya.

Flashback off

"Kamu tu sama aja sama cewek diluar sana. Munafik dan... " Kevin menatap Jingga dari atas hingga bawah. "Murahan!"

Plak

Jingga menampar Kevin, hingga pria itu menolehkan kepalanya ke samping. Jingga tak terima Kevin mengatainya murahan.

"Kamu tidak tahu apa-apa. Jadi tutup mulutmu!" Air mata Jingga meleleh begitu saja.

Beruntung tempat mereka berbicara sangat sepi, tidak ada seorang 'pun yang melewati mereka.

"Huh, kau masih mengelak. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kau pergi dengan pria itu, setelah aku memberitahu mu aku akan ke luar kota. Dan sekarang 'pun, kau menikah dengan pria itu."

Kevin menatap Jingga dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

"Katakan, apa alasan mu menikahi pria itu, apa kau hamil?"

Jingga hendak menampar Kevin lagi. Tapi seseorang menahan lengannya. Jingga menoleh. Seseorang itu ternyata suaminya. Tangannya digenggam dengan begitu erat.

Banyu menunjuk Kevin. "Kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak bisa berkesimpulan seperti itu kepada istriku" ujar Banyu dengan santai.

Kevin memandang benci pria yang sudah menjadi suami kekasihnya. Lalu mengerutkan keningnya, tatkala ia mengingat sesuatu.

"Lo, lo pacarnya Mbak Celin kan? yang waktu itu... "

"Oh, sekarang gue tahu. Waktu di restoran kemarin sepertinya kalian sengaja memilih tempat duduk yang sama, jadi kalian bisa dinner berdua tanpa diketahui kekasih masing-masing." Kevin tersenyum mengejek. Membuat Jingga benar-benar geram. Jingga hendak maju dan memaki Kevin, tapi ditahan oleh Banyu.

"Sudah ku katakan. Kau tidak bisa berkesimpulan apapun jika kau tidak tahu apa-apa."

Kevin melengos. Tidak ingin menatap pria yang usianya jauh diatasnya itu.

"Kau bisa pergi setelah menyicipi hidangan dari kami. Dan... Jangan pernah mengganggu istriku setelah ini." Banyu menarik Jingga meninggalkan Kevin.

"Arghhh" Kevin mengusap wajahnya kasar. Ia sebenarnya tidak ingin mengatakan semua itu kepada Jingga. Tapi, ia terlalu emosi. Kevin tak terima ditinggal menikah gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta. Kevin kemudian meninggalkan pesta tersebut tanpa berpamitan atau minta maaf pada Jingga.

*

*

*

"Sudah jangan dipikirkan lagi." Banyu mengusap bahu Jingga. Gadis itu menangis.

"Aku tidak menyangka dia akan mengatakan itu. Dia merendahkan ku." Jawabnya dengan terisak.

Banyu diam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada gadis ini.

"Kamu istirahat saja di sini. Aku akan menemui beberapa tamuku dulu. Sebentar lagi acara selesai dan kita akan pulang"

Jingga mengangguk lemah. Ia sadar, tidak mungkin menemui tamu dengan keadaan kacau seperti ini.

Banyu kemudian meninggalkan Jingga sendiri. Di sebuah ruangan pribadi pemilik restoran tempat berlangsungnya pesta.

Masih dengan gaun pernikahannya. Jingga merebahkan diri pada sofa panjang yang ada di sana. Kepalanya terasa pusing, sejak tadi ia belum makan, ditambah apa yang Kevin katakan menambah beban pikirannya. Jingga mencoba menutup matanya untuk mengurangi rasa pusing yang mendera.

Ceklek

Jingga menoleh pada pintu yang mulai terbuka. Nampak sosok mamanya, menatapnya tidak suka.

"Bangun kamu!"

Jingga beranjak duduk, meskipun sebenarnya ia malas. Jingga diam saja, menunggu mamanya memulai percakapan.

"Ngapain kamu undang Kevin juga. Kamu tahu, hampir semua tamu ngliatin kamu waktu Kevin narik kamu ke tempat yang sepi. Termasuk ibu mertua kamu. Dia jadi nanya-nanya tahu nggak. Dan mama harus bohong sama ibu mertua kamu, supaya nama kamu nggak jelek dimata ibu mertua kamu."

Mama Kiran benar-benar kesal kepada putri bungsunya ini. Kalau bukan karena Ika temannya yang sering membantu dirinya, tidak akan dia mau menerima perjodohan ini. Apalagi menantunya itu hanya seorang pegawai kafe biasa, walaupun ia sedikit tidak percaya. Pasalnya, keluarga Banyu salah satu pengusaha yang begitu sukses. Jadi, tidak mungkin Banyu hanya menjadi pegawai. Pasti ada yang disembunyikan.

"Ma, Kevin itu mantan aku. Jadi sekarang dia teman aku. Nggak mungkin lah aku nggak ngundang dia. Dan lagi Ma, Mama itu nggak lagi nylametin nama aku, Mama itu nylametin nama Mama sendiri, karena udah bohong sama Bunda kalau aku nggak punya pacar."

"Berani jawab kamu ya." Wanita itu menatap putrinya dengan kesal.

"Ma, dari dulu aku diem karena aku menghormati Mama bukan karena takut. Aku selalu lakuin apa yang mama minta, tapi mama nggak pernah sekalipun baik sama aku. Bahkan aku rela putus dari Kevin dan nikah sama orang yang tidak aku kenal, demi Mama." Jingga menjeda sejenak kata-katanya untuk mengambil oksigen.

"Aku ini juga anak Mama, Ma. Aku juga butuh kasih sayang. Aku juga ingin seperti kak Iren yang selalu disanjung saat mendapat penghargaan, yang selalu Mama bela saat mendapat masalah. Tapi... "

Belum sempat Jingga meneruskan kalimatnya, mamanya sudah pergi menjauh terlebih dahulu. Meninggalkannya sendirian, tanpa menjelaskan apapun.

Jingga menangis, meratapi nasibnya sendiri di dalam ruangan itu.

Jangan lupa like dan komen

1
Endah Ing
Emang sdh gak boleh Nyu, bukan karena tempatnya tapi ada hati yg harus kamu jaga, bojomu Nyu
Endah Ing
Lagian ya Celin, emang dgn menikah, kamu gak bisa bantuin keluarga kamu lagi? banyu larang kamu bekerja?
Endah Ing
bundane yg jatuh cinta
Sri Udaningsih Widjaya
Bagus ceritanya thor
Tsalis Fuadah
aneh za melibatkan mantan yg walau secara visualisasi baik sempurna,,,,,, tp ttp aja mantan g baik terlalu dekat ato melibatkannya dlm kehidupan kita,,,,,
Tsalis Fuadah
ibu panti tp kok g punya hati
Tsalis Fuadah
jingga sakit dg interaksi suami n mantan tp g mikir reaksi suami lihat istri di cium mantannya
Sastri Dalila
👍👍👍
Caca Marica
Luar biasa
karina apriyanti
ceritanya bagus
sherly
Trus bagaimana dgn Iren dan Icha?
sherly
ternyata jodoh ABG Ken tu celin.. OMG
sherly
dah 3 mantan yg dah muncul.. ada brp lg mantan kamu Bayu?
sherly
OMG bayuuu suami idaman, sayang banget Ama jingga dah gt bisa ngk tergoda Ama mantan sejauh ini ya..
sherly
hari yg akan selalu diingat oleh jingga, ultahnya adalah Hari dia kehilangan bayinya
sherly
Irene tu ngumpet, ntar juga nyesel mama jingga dah pilih kasih... Iren yg di banggakan akan membuat dia sakit jantung kalo tau kelakuan anak kesayangannya
sherly
Dave modus aja tu, biar tau Kikan cinta ngk sama dia.. semangat
sherly
tinggal celin nih kasi coowok biar ngk ngerep banyu lg
sherly
betul tu jingga keluarin aja unek2nya... kalo kamu juga cemburu hahahah arti kamu dah cinta donk ..
sherly
sakit nih Bu pantinya, jingga ngk ada salah dicuekin.. boleh ngk sih ngarep si Icha sakit keras Trus ninggal aja biar ngk usah ke panti lg si banyu biar ngk ada akses jumpa celin ... walaupun banyu biasa aja tp kyknya celin msh ngerep
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!