[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Di luar sana, sang surya telah bersinar tepat berada di tengah. Artinya hari sudah sangat siang.
Seharusnya, semua insan sudah bergelut dengan aktifitasnya masing-masing sedari matahari terbit. Ada yang bekerja, ada juga yang melanjutkan wisatanya.
Namun tidak dengan dua orang yang berada di dalam kamar villa nomor seratus satu itu.
Kedua orang itu seolah menikmati tidur mereka yang tak sengaja bersama. Tak sadar jika mereka saling menghangatkan satu sama lain.
Hingga bunyi ponsel menggema di ruangan itu mengusik keduanya.
“What the hell! Apa yang kau lakukan di kamarku?” bentak Gabby.
Saat mata wanita itu terbuka, langsung mendapati dirinya yang begitu dekat bahkan tak berjarak dengan George, kedua tangan mereka masih saling melingkar pada tubuh satu sama lain. Reflek, dia langsung mendorong tubuh kekar George untuk menjauh. Ia pun bangkit dan duduk menatap tajam pria yang seolah biasa saja dengan kejadian ini.
Beruntung pakaian Gabby masih lengkap, jelas terlihat karena mereka tak menggunakan selimut sebagai penghalang dingin agar tak menelusup kulit.
George duduk dan membalas tatapan tajam Gabby dengan lebih tajam lagi. “Kamarmu? Apa matamu buta? Jelas-jelas ini kamarku!”
Gabby mengedarkan pandangan matanya. Ini benar kamarnya, sial! Kenapa aku bisa tidur begitu saja di sini.
Ada sedikit rasa malu pada diri Gabby karena ia sudah salah menuding. Tapi bukan Gabby namanya jika mengalah begitu saja dengan pria sedingin George.
“Semua ini salahmu! Kau yang membuatku kelelahan. Jadi, jangan salahkan aku jika ketiduran di kamarmu!” elak Gabby.
“Oh ya? Bukan kau sengaja tidur di sampingku untuk mencari-cari kesempatan dengan pria tampan sepertiku?” Cih! Ingin sekali Gabby meludah mendengarnya.
“Jaga mulutmu ya!” Gabby menuding wajah George dengan telunjuknya. “Bahkan tidur denganmu adalah kesialan untukku! Aku pasti akan dikutuk oleh dewa mendapatkan kesialan karena tidur denganmu.”
Duar!
Suara petir terdengar jelas di ruangan itu. Aku hanya bercanda dewa, jangan kutuk aku sungguhan. Gabby sudah sedikit khawatir jika akan mendapatkan kesialan karena ucapannya yang tak disaring itu.
“Halo?” George mengangkat panggilan telefon.
Ternyata bunyi ponsel pria dingin itu! Gabby mengelus dadanya lega. Ia fikir semesta sungguh marah padanya.
Setelah menyelesaikan panggilannya dengan Davis yang memberitahukan bahwa Diora sudah siuman dan mengajak untuk jalan-jalan, George melanjutkan lagi perdebatannya dengan Gabby.
George dan Gabby saling duduk bersila berhadapan dengan keangkuhan mereka masing-masing.
“Kau bilang tidur denganku kesialan?”
“Ya! Memang sial, apa lagi bertemu denganmu itu adalah kesialan yang sangat aku sesali seumur hidupku!”
George menyunggingkan senyum sinisnya. “Jika kau merasa sial, kenapa kau begitu menikmati dan tidur sangat nyenyak hingga terik matahari?” Ia memperlihatkan jam pada layar ponselnya ke arah Gabby. “Lihat, jam berapa sekarang!”
Dua belas lebih tiga puluh menit. What? Bagaimana bisa aku tidur senyenyak itu tanpa meminum obat tidurku? Heran Gabby. Padahal dirinya harus mengkonsumsi pil itu tiap kali ingin berselancar ke alam mimpi.
“Heh! Kau juga menikmatinya kan? Buktinya kau pun tak terbangun!” balas Gabby membalikkan keadaan. Enak saja hanya dirinya yang dianggap menikmati moment semalam.
Tak bisa mengelak, George memang menikmatinya. Apa lagi ia yang merasakan betapa nyamannya tidur seperti semalam, bahkan ia yang sengaja melingkarkan tangan mereka satu sama lain karena dorongan nalurinya yang entah darimana asalnya.
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor