follow Ig 👉 dindin_812
New Adult romance
WARNING!!! Sebelum baca siapkan hati, karena dijamin bakal kesel, baper, tegang dan lain lain.
Setting di London.
Jovanka adalah seorang gadis manja, ia memiliki paman bernama Jody yang begitu sangat menyayangi dirinya sejak kecil. Entah hanya sebuah perasaan sayang terlalu besar atau apa, membuat Jovanka sering merasa cemburu jika sang paman dekat dengan wanita lain.
Hingga suatu ketika karena akal bulus seseorang, membuat Jovanka dan Jody mengalami tragedi satu malam. Jovanka yang tidak ingin Jody merasa bersalah pun memilih pergi, tahu jika tidak mungkin baginya bisa bersama adik sang mamah, meski bunga-bunga cinta tumbuh di hatinya.
Namun, siapa sangka dibalik itu semua, Jovanka tidak tahu kalau Jody ternyata bukanlah adik kandung sang mamah. Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Baca selengkapnya di sini.
Pict from Pinterest editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Niat untuk pergi
Jovanka yang berdiri menghadap pintu dengan posisi Jody yang berada di belakangnya pun hanya bisa terdiam, ia melepaskan tangannya dari gagang pintu namun enggan untuk membalikkan badannya.
"Kau kenapa, Jo? Ini bukan dirimu?" tanya Jody dengan wajah khawatir.
"Aku bukan anak kecil lagi, Paman! Biarkan aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," jawab Jovanka masih dengan posisi menghadap ke pintu.
"Siapa yang mengatakan kau anak kecil?" tanya Jody lagi yang masih tidak percaya dengan alasan gadis kesayangannya itu.
"Sikap Paman!" singkat Jovanka, ia memejamkan matanya ketika mengatakan hal itu.
Jawaban Jovanka tentu saja menjadi sebuah tamparan keras bagi Jody, ia tidak menyangka jika Jovanka akan menjadi seperti itu, dia senang memanjakan gadis itu karena ia memang sudah berjanji. Namun ia juga tidak menyangka jika Jovanka berpikir bahwa perhatiannya membuat gadis itu seperti anak kecil.
"Biarkan aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, juga jangan mengaturku lagi!" harap Jovanka dengan suara berat.
Mendengar kata yang keluar dari mulut gadis itu membuat Jody benar-benar tidak percaya, ia melepaskan tangannya yang menahan pintu kemudian mengepalkan di samping, seakan menyetujui apa yang baru saja di katakan dan diinginkan Jovanka.
Melihat tangan Jody yang turun, Jovanka buru-buru memutar gagang pintu agar terbuka, ia kemudian bergegas keluar meninggalkan Jody yang masih terpaku disana. Aiden yang ternyata menunggu Jovanka pun tersenyum melihat gadis itu keluar dari rumah Jody dan melihat pamannya yang tidak mengejar gadis itu.
Jody terpaku melihat Jovanka pergi, entah kenapa ia merasa semua perkataan dan sikap Jovanka membuat dadanya terasa sesak. Seakan ada Babel puluhan kilo yang menimpa dadanya.
Didalam mobil Aiden, Jovanka hanya terdiam matanya terus menatap ke arah jalanan yang pagi itu terlihat ramai.
"Kalian bertengkar?" tanya Aiden setengah fokus menyetir.
Jovanka tidak menjawab hanya terdengar samar-samar bibinya berdecap.
"Bisa bantu aku lagi?" tanya Jovanka tiba-tiba.
Gadis itu menatap ke arah Aiden yang fokus di jalanan, tatapannya seakan mengisyaratkan jika Aiden harus menyetujui apa yang akan ia minta.
"Baiklah, apapun yang kau mau," jawab Aiden meski ia tidak mengerti situasi seperti apa yang sedang d4i alami gadis itu.
***
Seharian Jovanka fokus dengan pekerjaannya mengabaikan sang paman. Jody masih benar-benar memikirkan kenapa jarak mereka tiba-tiba menjadi jauh, seolah ada jurang yang membuat langkah mereka terhenti untuk mendekat.
Sesekali Jody mencuri pandang ke arah Jovanka. Namun gadis itu tidak memperhatikan, ia hanya fokus dengan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan sebelum ia pindah.
Layar ponsel Jovanka tampak berkedip sebuah panggilan membuyarkan konsentrasinya.
"Halo, iya benar! Oke ... saya akan segera mengirimkannya, terima kasih," Jovanka mengakhiri panggilan itu dengan sebuah senyum yang tersungging di bibirnya, ia menaruh benda pipih miliknya di sisi laptop kemudian kembali fokus dengan pekerjaan.
Jody penasaran dengan siapa Jovanka bicara, kenapa gadis itu tampak begitu senang.
Jovanka selesai dengan setumpuk pekerjaannya, ia membawa itu kemeja Jody dengan flashdisk di tangannya.
Menaruh pelan agar tidak berantakan, Jovanka melihat kearah Jody yang mengamatinya dengan rasa heran.
"Semua berkas ini sudah aku selesaikan, semua filenya juga," kata Jovanka seraya menyodorkan flashdisk di tangannya ke meja Jody.
"Dan ini surat pengunduran diriku," imbuh Jovanka menaruh amplop putih yang ia bilang kalau itu surat pengunduran diri.
Jody terperanga dengan kata terakhir yang diucapkan Jovanka, ia benar-benar tidak mengerti kenapa Jovanka mengundurkan diri.
"Apa maksudnya ini? Aku tidak setuju!" tolak Jody meremas surat yang di berikan Jovanka yang bahkan belum sempat ia baca.
Jovanka menghela nafas pelan, ia memutar otaknya mencoba mencari alasan yang masuk akal agar Jody bisa menerimanya.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak ingin bergantung pada siapapun. Lagi pula aku ingin agar bis menjadi mandiri, Paman Nathan sudah memberiku pekerjaan lain jadi aku tidak bisa terus menjadi asistenmu," papar Jovanka berusaha tetap tenang meski hatinya rasanya terasa berat.
Lagi-lagi perkataan Jovanka membuat sesak di dada Jody, ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan keponakannya itu.
"Satu lagi, mulai hari ini aku juga akan pindah ke Apartemen milik Paman Nathan," imbuh Jovanka.
Ucapan Jovanka yang terakhir membuat Jody benar-benar membuat pemuda itu terkejut, bahkan ia sampai berdiri dari kursinya dan memegang tangan Jovanka yang berada di depan meja.
"Tidak!" tolak Jody sekali lagi.
Merasakan eratnya Jody menggenggam pergelangan tangannya membuat Jovanka meringis kesakitan.
"Paman lepaskan!" pinta Jovanka pelan seraya berusaha melonggarkan genggaman Jody dari pergelangan tangannya.
"Kau bisa pindah kerja, tapi kenapa kau harus pindah tempat tinggal juga?" tanya Jody yang terdengar sedikit membentak karena emosi.
"Paman kau menyakitiku!" rintih Jovanka yang berusaha melepaskan tangannya yang belum terlepas.
Jody yang tidak sadar jika ia menggenggam tangan Jovanka terlalu keras karena emosi pun langsung melepaskan genggamannya di saat melihat Jovanka yang merintih, secepat kilat ia menarik tangannya berjalan memutar meja untuk bisa melihat tangan Jovanka yang memerah akibat perbuatannya.
Alih-alih ingin melihat tangan Jovanka, tangannya malah langsung di tepis oleh Jovanka yang merasa kesakitan, ia menatap kesal kepada pamannya itu.
Karena memang jam kerja yang telah usai, Jovanka langsung menyambar tasnya dan pergi meninggalkan Jody sekali lagi.
Menatap punggung Jovanka yang berlalu pergi, Jody menyandarkan pinggangnya di meja, tangan kanannya memegangi keningnya sendiri, memikirkan hal yang sama sekali belum terpikirkan dalam dirinya.
"Ya Tuhan, Jo! Kau benar-benar membuat paman bingung," keluh Jody.
Jovanka yang keluar dengan perasaan kesal dan sakit pun terus memegangi tangannya yang memerah, hingga tanpa sengaja ia menyenggol lengan Alice yang tanpaia sadari berpapasan dengannya.
"Nggak punya mata ya!" bentak Jovanka yang memang sedang emosi.
Suara Jovanka yang lantang terdengar hingga kedalam ruangan Jody, membuat pria itu langsung keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Alice yang sebenarnya ingin memaki Jovanka karena telah membentaknya terlebih dulu mengurungkan niatnya begitu melihat pintu ruangan Jody terbuka, ia sesegera mungkin memasang mimik memelas di wajahnya untuk mengambil simpati dari Jody.
Jovanka menatap Alice dengan perasaan semakin kesal karena gadis itu memasang wajah melas tak seperti biasanya yang terlihat angkuh ketika berbicara dengannya. Merasakan firasat buruk, Jovanka merasa ada tatapan dingin menusuk hingga ke tulangnya.
***
Jovanka menangis di dalam mobil Aiden, pemuda itu tampak bingung karena ketika Jovanka masuk mobil gadis itu sudah berlinang airmata.
"Ada apa, Jo?" tanya Aiden cemas mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
..._...
..._...
..._...
..._...
Buat semua pembaca, mohon bantuan Like dan komentnya ya, meski h6anya koment up, itu sangat berarti buat saja.
Terimakasih 🙏🙏