Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!
Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16-Terlambat Sekolah
Keesokan paginya, hari ini adalah hari sekolah setelah kemarin weekend. Arhan melajukan motornya seperti biasanya untuk menjemput Lula. Seperti biasa juga Arhan akan menunggu cewek itu didepan gang menuju arah rumah Lula.
Sembari menunggu cewek itu, Arhan membuka ponselnya. Melihat room chat nya dengan Lula. Chatnya sedari kemarin belum juga dibalas oleh cewek itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada cewek itu? Kenapa seperti nya Lula sangat sibuk sekali sampai-sampai chat darinya tidak dibalas. Apa ada kontak lain di ponsel cewek itu sehingga Lula melupakan dirinya?
Sudah hampir setengah jam lebih Arhan menunggu Lula, namun kenapa Lula belum juga keluar dari gang nya?? Apakah Lula sakit? Apa dia tidak masuk sekolah? Arhan pun turun dari motornya tanpa melepaskan helm yang masih terpasang di kepala nya. Ia berjalan cepat menuju rumah milik Lula.
Saat akan mengetuk pintu rumah milik Lula. Tangan nya berhenti. Tubuhnya bergeming karena melihat rumah Lula yang sudah ada gembok silver disana. Itu artinya Lula sudah tidak ada dirumah. Kenapa Lula tidak mengabarinya jika ia sudah berangkat kesekolahan?
Arhan pun menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Tinggal sisa lima menit lagi waktunya bel sekolah akan masuk.
Arhan pun langsung terburu-buru untuk berangkat kesekolahan. Meskipun ia yakin akan sangat terlambat tapi sekuat tenaga Arhan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai. Meskipun sekolah itu adalah milik keluarga nya, namun Arhan pasti akan tetap dihukum jika terlambat dan menaati sesuai dengan peraturan sekolah yang dibuat oleh sang papa.
Benar saja, saat motornya sudah sampai, gerbang sekolah sudah ditutup oleh satpam. Arhan mengklakson berkali-kali agar dibuka kan oleh satpam.
"Arhan? Tumben kamu telat?" Tanya satpam tersebut.
Arhan tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari satpam itu. "Ada kendala tadi pak."
Satpam itu mengangguk. "Waduh, siap dihukum dong sama yang lain."
Arhan mengangguk. "Siap pak, saya taro motor dulu yak."
*****
*****
Di pagi yang menjelang siang itu, Arhan yang dikenal sebagai cowok yang tidak pernah terlambat kini terlambat. Dibawah teriknya sinar matahari, Arhan dengan beberapa temannya yang juga terlambat kini sedang berjemur sambil memberikan hormat kepada bendera merah putih yang sudah terpasang ditiang upacara.
Waktu bel istirahat berbunyi, namun baik Arhan maupun teman-temannya masih juga belum selesai dengan hukuman mereka.
Semua siswa siswi berlalu lalang keluar dari kelasnya menuju kantin. Beberapa pasang mata menatap kearah lapangan namun mereka seolah cuek karena menurut mereka rasa lapar lebih penting dibandingkan dengan melihat orang yang sedang dihukum.
Arhan tetap fokus pada bendera merah putih. Pandangan nya mendongok ke atas. Sinar matahari yang begitu berkilau membuat matanya sedikit menyipit dan membuat alisnya berkerut hingga hampir menyatu.
Namun, seperkian detik kemudian mata yang awalnya begitu silau dan terasa panas itu seakan menghilang begitu saja tatkala melihat seseorang yang berada dilantai tiga sedang menatap ke arahnya. Arhan melebarkan pandangannya melihat Lula diatas sana. Cewek yang sedari kemarin sangat sulit sekali untuk dihubungi bahkan untuk membalas pesannya saja tidak.
Lula di atas sana terdiam melihat Arhan yang sedang dihukum dibawah teriknya matahari. Ia yakin, Arhan terlambat karena menunggu nya cukup lama padahal Lula sudah berangkat tiga puluh menit lebih awal dari biasanya. Itu semua ia lakukan agar ia tidak lagi bergantungan pada cowok itu. Rasa bersalah semakin menyelimutinya saat melihat Arhan yang terlihat kepanasan, keringat yang mulai bercucuran pada bagan wajahnya dan rambutnya. Berkali-kali Arhan terus mengusap pelipisnya. Lula kasihan pada Arhan, tapi mau bagaimana lagi?.
Baru sehari ia berusaha menjauh dari cowok itu, tubuhnya dan hatinya rasanya benar-benar sakit. Rasa rindu menyelimuti hatinya. Perasaan dan pikiran yang tidak tenang akibat rindu itu membuat kepalanya berdenyut karena selalu memikirkan hari-hari nya tanpa Arhan nanti.
Aska yang sedari tadi melihat Lula yang tak biasanya berdiri di samping pagar sekolah langsung mendekatkan diri pada cewek itu. "Ngapain Lo disini?." Sebuah pertanyaan dari Aska yang mempunyai mengagetkan Lula yang masih fokus menatap orang dibawah tiang bendera sana.
Aska mengikuti arah pandang cewek itu. Alisnya terangkat satu, menatap bingung orang dibawah sana. "Itu bukannya Arhan? Anak pemilik sekolah ini sekaligus yang paling berjasa banget buat Lo. Tumben dia dihukum." Ucapnya saat matanya terus melihat Arhan dibawah sana.
Lula melirik Aska dengan mata tajam. "Berisik banget si, inget ya gue masih punya rasa benci sama Lo! Jangan sok asik!." Tukasnya kemudian.
Aska tersenyum manis pada Lula. "Siap nona Lula yang baik hati, silahkan benci Aska sepuasnya, tapi jangan terlalu benci ya takutnya nanti malah cinta loh." Godanya pada cewek itu.
Lula menatap jijik pada Aska yang terlalu kepedean itu. "Sampai kapanpun enggak akan pernah ada perasaan itu!." Lula pun langsung pergi meninggalkan Aska dengan perasaan jengkel. Baginya perkataan Aska barusan adalah kutukan paling keramat dan mematikan. Amit-amit jika sampai ia akan suka pada Aska.
Aska yang melihat tingkah Lula tertawa puas karena berhasil membuat Lula jengkel. Entahlah dari dulu ia paling suka membuat cewek itu jengkel dan emosi. Rasanya seperti bahagia, dan dibalik itu semua adalah caranya agar bisa terus berkomunikasi dengan Lula walaupun caranya memang terlihat sangat salah.
Sementara itu dibawah sana, Arhan yang semula memberikan hormat pada bendera dengan benar kini tangannya mengepal keras melihat apa yang barusan ia lihat.
Rasa posesif dan obsesi serta takut kehilangan Lula Khansa kini semakin besar dalam hatinya. Ia cemburu, benar-benar cemburu melihat cewek yang ia cintai berdekatan dengan cowok tadi, cowok yang sedari kemarin membuatnya tidak bisa tidur karena ia benar-benar cemburu pada Aska itu.
Tidak, ini tidak bisa semakin di biarkan. Ia harus berbicara pada Lula nanti, ia tidak rela jika Lula akan dekat dengan Aska apalagi sampai suka. Hanya dia yang boleh dekat dengan cewek itu, hanya dia tidak boleh yang lain.
Selama mereka berjemur, Arhan terus mengepalkan tangannya karena sudah tersulut emosi yang membara. Melihat mereka bercanda tadi, melihat Aska yang membuat cewek itu jadi jengkel, dan tertawa Aska yang sangat puas saat melihat cewek yang dicintainya cemberut membuatnya semakin panas. Bahkan terik matahari yang semakin memanas saja kalah dengan hatinya yang sedang berkobar saat ini.