Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Rico tidur hanya mengenakan celana pendek tanpa mengenakan baju sama sekali alias bertelanjang dada.
"Tuan, Nona Dita ada di luar memaksa untuk masuk" kalimat Bramantio membuatnya memaksa membuka mata yang masih ingin tertidur lebih lama.
"Ada urusan apa dia memaksa masuk"
"Dia bilang urusan pekerjaan tuan"
"Minta dia tunggu aku di lobby Hotel, bentar lagi aku kesana" ujar Erico seraya beranjak bangkit dari ranjang empuknya, menuju kamar mandi.
Bramantio membuka pintu kamar Hotel, menemui Dita yang sedari tadi sudah menunggu di balik pintu.
Begitu pintu terbuka dia pun langsung masuk, membuat tio nama pangilan Bramantio kelabakan karena ulahnya.
"Maaf Nona saya harap anda keluar, sebelum saya memaksa anda dengan kekerasan" ujarnya berusaha membuat Dita menuruti perintahnya.
"Coba saja, kau akan tau akibatnya bila berani melakukannya" ancam Dita dengan raut wajah tak main-main.
"Nona bisa menunggunya di luar, sesuai pesan Tuan tadi" ujar Tio berusaha mengingatkan Dita.
"Aku tidak mau, kau saja yang keluar" ujar Dita, wanita keras kepala ini sungguh susah di atur.
Taklama Erico keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang membalut sebagian tubuhnya.
"Kau!!" serunya melihat Dita berada di kamarnya.
"Maaf tuan saya sudah berusaha mengusirnya." ujar Tio merasa bersalah.
"Keluarlah, tunggu aku di lobby" ujar Erico pada Tio.
"Baik tuan" dengan perasaan khawtir Tio meninggalkan tuannya dengan Dita.
"Ada apa, kau bilang masalah pekerjaan, lalu mengapa memaksa masuk kekamarku" ujar Erico dengan ekspresi datar.
"Angaplah ini termasuk dari pekerjaanku, menemanimu" ujar Dita seraya menatap Erico yang masih mengenakan handuk yang memamerkan tubuh kekarnya.
Mendapat tatapan begitu membuat Erico menyadari keadaannya, dia pun beranjak kelemari mencari baju yang akan dia pakai, bertepatan dengan itu dering handphone terdengar dari atas meja tepat di depan Dita.
Mata Dita menangkap panggilan yang tertera di layar handphone Erico, my Honey melakukan panggilan Video.
"Dita jangan coba-coba" bentak Erico saat Dita menyentuh hpnya, kemudian menerima panggilan itu, Dita sudah menerimanya, di layar handphone, Kila sedang menatap Dita tak berkedip, apa lagi saat Dita mengarahkan kamera handphone kearah Erico yang hanya memakai sehelai handuk.
Dengan kasar Erico merebut handphone dari tangan Dita, tapi terlambat pangilan Kila sudah dia akhiri. Erico menatap Dita dengan penuh kemarahan.
"Lancang kau!!" Bentaknya.Dita mencibir tak perduli.
Dia kembali menghubungi Kila, tapi tak ada jawaban,berulang kali Rico menghubungi Kila, tapi tak ada jawaban, Kila mengabaikannya, dia tau pasti, kalau Kila marah padanya
"Na, di mana nyonya" tanya Rico.
"Saya periksa dulu tuan"
"Cepatlah" ujarnya panik. sementara Dita menatap Erico dengan senyum kemenangan.
"Kau menggemaskan kalau sedang panik tuan Erico" ejek Dita.
"Kau!!, kenapa masih disini, bukankah tujuan mu sudah tercapai" ucap Erico sinis.
"Kau yakin hanya itu tujuanku" ujarnya manja.
Erico menatapnya penuh kemarahan, entah apa yang ada di benak Dita saat ini, Dita bukan wanita yang mudah di tangani, selain nekat dia juga tak tahu malu, membuatnya bebas melakukan yang dia mau.
"Na bagai mana" tanya Rico tak sabar.
"Nyonya di ruang Ibadah tuan" ujar Nana, setelah memastikan keberadaan Kila.
"Baiklah, kabari aku kalau nyonya sudah keluar dari sana"
"Baik tuan"
Rico yang sudah berpakayan rapi membawa Dita keluar kamarnya. wanita itu dengan senyum penuh kemenangan berjalan mengikuti langkah Erico meninggalkan kamar Hotel.
**
Mata Kila basah oleh air mata cemburu, suaminya didapati tengah bersama wanita cantik berduaan di kamar Hotel, pemandangan yang membakar hatinya, dia ingin berpikiran positif, tapi hati kecilnya tetap merasa cemburu, apa lagi keadaan Rico yang dia lihat tadi, sungguh membuat dadanya memanas.
wanita manapun, pasti merasakan hal yang sama, seperti yang dia rasakan saat ini, dia ingin pecaya pada suaminya tapi pemandangan tadi membuat kepercayaannya hilang.
Untuk menenangkan hatinya Kila mengambil wudhu, kemudian bertahajud, berkeluh kesah, memohon petunjuk pada illahi robbi.
Puas mengadu di sela sujudnya, Kila keluar dari ruang Sholat melanjutkan istrahatnya untuk kemudian menyongsong datangnya subuh.
Nana tak berani membangunkan Kila, untuk memberitahu bahwa suaminya berkali-kali menghubunginya, bertanya kabarnya dengan penuh kehawatiran.
"Na bagaimana nyonya, sedang apa?"
"Nyonya sedang tidur tuan"
"Oo sukurlah,"
"Iya tuan"
"Sudah istrahatlah"
"baiklah tuan"
Hampir semalaman Nana berbalas pesan dengan tuannya,setiap berapa menit sekali, pesan dari Erico masuk ke handphonenya, hingga menjelang subuh barulah tuannya menyerah membiarkannya tertidur sesaat kemudian kembali berbalas pesan bak orang pacaran yang tak kenal waktu istrahat.
"Mbak Nana kenapa, seperti orang kurang tidur gitu" tanya Kila saat sarapan pagi.
"Iya nyonya" jawab Nana dengan kantuk yang bergelayut manja di kelopak matanya.
"Kok bisa" tanya Kila merasa heran, sebab tadi malam mereka tidak kemana-mana hanya berdiam diri di rumah.
"Saya semalaman membalas pesan dari tuan" ujarnya dengan mata yang nyaris terpejam.
Kila berkerut keningnya memdengar penjelasan Nana. berbalas pesan dengan tuan...
"Ada apa dengan tuan mu" ujar Kila bernada sinis, kalimat itu mampu membuka lebar mata Nana.
"Tuan menghawatirkan keadaan nyonya" ujar Nana mulai bersemangat.
"Sampaikan padanya, bukan aku yang harus di khawatirkan tapi dia" ujar Kila ketus, perasaan membuatnya memuntahkan kata-kata yang tak seharusnya terucap.
"Baiklah nyonya nanti saya sampaikan" ujar Nana.
"Mbak tidurlah, menjelang juhur nanti aku bangunin" ujar Kila yang tak tega melihat nana seakan sulit membuka matanya.
"Mana bisa saya tidur, kalau nyonya masih saja mengabaikan tuan" ujar Nana lirih.
"Maaf mbak, aku lagi tak ingin bicara dengan tuan mu" ujar Kila lirih.
"Setidaknya dengarkanlah penjelasan tuan, agar nyonya tak salah paham" nasehat Nana.
"Entahlah" desahnya seraya beranjak pergi meninggalkan Nana yang masih mematung di tempatnya.
**
Setelah selesai mengajar Kila tak langsung pulang, dia singgah ke tempat umi Rukayah. hatinya yang gundah meminta sedikit pencerahan dari umi, dia tak akan menceritakan masalah rumah tangga mereka pada umi, dia hanya butuh nasehat.
"Assalamualaikum Umi"
"Waalaikumsalam, masuk sayang"
"Tumben mampir, udah izin suamimu" tegur Umi yang tau pesan suami Kila untuk langsung pulang sehabis mengajar. Kila menggeleng pelan.
"Lho, ini gak boleh sayang, kamu sudah melanggar perintahnya" nasehat Umi dengan hati-hati.
"Iya, mi" ujar Kila tertunduk.
"Ada apa, sayang, kamu ada masalah?"
"Tidak ada mi"
"Kalau ada masalah bicarakan baik-baik, tidak baik di diamkan, tanya kebenarannya, kemudian katakan apa yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya" ujar umi yang bisa menebak apa yang terjadi pada Kila.
"Begitu ya mi" ujarnya tak bersemangat.
"Masalah apa pun, penyelesaian nya cuma satu, komunikasi yang benar, masalah kecilpun kalau tidak ada komunikasi yang benar, itu masalah bakal jadi besar" ujar umi lagi.
"Sudah sana pulang, bicara dengan suamimu baik-baik, katakan saja isihatimu yang sebenarnya, tapi kamu juga harus memberi dia kesempatan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi" ujar umi seraya memberi usapan lembut di bahu Kila.
"Baiklah umi, aku pulang dulu" ujar Kila, dengan santun Kila mencium tangan umi.
"Ingat sayang bicarakan masalah dengan kepala dingin, hati yang tenang, berserah dirilah kepada Allah atas segala cobaan yang menimpa kita"
"Iya umi, terima kasih."
Kila memeluk tubuh umi yang sudah seperti ibunya sendiri itu dengan hangat. dada Kila sedikit terasa lapang, nasehat umi memberinya ketenangan, umi benar masalah tidak boleh di diamkan.
Kila rebahan di kamarnya ketika handphone nya berdering, dengan segera dia menerima panggilan yang sedari tadi dia nanti .
"Assalamualaikum mas" sapa Kila dengan suara lembutnya.
"Waalaikumsalam, senang dengar kau panggil aku dengan panggilan mas, Kila" Ujar suara yang terdengar asing di telinga Kila, seketika Kila tersentak, Kila mengira suaminyalah yang menelponnya, itu sebabnya Kila langsung menerima panggilan tanpa memeriksanya dulu.
Kila menjauhkan handphonenya dari telinganya, kemudian mengecek siapa yang sedang menelponnya, nomor tak di kenal.
Kila buru-buru menhakhiri panggilan, tak ingin berpanjang kata dengan orang yang tak di kenalnya.
Nomor asing itu kembali melakukan panggilan suara, Kila tak merespon dia mengabaikan panggilan asing itu.
Kemudian beberapa pesan, masuk ke handphonenya Kila, pesan dari no asing itu, kila hendak membuka pesan, tapi urung dia lakukan, panggilan Video masuk dari suaminya.
"Assalamualaikum mas" sapa Kila dengan lembut.
"Waalaikumsalam, sayang" sahut Erico dengan tatapan penuh di wajah Kila.
"Masih marah sayang" tanya Erico tanpa basa-basi, membuat Kila tertunduk sangat dalam.
"Sayang, mau dengar penjelasan mas, gak" tanya Erico dengan penuh kelembutan. Kila mengangguk setuju.
"Saat sayang lihat mas berdua dengan Dita, di kamar hotel, itu memang benar" ujar Rico memulai penjelasannya.
"Jadi dia Dita, Kekasih mas" ujar Kila tak bersemangat. ada nyeri di hatinya saat menyebut nama Dita di bibirnya.
"Mantan, sayang" Ralat Erico.
"Itu dulu, gak tau yang sekarang" Sungut Kila dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Dulu saja sudah mantan, apa lagi sekarang, sudah ada sayang di hati mas" ujar Erico menimpali ucapan Kila.
"Tapi buktinya, dia masih bebas ketemu mas, di kamar hotel, berdua lagi, kalau gak ada sesuatu mana mungkin sebebas itu" ujar Kila ketus.
"Dia yang memaksa masuk, saat mas lagi di kamar mandi sayang" jelas Erico penuh kesabaran, dia maklum kalau Kila marah melihat kejadian semalam, andai ini di lakukan Kila sudah barang tentu dia pasti juga akan merasa marah.
"Sayang, dia bukan sekali dua kali, dia mencoba melakukan hal yang bisa merugikan hubungan kita, tapi mas bisa menghindar, tapi kali ini tidak tau kenapa bisa kecolongan begini, tapi mas tidak melakukan apa pun dengan dia, mas berani sumpah nyawa mas taruhannya" ujar Erico yang tiba-tiba berubah menjadi melow.
"Tidak usah bersumpah dengan nyawamu mas, saat ini aku hanya bisa berlindung kepada allah oleh segala sifat burukmu mas" ujar Kila lrih.
"Maaf sayang, aku selalu membuatmu kecewa" bisik Erico sedih.
"Aku sudah memaafkanmu mas," ujar Kila, seraya menatap wajah tampan suaminya yang memenuhi layar hp nya.
"Terimakasih sayang" ujar Erico penuh haru, jiwa kerasnya hilang sudah, di depan Kila dia berubah jadi lelaki yang begitu berbeda, penuh kelembutan.
"Sama-sama mas" jawab Kila dengan senyum di bibirnya , yang membuat Erico tiba-tiba tak sabar ingin cepat pulang.
Hapyy reading 💞
.
Jangan lupa Like and Komennya ya sayang🥰