NovelToon NovelToon
Repeatedly Hurt

Repeatedly Hurt

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:13.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Nidati

Andara Agustin, gadis malang yang tidak diinginkan keberadaannya. Kehadirannya dianggap sebagai kesialan. Kalau bukan karena wasiat sang Nenek, Dara pasti sudah pergi dari keluarga yang memperlakukan dirinya tak lebih dari sampah.

Namun, takdir Tuhan membawa Dara pada seorang Raffaza Alfarezo. Presdir Perusahaan Gerdion, pria dingin dan arogan. Kesalahan satu malam yang mereka perbuat menghasilkan sosok makhluk kecil yang tak bersalah. Akan tetapi, Raffa sudah memiliki kekasih bernama Khanza Abir yang sangat dicintainya.

Siapa sangka justru sang kekasihlah yang meminta Raffa menikahi Dara, lantas bagaimana sikap Dara setelah mengetahui pria yang telah menghamilinya memiliki kekasih yang baik hati. Apa Dara tega menyakiti hati wanita lain demi anaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nidati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulut Pedas

Suster masuk membawa nampan berisi bubur, lalu meletakkan di atas nakas, suster pun pergi. Dara dan Raffa masih dalam Keterbungkaman. Mengacuhkan keberadaan Raffa Dara menyandarkan tubuhnya. Meraih mangkuk berisi bubur. Perutnya terus berbunyi karena lapar. Di restoran ia hanya makan tiga suap itu pun terjadi insiden. Maka sekarang perutnya berdemo minta di isi.

"Mau cari perhatian Oma, iya?" Belum sempat suapan pertama masuk ke mulut, seketika terhenti mendengar perkataan Raffa. Dara menurunkan sendok menatap Raffa bingung.

"Kau sengaja masuk rumah sakit agar Oma memperhatikan dirimu, 'kan," tuduh Raffa.

Dara memejamkan mata tak sanggup menjawab Raffa. Rasa sakit di tenggorokannya membuat Dara lebih memilih diam bila tak ingin menjadi lebih parah.

"Kau sangat licik. Saya sebenarnya tidak sudi menjengukmu yang hanya berpura-pura, tapi mengingat kau berada dekat dengan Oma. Saya menjadi khawatir kau akan menghasut Oma." Kembali Raffa menuduh Dara.

Dara tetap diam mendengarkan, seberapa jauh Raffa akan menuduh. Dara ingin mendengarnya.

"Wanita tak tahu diri sepertimu bisa apa selain menghasut orang lain demi kepentingannya sendiri. Kau egois! Dengar itu, egois." Raffa menekankan kata 'egois'.

Tes

Air mata Dara menetes Raffa tidak tahu apapun tentang dirinya. Raffa tak tahu kehidupannya yang kelam. Raffa tidak tahu betapa hancur hati dan dirinya. Di setiap hari Dara hancur tidak ada yang melihatnya. Dara begitu tersiksa tapi tak ada yang menyemangatinya. Perkataan Raffa menghunus tepat di jantung Dara.

Egois? Dara bahkan tak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri, lantas dimana letak keegoisan Dara. Egois ingin memiliki Raffa? Ia bahkan tak pernah berharap bisa menikahi Raffa, bila bukan karena desakan Khanza. Ingin Dara meraung meluapkan segala beban di hati.

"Air mata buaya," desis Raffa.

"Kau sangat menyusahkan. Kau dan anakmu malapetaka bagiku." Dara terperanjat kaget mendengar seruan Raffa. Air mata mengalir dengan deras membasahi pipi. Dara menggeleng. Boleh saja Raffa menghina dirinya, tapi jangan anaknya yang tidak tahu apapun. Raffa boleh membenci dan mencaci Dara, tapi jangan anaknya. Makhluk kecil tak berdosa itu tidak tahu apapun.

'Anakku malang, anakku sayang.'

Suami seperti apa yang ada dalam sosok Raffa. Dia tidak memperdulikan keadaan Dara. Dia melihat Dara sebagai sumber kesalahan dalam hidup. Tak habis pikir, Raffa memiliki mulut yang begitu pedas.

"Ma-af." Begitu susah payah Dara mengucapkan kata tersebut.

"Apa dengan kata maaf semua akan kembali normal, tidak! Tidak ada yang kembali seperti semula. Kau ini pembawa sial begitu juga dengan anakmu."

Dara meremas selimut. Menyalurkan rasa sakit yang mendera dirinya. Ia semakin deras menjatuhkan air mata. Raffa benar-benar tidak memiliki perasaan bagaimana bisa dia berkata demikian.

Anaknya kembali disalahkan oleh ayahnya sendiri. Dara berjanji dalam hati nasib anaknya tidak akan ia biarkan sama dengan dirinya. Dara akan memberikan takdir yang bahagia untuk anaknya. Tidak akan Dara biarkan anaknya kekurangan apapun. Anaknya adalah permata baginya. Sangat berharga.

"Sekarang lihat sekeliling. Ruang seperti apa yang Oma pilihkan untukmu. Sangat indah, semua berkualitas tinggi dan tebak siapa yang membayar semua ini."

"Saya! Saya yang membayar semua bukan Oma atau siapapun."

"Dara akan mengganti uangnya," ucap Dara lirih.

"Saya tak salah dengar? Bahkan sepertinya untuk membiayai hidupmu, kau tidak bisa," sinis Raffa.

Dara memejamkan mata merasa direndahkan. Bisa dibilang uangnya memang tidak cukup, tapi apa perlu Raffa mengatakannya dengan lantang. Dara merasa dipermalukan.

"Uangku terbuang sia-sia hanya untuk mengurus mu yang tidak tahu diri."

"Stop! Bila kau ingin memaki jangan di sini. Aku mohon ... uhuk uhuk" Dara terbatuk karena memaksakan bersuara dengan keras. Tenggorokannya menjadi semakin sakit.

"Kini kau pun memohon." Raffa memandang remeh.

Dara meletakkan kembali mangkuk yang berada di tangannya. Ia sudah kenyang karena perkataan Raffa. Selera makannya menguap entah kemana. Ia hanya ingin menutup mata barang sebentar saja. Melupakan apa yang baru saja ia alami. Sakit, sangat sakit. Di mata suaminya sendiri, Dara hanya beban.

Perlahan Dara menutup mata, meski air mata masih setia mengalir. Dara tak ingin melihat Raffa saat ini. Hatinya terlalu sakit.

Raffa mendesis marah merasa diabaikan oleh Dara. Ia menggeram rasanya ingin mencekik sosok yang berbaring tersebut hingga tiada. Andai negaranya tidak memiliki hukum sudah Raffa lakukan dari awal. Sebenarnya Raffa tidak terlalu mempermasalahkan uang hanya saja uang tersebut digunakan untuk Dara. Dan dia tidak menyukai hal tersebut. Menurutnya semua yang berkaitan dengan Dara sangat tidak Raffa sukai.

Raffa melirik pada infus yang menggantung. Cairannya tinggal setengah. Tidak lama lagi Dara diperbolehkan pulang dan dengan sangat terpaksa Raffa harus mau menunggu. Bila ia pergi dan telat membawa Dara pulang pasti Oma akan mengomel semalaman.

Tak lama terlihat Dara bernafas teratur menandakan jika wanita itu sudah tertidur. Raffa mengamati wajah pucat dihadapannya. Jejak air mata yang ditinggalkan membuat sebagian hatinya tercabik. Ia tidak pernah membuat seorang wanita sekacau Dara. Segera ia enyahkan pikiran tersebut. Dara tak lebih dari penghancur hidupnya. Raffa akan memastikan hidup Dara tidak akan berjalan normal. Sampai wanita itu sendiri tidak tahan dan meminta cerai. Raffa tidak akan melanggar perkataannya, ia akan menceraikan Dara setelah anaknya lahir. Namun, jika dalam waktu tersebut Dara sendiri yang meminta cerai, maka dengan senang hati Raffa akan mengabulkannya. Tanpa susah payah menunggu Dara melahirkan.

Beberapa jam berlalu. Dokter dan suster masuk. Raffa mundur agar dokter mudah melakukan pemeriksaan. Dokter melepas jarum infus dan memeriksa denyut nadi Dara, lalu mengangguk.

"Istri Anda sudah lebih baik, istirahat yang cukup akan membantu memulihkan tenaganya. Saya minta agar pasien tidak terlalu stres karena akan mempengaruhi kandungannya." Dokter menjelaskan perihal kondisi Dara yang hanya diangguki Raffa. Masa bodo dengan apa yang terjadi pada Dara. Tidak penting baginya.

Dokter pamit pergi. Raffa memandang sebal ke arah Dara yang tertidur tanpa dosa. Raffa mengguncang pelan bahu Dara merasa jijik harus bersentuhan dengan Dara. Ia kembali mengguncang bahu Dara, tapi kali ini lebih keras. Dara membuka mata menatap sekeliling.

Masih sama, tidak ada yang berubah, padahal dia bermimpi indah.

"Bangun atau saya tinggal dan kau pulang sendiri," ancam Raffa.

Dara yang baru bangun dan kesadarannya belum sepenuhnya berkumpul. Memandang lurus pada langit kamar, tapi ia segera bangkit ketika mendengar kata pulang. Menurunkan kedua kaki. Raffa melangkah meninggalkan Dara di belakang. Pria itu tidak membantu Dara berjalan. Dara menghembus nafas lelah, melangkah perlahan menyusul Raffa.

"Lelet," ucap Raffa ketika Dara tiba.

Tidak tahukah Raffa. Dara harus berpegang untuk membantunya berjalan. Kakinya masih terasa lemas. Tanpa menjawab perkataan Raffa, Dara memilih masuk ke dalam mobil, disusul Raffa dan mobil pun meninggalkan plataran rumah sakit.

***

Happy reading.

Ayo yang mau menghujat Raffa. Aku persilahkan untuk menghujat pria yang bodoh itu. Pria yang tidak melihat Dara dari sudut pandang yang berbeda. Hujat dia 😭 aku gak tega Dara dikatain kaya gitu 🤧

Salam sayang dari aku.

1
sekar
aku tebak fera
sekar
heh berbelit Belit gitu aja Mulu marah banting pintu pergi,harga diri diinjak Suami dan mertua
sekar
berjuang hnya buat org yg mau diperjuangkan dan kata2nya tidak menghina dan merendahkan,itu sama saja dengan menykiti secara mental walau bukan fisik,sungguh aku ga suka dgn suami dara ini
Ran Aulia
Terimakasih kak, ceritanya bagus 😍😍😍👍👍👍
Nur Halima
Luar biasa
Sella Xhu
pasang koplak 🤣
Sella Xhu
thor... ada cerita buat reza sma fera gaaa
heheh
Sella Xhu
Luar biasa
EndRu
Thor
beneran ayah dihukum 20 tahun ..
heran ..
emang melakukan pembunuhan berencana?😀
EndRu
ooh bar tahu aku Thor..
kalau sakit Karena alergi itu pengobatannya juga pakai dibius
EndRu
Oma bisa diajak curhat ini .
EndRu
a trauma kah?
EndRu
di sini agak heran aku nih. masa ada keributan gitu. Bu Lastri sampai ga denger. ga nolongin. apa bi Lastri lagi g ada di rumah
YK
salah paham terus raffa ini. buruk banget karakternya...
YK
seharusnya sikap ini yg dara lakukan ke keluarganya bukan ke suaminya. gak fair.
YK
memang terlalu bodoh. kan bisa lari dulu sama pembokatnya. trus balik pas pembacaan wasiat dari pengacara. Tokoh utamanya LUAR BIASA BEGONYA.
YK
ya Allah, kenapa ada tokoh yang GOBLOKNYA MINTA AMPUN kayak gini ya???
YK
raffa ini sangat buruk tabiatnya. apa harus disandingkan sama dara? terlalu maksa kayaknya..
YK
maaf ya, umur 25 tahun TERLALU TUA utk bersikap seperti Dara.
Christine Youngran: yupsss tua bangetttt..kecuali dia emang ada bego² ya bawaan lahir..
total 1 replies
YK
umur 25 tahun sudah terlalu dewasa utk diperlakukan kyk gini. seharusnya lebih muda lagi, Thor. 21 atau 22 masih pantas lah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!