NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Api yang Diramalkan

Gajah Mada tidak langsung menjawab.

Ia menatap Hayam Wuruk lama sekali, dan Raka, yang duduk di belakang raja muda itu dengan lontar kosong di pangkuan, bisa melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di wajah Mahapatih: bukan marah, bukan tersinggung, melainkan kelelahan yang sangat dalam, seperti seorang lelaki yang telah memikul beban terlalu lama dan baru sadar betapa beratnya.

"Baginda," katanya akhirnya, suaranya rendah dan tenang. "Hamba tidak tahu apa yang akan terjadi tujuh tahun lagi. Tak seorang pun tahu."

"Tapi dia bilang..."

"Dia bilang banyak hal." Gajah Mada tidak menoleh pada Hendar. "Hamba hanya bisa menjawab untuk hari ini. Kalau suatu hari hamba melakukan sesuatu yang merugikan Baginda atau Majapahit, hamba tidak akan menyembunyikan diri. Hamba akan menerima hukuman apa pun yang Baginda tetapkan."

"Itu bukan jawaban."

"Itu satu-satunya jawaban jujur yang hamba punya."

Hayam Wuruk menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca, dan Raka tiba-tiba teringat bahwa pemuda ini baru enam belas tahun, anak yang kemarin masih memanjat rak lontar untuk kabur dari gurunya.

Hendar, yang diam sepanjang percakapan itu, bergeser sedikit dengan senyum penuh pengertian. "Baginda tak perlu terburu-buru memutuskan. Saya hanya ingin Baginda tahu..."

"Tabib." Gajah Mada akhirnya menoleh. Tatapannya sekeras batu. "Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu, Mahapatih."

"Dari mana kau tahu semua itu?"

"Dari naskah-naskah yang saya pelajari sepanjang hidup saya. Kidung dan kitab yang mencatat peristiwa-peristiwa penting kerajaan ini."

"Yang ditulis kapan?"

Hendar berkedip. Hanya sekali. "Bertahun-tahun setelah kejadiannya, tentu."

"Oleh siapa?"

"Oleh para pujangga. Para pencatat sejarah."

"Orang-orang yang belum lahir," kata Gajah Mada, nadanya datar, "menceritakan sesuatu yang belum terjadi, ditulis oleh orang-orang yang tidak ada di sana saat kejadian itu berlangsung. Dan kau memintaku dan Baginda mempercayainya."

"Mahapatih, saya hanya..."

"Tidak apa-apa. Aku tidak menuduhmu berbohong." Gajah Mada mengangkat tangan. "Tapi aku ingin tahu satu hal lagi. Kau meramalkan kebakaran gudang rempah di dekat pasar."

"Ya. Dan itu terbukti."

"Memang." Gajah Mada menyandarkan punggung dan menyilangkan tangan. "Aku sudah menyelidikinya."

Taman itu seketika sunyi. Di balik tirai bambu, Raka bisa membayangkan Mpu Kalandara menahan napas.

"Gudang itu dibakar dengan minyak," lanjut Gajah Mada tenang. "Ada bekasnya di dinding belakang, dan seorang penjaga melihat dua orang menyelinap malam sebelumnya. Dua orang berselempang merah."

Wajah Hendar tetap tenang, tapi Raka, yang mengenalnya lebih baik daripada siapa pun di tempat itu, melihat otot kecil di rahangnya bergerak. Hanya sepersekian detik.

"Itu mengejutkan," kata Hendar halus. "Saya tidak tahu itu."

"Tentu." Gajah Mada tersenyum tipis, tak ada kehangatan di dalamnya. "Seorang peramal yang meramalkan api, lalu api itu muncul tepat sesuai ramalan. Aku sangat penasaran bagaimana kau bisa seyakin itu."

Raka merasakan seluruh tubuhnya menegang. Jadi benar. Anggada dan anak buahnya membakar gudang itu untuk Hendar. Seluruh reputasi sang Tabib dari Langit berdiri di atas sandiwara yang dirancang dengan rapi.

Hendar akhirnya tertawa pelan, tawa yang terdengar jujur dan sedikit menyesal.

"Mahapatih memang sangat cermat," katanya. "Itu membuat saya semakin yakin bahwa kerajaan ini berada di tangan yang tepat. Saya tak akan membantah. Saya hanya bisa bilang, saya tak tahu siapa yang melakukannya, dan saya berharap kita bisa menyelidikinya bersama."

Jawaban yang licin sekali. Tak ada pengakuan, tak ada bantahan, hanya tawaran kerja sama yang membuat Hayam Wuruk tampak ragu-ragu lagi.

Raka tak tahan. Ia membungkuk ke depan, mendekatkan bibirnya ke telinga raja muda itu, dan berbisik pelan:

"Baginda, tanyakan padanya: kalau dia bisa mencegah tragedi, mengapa dia perlu menyingkirkan Mahapatih terlebih dahulu?"

Hayam Wuruk tertegun sesaat. Lalu ia menegakkan tubuh dan menatap Hendar lurus-lurus.

"Tabib. Kalau kau benar-benar ingin mencegah tragedi itu, mengapa kau perlu menyingkirkan Kakang Gajah Mada lebih dulu?"

Untuk pertama kalinya sejak tiba, Hendar tidak punya jawaban siap pakai. Ia membuka mulut, menutupnya lagi, lalu tersenyum kaku.

"Karena, Baginda..."

"Karena kalau Mahapatih ada di sisiku, kau tak bisa mempengaruhiku sendirian," lanjut Hayam Wuruk perlahan, seakan baru mengerti. Matanya menyipit. "Begitu?"

Hening. Dalam cahaya lampion, wajah Hendar tampak seperti topeng yang sedikit retak.

"Baginda salah paham," katanya lembut.

"Mungkin." Hayam Wuruk berdiri, dan untuk sesaat, aura wibawa yang ia pancarkan membuat Raka lupa pada usianya. "Tapi aku seorang raja, Tabib. Dan seorang raja tidak mengambil keputusan di bawah tekanan ramalan. Kau boleh pergi. Kami akan mempertimbangkan semua yang kau sampaikan."

Hendar menatapnya lama. Lalu ia membungkuk dalam-dalam, sempurna dan penuh hormat.

"Seperti yang Baginda perintahkan."

Ia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tenang. Tetapi ketika ia melewati Raka, matanya menyapu singkat, hanya sekali, dan dalam tatapan itu tak ada lagi keramahan. Hanya dingin yang sangat jernih.

Kau memilih sisi, Rak.

Tanpa suara. Tapi Raka mendengarnya jelas.

Setelah Hendar menghilang di balik gerbang taman, Hayam Wuruk menghela napas panjang dan duduk kembali, bahunya merosot seperti balon yang kempes.

"Kakang," katanya lirih. "Maafkan aku. Aku sempat meragukanmu."

"Hamba tidak tersinggung, Baginda." Gajah Mada menunduk dalam. "Keraguan adalah tanda seorang raja yang berpikir."

"Tapi ramalan itu..."

"Mungkin benar, mungkin salah." Gajah Mada mengangkat wajahnya. "Namun apa pun yang terjadi tujuh tahun lagi, hamba akan menghadapinya ketika waktunya tiba, bukan karena ramalan seseorang, tapi karena itu tugas hamba." Ia menoleh sedikit ke arah Raka dan mengangguk, hampir tak terlihat. Tak ada kata terima kasih, tetapi itu cukup.

Raka baru akan menarik napas lega ketika langkah-langkah cepat dan kacau terdengar dari arah gerbang taman.

Seorang prajurit berlumur lumpur dan darah menerobos masuk, terhuyung-huyung, hampir ambruk di depan paviliun. Wirabhaya langsung melompat maju menahan tubuhnya. Raka mengenali wajah itu.

Bekel Tarub.

"Gusti," serunya terengah-engah, matanya liar. "Gusti Wira... Kampung Pandean..."

"Apa yang terjadi?"

"Bengkel Paman Landep dibakar." Tarub menelan ludah, suaranya pecah. "Paman terluka parah. Dua orang kita tewas. Dan..."

Raka merasakan jantungnya berhenti.

"Dan Nyai Sekar," bisik Tarub. "Mereka membawanya."

1
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
mimief
wah ..berat Baginda
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
mimief
sama...aku juga🫣🤣🤣🤣
mimief
wah...
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
mimief
iy bener..
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!