Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. SENYUM DI TENGAH KEKACAUAN
Arka memasukkan buku catatan milik Pak Thom ke dalam tasnya dengan hati-hati. Potongan kertas yang mereka temukan tadi juga disimpannya secara terpisah agar tidak terlipat atau rusak.
Sementara itu, Bastian masih bersandar di ranjang rumah sakit sambil mengamati mereka berdua dengan tatapan penuh arti.
“Jadi, kalian akan pergi sekarang?” tanyanya.
“Ya. Kau perlu istirahat,” jawab Arka. “Lagipula, kalau kami tinggal lebih lama, kau pasti akan terus mengeluh tentang makanan rumah sakit.”
Bastian mendengus.
“Aku mengeluh karena makanannya memang tidak enak. Itu dua hal yang berbeda.”
Sara tertawa kecil.
“Kalau begitu, cepat sembuh. Nanti kami bawakan makanan yang lebih enak.”
Bastian langsung menunjuk Sara dengan wajah berbinar.
“Nah, ini baru perkataan seorang teman yang baik. Berbeda sekali dengan seseorang di sebelahmu itu.”
Arka mengangkat alis.
“Kalau kau ingin aku membawakan makanan, katakan saja. Tidak perlu menyindir.”
“Tidak usah. Aku masih ingin hidup lebih lama.”
Sara kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Bahkan Arka tanpa sadar tersenyum tipis melihatnya.
Bastian menangkap perubahan kecil itu.
Ia menyipitkan mata, memperhatikan wajah Arka, lalu melirik Sara.
Menarik, pikirnya.
Sudah lama ia tidak melihat Arka tersenyum seperti itu. Semasa sekolah, Arka terkenal dingin, sulit didekati, dan lebih suka menyendiri daripada menghabiskan waktu bersama orang lain. Namun, sejak Sara berada di dekatnya, ada beberapa perubahan kecil yang tidak bisa diabaikan.
Tentu saja, Bastian tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggodanya.
“Arka.”
“Apa lagi?”
“Kau sudah punya rencana setelah ini?”
“Pulang.”
“Lalu?”
“Tidur dan mengecek sesuatu tentang kejadian hari ini.”
Bastian menepuk dahinya sendiri.
“Ya Tuhan, hidupmu membosankan sekali.”
“Setidaknya aku tidak menghabiskan waktu di rumah sakit hanya untuk mengeluhkan makanan.”
“Baiklah, Tuan Pemilik Kebun Anggur.” Bastian menyeringai. “Kalau begitu, sebelum pulang, bagaimana kalau kau mengajak Sara ke restoran?”
Arka yang sedang merapikan tas langsung berhenti bergerak.
Sara pun menoleh dengan cepat.
“Restoran?” ulangnya.
“Benar.” Bastian mengangguk mantap. “Restoran yang bagus, makanan yang enak, suasana yang romantis. Kalian bisa makan malam bersama, mengobrol, lalu menikmati waktu berdua.”
Ia sengaja berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada menggoda, “Dengan kata lain, berkencan.”
“BASTIAN!” seru Arka dan Sara bersamaan.
Bastian langsung tertawa terbahak-bahak.
Namun, tawanya berubah menjadi ringisan ketika ia tanpa sengaja menggerakkan kaki yang terluka.
“Aduh! Sial, sakit!”
“Makanya, jangan tertawa berlebihan,” kata Arka datar.
“Ini semua gara-gara kau!” Bastian menunjuknya sambil meringis. “Aku sedang berusaha membantu kehidupan percintaanmu, tetapi kau malah mengancamku dengan wajah seperti ingin membunuh seseorang.”
“Aku tidak pernah meminta bantuanmu.”
“Karena kau terlalu gengsi untuk mengakuinya!”
Sara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pipinya memerah, dan ia bahkan tidak berani menatap Arka.
“Kami tidak sedang berkencan,” katanya akhirnya.
Bastian memiringkan kepala.
“Siapa yang bilang kalian sedang berkencan? Aku baru menyarankan.”
“Itu bukan sesuatu yang perlu kau sarankan!” balas Sara.
“Oh, begitu.” Bastian mengangguk-angguk seolah baru memahami sesuatu. “Jadi, kalian memang belum berkencan.”
“Bastian!”
“Baik, baik! Aku diam!”
Ia mengangkat kedua tangan, tetapi senyum jahilnya tidak menghilang sedikit pun.
Arka mengembuskan napas panjang.
“Seharusnya aku membiarkanmu mengeluh sendirian.”
“Dan membiarkanmu pulang tanpa mendapatkan nasihat percintaan yang berharga? Tidak bisa!”
Arka mengambil jaketnya dari sandaran kursi.
“Aku pulang sekarang.”
“Jangan lupa restoran!” seru Bastian ketika Arka mulai berjalan menuju pintu. “Kalau bisa, pesan meja untuk dua orang!”
Arka tidak menjawab.
Namun, Sara sempat melihat telinga Arka memerah sebelum ia keluar dari kamar.
Pemandangan itu membuatnya tersenyum diam-diam.
Sara berpamitan kepada Bastian beberapa saat kemudian, setelah memastikan mereka tidak membutuhkan apa-apa lagi.
Ketika Arka dan Sara berjalan menyusuri koridor rumah sakit, suasana di antara mereka terasa sedikit berbeda.
Biasanya, Sara tidak kesulitan mengobrol dengan Arka. Ia bisa bertanya apa saja, bahkan memarahinya jika Arka bertindak ceroboh.
Namun, setelah ucapan Bastian tadi, entah mengapa setiap kali ia melirik Arka, bayangan kata berkencan selalu muncul di kepalanya.
Sara segera mengalihkan pandangan.
Kenapa aku malah memikirkannya?
Sementara itu, Arka berjalan dengan kedua tangan di saku celana. Ia tampak tenang seperti biasa, tetapi pikirannya ternyata tidak jauh berbeda.
Restoran.
Makan malam berdua.
Kencan.
Ia mengerutkan kening, seolah berusaha mengusir kata-kata itu dari kepalanya.
“Arka?”
“Hm?”
“Kau marah karena ucapan Bastian tadi?”
Arka menoleh.
“Kenapa aku harus marah?”
“Entahlah. Kau terlihat kesal.”
“Aku memang kesal.”
Sara langsung menunduk.
“Oh.”
Arka memperhatikan perubahan ekspresinya, kemudian menyadari bahwa jawabannya mungkin terdengar berbeda dari yang ia maksudkan.
“Maksudku, aku kesal karena dia tidak bisa berhenti bicara.”
Sara mengangkat wajahnya perlahan.
“Oh.”
“Kenapa kau mengulang kata itu?”
“Tidak apa-apa.”
“Kau aneh.”
Sara langsung menatapnya tajam.
“Siapa yang aneh? Kau sendiri yang menjawab dengan cara seperti itu!”
Arka terdiam sejenak, kemudian mengeluarkan suara tawa pendek.
Sara membeku.
Itu bukan pertama kalinya ia melihat Arka tersenyum, tetapi mendengar Arka tertawa kecil secara langsung selalu terasa berbeda. Wajahnya yang biasanya tampak dingin mendadak terlihat lebih hangat.
“Apa?” tanya Arka ketika menyadari Sara sedang menatapnya.
“Tidak ada.”
“Kau menatapku.”
“Karena wajahmu aneh saat tertawa!”
Arka mengangkat sebelah alis.
“Begitu, ya?”
Sara langsung mempercepat langkahnya, meninggalkan Arka beberapa meter di belakang.
Namun, sebelum ia sempat mencapai pintu keluar, Arka menyusul dan berjalan di sampingnya.
“Pelan-pelan. Kau bisa tersandung.”
“Aku tidak akan tersandung.”
Baru beberapa langkah kemudian, ujung sepatu Sara tersangkut sedikit pada bagian lantai yang tidak rata.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
“Ah!”
Arka segera menangkap lengannya, lalu menopang pinggangnya sebelum ia benar-benar terjatuh.
Untuk beberapa detik, keduanya terdiam.
Sara mendapati dirinya berdiri sangat dekat dengan Arka. Satu tangan Arka masih menahan pinggangnya, sementara tangan lainnya menggenggam lengannya.
Ia bisa melihat wajah Arka dengan jelas dari jarak sedekat itu.
“Kau bilang tidak akan tersandung,” ujar Arka pelan.
Sara menelan ludah.
“Aku… tidak sengaja.”
“Hm.”
“Jangan mengejekku!”
“Aku tidak mengejekmu.”
“Wajahmu mengatakan sebaliknya!”
Arka menghela napas kecil, tetapi ia tidak langsung melepaskan Sara.
“Kau baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Sara berhenti mengomel.
Arka tidak lagi tersenyum mengejek. Tatapannya justru dipenuhi kekhawatiran yang tulus.
Sara mengangguk.
“Ya. Terima kasih.”
Arka akhirnya melepaskan tangannya, meskipun gerakannya terasa sedikit enggan.
“Lain kali, hati-hati.”
Sara merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.
“Kalau begitu, jangan berjalan terlalu cepat.”
“Aku berjalan biasa.”
“Menurutmu.”
Mereka kembali melangkah menuju pintu keluar. Kali ini, jarak di antara keduanya terasa lebih dekat daripada sebelumnya.
Dan tanpa mereka sadari, Bastian telah berhasil menanamkan satu pikiran yang sama di kepala mereka.
Bagaimana rasanya jika suatu hari nanti mereka benar-benar pergi berkencan?
Begitu sampai di area parkir, Arka mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.
Namun, sebelum ia sempat membuka pintu, ponselnya tiba-tiba berdering.
Suara itu membuat keduanya berhenti.
Arka mengeluarkan ponselnya dan melihat layar.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengerutkan kening.
“Siapa?” tanya Sara.
“Tidak tahu.”
Arka mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?”
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Lalu, terdengar suara seseorang di seberang telepon.
“Selamat pagi, Tuan Pemilik Kebun Anggur!”
Arka terdiam.
Suara itu terdengar aneh, seolah orang yang menelepon sedang berusaha menahan tawa.
“Siapa ini?” tanyanya dingin.
“Aku hanya ingin bertanya sesuatu yang sangat penting.”
“Apa?”
“Apakah kau sudah mengajak Nona Sara berkencan?”
Arka memejamkan mata.
Sara yang berdiri di sampingnya langsung membelalakkan mata.
“BASTIAN!”
Dari seberang telepon terdengar tawa keras.
“HAHAHA! Kalian benar-benar cocok! Bahkan teriakan kalian saja sudah serasi!”
Arka menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar.
“Kau menggunakan nomor lain hanya untuk menanyakan hal bodoh seperti ini?”
“Tentu saja! Nomor pribadiku sedang tidak bisa digunakan untuk menghubungi orang-orang penting.”
“Kalau begitu, jangan hubungi aku lagi.”
“Tunggu, tunggu! Aku belum selesai!”
Arka sudah hampir menutup panggilan ketika Bastian buru-buru melanjutkan.
“Dengar, Kawan. Aku serius kali ini. Hidup itu terlalu singkat. Kau hampir kehilangan nyawa karena kasus ini, aku juga hampir kehilangan kakiku, dan kita bahkan tidak tahu siapa yang akan menjadi korban berikutnya. Jadi, kalau ada seseorang yang kau sayangi, jangan terus menunggu sampai semuanya terlambat.”
Senyum di wajah Arka perlahan menghilang.
Sara yang tadinya kesal pun terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak panggilan dimulai, Bastian tidak terdengar sedang bercanda.
“Jangan gunakan kasus ini untuk menggodaku,” jawab Arka pelan.
“Aku tidak sedang menggodamu.”
Keheningan singkat menyelimuti percakapan mereka.
Kemudian Bastian kembali menggunakan nada jahilnya.
“Tapi serius, ajak dia ke restoran. Minimal belikan dia makan malam. Kalau kau tidak tahu harus memesan apa, pilih saja makanan yang dia suka. Jangan sampai kau lebih pandai memilih anggur daripada memilih menu untuk seorang perempuan!”
Arka mengusap keningnya.
“Aku tutup.”
“Jangan lupa—”
Panggilan terputus.
Arka memasukkan ponsel ke sakunya dengan wajah masam.
Sara menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil.
“Temanmu benar-benar lucu.”
“Dia bukan temanku.”
“Lalu siapa?”
“Gangguan dalam hidupku.”
Sara tertawa lebih lepas.
Arka menoleh kepadanya. Ia tidak tahu mengapa, tetapi mendengar Sara tertawa seperti itu membuat kekesalan yang dirasakannya beberapa saat lalu perlahan menghilang.
“Apa yang lucu?”
“Tidak ada.” Sara menggeleng, masih tersenyum. “Aku hanya tidak menyangka seorang kepala polisi bisa bertingkah seperti anak kecil.”
“Kalau dia sudah sembuh, aku akan memastikan dia menyesali panggilan itu.”
“Jangan terlalu kejam kepadanya.”
Arka membuka pintu mobil untuk Sara.
“Silakan masuk, Nona.”
Sara tertegun sesaat.
Ia tidak menyangka Arka akan membukakan pintu untuknya. Biasanya, Arka memang perhatian, tetapi jarang menunjukkan sikap manis dengan cara yang begitu jelas.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Ketika Sara hendak masuk, Arka tiba-tiba memanggilnya.
“Sara.”
Perempuan itu menoleh.
“Ya?”
Arka tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia terdiam cukup lama hingga Sara mulai merasa penasaran.
“Ada apa?”
Arka mengalihkan pandangan sejenak ke arah gedung rumah sakit, kemudian kembali menatapnya.
“Kalau suatu hari nanti kita punya waktu luang…”
Sara menunggu.
“…maukah kau makan malam denganku?”
Dunia seolah berhenti bergerak selama beberapa detik.
Sara menatap Arka dengan mata membesar.
“Apa?”
Arka sendiri tampak terkejut oleh perkataannya. Ia tidak menyangka kalimat itu benar-benar keluar dari mulutnya.
“Maksudku, kita bisa makan setelah semua urusan ini selesai. Kita sudah terlalu sibuk dengan kasus ini.”
Sara menggenggam ujung tasnya.
“Jadi… bukan karena ucapan Bastian tadi?”
Arka terdiam.
Ia bisa saja menyangkalnya. Ia bisa mengatakan bahwa ajakan itu tidak memiliki arti apa-apa.
Namun, entah mengapa, ia tidak ingin berbohong kepada Sara.
“Sebagian karena dia,” jawabnya akhirnya. “Tapi bukan berarti aku tidak ingin pergi bersamamu.”
Wajah Sara perlahan memerah.
Arka membuka pintu mobil lebih lebar, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
“Tidak perlu menjawab sekarang. Anggap saja aku sedang mengajakmu makan malam.”
Sara menunduk sebentar sebelum tersenyum kecil.
“Baiklah.”
Arka menoleh.
“Baiklah?”
Sara mengangguk.
“Aku mau.”
Kali ini, Arka benar-benar kehilangan kata-kata.
Sara segera masuk ke mobil sebelum Arka sempat melihat wajahnya semakin merah.
Sementara Arka masih berdiri di luar selama beberapa detik, mencoba memahami jawaban yang baru saja didengarnya.
Lalu, ia tersenyum tipis.
“Baiklah,” gumamnya kepada diri sendiri.
Ia masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin.
Di dalam mobil, Sara berpura-pura memperhatikan pemandangan di luar jendela, meskipun senyum kecil terus muncul di bibirnya.
Tak satu pun dari mereka berani membicarakan ajakan makan malam itu lagi.
Namun, ketika mobil mulai meninggalkan rumah sakit, Arka diam-diam melirik Sara.
Dan Sara, yang kebetulan sedang menoleh ke arahnya, segera mengalihkan pandangan dengan wajah memerah.
Untuk pertama kalinya setelah serangkaian kejadian mengerikan di Desa, perjalanan pulang mereka terasa sedikit lebih ringan.
Meski begitu, di dalam tas Arka, buku catatan milik Pak Thom masih menyimpan rahasia yang belum terpecahkan.
Nama Tiara Chenzae.
Lima belas orang yang menghilang.
Dan peringatan tentang seseorang yang tidak boleh kembali ke Sagara.
Mereka mungkin baru saja menemukan sedikit kebahagiaan di tengah kekacauan itu.
Namun, Arka tahu bahwa begitu mereka kembali ke desa, misteri yang menunggu mereka tidak akan menjadi lebih mudah.
Bahkan, mungkin justru jauh lebih berbahaya.