Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah menikmati makan malam bersama, Andra dan Faris tengah duduk santai diruang tamu sementara Aini tengah membuatkan kopi
"Kamu gak naksir sama kakak ipar kamu sendiri kan, Ris?" Tiba-tiba saja Andra mengatakan itu
"Abang ngomong apa sih? Ya gak mungkinlah" Faris juga masih sadar siapa Aini
"Terus kenapa kamu perhatian banget sama Aini? Kamu sampe bawain makanan kesukaan dia"
Hal ini jelas mengganjal dihati Andra sebagai seorang suami. Ia tidak senang jika ada seorang pria yang memberi perhatian pada istrinya
"Aku hanya kebetulan lewat dan kebetulan liat penjualnya terus keinget sama kak Aini" Jawab Fari apa adanya
"Tapi kenapa Abang ngerasa kalau kamu naksir istri Abang"
"Kak Aini itu cantik, wajar kalau banyak yang naksir" Ucap Faris jujur "Sebenarnya ini tugas Abang! Abang harus bisa jagain kak Aini karena banyak laki-laki diluar sana mau punya istri seperti kak Aini"
Andra terdiam, ia tidak tahu apa yang coba adiknya ini sampaikan. Tapi ia memang mengabaikan Aini setelah ia menikah dengan Sarah
"Mereka bisa nyoba"
"Abang jangan terlalu percaya diri, bisa aja kak Aini yang memutuskan untuk pergi"
Tak lama Aini datang dengan nampan berisi dua gelas kopi dan cemilan. Ia letakkan diatas meja lalu tersenyum
"Aku pulang dulu yaa kak" tiba-tiba saja Faris bangun dari duduknya saat Aini ikut bergabung
"Loh kok buru-buru banget? Kakak baru aja bikinin kopi" Aini terlihat sedih
"biarin aja kalau dia mau pulang, dek" Andra bersuara karena tidak senang saat istri nya itu seperti mencegah kepergian adik iparnya
"Makasih buat makanannya yaa, Ris" Aini tersenyum dan itu membuat pria yang duduk diatas sofa sana menatap dengan tatapan tidak suka
"Sama-sama kak, nanti kalau aku gajian lagi aku beliin lagi makanan favorit kak Aini"
"Abang bisa beliin kalau Abang gajian, gak perlu kamu"
"Kalau Abang bisa, boleh tambahin uang bulanan kak Aini! Kasian kak Aini cuma masak tahu tiap hari" mendengar ucapan sang adik jelas menyulut amarah Andra
Harga dirinya sebagai seorang suami rasanya diinjak-injak
"Maksud kamu apa? Memangnya kamu tau uang yang Abang kasih buat Aini itu berapa?" Andra bahkan sudah bangun dari duduknya
"Udahlah, Ris! Lebih baik kamu pulang aja!" Aini tidak ingin ada pertengkaran diantara kakak beradik ini
"Aku pamit dulu yaa kak" Aini mengangguk, lalu Faris meninggalkan rumah sang kakak
"Kamu bicara sama Faris tentang uang bulanan?" Andra kesal karena sang istri malah membuka rahasia dalam rumah tangga mereka
"Aku gak bicara apapun sama Faris, dia liat aku masak tadi" Aini tidak ingin bertengkar, wanita itu hendak berlalu namun Andra menarik lengannya
"Apa-apaan sih kamu mas?" Aini berusaha melepas cengkraman itu namun tidak bisa "Lepas mas! Ini sakit"
"Kamu suka sama Faris?"
Aini membulatkan matanya, pertanyaan seperti apa yang suaminya berikan. Bagaimana bisa ada tuduhan seperti itu
"Kamu nanya apa sih? Aku gak mungkin suka sama adik ipar aku sendiri" Aini melepas cengkraman itu dengan paksa
"Tapi dia suka sama kamu" Ya, Andra tidak mungkin salah, perhatian yang adiknya itu berikan menunjukkan jika pemuda itu tertarik pada Aini
"Kamu ngada-ngada tau gak mas, tuduhan kamu itu gak ada buktinya" Aini pergi setelah itu. Bagaimana bisa suaminya memiliki pikiran seperti itu
"Aini gak mungkin berpaling sama Faris" Andra menggelengkan kepalanya, otaknya ini pasti bermasalah
***
"Kamu tuh dari mana aja sih mas? Bisa-bisanya kamu gak kesini tiga hari" Kesal hati Sarah karena suaminya berada dirumah Aini selama tiga hari dan tidak menghubunginya
"Aku kan udah disini, Sarah" Ucap Andra sambil menjatuhkan tubuhnya diatas sofa
"Ya tapi kamu gak pulang tiga hari, apa sih yang bikin kamu betah sama istri pertama kamu yang ngebosenin itu" Sarah mencibir karena merasa Aini itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya ini
"Aku harus jagain Aini, kayaknya si Faris suka sama kakak iparnya sendiri" Ya, beberapa hari ini Andra sengaja tidak meninggalkan Aini karena tidak ingin sang adik yang berkunjung kerumahnya
"Buat apa kamu jagain, mas? Biarin aja dia sama adik kamu" Sarah merasa suaminya ini aneh, katanya tidak cinta, lalu kenapa kesannya seperti cemburu
"Kamu gak akan ngerti, udahlah! Aku kesini itu mau nenangin pikiran, bukan berantem"
Sarah mengerti, ia duduk disamping suaminya, sambil bergelayut manja
"Aku itu butuh perhatian lebih loh, mas. Aku kan lagi hamil" Sarah merengek, ia tidak suka jika Andra masih perhatian pada Aini
"Aku kan udah disini, dalam seminggu juga aku lebih banyak sama kamu"
Andra merasa dirinya sudah cukup adil, Aini bahkan mendapat jatah paling sedikit karena biasanya Andra akan beralasan keluar kota
"Tetep aja aku cemburu"
"Iya, maaf yaa"
***
Hari ini Aini memutuskan untuk berjalan-jalan, dirinya akan bersenang-senang bersama putri semata wayangnya
Suaminya tidak pulang karena memiliki pekerjaan, entah pekerjaan apa Aini juga tidak tahu
Usia Kasih juga bertambah dan hari ini adalah ulang tahun putrinya yang pertama. Tidak ada perayaan yang istimewa karena ayah dari putrinya tidak disini
Aini sendiri tidak tahu apa suaminya lupa hari jadi putrinya yang pertama
"Karena Kasih ulang tahun, hari ini kita puas-puasin jalan-jalannya" Aini bercengkrama dengan putrinya, saat ini keduanya tengah berada didalam taksi online karena Aini akan membawa putrinya ke mall
Sesampainya disana, Aini menjadi pusat perhatian. Ia tersenyum pada orang-orang yang menatapnya seperti dirinya ini adalah sampah
Ya, ia memang terlihat biasa saja. Pakaiannya hanya kaus serta celana panjang sambil mendorong stroller
Tidak ingin pusing, Aini melangkah masuk sambil membawa putrinya. Tujuan pertama adalah toko mainan karena dirinya ingin membeli sesuatu yang putrinya inginkan
Aini sengaja menggunakan uang tabungannya dari Dedi sang ayah. Ya, setiap panen, sang ayah memang memberikan sedikit hasil penjualan padanya dan Aini menabungnya
"Kasih mau yang ini?" Kasih tersenyum, tangannya bahkan terulur meraih mainan yang ibunya tunjukkan
"Hay" Aini menoleh pada seorang pria yang menyapanya, wajahnya terlihat familiar dan Aini merasa pernah bertemu "Kamu masih ingat aku?"
Aini tersenyum "Mas yang waktu itu di taman kan?" Ya, Aini ingat wajah tampannya, walaupun baginya hanya Andra yang tampan
"Aku pikir kamu lupa" Pria tampan itu tersenyum hingga menampilkan cekungan di kedua pipinya "Aku Yudha"
Aini menyambut uluran tangan itu "Aini"
Pria bernama Yudha itu tersenyum, nama yang indah dan itu sesuai dengan wajah cantiknya. Sayangnya semua itu hanya bisa diungkapkan didalam hatinya
"Bu" Suara Kasih terdengar, mungkin putri kecil itu mulai bosan karena sang ibu yang sibuk
"Maafin ibu yaa, nak. Kasih laper yaa" Aini membujuk putrinya, hal yang semakin membuat Yudha jatuh hati
Selama ini ia menginginkan pasangan yang bukan hanya cantik, tapi juga lembut dan begitu penyayang
"Maaf yaa mas Yudha, saya permisi dulu" Aini hendak berlalu namun suara Yudha terdengar
"Kamu mau makan kan? Kita bersama saja, saya juga mau makan"
Aini tampak ragu "Tapi saya..."
"Iya saya juga, ayo!" Aini tidak bisa mencegah, bahkan Yudha sudah mendorong stroller itu menuju kasir, mereka harus membayar mainan yang Aini bawa
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.