Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK-ANAK SIKUMBANG DI GERBANG SMP NEGERI PANDE SIKEK
PANDE SIKEK, 1975 - HARI PENGUMUMAN
Pagi itu kabut masih menggantung tipis di lereng Gunung Singgalang, menyelimuti Nagari Pande Sikek dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Belum ada listrik. Asap tungku kayu bakar mengepul dari dapur-dapur rumah papan yang dindingnya sudah mulai lapuk dimakan usia dan hujan.
Di sebuah rumah papan sederhana yang lantainya tanah yang dipadatkan, dua orang anak duduk dengan gelisah di atas tikar pandan yang sudah menipis. Mereka adalah Arya Arsyad Sikumbang, umur 10 tahun, dan kakaknya Arlan Rasyad Sikumbang, umur 13 tahun. Wajah mereka mirip karena satu ayah, Abdullah bin Rais Payobadar, tapi sorot mata mereka berbeda. Arya, sang adik yang paling bungsu, memiliki tatapan yang tajam dan penuh rasa ingin tahu. Padahal umurnya baru 10 tahun, tapi ia sudah duduk di SMP Kelas 1, sekelas dengan Arlan. Sementara Arlan, lebih pendiam, namun memiliki ketekunan yang luar biasa.
Hari itu adalah hari yang sangat menentukan. Hari pengumuman penerimaan siswa baru di SMP Negeri Pande Sikek, satu-satunya sekolah menengah pertama negeri yang menjadi impian seluruh anak X Koto. Bagi keluarga Sikumbang, sekolah itu adalah harapan besar untuk memutus rantai kemiskinan. Ayah mereka hanyalah petani bawang dan tukang ukir surian yang penghasilannya tak menentu, sementara ibu mereka, Siti Aminah Sikumbang, adalah ibu rumah tangga yang gigih.
Perjuangan untuk bisa diterima di sekolah itu tidaklah mudah. Nilai ujian akhir sekolah dasar mereka sebenarnya sangat baik, terutama Arya yang selalu juara kelas walaupun umur baru 10 tahun. Namun, karena keterlambatan pengurusan berkas administrasi kepindahan domisili, nama mereka hampir tidak masuk dalam daftar verifikasi awal. Di tahun 1975 belum ada mesin fotokopi di Pande Sikek. Semua berkas harus ditulis tangan dengan kertas karbon rangkap tiga. Salah satu huruf saja, harus ulang dari awal.
Siti Aminah telah berhari-hari mondar-mandir dari kantor wali nagari ke kantor dinas pendidikan di Padang Panjang dengan membawa map plastik lusuh berisi kertas-kertas karbon yang tintanya sudah belepotan. Air matanya sudah hampir kering. Yang membantunya adalah Bu Nasbah, penjahit rumahan yang gigih, tetangga mereka yang sudah dianggap seperti keluarga.
Keajaiban datang dari arah yang tidak diduga. Salah seorang guru di SMP Negeri Pande Sikek, wanita paruh baya yang dikenal sangat disiplin dan disegani bernama Ibu Gusni, ternyata masih memiliki hubungan darah dengan Siti Aminah Sikumbang. Ibu Gusni adalah saudari sepupu jauh Siti Aminah dari garis ibu. Hubungan mereka sudah lama renggang, namun darah Minang yang kental dengan falsafah dunsanak tetap mengalir.
Ketika Siti Aminah dengan Bu Nasbah memberanikan diri datang ke rumah panggung Ibu Gusni membawa oleh-oleh rendang jengkol yang dibungkus daun, ia menceritakan semua keluh kesahnya sambil terisak di beranda.
Ibu Gusni yang pada awalnya terlihat kaku, akhirnya luluh. Ia bukan tipe yang akan kolusi. Ia dengan tegas mengatakan, "Janji, kalau nilai anak-anak kamanakan memang elok, ambo akan bantu carikan jalan supayo berkasnyo bisa diproses ulang. Tapi kalau indak, ambo indak bisa."
Setelah memeriksa sendiri daftar nilai tulis tangan dan sertifikat penghargaan Arya dan Arlan, Ibu Gusni akhirnya yakin. Ia membawa berkas itu langsung kepada bagian tata usaha dan menjelaskan duduk perkaranya secara jujur.
Berkat kejujuran itulah, pintu yang hampir tertutup akhirnya terbuka kembali. Kepala sekolah memberikan kebijakan khusus untuk verifikasi ulang berkas yang tertunda karena alasan kemanusiaan. Dan pada pagi pengumuman itu, ketika daftar nama ditempel di papan pengumuman sekolah - papan kayu yang dipaku di dinding, bukan mading kaca - nama Arya Arsyad Sikumbang dan Arlan Rasyad Sikumbang tertera jelas di sana, pada urutan ke-12 dan ke-13. Siti Aminah yang melihatnya langsung sujud syukur di halaman sekolah yang masih tanah, sementara kedua anaknya berpelukan dengan mata berkaca-kaca.
Kebahagiaan itu berlanjut ke minggu pertama sekolah, yang diisi dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS. Semua siswa baru mengenakan seragam putih biru yang masih baru, yang masih bau toko dan kebesaran. Arya yang 10 tahun pakai baju turun-temurun dari Andi Rajo Alam, kakak sulungnya yang 17 tahun Kelas 3 SMA, yang kerahnya sudah menguning. Mereka duduk di barisan paling depan di tanah, mencatat dengan buku tulis sampul gambar pahlawan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama bagi Arya.
Pada hari ketiga MPLS, tepat setelah upacara siang di bawah matahari terik, Pak Mansur petugas tata usaha datang ke lapangan. Tidak ada pengeras suara listrik, karena listrik belum masuk desa sampai tahun 90-an. Ia hanya memakai corong gulungan dari kaleng bekas susu, dan dengan suara lantang ia memanggil, "Ananda Arya Arsyad Sikumbang, dimohon segera menghadap ke ruangan Kepala Sekolah. Sekarang."
Sontak, seluruh pasang mata tertuju pada Arya. Bisik-bisik mulai terdengar. Arlan yang 13 tahun sekelas dengannya menatap adiknya yang 10 tahun itu dengan cemas.
Dengan langkah gontai, Arya berjalan mengikuti petugas tersebut menuju gedung utama, meninggalkan lapangan yang penuh tanya.
Ruangan Kepala Sekolah SMP Negeri Pande Sikek tahun 1975 terasa sangat berwibawa. Dindingnya dari papan kayu, dipenuhi dengan piala-piala kejuaraan cerdas cermat dari kayu ukir. Tidak ada AC, karena listrik pun belum ada. Hanya ada jendela kayu besar yang dibuka lebar, angin Singgalang masuk dingin, dan sebuah kipas manual dari anyaman lidi yang tergantung. Di sana, telah menunggu Kepala Sekolah, Bapak Drs. Syafrianto, pria berkacamata yang terkenal visioner, bersama dengan Ibu Gusni dan guru IPA, Ibu Rina.
"Arya," buka Bapak Syafrianto dengan suara tenang, "Ibu Gusni banyak bercerita tentang kamu. Beliau bilang kamu anak yang sangat istimewa, umur 10 tahun tapi sudah SMP Kelas 1. Benarkah kamu selama liburan kemarin sudah menghabiskan semua buku IPA Kelas 1 dan 2 SMP milik sepupumu dari Padang Panjang?" Arya yang masih gugup hanya mengangguk pelan.
Bapak Kepala Sekolah tersenyum. "Bagus. Kami tidak meragukan kelulusanmu, Nak. Tapi kami ingin tahu, di mana sebenarnya posisimu berada." Ibu Rina meletakkan sebuah map cokelat tebal yang sudah lusuh di atas meja kayu jati. "Ini adalah soal Ujian Akhir Semester untuk Kelas 3 SMP, IPA Terpadu. Kami ingin kamu mengerjakannya di sini, sekarang. Waktunya dua jam."
Arya tertegun. Ujian Kelas 3 SMP? Ia baru 10 tahun, baru masuk SMP Kelas 1. Namun melihat sorot mata penuh harap dari Ibu Gusni yang mengangguk memberi semangat, keberaniannya muncul. Ia teringat pesan Mamaknya, Usman bin Rauf Sikumbang: "Ilmu pangatahuan dahulu, baru ilmu silek."
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka map tersebut.
Ruangan itu menjadi sunyi senyap. Hanya terdengar detak jam dinding kayu yang berderak dan goresan pensil Arya di atas kertas. Beberapa guru yang tadinya menunggu di luar, ikut masuk dan berdiri di sudut ruangan yang hanya diterangi cahaya dari jendela. Mereka melihat seorang anak kecil 10 tahun berseragam SMP yang kebesaran, duduk mengerutkan kening, mencoba menjawab hukum Newton dan fotosintesis.
Dua jam berlalu. Arya meletakkan pensilnya dengan napas terengah-engah. Keringat membasahi pelipisnya meskipun ruangan itu dingin karena angin gunung.
Bapak Kepala Sekolah mengambil lembar jawabannya dan bersama Ibu Rina mulai memeriksanya di tempat. Wajah Ibu Rina yang awalnya datar, perlahan berubah menjadi terkejut.
Hasilnya sungguh di luar dugaan. Dari 50 soal, Arya berhasil menjawab benar hampir 85 persen. Kesalahan hanya pada materi Kimia tingkat lanjut yang belum pernah ia baca.
Kepala Sekolah Drs. Syafrianto berdiri dan menepuk pundak Arya. "Luar biasa, Nak. Kamu bukan anak biasa."
Keesokan harinya, Arya kembali dipanggil. Di atas meja kayu yang sudah dimakan rayap, sudah tersusun beberapa buku tebal tahun 1975: buku Biologi Kelas 1 SMA, buku Fisika Kelas 1 SMA, dan buku Kimia Kelas 2 SMA. Sampulnya sudah lepas, halamannya menguning.
"Kami beri waktu satu minggu. Pelajari semua yang bisa kamu pelajari. Minggu depan kembali lagi ke sini. Sanggup?" tanya Kepala Sekolah.
Tanpa ragu, Arya yang 10 tahun SMP Kelas 1 itu mengangguk dengan mantap. Matanya berbinar-binar di bawah cahaya jendela. "Sanggup, Pak."
Selama seminggu ke depan, kehidupan Arya berubah total. Ia mengurung diri di kamar kecilnya yang hanya diterangi lampu minyak dan lampu petromaks yang harus dipompa dan mendesis. Tumpukan buku SMA itu menjadi dunianya. Arlan, kakaknya yang 13 tahun yang sekelas dengannya, dengan setia membantunya membuatkan kopi hitam tubruk dan menjaga agar petromaks tidak mati. Siti Aminah, ibunya, meskipun khawatir, tidak melarangnya. Ia tahu, api yang menyala di dalam diri Arya tidak boleh dipadamkan.
Di sekolah, cerita tentang "Anak Ajaib 10 Tahun SMP Kelas 1 dari Pande Sikek" mulai menyebar di kalangan dewan guru yang sore harinya pulang dengan berjalan kaki menembus kabut.
Semua orang menantikan hari Senin berikutnya, hari di mana Arya Arsyad Sikumbang akan kembali diuji dengan materi anak SMA, setelah ia sendiri yang meminta waktu selama seminggu untuk mempelajari semuanya di bawah lampu petromaks.
Sebuah kisah baru tentang kejeniusan dan kerja keras baru saja dimulai di lereng Gunung Singgalang itu. Dari sinilah, tiga tahun setelah ia menolak naik dari Kelas 1 ke Kelas 5 di SD Negeri No. 1 tahun 1972, anak yang dulu hanya minta buku itu kini membuktikan diri, sebelum akhirnya di tahun 1975 malam Jumat di Talago Biru, Mamaknya Usman bin Rauf Sikumbang akan menitipkan Silek Tuo Harimau kepadanya.