NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEKAPAN DARREN

          Sel itu kembali hening, Hanya suara tetesan darah dari ujung meja ke lantai yang terdengar.

Di tengah kekacauan itu, Reana masih duduk memeluk lututnya. Matanya tertutup rapat seperti yang diperintahkan Darren. Tubuhnya gemetar. Baju tahanan Darren yang kebesaran melorot di bahunya.

Langkah kaki Darren mendekat, Berat, namun Pasti.

Tangan besar cowok itu menyentuh bahunya dengan hati-hati.

"Kau baik-baik saja"

Suaranya serak, Parau, tidak sedingin tadi.

Reana tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan. Air mata tetap jatuh.

"Buka matamu," bisik Darren

"... aku takut lihat kamu..." suara Reana pecah.

"Aku takut dengan... semua ini..."

Darren terdiam beberapa detik. Lalu ia berjongkok di hadapannya. Darah masih menetes dari pelipisnya ke lantai.

"Aku juga takut," ucapnya pelan.

Reana membuka mata sedikit. Terkejut.

Wajah Darren banyak luka. Memar di rahang, luka sobek di bibir, darah kering di leher. Tapi matanya... mata itu menatap Reana dengan cara yang sama seperti dulu. Datar, tapi ada sesuatu yang menahan.

"Kamu bohong," bisik Reana.

"Kamu bilang nggak peduli sama aku, Kamu bilang aku bikin kotor ranjangmu."

Darren menarik napas panjang. Ia mengusap jempolnya ke pipi Reana, menghapus air mata. Tangannya dingin dan ada bekas darah di sana.

"Aku harus bilang begitu," jawabnya datar

Reana menggigit bibirnya, lalu matanya menatap sekeliling. Mayat bergelimpangan, Bau amis menusuk hidung. Ia langsung memalingkan wajah.

Darren langsung menariknya ke pelukannya. Bukan pelukan kasar, Pelukan yang menutupi. Menutupi Reana dari pemandangan di belakangnya.

"Jangan di lihat," bisiknya di telinga Reana

"Tanganmu..."

Reana menyentuh tangan Darren yang penuh luka dan goresan.

"Sakit?"

Darren menatap tangannya sendiri lalu menggeleng.

"kenapa kau selalu membantu ku, kau bahkan rela di pukul demi aku..."

"Kita... padahal tidak pernah sama sekali saling mengenal, tapi yang kau lakukan sekarang..."

"Seperti aku adalah orang yang berharga dalam hidupmu"

Ucap Reana lirih, matanya menatap intens mata Darren. berusaha mencari jawaban pada tatapan dingin itu. Darren tidak menjawab pertanyaan Reana.

Ia hanya menatap gadis itu lama. Lalu tanpa aba-aba, ia menyelipkan satu tangan ke belakang punggung Reana, satu lagi ke bawah lututnya.

"Eh-"

Sebelum Reana sempat protes, tubuhnya sudah terangkat.

Darren menggendongnya.

"Darren, aku bisa jalan sendiri..." bisik Reana pelan.

Darren diam. Langkahnya tetap maju, keluar dari BLOK A - 180.

Sel itu sudah tidak bisa dipakai lagi. Lantai penuh darah. Dinding penuh goresan. Bau amis dan mayat George beserta anak buahnya masih tergeletak di mana-mana.

Reana memeluk kerah baju Darren erat. Wajahnya ia kubur di dada cowok itu. Ia takut kalau tidak sengaja melihat ke belakang.

Setiap langkah Darren terasa berat. Luka-lukanya belum berhenti berdarah. Napasnya masih tidak teratur. Tapi genggamannya ke tubuh Reana tetap stabil. Tidak goyah sama sekali.

Mereka melewati lorong panjang. Lampu neon berkedip. Tidak ada penjaga. Mungkin karena teriakan tadi sudah terlalu sering terjadi di ADX, sampai tidak ada yang mau peduli lagi.

Sesampainya di depan sel Reana, Darren menendang pintunya hingga terbuka. Ia menurunkan Reana perlahan di atas ranjang tipis di dalam sel itu. Hati-hati, Seolah Reana terbuat dari kaca.

Reana menatapnya.

"luka kamu masi sakit ga?"

Darren hanya menggeleng. Ia menarik selimut lusuh dan menyampirkannya ke tubuh Reana. Lalu duduk di lantai, bersandar di dinding, tepat di samping ranjang.

Jarak mereka dekat. Tapi tidak ada kata yang keluar.

Reana memberanikan diri menggenggam tangan Darren yang tergeletak di lantai. Tangan itu dingin. Penuh luka. Ada darah yang sudah mengering di sela-sela jarinya.

Darren melirik. Tidak menarik tangannya. Tidak juga menggenggam balik. Ia hanya... membiarkannya. Seakan-akan perlakuan itu mengisyaratkan pada Reana bahwa dirinya ada disana, menemani gadis itu.

"Kenapa kamu nggak jawab aku tadi?"

tanya Reana lirih.

Hening.

Darren bersandar di dinding. Matanya menatap lurus ke depan, Rahangnya mengeras. Satu Tangannya yang penuh luka mengepal di lantai.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban.

Sampai akhirnya...

"...Berisik."

Suaranya kembali datar dan Dingin. Reana tersentak, Darren melirik ke arahnya Sekilas. Tatapannya kosong, tapi ada lelah di sana.

"Aku nggak kenal kamu. Dan aku juga nggak peduli kamu berharga atau enggak di hidup orang lain."

Ia jeda. Darren Mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.

"Tapi kalau aku diem aja dan biarin mereka nyentuh kamu... itu bakal ganggu tidurku."

Reana terdiam, Dadanya sesak. Darren menarik tangannya dari genggaman gadis itu, lalu menegakkan badan. Ia berdiri, lalu berjalan ke pintu sel. Sebelum keluar, ia berhenti. Namun ia Tidak menoleh.

"...Jadi diem. Istirahat, Dan jangan bikin aku harus ngulangin itu lagi."

_Klik._

Pintu tertutup.

Yang tertinggal cuma Reana. Dan detak jantungnya yang nggak karuan. Jawaban Darren sedikit menyetil hatinya, entah karena pria itu peduli atau kasihan, keduanya hanya berbeda tipis. intinya Reana selamat karena Darren.

***

Disini sekarang Darren berada, di ruang bawah tanah yang biasanya mereka jadikan markas. Rasanya dingin, tapi Bukan dingin karena AC. Namun dingin karena tidak pernah ada cahaya matahari yang masuk.

Biasanya ia akan bersama dengan Kael dan Dante jika ingin masuk ke ruang ini.

Namun malam ini... cuma ada Darren.

Langkahnya bergema saat ia masuk. Pintu besi ditutup pelan.

_Krek._

Dia duduk di kursinya. Kursi paling pojok.

Darah di tangannya sudah mulai menghitam. Luka di rusuk nyut-nyutan setiap dia menarik napas. Tapi Darren tidak peduli.

Matanya menyapu ruangan kosong itu. Cuma ada keheningan, Dan bau karat dari darahnya sendiri.

Darren mengepalkan tangan

DUAK!...

Cowok itu memukul dinding Beton di sampingnya, hingga beberapa bagian yang rontok.

"Beraninya menyentuh nya tanpa seizin ku..."

Suaranya rendah. Hampir seperti geraman, Dia tidak takut mati, tidak takut sakit.

Tapi dia takut, di saat dia balik ke sel Reana... gadis itu udah nggak ada lagi. Takut kalau semua yang dia lakuin malam ini sia-sia.

Darren bersandar, Kepala nya mendongak ke langit-langit yang bocor. Setetes air jatuh terkena pipinya.

Dingin.

Di luar, ADX semuanya tertidur.

Namun Di dalam sini, pria itu perang sama dirinya sendiri.

Darren mengepal tangannya kuat-kuat.

Rahangnya mengeras, seolah dengan begitu ia bisa kembali mengendalikan dirinya sendiri. Selama ini ia selalu berhasil melakukan itu. Menekan perasaan, Menguburnya dalam-dalam.

Meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia rasakan terhadap Reana hanyalah sebuah kesalahan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.

Tapi malam ini berbeda.

Melihat gadis itu terduduk di lantai selnya dengan mata sembab, rambut berantakan, dan tubuh yang masih gemetar setelah perlakuan George, sesuatu di dalam diri Darren seperti dipaksa terbuka.

Pertahanannya roboh.

Ia sudah terlalu lama menahan semuanya.

Terlalu lama berpura-pura tidak peduli ketika diam-diam matanya selalu mencari keberadaan Reana. Terlalu lama mengabaikan rasa khawatir yang muncul setiap kali gadis itu terluka.

Terlalu lama memaksa dirinya untuk percaya bahwa Reana bukan siapa-siapa baginya.

Padahal kenyataannya...

Reana sudah menjadi seseorang.

Seseorang yang perlahan-lahan masuk ke dalam pikirannya tanpa izin.

Seseorang yang bahkan ketika Darren berusaha membencinya, wajah gadis itu justru semakin sering memenuhi kepalanya.

Dan semakin ia mencoba menjauh, semakin kuat pula perasaan itu menariknya kembali.

Darren mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak.

Ia benci perasaan ini.

Benci karena perasaan itu membuatnya lemah.

Benci karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang mampu membuatnya takut kehilangan.

Dan yang paling ia benci...

Ia tidak bisa lagi berbohong kepada dirinya sendiri.

Ia peduli.

Sangat peduli.

Jantung Darren terasa mencelos.

Selama ini ia pikir, menahan perasaan adalah cara terbaik untuk melindungi dirinya sendiri.

Namun malam ini ia sadar, semakin lama ia menahannya, semakin sakit rasanya.

Sampai akhirnya, sesuatu yang selama ini ia kunci rapat-rapat pecah begitu saja.

Darren menelan ludah.

"Reana..."

Namanya keluar dari bibir Darren dengan suara rendah dan nyaris bergetar. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi kebencian yang ia paksakan dalam suara itu.

Hanya ada rasa takut, khawatir, dan sesuatu yang bahkan Darren sendiri sudah tidak sanggup menyangkal.

Ia telah jatuh.

Jatuh terlalu dalam pada gadis yang sejak awal berusaha ia jauhi. Dan kini, sekeras apa pun ia mencoba berdiri kembali...

hatinya sudah memilih untuk tetap berada di sisi Gadis itu.

Setelah cukup dia berdiri. Lalu Mengambil kain kotor dari laci, melilitkannya asal di tangannya yang berdarah.

***

Darren bergegas kembali ke sel Reana.

Langkahnya terdengar berat di sepanjang lorong ADX yang hampir sepenuhnya sunyi. Pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian beberapa menit lalu. Tentang George. Tentang Reana. Tentang perasaan yang selama ini mati-matian ia tekan hingga akhirnya tidak mampu lagi ia bendung.

Begitu sampai di depan sel, Darren langsung membuka pintu besi. Suara gesekan logam itu membuat Reana yang sejak tadi belum tertidur langsung membuka mata.

Napas gadis itu tercekat.

Takut.

Sesaat pikirannya kembali kepada kejadian sebelumnya. Ia mengira seseorang datang lagi untuk menyakitinya.

Namun ketegangan itu perlahan luruh ketika matanya menangkap sosok yang berdiri di ambang pintu.

Darren.

Cowok itu masih dengan wajah datar dan dingin seperti biasanya. Kaos hitamnya dipenuhi noda darah yang sudah mengering. Salah satu tangannya bahkan masih terbalut kain seadanya.

Reana hendak bertanya.

Bibirnya baru saja terbuka—

Namun Darren sudah lebih dulu melepas kaos hitamnya dan melemparkannya begitu saja ke sudut sel.

Reana terdiam.

Darren tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya melangkah mendekati ranjang sempit itu, kemudian naik ke atasnya tanpa permisi.

Tubuhnya berbaring tepat di belakang Reana. Dan sebelum gadis itu sempat memahami apa yang sedang terjadi, sebuah lengan sudah melingkar di pinggangnya.

Darren menarik tubuh ringkih itu mendekat.

Erat.

Sangat erat.

Seolah-olah jika ia melepaskannya walau hanya sesaat, Reana akan kembali diambil darinya.

Reana membeku.

Punggungnya kini bersandar pada dada Darren.

Ia bisa merasakan hangat tubuh cowok itu di belakangnya. Napas Darren terdengar berat dan teratur di dekat telinganya.

"Darren..."

Suara Reana nyaris berbisik.

"Kamu kenapa?"

Tidak ada jawaban.

Darren hanya menundukkan wajahnya, lalu menyandarkannya di dekat ceruk leher Reana. Napas hangatnya menyentuh kulit gadis itu.

Reana menggigit bibir.

Jantungnya berdebar semakin cepat.

Ia benar-benar tidak mengerti.

Darren yang selama ini selalu menjaga jarak, malam ini justru memeluknya seolah Reana adalah satu-satunya hal yang ingin ia pastikan tetap berada di sisinya.

"Selku sudah penuh dengan mayat..."

ucap Darren akhirnya.

Suaranya tetap datar.

Hampir tanpa emosi.

Reana mengernyit.

Ia tahu Darren sedang bicara tentang sesuatu yang baru saja terjadi. Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, pelukan itu kembali mengencang.

"Tapi..." Reana menelan ludah. "

Kau juga tidak harus memelukku."

Hening.

Darren tidak menjawab.

Tangannya justru semakin erat melingkari tubuh Reana.

"...Sempit."

Reana menghela napas kecil.

"Kalau sempit... di samping masih ada ranjang."

Darren diam beberapa detik.

"...Berisik."

Reana menoleh sedikit.

Ia hampir tidak percaya dengan jawaban itu.

"Berisik dari mana? Aku cuma—"

"Diam."

Satu kata.

Datar.

Tapi anehnya, kali ini tidak terdengar mengancam. Reana akhirnya menurut, Ia kembali memandang ke depan. Tidak ada lagi percakapan. Hanya suara napas keduanya yang perlahan memenuhi sel kecil itu.

Reana masih merasa canggung pada awalnya. Tubuhnya kaku dalam pelukan Darren.

Namun beberapa menit berlalu.

Perlahan, ketegangan di bahunya menghilang.

Ia mulai membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada Darren.

Dan untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di ADX...

Reana merasa aman, Bukan karena pintu sel terkunci, Bukan karena tidak ada orang lain di sekitarnya. Melainkan karena ada seseorang di belakangnya. Seseorang yang mungkin tidak pandai berkata lembut, Seseorang yang wajahnya selalu terlihat dingin.

Namun malam ini, pelukannya mengatakan sesuatu yang tidak mampu diucapkan oleh bibirnya.

"Aku di sini."

Reana akhirnya memejamkan mata, Napasnya perlahan menjadi teratur. Darren masih terjaga. Matanya menatap kosong ke dinding sel di hadapannya.

Tangannya tetap berada di pinggang Reana. Ia sendiri tidak tahu sejak kapan gadis itu menjadi sesuatu yang begitu penting baginya.

Yang ia tahu hanya satu, Malam ini, ia tidak ingin melepaskannya.

Beberapa saat kemudian, napas Reana terdengar semakin pelan.

Gadis itu sudah tertidur.

Darren menundukkan kepalanya sedikit. Tatapannya jatuh pada wajah Reana yang kini jauh lebih tenang.

Untuk sesaat, wajah dinginnya melunak.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Lalu ia memejamkan mata.

Namun sebelum benar-benar terlelap, suara rendahnya kembali terdengar di dekat telinga Reana.

"...Jangan banyak gerak."

Hening sejenak.

Darren menarik napas.

"...Nanti kau tidak bisa bertanggung jawab."

Dan untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Darren terangkat tipis. Sebelum akhirnya ia ikut terlelap.

Dengan kedua lengannya masih mengurung Reana erat dalam pelukannya.

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!