"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kara mengerjap pelan saat sinar mentari pagi menembus tirai dan menyinari matanya.
Ia membuka kelopak matanya perlahan, lalu menggeliat ke kanan dan kekiri. Gerakannya tiba-tiba terhenti saat menyadari baju yang ia kenakan sangat sesak dan berat. Ia langsung menunduk. Baju pengantin yang ia kenakan semalam ternyata masih melekat erat di tubuhnya, bahkan riasan tebal di wajahnya pun belum ia bersihkan.
"Astaga, gue ketiduran semalam?!" gumam Kara panik. Ia langsung menegakkan tubuhnya dan duduk di tepi ranjang.
Ingatannya mendadak berputar pada kejadian semalam. Kepala Kara langsung berputar cepat, melirik tajam ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Sial, Erlangga masih terkunci di dalam!"
Tanpa membuang waktu lagi, Kara langsung melompat dari ranjang. Ia berlari kecil sambil mengangkat gaunnya yang menjuntai, lalu dengan tidak sabaran memutar kunci dan membuka pintunya.
Ceklek!
Kara langsung terdiam di ambang pintu. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Erlangga.
Pria itu tengah duduk tegak di atas kloset yang tertutup. Kedua tangannya bersedekap erat di depan dada, sedangkan kepalanya bersandar pada dinding dengan mata yang terpejam erat. Kemeja yang semalam ia pakai sudah ia ganti dengan jubah handuk kimono berwarna biru tua. Wajahnya tampak pucat karena menahan dingin semalaman.
Kara langsung menelan ludahnya dengan susah payah, lalu melangkah pelan mendekati pria itu. Ia berhenti tepat di samping Erlangga, lalu membungkuk sedikit dan memegang dahi laki-laki itu.
"Lo... masih hidup, kan?" tanya Kara pelan, karena ia merasa sedikit bersalah.
Begitu mendengar suara yang sangat familiar, kelopak mata Erlangga langsung terbuka sempurna. Ia menatap Kara dengan tatapan tajam sekaligus kesal.
Kara tersentak dan langsung melepaskan tangannya dari dahi Erlangga. Namun dasarnya Kara itu gengsian, bukannya minta maaf, ia malah menegakkan tubuhnya dan berkacak pinggang sambil mendongakkan kepalanya.
"Kenapa lo nggak teriak manggil gue sih?!" semburnya, berusaha mengalihkan kesalahan.
Erlangga tidak langsung menjawab. Ia hanya menghembuskan nafas panjang, lalu bangkit perlahan.
"Lo pikir gue nggak teriak manggil lo?" tanya Erlangga dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Bukan cuma teriak, gue bahkan udah gedor-gedor pintu ini. Tapi lo tetap nggak nyaut."
Kara langsung memutar bola matanya malas, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi cemberut. "Ya mana gue denger! Lagian gue semalam itu capek banget!"
Sebenarnya itu cuma alasan Kara saja. Faktanya, jangankan cuma suara gedoran pintu, suara petir pun tidak akan bisa membangunkan Kara kalau sudah tertidur. Perempuan itu kalau sudah tidur memang persis seperti orang mati suri.
"Lo pikir gue juga nggak capek?" potong Erlangga sambil mengeraskan rahangnya. Ia tak bisa lagi menahan rasa kesalnya yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Ya salah lo sendiri! Ngapain coba mandinya lama banget?!" balas Kara yang tidak mau di salahkan.
"Tapi lo bisa, kan, nggak usah pakai ngunci pintunya dari luar?!" desak Erlangga.
"Lo semalam juga ngunciin gue di kamar ini! Jadinya kita seri dong!"
Erlangga menatap Kara dengan tatapan yang tidak percaya. Sudut bibirnya langsung terangkat, membentuk senyum sinis yang sarat akan kekecewaan.
"Ck... Memuakkan," desis Erlangga dingin.
Tanpa berniat untuk melanjutkan perdebatan yang tidak akan ada ujungnya itu, Erlangga langsung berjalan lebar keluar dari kamar mandi.
"Gitu aja marah. Lagian salah sendiri, ngapain lo semalam mesum banget," gumam Kara pelan sambil mengerucutkan bibirnya, meski dalam hatinya ada sedikit rasa bersalah.
Setelah punggung Erlangga menghilang, Kara buru-buru menutup pintu kamar mandi. Ia langsung menghela nafas panjang, dan bersiap untuk membersihkan diri pagi ini juga.
Perlahan, tangannya meraih ritsleting gaun pengantinnya. Setelah gaun itu merosot ke bawah, Kara langsung melangkahkan kakinya ke bawah shower. Ia memejamkan matanya saat guyuran air hangat mulai membasuh sisa riasannya semalam.
Satu jam telah berlalu, Kara akhirnya menyudahi aktivitas mandinya. Ia meraih handuk kimono putih yang menggantung di balik pintu, lalu memakainya dan mengikatnya dengan cepat.
Saat melangkah keluar dari kamar mandi, suasana kamar tampak hening. Erlangga sepertinya sudah tidak ada di sana. Kara mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, namun sosok Erlangga itu lenyap entah ke mana. Kara hanya mengangkat bahu acuh, memilih untuk tidak memperdulikan itu.
"Koper gue di mana, ya?" gumamnya sambil celingukan.
Tak ingin ambil pusing mencari kopernya yang entah disimpan di mana sama Erlangga, Kara akhirnya melangkah ke arah lemari pakaian besar yang berada di sudut ruangan.
Begitu pintu lemari itu terbuka, matanya langsung berbinar saat melihat deretan gaun dan baju perempuan bergelantungan rapi di sana.
"Bodo amat deh ini baju siapa. Daripada gue keluar pakai kimono gini doang," ucapnya.
Tangannya bergerak lincah memilah satu persatu, lalu menarik sebuah dress hitam polos berpotongan selutut.
Setelah mengenakan dress tersebut, Kara melangkah riang menuju meja rias. Ia duduk di kursi sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dengan gerakan yang pelan, ia langsung memoles bibirnya dengan lipstik merah muda, lalu menyisir rambutnya ke bawah.
Merasa penampilannya sudah sempurna, Kara tersenyum tipis pada pantulan cermin, lalu bangkit perlahan, dan melangkah keluar dari kamar.
Ceklek!
Begitu pintu terbuka, langkah Kara langsung terhenti. Kedua matanya mengerjap tak percaya saat memandang koridor panjang yang membentang luas di hadapannya.
Bahkan, langit-langit bangunan itu menjulang sangat tinggi, dihiasi lampu kristal raksasa yang berkilauan mewah.
Di sepanjang dinding, deretan lukisan klasik dan pilar-pilar besar berdiri kokoh, membuat lorong itu tampak seperti labirin di dalam istana.
Kara menoleh ke kanan dan ke kiri dengan dahi yang berkerut dalam. Ia memutar tubuhnya perlahan, mencoba mencari tanda-tanda keberadaan tangga atau pintu keluar, namun pandangannya justru tersesat di antara belokan koridor yang tampak serupa.
Ia mendesah frustrasi, lalu berkacak pinggang sembari menghentakkan sebelah kakinya ke lantai. Ekspresi percaya dirinya seketika runtuh, berganti dengan raut wajah yang kebingungan.
"Lah, ini keluarnya lewat mana, anjir?!"
Kara mencengkeram ujung dress hitamnya dengan gemas, lalu berputar sekali lagi di tempatnya ia berdiri.
"Gue dibawa ke mana sih sebenarnya sama Erlangga?!" gumamnya sambil menatap jengkel lorong panjang di hadapannya.