Jessica yang masih umurnya 21 tahun terpaksa menikah karena sebuah perjodohan dengan seorang CEO tampan kaya raya, laki-laki itu bernama Reyhan Dhalvin Wijaya.
Bagaimana jadinya jika di umur 21 tahun Jessica sudah menjadi seorang istri. mampukah ia melewati semua hal yang terjadi dalam hidupnya? Dan rahasia apakah yang Jessica sembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fuji Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke cemburuan Reyhan
Reyhan mengerjapkan matanya saat merasakan suhu panas bersentuhan dengan kulitnya. Ia melihat jendela yang ada didekatnya, ternyata hari sudah menjelang siang yang terlihat dari pancaran sinar matahari yang menembus gorden putih. Dilihatnya perempuan yang ada di sampingnya itu sedang tertidur lelap dengan tangan Reyhan yang memeluknya semalaman. Ia tersenyum kecil saat melihat beberapa hasil karyanya yang menghiasi kulit putih istrinya itu, akhirnya setelah sekian lama ia menikah dengan Jessica, malam tadi ia bisa merasakan tubuh Jessica seutuhnya walaupun dengan cara ketidak sengajaan ataupun juga bisa disebut dengan kecelakaan.
Reyhan kembali mengingat kejadian dimana ia bisa berakhir seperti ini, yaitu karena Shalma. Di satu sisi ia marah karena Wanita itu menjebaknya tapi di sisi lain ia senang karena jebakan Shalma itukah ia jadi bisa memiliki Jessica seutuhnya walaupun dengan keterpaksaan Jessica.
Karena pikirannya barusan Reyhan jadi melupakan alasan ia terjaga tadi. Tubuh istrinya yang ada di sampingnya sedikit bersuhu tingga. Ia menyentuh dahi Jessica untuk memastikan apa benar Jessica sedang demam, dan ternyata benar. Saat ini Jessica sedang demam, ia jadi sedikit merasa bersalah karena dirinya lah Jessica jadi demam seperti ini. Apa mungkin ini efek dari yang ia lakukan semalam pikir Reyhan.
Perlahan mata Jessica terbuka, saat ia menggerakkan sedikit badannya ia berteriak kencang karena dibawahnya merasa sakit."Awwww!"
Sontak Reyhan langsung terkejut dan kaget."Sayang kenapa? Ada yang sakit hmm?" Tanyanya panik dan khawatir.
Kemudian Jessica mengingat kejadian semalam yang membuat pipinya langsung bushing.
"Huaaa Mas Rey jahat udah bobol aku!"
"Hey sayang, kenapa nangis. Kamu kan semalam juga mau, aku semalam gak maksa kamu loh sayang," ucap Reyhan tak terima.
Tangisan Jessica pun sedikit mereda. Ia menjadi sangat malu.
"Udah ingat hmm?" Goda Reyhan tersenyum.
Jessica memukul dada suaminya itu."Mas barbar banget sampai dibawah aku sakit." Ucapnya kesal.
Reyhan langsung mendekap tubuh istrinya itu."Maaf ya sayang, makasih ya udah kasih hak aku." Ucapnya lembut sambil mengecup kening istrinya lama dan dibalas anggukan oleh Jessica sambil tersenyum.
"Mau bersih-bersih sekarang hmm?" Tanya Reyhan mengelus rambut Jessica.
"Aku masih pengen tiduran, soalnya masih ngantuk," balas Jessica manja.
Cup
"Yaudah kamu lanjut tidur aja, istirahat." Reyhan pun mengelus-elus punggung istrinya agar istirahat kembali.
Tak lama terdengar dengkuran halus dari Jessica. Reyhan mengecup kening istrinya lembut."Maaf ya sayang, pasti kamu cape."
Saat Reyhan menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka berdua yang masih tidak tertutupi sehelai benang pun. Ia mendapati seprai putih yang mereka tempati terdapat bercak dar4h kering yang jelas itu berasal dari tubuh bagian bawah Jessica. Tanpa berpikir lama ia segera memungut pakaian nya dan pakaian Jessica yang bercecer di lantai dan menyimpannya di keranjang baju kotor, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan membiarkan istrinya istirahat lagi.
Setelah keluar dari kamar mandi Reyhan segera berganti baju. Lalu kembali lagi ke kasur dengan membawa baju ganti untuk Jessica.
Sebelum memakaikan baju pada tubuh Jessica, terlebih dahulu Reyhan melepaskan sprei yang terpasang di kasur itu dan menggantinya dengan yang baru. Setelah itu ia dengan telaten memakaikan baju pada tubuh Jessica yang tidak tertutupi sehelai benang pun.
"Shit!"
Reyhan mengumpat saat ia memakaikan baju pada tubuh putih mulus Jessica. Melihat betapa indahnya tubuh istrinya itu, yang membuatnya ingin mengulangi lagi hal yang kemarin ia lakukan. Tapi tidak, ia gak akan Setega itu dengan istrinya.
Reyhan mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu nomor didalam sana. Yaitu Yuda, selain dia adalah sahabatnya, dia juga dokter pribadi Reyhan.
"Hallo."
"Tumben Lo nelpon gua, kenapa?"
"Cepat ke mansion gua!"
"Kenapa Lo sakit?"
"Gak."
"Terus?"
"Istri gua sakit."
"Tapi ada bonusnya kan? Lo kan tau dari disini ke mansion Lo 2 jam."
"Nanti gua kasih bonusnya 3 juta."
"Asiap bosku."
Reyhan langsung mematikan teleponnya.
Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Yuda pun datang dengan Bi Yanti yang mengantarnya ke kamar Reyhan.
"Cepat periksa istri gua."
"Bentar elah, gua napas dulu." Tapi tak urang Yuda pun melangkahkan kakinya mendekat kearah ranjang yang ditempati Jessica.
Yuda mengeluarkan stetoskopnya. Saat Yuda hendak membuka satu kancing baju Jessica paling atas guna memeriksanya. Reyhan malah menahan tangannya dan menatap tajam kearahnya.
"Jangan kurang aja Lo Yud!" Reyhan dengan menahan tangan Yuda yang hendak membuka kancing Jessica.
"Gua cuma pengen periksa istri Lo Reyhan. Bukan memperkosa istri Lo, lagi pula disini ada Lo sama bibi, mana mungkin gua memperkosa istri Lo. Gua juga punya bini kali."
"Oh jadi kalau gua dan bibi gak ada disini, Lo bakal lakuin itu?!"
"Ya bak-" hampir saja Yuda salah bicara bisa-bisa ia kena bacok sama sahabatnya itu, buru-buru meralatnya."Ya gak dong! Dia kan istri Lo, gua juga punya istri ngapain ituan sama istri orang." Rakat Yuda sambil terkekeh untuk mencairkan suasana yang mencekam ini.
Jangan dibuka bajunya. Periksa aja dari luar, tapi Lo gak boleh nekan-nekannya. Biar gua yang sentuhnya," ucap Reyhan lalu mengambil stetoskop itu dan Yuda pun mengarahkan tangan Reyhan untuk memeriksa Jessica.
Yuda hanya bisa menghela nafas sahabatnya ini benar-benar sangat Possesive.
Yuda memeriksa detang jantung Jessica dan juga suhu tubuhnya tapi dipegang oleh Reyhan karena dirinya tidak diperbolehkan.
"Dia hanya demam biasa. Cuma perlu di kompres dan diberi obat penurun panas, pasti bakal sehat lagi." Ujar Yuda.
"Eumm... Tapi sepertinya istri Lo juga perlu obat pereda nyeri deh." Sindir Yuda dengan penuh maksud tertentu. Ia mengatakan itu karena tak sengaja melihat kiss mark yang ada di leher Jessica. Karena itu ia jadi tahu penyebab Jessica bisa sakit seperti ini.
"Maksud Lo apa?" Tanya Reyhan yang merasa tersindir dengan ucapan Yuda barusan.
"M-maksud gua. Mungkin istri Lo mengalami nyeri di beberapa bagian tubuhnya, jadi perlu obat nyeri juga." Elak Yuda.
"Gak perlu. Mending Lo sekarang pergi sana, pulang ke asal habitat Lo. Udah gua transfer uangnya." Usir Reyhan kepada Yuda.
Yuda hanya bisa menghembuskan nafasnya jengah karena tingkah sahabatnya ini.
Yuda dan bi Yanti pun keluar.
Tak lama bi Yanti datang membawa bubur dan alat untuk mengompres Jessica.
"Ini tuan bubur dan kompresnya."
"Letakkan disana aja bi." Titah Reyhan.
Setelah itu Bi Yanti pun pamit untuk meninggalkan mereka berdua.
Reyhan menempelkan handuk basah itu di kening Jessica.
Satu jam kemudian Jessica bangun dari tidurnya, lalu Reyhan langsung menyuapi bubur itu pada istrinya.
***
dengan wajah sok paniknya.
Jessica memutar bola mata nya malas. Sahabatnya ini benar benar sangat alay. Padahal hal wajar kalau misalnya Jessica masih merasa sakit, karna wanita itu baru pertama kali melakukannya.
"Gausah alay Mel, wajar aja kalik. Kan Jesicca juga baru pertama ngelakuin," sahut Viola yang dijawab anggukan oleh teman temannya.
"Sakit gak, Jes?" Tanya Anggun.
"Menurut lo??"
"Kayanya enak gak sih? gue jadi pengen nyoba," celetuk Amel.
Plak
"Halal dulu baru boleh bikin anak."
Amel hanya menyengir kuda mendengarnya.
"Lo minum pil KB ga, Jes? atau pak Rey nya pake pengaman?" tanya Amel yang mulai kepo.
"Ga pake semua. Mas Rey juga pernah ngomong, Mas Rey pengen cepet cepet punya anak." Balas Jessica.
"Kayanya gapapa deh kalo lo harus bunting sekarang. Kasihan laki lo, Jes. Dia udah pengen banget tuh pasti punya anak." Ujar Anggun.
Jessica diam. Ia berfikir sebentar, memikirkan ucapan temannya. Apakah iya, dirinya akan hamil diusia yang terhitung sangat muda ini?
"Udah ah jangan bahas bunting, gue mau fokus sama pendidikan dulu. Nanti kalo emang dikasih sama Allah ya dijalanin aja."
"Gasabar jadi onty onty ya rich gitu deh gue," ujar Amel sembari senyam-senyum tidak jelas memikirkan jika nanti dirinya punya keponakan, dan akan menjadi tante yang super baik dan super kaya.
Tak lama pesenan mereka datang, mereka pun mulai memakan makanan pesenan mereka masing-masing.
Tiba-tiba handphone Jessica berbunyi. Jessica pun membuka handphonenya. Ternyata pesan dari suaminya.
My big baby husband
| Sayang kesini keruangan Mas
Me
| Tapi aku lagi dikantin sama teman-teman. aku Mas
| Aaaa sayang kesini, kalau nggak aku bakal
Panggil kamu lewat spiker sekolah
Melihat chata ancaman dari suaminya membuat Jessica panik, ia menatap sahabat-sahabatnya.
"Kenapa Jes?" Anggun saat melihat wajah sahabatnya yang sedang terlihat cemas dan panik.
"Ini suami gua, nyuruh gua ke ruangannya." Jawab Jessica.
"Yaudah kesana aja," ucap Viola.
Jessica menghela nafas sebentar lalu menatap teman-temannya yang menganggukan kepala, seolah menyuruh Jessica untuk mengurus bayi jumbonya terlebih dahulu.
Setibanya di ruang khusus Reyhan, Jessica langsung membuka pintu ruangan suaminya. Dan saat baru masuk Reyhan langsung menerjang tubuh Jessica dan duduk di sofa. Tak lupa Reyhan mengunci pintu terlebih dahulu.
"Mas sakit?" tanya Jessica yang menyadari jika ada yang berbeda dengan gerak gerik Reyhan hari ini.
"Pusing dikit."
"Kok baru bilang sekarang? kalo gitu bentar, aku ambilin obat dulu di UKS."
"Gausah. Peluk sama cium aku aja pasti langsung sembuh," balas Reyhan sembari menyembunyikan wajahnya di dada Jessica.
"Ya gabisa gitu dong. Aku ambilin dulu ya obatnya."
Reyhan langsung menggeleng tegas dan mempererat pelukannya pada tubuh Jessica.
"Ini pasti karna kemarin tidurnya cuman 2 jam. Makanya, kalo itu ituan 1 ronde aja biar ga sakit kayak gini."
"Mana puas kalo cuman satu ronde sayang."
"Dipuas-puasin lah."
"Mau dipijit kepalanya sama tangan cantik ini," ujar Reyhan dengan nada manja sembari mengangkat tangan Jessica menuju kepalanya.
Jessica terkekeh tetapi tak urung untuk memijat kepala suaminya. Berharap dengan pijatannya, Reyhan bisa sembuh.
"Sayang?" Panggil Reyhan.
"Kenapa?"
"Pengen ada Reyhan junior disini," ujar Reyhan dengan mengelus perut rata milik istrinya.
Jessica terdiam. Ia tidak bisa apa apa sekarang. Mau tak mau ia harus menuruti apa kata teman-teman dan suaminya untuk tidak menunda kehamilannya. Karna bagaimanapun mereka sudah sah.
"Makanya berdoa biar cepet cepet dikasih." mendengar balasan dari Jessica membuat Reyhan langsung mendongak dan menatap wajah istrinya dengan tatapan antusias.
"Emang kamu nggak marah? Nggak bakal nunda dulu?"
"Nggak lah, lagian kita kan udah sah." Reyhan langsung memeluk tubuh Jessica dengan erat, sangat erat. Seolah menyalurkan rasa bahagianya saat ini.
"Aku seneng banget, sayang."
"Terimakasih." Lanjut Reyhan.
Jessica mengangkat satu alisnya bingung,"Terimakasih kenapa?"
"Terimakasih sudah membuat Mas bahagia selama ini."
"Seharusnya aku yang berterima kasih sama kamu mas, karna kamu masih bertahan dengan pernikahan kita. Padahal banyak wanita lain yang lebih dari aku."
"Emang banyak yang cantik diluar sana. Tapi menurut aku kamu lebih cantik dari ribuan wanita didunia ini setelah Mommy. I love and care for you so much, honey," ucap Reyhan menatap lekat wajah cantik Istrinya.
Jessica tersenyum manis."I love you too my husband." Balasnya.
Kemudian Reyhan melumat bibir istrinya dengan lembut dan dibalas juga oleh Jessica.