Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kecelakaan Melody
"Kekasih mu datang!" bisik Arion, tepat di telinga Isabella.
"Dia bukan kekasih ku, kamu jangan mengada-ngada ya!"
"Masa sih? Katanya kamu menolak perjodohan ini karena dia?" goda Arion.
"Jangan bicara sembarangan! Aku tidak memiliki hubungan dengannya!" elaknya tegas.
Arion hanya tersenyum samar. Melihat bagaimana Isabella mati-matian mengingkari hubungan nya dengan Darel. Dia jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu sebelum ini. Namun, dalam hati tentu ia senang karena pada akhirnya dia bisa bersanding dengan Isabella di atas sini.
"Kenapa datang? Mau merusak acara putri saya?" suara Matthew terdengar dingin di dalam sana.
"Saya tidak ada urusan dengan anda, saya mau bicara dengan Isabella sekarang!" mintanya angkuh.
"Jangan harap! Isabella menolak bertemu kamu, lagipula siapa kamu yang ingin bicara dengan Isabella?" Matthew berujar dengan nada agak sinis.
"Saya pria yang Isabella cintai, anda tidak bisa ya memaksakan kehendak pada Isabella untuk menerima pertunangan ini!" bentak Darel. Dia benar-benar berani pada Matthew.
Isabella yang mendengar itu hanya menaikan sebelah alisnya. Kenapa di kehidupan dulu ia tak pernah tahu jika Darel memiliki kepercayaan diri yang terlalu berlebihan.
Melihat bagaimana Darel melakukan itu ia jadi agak risih dan merinding.
"Isabella bukankah kamu mencintai aku? Lalu kenapa mau bertunangan dengan Arion?" pekik Darel. Nada suaranya menuntut jawaban.
Isabella masih diam, dia hanya memandang Darel dari atas panggung seolah tak terpengaruh dengan pertanyaan yang Darel Ajukkan.
Sedangkan Lyra yang melihat Darel datang tentu kesal. Karena pria itu bilang tidak akan datang untuk mengacaukan acara ini. Namun, apa yang ia lihat tak sesuai dengan apa yang Darel ucapkan sebelumnya.
"Jawab Isabella! Apa mereka menekan kamu? Kenapa mau menikah dengan pria berhati dingin seperti Arion?" suara Darel kembali terdengar dan sekarang pria itu malah nampak kasihan.
Sedangkan Arion dan Isabella tetap tenang. Walaupun sebenarnya perasaan mereka sudah benar-benar ingin menendang Darel dari sana.
"Jawab Isabella! Aku butuh kepastian!" mintanya dengan tegas.
"Kepastian apa? Jelas-jelas kamu sudah melihat sendiri bagaimana aku berdiri di sini dengan Arion sebagai pasangan, lalu apa itu kurang jelas?" jawabnya. Nadanya benar-benar tak bersahabat.
"Kenapa kamu berubah Isabella? Jelas-jelas kamu begitu mencintai aku, kan? Atau kamu sengaja mau buat aku cemburu?"
Isabella malah semakin jijik dan geli mendengar ucapan Darel. Dia mulai muak sekarang."Sebaiknya kamu pergi! Kedatangan mu hanya merusak acara indah ini!"
"Kamu mengusir aku? Tidak salah?" wajah Darel tak percaya.
"Iya, sana keluar! Sebelum aku panggil satpam!" tegasnya, tak ada riak main-main di tatapan Isabella.
Darel mendengus dingin, memandang Isabella dengan marah dan kesal."Jangan sampai kamu menyesal dan merangkak kembali nanti!"
Darel berbalik meninggalkan area Ballroom hotel itu dengan langkah tegas. Dia yakin sebentar lagi Isabella pasti akan mengejar dan mencegah kepergiannya. Namun, sampai dia tiba di depan pintu Isabella tak mengatakan apapun.
"ISABELLA, APA KAMU BENAR-BENAR MAU MENGUSIR AKU?!" teriaknya dengan nada tinggi.
"Iya, ini acara Davis dan De Luca. Jadi tamu yang tidak di undang bisa pergi dari sini!" jawaban santai yang membuat kemarahan pada wajah Darel.
"Kam—" tunjuk Darel.
"Usir dia! Pastikan pria gila itu tidak masuk dan merusak acara pertunangan saya!" perintah Isabella.
Perubahan wanita itu cukup mengejutkan, dulu dia akan selalu melakukan apapun demi menyenangkan Darel. Namun, hari itu ada masa di mana dia mengusir Darel dengan tangannya sendiri.
"Kamu akan menyesal Isabella!" teriak Darel, sebelum dia benar-benar di seret paksa oleh pengawal De Luca.
***
Acara semalam benar-benar membuat Mood Isabella baik. Apalagi melihat bagaimana Darel di permalukan dengan buruk membuat dia semakin bahagia.
"Isa, ada dua sahabat kamu di luar!" suara Melody membuat Isabella yang sedang bersenandung kecil akhirnya berhenti.
"Ma, minta saja mereka masuk!" serunya.
Tak ada lagi suara. Sebelum pintu kamar terbuka pelan dan menampilkan dua sosok sahabat terbaiknya.
"Isa, kami datang! Ayo makan siang di luar!" Raisa benar-benar bersemangat saat tiba di kamar Isabella.
"Kamu semangat sekali? Ada rangka apa?" tanya Isabella penasaran.
"Tentu saja dalam rangka merayakan pertunangan kamu dan Arion dan tentu saja merayakan kamu lepas dari pria gila seperti Darel juga akhirnya sadar!" katanya bersemangat.
"Rai, jangan bicara sembarangan!" tegur Nayla, saat mendengar ucapan Raisa yang terlalu Blak-blakan.
"Apa aku salah? Kan memang benar kalau Isabella dulu terlalu bodoh sebab bucin pada Darel yang tidak berguna!"
"Raisa!" mata Nayla mendelik tak percaya.
Sedangkan Isabella hanya terkekeh saja. Dia tahu dulu dirinya terlalu bodoh karena percaya akan setiap ucapan Lyra juga Darel hingga mengakibatkan dirinya dan seluruh orang yang ia sayangi hancur.
Namun, di kehidupan ini dia tak akan memberikan kesempatan sedikitpun pada Darel ataupun Lyra untuk menyakiti mereka lagi.
Sore harinya.
"Mama mau kemana?" tanya Isabella, saat melihat sang Mama sudah rapi dengan pakaian formal.
"Mama ada pertemuan dengan orang penting. Jadi mungkin akan kembali terlambat tidak apa, kan?" ucap Melody. Takut Isabella tak setuju.
"Pergilah dan hati-hati di jalan!" kata Isabella, dia tersenyum manis pada sosok Melody.
Melody mengangguk pelan dengan tangan yang mengusap kepala Isabella lembut.
Isabella melambaikan tangannya saat mobil melody mulai bergerak perlahan dan meninggalkan area rumah besar Davis.
Sedangkan di sudut yang tertutup tanaman rambat. Seseorang berdiri di sana dengan senyum sinis dan kilatan tak sabar begitu melihat mobil yang di kendarai oleh Melody keluar dari gerbang.
"Kamu harus mati karena berani membuat aku di permalukan di acara semalam!" desisnya dengan benci.
Dalam perjalanan menuju tempat pertemuan. Melody menikmati perjalanan. Jaraknya agak jauh jadi dia harus duduk tenang dengan kembali memastikan semuanya siap dengan baik.
Melihat jam di pergelangan tangannya. Melody tersenyum saat melihat jam yang melingkar itu. Hadiah cantik dari sang Putri untuknya. Jam tangan pasangan yang di buat khusus untuk dirinya, sang suami dan Isabella sendiri.
"Hadiah mu benar-benar indah, Isabella!" gumamnya. Sebagai Ibu dia bahagia akan Hadiah kecil dari sang Putri tunggal.
Perjalanan yang semula cukup menyenangkan seketika berubah saat mobil mendadak kehilangan kendali dengan cepat di tikungan yang curam.
"Pak, ada apa?" tanya Melody panik.
"Rem nya Blong, Nyonya!" suara panik sang supir membuat Melody tersentak.
"Blong? Bagaimana bisa?"
Sang supir berusaha mengendalikan laju mobil. Namun, usahanya tetap saja sia-sia hingga mobil itu terperosok ke dalam jurang.
"Maafkan Mama Isa!" bisiknya, sebelum mobil itu terjun bebas ke dasar jurang.
BRAK!
BOOM!
"MAMA?!" teriak Isabella.
DEGH!