Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Kaisar Qinchuan memegang erat kedua botol porselen itu, matanya bersinar penuh harapan yang sudah lama padam. Namun seketika, kerutan kembali muncul di dahinya, seakan ada beban yang jauh lebih berat sedang memikul pundaknya.
"Feng Wu...aku senang melihat keahlianmu yang luarbiasa ini, tapi ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu," ucapnya pelan namun penuh harap. "Selama bertahun-tahun, Ibu Suri telah berbaring lemah di tempat tidur. Tubuhnya semakin melemah setiap harinya, napasnya pendek, dan kesadarannya sering kali hilang. Para tabib istana sudah berusaha sekuat tenaga, namun tak ada yang mampu mengembalikannya seperti dulu. Aku... aku sangat merindukan beliau yang dulu, yang dulu selalu tersenyum dan memelukku."
Suara Kaisar bergetar pelan. "Maukah kau ikut denganku menemui Ibu Suri? Mungkin saja... ada sesuatu yang bisa kau lakukan untuknya."
Feng Wu mendengarkan dengan saksama. Ia tahu betapa beratnya beban itu bagi seorang putra yang melihat ibunya menderita. Namun ia tidak langsung mengiyakan dengan janji manis. Dengan jujur dan rendah hati, ia menatap Kaisar.
"Yang Mulia, aku tidak berjanji bisa menyembuhkan Ibu Suri sepenuhnya. Tubuh manusia itu misterius, dan setiap penyakit memiliki akar yang berbeda. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk meringankan beban Yang Mulia dan Ibu Suri. Aku akan memeriksa beliau dengan teliti, dan melakukan apa saja yang bisa kulakukan untuk meringankan rasa sakit beliau."
Kaisar mengangguk penuh rasa syukur, matanya berkaca-kaca. "Itu sudah cukup bagiku, Feng Wu. Terima kasih. Terima kasih telah jujur dan tidak memberikan harapan palsu."
Kaisar segera mengantar Feng Wu ke Paviliun Abadi, tempat Ibu Suri beristirahat. Ruangan itu harum dupa obat, namun suasananya hening dan penuh kesedihan. Di atas tempat tidur kayu jati yang besar, berbaring seorang wanita tua yang rambutnya sudah memutih seluruhnya. Wajahnya yang dulu agung dan cantik kini pucat dan kurus, napasnya terdengar berat dan lemah.
Feng Wu mendekat perlahan, tanpa suara, seakan takut membangunkan beliau. Ia duduk di tepi tempat tidur, lalu dengan lembut memeriksa denyut nadi Ibu Suri, memperhatikan warna kulit, mata, dan bertanya pada pelayan yang merawatnya tentang riwayat penyakitnya.
Semakin ia memeriksa, wajah Feng Wu perlahan berubah menjadi serius. Penyakit Ibu Suri bukanlah hal yang mudah, usia yang sudah lanjut bercampur dengan penyakit jangka panjang yang dibiarkan, serta sedikit racun yang menumpuk perlahan-lahan. Namun bukan berarti tidak ada harapan.
Setelah memeriksa cukup lama, Feng Wu berdiri dan menoleh ke arah Kaisar yang menunggu dengan cemas.
"Yang Mulia, penyakit Ibu Suri memang sudah lama dan sangat dalam," ucapnya tenang namun jelas. "Aku tidak bisa berjanji beliau akan sembuh total dan bisa berjalan seperti dulu. Tapi aku bisa berusaha mengurangi rasa sakit, memperkuat tubuhnya, dan membuat beliau bisa berbicara serta mengenali orang-orang di sekitarnya lagi. Itu akan membutuhkan waktu, kesabaran, dan pengobatan bertahap."
Kaisar mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca namun penuh syukur. "Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih. Lakukan apa yang kau anggap perlu. Aku percaya padamu."
Feng Wu mengangguk lembut. "Aku akan menyusun ramuan khusus untuk beliau, dan akan datang setiap hari untuk memeriksa perkembangannya. Semoga beliau membaik perlahan-lahan."
Di ruangan itu, harapan yang sempat padam perlahan menyala kembali. Bukan harapan yang berlebihan, melainkan harapan yang didasari oleh usaha dan ketulusan persis seperti karakter gadis muda yang berdiri di samping tempat tidur itu.
Kembali ke ruang kerja Kaisar Qinchuan, pria itu menatap Feng Wu dengan tatapan penuh keputusan. "Feng Wu, keahlian dan ketulusanmu sungguh tak ternilai. Aku ingin mengangkatmu menjadi Tabib Khusus Istana. Dengan begitu, kau bisa keluar-masuk istana dengan bebas kapan pun diperlukan, baik untuk mengobati Ibu Suri, maupun untuk urusan lainnya. Bagaimana menurutmu?"
Feng Wu tertegun sejenak, lalu menunduk hormat. "Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia. Jika itu yang terbaik untuk istana dan rakyat, aku menerima tugas ini."
Dengan demikian, sejak hari itu Feng Wu memiliki akses penuh ke seluruh penjuru istana. Namun ia tak menyadari jika gelar itu justru membuatnya semakin mudah diawasi oleh seseorang.
Di balik dinding paviliun, di balik pepohonan rindang, Pangeran Ketiga terus mengawasi setiap gerak-geriknya. Ia tidak pernah berhenti memantaunya. Rasa penasaran dan kekhawatirannya membuatnya tak bisa tenang jika tak memastikan keselamatan gadis itu.
Saat Feng Wu berjalan keluar gerbang istana untuk pulang, seorang pria berpakaian hitam menghadangnya, ia Pengawal Bayangan Pangeran Ketiga.
"Nona Feng, Yang Mulia Pangeran Ketiga mengundang Anda. Mohon ikut saya," ucapnya datar namun tegas.
Feng Wu menatapnya tenang namun menolak dengan halus. "Mohon sampaikan pada Yang Mulia Pangeran ketiga, saat ini aku ada urusan yang harus diselesaikan. Maaf, aku tidak bisa ikut."
Namun baru saja kata-kata itu terucap, tirai kereta kuda mewah berwarna hitam legam terbuka. Pangeran Ketiga melangkah turun, wajahnya dingin dan tak terbantahkan. Tanpa banyak bicara, ia meraih pergelangan tangan Feng Wu dan membawanya masuk ke dalam kereta secara paksa namun kasar sekaligus hati-hati.
"Kau tidak berhak menolakku," ucapnya rendah namun tegas.
Feng Wu melepaskan tangannya dengan kesal. "Yang Mulia! Bagaimana bisa kau bertindak seperti ini? Tidak sopan dan tidak punya aturan!"
Darah Feng Wu mendidih di tubuhnya. Tangan kanannya bergerak cepat, tiga buah jarum perak melesat ke arah pria itu tanpa ragu. Namun Pangeran Ketiga bukan orang sembarangan. Dengan satu gerakan tangan yang cepat, ia menepis ketiga jarum itu hingga jatuh ke lantai kereta.
"Kau masih terlalu lemah untuk mengalahkanku, Feng Wu," bisiknya tepat di hadapan wajah gadis itu.
Feng Wu menghela napas panjang, sadar perlawanannya sia-sia. Ia pun duduk dengan tenang di sudut kereta, wajahnya terlihat kesal namun tetap berusaha mengendalikan emosinya.
"Sial! Pria ini mau apa sih, rasanya ingin kubunuh saja dia" Batin Feng Wu.
Kereta mulai berjalan perlahan, lalu semakin cepat. Tiba-tiba kuda di depan meringkik kaget karena seekor kelinci melintas, membuat kereta berhenti mendadak. Tubuh Feng Wu yang tidak siap langsung oleng ke depan dan sebelum ia sempat menahan diri, bibirnya tak sengaja menyentuh pipi Pangeran Ketiga.
Keduanya terpaku. Waktu seakan berhenti berputar.
Feng Wu segera menarik kepalanya, wajahnya memerah padam karena malu sekaligus marah. Ia buru-buru menoleh ke samping, menatap jendela kereta dengan napas yang memburu.
"Akhh! kenapa harus ada kejadian yang memalukan ini, sial sekali" batin Feng Wu berteriak menahan malu.
Pangeran Ketiga pun terdiam. Ia merasakan sentuhan lembut itu masih tertinggal di kulitnya yang hangat, ringan, dan membuat jantungnya yang biasanya tenang kini berpacu tanpa alasan. Ia menatap gadis di sampingnya dengan tatapan yang tak bisa lagi disembunyikan.
Ada sesuatu yang berubah di antara mereka, sesuatu yang tak bisa dikembalikan seperti sedia kala.
Tak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Namun di dalam hati masing-masing, ada rasa yang mulai tumbuh, satu karena kesal dan bingung, satu lagi karena akhirnya menyadari bahwa ia tak lagi bisa melepaskan gadis itu.