NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Godaan Menggemaskan

Sinar matahari pagi menyelusup tipis dari celah tirai kamar tidur Aira.

Suasana kamar yang tadinya dingin oleh semburan pendingin udara berubah hangat saat posisi dua orang yang semalam berjanji saling memunggungi justru malah berpelukan.

Devan membuka matanya pelan-pelan. Hal pertama yang merayapi kesadarannya adalah bobot hangat yang menempel erat di dadanya.

Saat pandangannya fokus, jantung Devan serasa berhenti berdetak. Aira... tidur pulas di dalam dekapan dadanya. Kedua tangan Aira melingkar erat di pinggang Devan, sementara wajah cantiknya terbenam sempurna di lekukan leher pria itu. Deru napas Aira yang teratur membelai kulit leher Devan, meninggalkan sensasi merinding yang menggelitik.

Devan tersenyum kecil.

"Cantik banget..." gumam Devan sangat pelan, hampir tak bersuara, sambil mengusap wajahnya sendiri yang mendadak terasa hangat.

Lengan kanan Devan perlahan terulur. Ia berniat merapikan beberapa helai rambut Aira yang jatuh menutupi dahi cantiknya. Namun, baru saja jemarinya berjarak satu senti dari rambut Aira, Devan mendapati kelopak mata Aira berkedut pelan.

Cewek ini mau bangun!

Devan dengan cepat membatalkan niatnya. Pria itu menghentikan jarinya, lalu memejamkan matanya pura-pura tidur.

Perlahan, Aira membuka matanya. Pandangannya yang masih agak kabur mendadak disuguhkan oleh kaus hitam... yang berada tepat di depan matanya. Begitu ia sadar tangannya melingkar erat melilit tubuh Devan, kesadaran Aira langsung melompat.

Aira melotot, panik luar biasa. Tapi bukannya langsung menjauh, matanya justru tertahan pada wajah Devan yang berada sangat dekat darinya.

Wajah Devan saat tidur... kelihatan tenang banget. wajahnya yang tampan dengan garis rahang yang tegas dan bulu mata yang tebal.

Aira menelan ludah.

Anjir... kok ganteng banget sih ini cowok kalau lagi diem? batin Aira menjerit.

Tanpa sadar, jemari Aira yang bebas terulur secara otomatis, menyentuh pelan hidung Devan yang bangir. Sentuhan itu meluncur pelan ke bawah, menelusuri garis pipinya, sampai akhirnya... jarinya berhenti tepat di atas bibir bagian bawah Devan yang agak tebal.

Tepat saat jari Aira menyentuh bibir itu...

Greb!

Pergelangan tangan Aira mendadak dicengkeram.

Aira tersentak kaget hampir menjerit. Matanya membelalak sempurna saat melihat kedua mata Devan terbuka lebar, menampilkan cengiran paling puas yang pernah ada.

Sebelum Aira sempat berbuat apa-apa, Devan menarik tangan Aira dengan sekali sentakan pelan, membuat tubuh Aira tertarik kembali dan terhempas makin dekat ke dadanya. Jarak wajah mereka kini benar-benar cuma tersisa beberapa mili.

"Pagi, Nyonya Argawinata," bisik Devan dengan suara berat khas bangun tidur yang seksi parah. "Pagi-pagi udah berani pegang-pegang bibir suami, nih? Lu ngidam apa gimana?"

Aira merasa seluruh darah di tubuhnya langsung tersedot ke wajahnya. Merah padam seketika.

"D-Devan! Lu pura-pura tidur ya?!" cerca Aira gagap, berusaha melepaskan tangannya yang dipegang Devan. "Lepasin nggak! Gue gak sengaja tadi ada nyamuk di muka lu!"

"Alasan basi!" Devan tertawa renyah, justru makin mengeratkan dekapan tangannya di pinggang Aira, menahan cewek itu agar tidak bisa kabur. "Lagian siapa yang tadi malem ngomel-ngomel gak mau tidur bareng, tapi malah meluk gue kenceng banget? Lu kangen kan sama gue?"

"GAK SAMA SEKALI! GELI BANGET!" jerit Aira makin panik.

Melihat ekspresi Aira yang panik setengah mati dengan pipi merona, semangat Devan buat menggoda langsung membakar ubun-ubun. Devan mendekatkan bibirnya ke telinga Aira, berbisik goda, "Kalau mau dipeluk bilang aja kali, Ra. Gak usah pake taktik kaya gitu. Gratis kok buat lu."

"DEVAN ARGAWINATA! LEPASIN GAK!"

Dengan sisa-sisa tenaga dan kepanikannya, Aira mengumpulkan kekuatan lalu mendorong dada Devan sekuat tenaga.

Bruk!

Devan yang nggak siap langsung terdorong ke sisi kasur, sementara Aira melompat bangun dari tempat tidur. Tanpa membuang waktu semenit pun, Aira berlari menuju kamar mandi lalu mengunci pintunya.

Brak! Klek!

Di dalam kamar mandi, Aira menyandarkan punggungnya di pintu, memegangi dadanya yang berdetak kencang.

Dug-dug! Dug-dug!

"Gila! Gila! Gila! Kenapa jantung gue berdebar kencang banget begini sih?!" bisik Aira histeris pada dirinya sendiri di depan cermin wastafel, menepuk-nepuk kedua pipinya yang terasa panas. "Aira! Lu gak boleh baper! Inget, Devan itu cowok licik! Jangan mau termakan pesona bapak-bapak tengil itu!"

Sementara di luar kamar mandi, Devan terduduk di tepi kasur, mengacak rambut bangun tidurnya sambil tertawa lepas mengingat ekspresi Aira tadi.

Satu jam kemudian.

Setelah menikmati sarapan pagi bersama Mami Maya, Papi Surya, dan Alaric yang tak henti-hentinya melemparkan lelucon, Aira dan Devan akhirnya pamitan buat pulang ke penthouse.

Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, Devan sama sekali gak berhenti melancarkan godaannya.

"Ra, tangan lu gak gatal lagi mau megang bibir gue?" goda Devan sambil fokus memegang setir, melirik Aira dari kaca spion tengah dengan alis terangkat naik-turun.

Aira yang duduk di kursi penumpang di sampingnya cuma bisa mendengus kasar, membuang pandangannya ke luar jendela sambil melipat tangan di dada. "Bisa diem gak sih mulut lu?! Gue lempar pake sepatu nih!"

"Galak banget. Padahal tadi pagi mesra banget meluknya," kekeh Devan lagi, sengaja memancing emosi Aira.

"Pura-pura amnesia gue! Nggak denger!" sembur Aira menutup kedua telinganya dengan jari, yang makin membuat Devan tertawa puas.

Pukul sebelas siang lewat sedikit, mobil Devan akhirnya sampai di pelataran parkir kondominium.

Begitu mereka keluar dari lift dan melangkah menuju area foyer penthouse. Seorang wanita jangkung berpakaian formal dengan rambut bergelombang yang tertata rapi sudah berdiri menunggu di dekat area ruang tamu.

"Devan!" sapa wanita itu dengan senyuman manis begitu melihat keberadaan mereka.

Devan sempat tertegun sejenak, lalu memasang senyuman hangat—senyuman manis yang sangat jarang diperlihatkan Devan kalau lagi berdua dengan Aira.

"Dara? Lu udah nyampe?" sahut Devan ramah, melangkah mendekati wanita bernama Dara tu. "Sorry ya, gue agak telat dikit dari rumah mertua."

"Nggak apa-apa kok, Dev. Gue juga baru nyampe sepuluh menit lalu," balas Dara ramah, lalu pandangannya beralih ke arah Aira yang berdiri kaku di belakang Devan. "Ah... ini Aira ya? Istri lu?"

Devan merangkul pelan pundak Aira, memperkenalkannya. "Iya, Dara. Ini Aira. Ra, ini Dara, rekan kerja sekaligus partner proyek dari Singapur."

Aira menyunggingkan senyuman tipis yang dibuat-buat, bersalaman sekilas dengan Dara. "Aira."

Dara bisa masuk hingga ke dalam area penthouse karena beberapa hari lalu sebelum pernikahan Devan dan Aira, tim mereka sempat mengadakan rapat kerja di tempat ini.

Waktu itu, Devan yang sedang sibuk mengurus persiapan akuisisi memberikan kode access card sementara kepada Dara agar wanita itu bisa lebih fleksibel keluar-masuk saat menyerahkan dan mengambil dokumen mendesak tanpa perlu menunggu Devan membukakan pintu.

"Dara. Salam kenal ya, Aira. Maaf banget ganggu hari libur kalian, ada berkas akuisisi penting yang harus Devan tanda tangani sekarang," ucap Dara sangat sopan dan ramah.

"Oh, iya... gak apa-apa kok. Silakan obrolin aja. Gue masuk kamar dulu," balas Aira singkat.

Aira berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Namun, baru beberapa langkah bergerak, Aira tanpa sengaja melirik ke arah kaca besar di samping ruang tamu yang memantulkan area duduk Devan dan Dara.

Di sana... Aira melihat Devan tertawa pelan mendengarkan ucapan Dara. Pria itu menyodorkan cangkir air minum untuk Dara dengan gestur yang sangat lembut, penuh perhatian, dan kelewat manis. Senyuman Devan ke Dara... bener-bener senyuman hangat tanpa ada nada mengejek.

Deg.

Perasaan tidak nyaman yang sangat menyakitkan menjalar cepat dari ulu hatinya naik ke tenggorokan.

Kenapa?

Kenapa Devan bisa bersikap sangat manis, lembut, dan ramah banget sama cewek lain... tapi kalau sama Aira, cowok itu cuma bisa mengejek, memancing emosi, dan bersikap dingin?

Apa sebenarnya hubungan mereka sampai-sampai itu cewek bisa masuk kesini?

Rasa kesal, cemburu yang tak beralasan, serta luka lama menyeruak naik membuat kepala Aira terasa mau pecah.

Brakkk!

Aira membanting pintu kamarnya dengan sangat keras. Suara dentuman pintu itu menggema menembus seluruh sudut penthouse.

Begitu pintu terkunci, Aira melangkah cepat menuju tempat tidurnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur.

"ARGHHHH! BENCI BANGET GUE SAMA LU, DEVAN!" jerit Aira tertahan di balik bantal.

Cewek itu mulai memukuli kasurnya berulang kali dengan kedua tangannya yang mengepal keras.

Bugh! Bugh! Bugh!

"Cowok brengsek! Iblis! Sok ganteng! Semua cewek disenyumin! Senyum aja terus sampe mulut lu robek!" jerit Aira lagi, lalu mendadak tertawa miris.

"Hahaha... gila! Gue beneran udah mau gila!" Aira menepuk jidatnya sendiri, menatap langit-langit kamar dengan napas terengah-engah.

Aira menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosinya yang semrawut. "Gak... gak boleh. Aira, lu gak boleh kayak gini! Lu tuh kenapa sih?! Inget, lu gak boleh baper! Masa lalu biarlah masa lalu! Lu gak ada hak buat cemburu sama cowok tengil itu!"

Sementara itu, di area ruang tamu luar...

BRAKKK!

Suara bantingan pintu yang luar biasa kencang itu sukses membuat Devan dan Dara terlonjak kaget di atas sofa. Pulpen di tangan Devan sampai hampir terlepas.

Dara membelalakkan matanya kaget, melirik ke arah lorong kamar Aira dengan raut wajah serba salah. "E-eh... Dev? Itu... Aira kenapa? Dia... marah ya gara-gara gue datang?"

Devan membeku sejenak di tempatnya. Pria itu menatap pintu kamar Aira yang tertutup, lalu sudut bibirnya perlahan melengkung membentuk senyuman tipis yang sangat penuh arti. Devan tahu persis apa yang baru saja terjadi.

Devan berdeham pelan, merapikan posisi duduknya. "Nggak kok, Dara. Dia emang suka gitu kalau lagi capek. Pintu kamarnya emang rada rusak, jadi suka ketutup kenceng sendiri."

Dara buru-buru merapikan berkas-berkasnya di atas meja, merasa makin tidak enak hati. "Duh, sorry banget ya, Dev. Kayaknya gue ganggu waktu kalian deh. Ini berkasnya udah selesai ditandatangani kan? Gue pamit langsung aja deh ya, biar lu bisa tenangin Aira."

"Eh, gak usah terburu-buru padahal," ujar Devan berniat menahan sopan.

"Gak apa-apa, Dev. Gue ada janji lain juga habis ini. Makasih ya buat tanda tangannya!" Dara tersenyum canggung, menyambar tasnya lalu berdiri bersiap menuju pintu keluar. "Salam buat Aira ya!"

Setelah mengantar Dara sampai ke pintu depan dan membiarkan wanita itu pergi, Devan berbalik melangkah kembali ke dalam penthouse.

Pria itu berjalan pelan menuju pintu kamar Aira. Devan menyandarkan pinggulnya di samping pintu itu, memegang dagunya sambil menyunggingkan cengiran paling puas sepanjang hari ini.

"Cemburu nih ceritanya?" bisik Devan pelan di balik pintu, matanya berkilat penuh kemenangan.

1
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
Fazira
lucu banget aira🤣
siapa ya yang di ruangan itu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!