Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 RINTIK HUJAN DAN SEGELAS KOPI
Cuaca di daerah pegunungan memang tak pernah bisa ditebak secara pasti.
Siang yang tadinya benderang meski dihiasi awan putih, perlahan-lahan mulai berubah muram.
Memasuki pukul dua siang, gumpalan awan hitam pekat, bergerak dengan berarak cepat dari arah punggung bukit, menelan paksa sinar matahari yang tersisa.
Angin pegunungan yang tadinya berhembus sejuk, kini berubah menjadi hembusan yang cukup kencang dan membawa hawa dingin yang menggigit tulang.
Daun-daun kopi bergesekan dengan kasar, menciptakan harmoni suara alam yang mengisyaratkan datangnya hujan sesaat.
Di area gubuk, Pak Doyo tengah sibuk mengikat dua karung goni berukuran besar berisi biji kopi yang telah dipanen ke bagian belakang sepeda motor Supra tuanya. Motor bebek legendaris itu tampak kokoh menahan beban puluhan kilogram kopi merah yang siap disetor ke pengepul kopi.
"Mas Zaki! Wiwi! Iki mendunge wis peteng ndhedhet! Bapak tak mudhun dhisik nggowo kopi iki nang tengkulak pasar deso sadurunge udan deres!" (Mas Zaki! Wiwi! Ini mendungnya sudah gelap banget! Bapak mau turun dulu bawa kopi ini ke tengkulak pasar desa sebelum hujan deras!) teriak Pak Doyo mengalahkan suara deru angin.
Zaki yang baru saja selesai membereskan peralatan sabit dan cangkul segera berlari kecil menghampiri Pak Doyo, diikuti oleh Wiwi di belakangnya.
"Iya, Pak! Hati-hati di jalan turunnya, jalannya pasti licin nanti kalau kena air!" balas Zaki mengingatkan.
"Beres, Mas! Kowe karo Wiwi ndang beres-beres, bar iku langsung bali wae. Ora usah diterusake, ketoke udane bakal awet iki!" (Beres, Mas! Kamu sama Wiwi cepat beres-beres, habis itu langsung pulang saja. Tidak usah diteruskan, sepertinya hujannya bakal awet ini!) instruksi Pak Doyo seraya mengengkol mesin motornya yang menderu kasar.
"Nggih, Pak. Ati-ati," (Iya, Pak. Hati-hati) tambah Wiwi sambil mencium tangan bapaknya.
Breeem... Breeem...
Motor tua itu pun melaju perlahan menyusuri jalan setapak yang menurun, meninggalkan kepulan asap knalpot yang dengan cepat tersapu oleh angin kencang.
Kini, di tengah kebun seluas setengah hektar yang mulai gelap itu, tinggalah Zaki dan Wiwi berdua.
TESS...
Satu tetes air berukuran besar jatuh tepat mengenai hidung Zaki.
Pemuda itu mendongak. Langit sudah sepenuhnya menghitam.
Aroma hujan yang sangat tajam seketika meledak di udara, memabukkan indera penciuman.
TESS... TESS... TESS...
Tetesan itu datang semakin rapat dan membesar. Hanya dalam hitungan detik, langit seakan memuntahkan seluruh beban airnya tanpa aba-aba.
Hujan deras turun dengan sangat brutal, menghantam dedaunan kopi dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
"Waduh! Deres banget, Dek! Ayo lari ke gubuk!" seru Zaki spontan.
Tanpa berpikir panjang, Zaki meraih tangan Wiwi.
Ia menggenggam erat telapak tangan perempuan itu, menariknya berlari menerobos rintik hujan yang mulai membasahi pakaian mereka.
Wiwi tersentak kaget karena sentuhan tiba-tiba itu, namun ia tak menolak.
🤭🤭🤭🤭🤭
Ia menurut, berlari mengikuti langkah lebar Zaki menuju gubuk bambu yang berjarak sekitar dua puluh meter dari posisi mereka sekarang.
Begitu sampai di bawah naungan atap ilalang gubuk yang cukup kokoh itu, keduanya menghembuskan napas lega yang hampir bersamaan.
Zaki melepaskan genggaman tangannya, menyadari kelancangannya barusan.
"Eh, maaf, Dek Wiwi. Spontan tadi, takut Dek Wiwi kebasahan parah," ucap Zaki cepat, sedikit salah tingkah.
Wiwi menunduk, napasnya sedikit terengah-engah karena berlari, wajahnya kembali merona merah. "Mboten napa-napa, Mas..." (Tidak apa-apa, Mas...) balasnya lirih.
🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️
🛖🛖🛖🛖🛖🛖🛖
Gubuk itu tak terlalu luas. Hujan deras yang mengguyur di luar menciptakan tirai air lebat di sekeliling mereka, seolah mengisolasi gubuk kecil itu dari sisa dunia.
BRUUUSSSHHH!!!
Suara gemuruh air yang menghantam atap ilalang dan tanah di sekitar mereka menenggelamkan suara apa pun, memaksa mereka berada dalam keheningan intim yang hanya diselingi oleh deru napas masing-masing.
Udara mendadak anjlok menjadi sangat dingin. Angin kencang yang membawa percikan air hujan sesekali menyusup masuk.
Zaki melihat Wiwi mengusap-usap kedua lengan atasnya, bibirnya sedikit bergetar menahan hawa dingin pegunungan yang menusuk ke balik kebaya katunnya yang setengah basah.
Tanpa banyak bicara, Zaki segera melepaskan kemeja flanel pudar yang membalut kaus oblong putihnya. Ia melangkah mendekat, lalu menyampirkan kemeja flanel yang masih menyimpan suhu panas tubuhnya itu ke atas kedua bahu Wiwi.
Wiwi terperanjat pelan. Ia mendongak menatap Zaki dengan mata membulat.
"P-pakai aja, Dek. Dingin banget anginnya. Nanti Dek Wiwi masuk angin," kata Zaki dengan suara rendah dan serak.
Wiwi mengeratkan ujung kemeja kebesaran itu di dadanya. Aroma khas Zaki—kombinasi antara wangi sabun mandi yang maskulin, keringat pekerja keras, dan aroma kopi—langsung menyeruak, mengelilingi indera penciuman Wiwi.
Hati gadis itu berdebar tak karuan.
😳😳😳😳😳
"Matur nuwun sanget, Mas Zaki... Mas Zaki kiyambak mboten kadhemen ta?" (Terima kasih banyak, Mas Zaki... Mas Zaki sendiri tidak kedinginan kan?) tanyanya khawatir melihat Zaki kini hanya mengenakan kaus oblong yang tipis.
"Saya kan cowok, Dek. Tenang aja, udah kebal," Zaki terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana romantis yang kian pekat membelenggu mereka.
Melihat Zaki yang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sendiri untuk mencari kehangatan, sebuah ide terlintas di benak Wiwi.
Gadis itu berbalik menuju sudut gubuk, membuka bungkusan kain yang ia bawa tadi siang.
Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah termos kecil berwarna merah dan dua buah gelas enamel berukuran mungil.
"Sajake kok sekeca menawi ngeteh utawi ngopi nggih, Mas? Kulo wau mbekta toya panas saking griyo, kalih kopi bubuk," (Sepertinya kok enak kalau ngeteh atau ngopi ya, Mas? Saya tadi bawa air panas dari rumah, sama kopi bubuk) ujar Wiwi seraya menyiapkan gelasnya.
"Wah, pas banget itu, Dek! Penyelamat bener," sahut Zaki antusias, matanya berbinar.
Dengan telaten, Wiwi menyeduh kopi hitam ke dalam dua gelas enamel tersebut.
Kepulan asap yang membawa aroma kopi pekat nan manis seketika memenuhi gubuk kecil itu, memberikan sensasi kehangatan tersendiri di tengah kepungan hujan deras.
Wiwi menyodorkan satu gelas kepada Zaki, lalu ia sendiri duduk di ujung balai-balai, memeluk gelasnya dengan kedua tangan untuk menghangatkan jemarinya.
Zaki ikut duduk di balai-balai yang sama, mengambil jarak yang sopan namun cukup dekat untuk bisa merasakan kehangatan yang sama.
Keduanya menyesap kopi hitam itu perlahan dalam diam. Tatapan mereka terlempar ke arah tirai hujan yang putih bening di luar sana.
Bagi Zaki, momen ini terasa sangat membahagiakan.
Suara gemuruh hujan, wangi kopi, kehangatan dari cangkir di genggamannya, dan kehadiran perempuan bersahaja yang mengenakan kemeja kebesarannya di pundaknya. Semuanya berpadu menciptakan sebuah kesempurnaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Dek Wiwi," Zaki memecah keheningan, suaranya sedikit meninggi agar mengalahkan suara hujan.
Wiwi menoleh. "Inggih, Mas?" (Iya, Mas?)
"Dek Wiwi nggak pernah ada kepikiran buat merantau ke kota? Kayak gadis-gadis seumuran Dek Wiwi yang lain?" tanya Zaki tulus.
Wiwi tersenyum simpul, lalu menggeleng pelan. Matanya menatap uap panas dari kopinya.
"Mboten, Mas. Kulo pun rumaos cekap teng mriki. Saget celok kalih Bapak, saged ngrewangi Simbok. Menawi kulo teng kitho, dereng kantenan batin kulo saged ayem kados teng dhusun," (Tidak, Mas. Saya sudah merasa cukup di sini. Bisa dekat dengan Bapak, bisa membantu Ibu. Kalau saya di kota, belum tentu batin saya bisa tenang seperti di desa).
Mendengar jawaban yang begitu dewasa dan penuh rasa syukur itu, Zaki tersenyum lebar. Ia menatap wajah Wiwi dari samping.
Cahaya mendung yang temaram mengekspos profil wajah gadis itu dengan sangat indah. Garis hidungnya, bulu matanya yang lentik, dan bibirnya yang kemerahan.
"Kita sepemikiran, Dek," ucap Zaki pelan.
Kali ini, Zaki menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat.
"Saya juga udah ngerasain hidup di kota. Cari uang mati-matian. Tapi akhirnya, ketenangan itu ternyata nggak ada di sana. Ketenangan itu justru ada di sini. Di bawah rintik hujan, di gubuk bambu ini... sama secangkir kopi," Zaki memberi jeda sepersekian detik, menatap langsung ke dalam mata Wiwi yang kini membalas tatapannya, "...dan sama orang yang tepat."
Kalimat terakhir Zaki diucapkan dengan volume yang sangat pelan, nyaris hanya berbisik, namun terdengar sangat jelas di telinga Wiwi.
Waktu benar-benar berhenti. Mata mereka terkunci satu sama lain.
Di dalam tatapan tajam Zaki, Wiwi bisa melihat sebuah keseriusan yang mutlak. Sebuah ikrar tanpa kata yang menjanjikan perlindungan dan masa depan.
Jantung Wiwi berdegup terlampau kencang, rona merah di wajahnya kian merona, tak mampu menyembunyikan perasaan yang membuncah di dadanya.
Wiwi tak menjawab, ia hanya menunduk dengan senyuman yang teramat manis, menyembunyikan wajahnya di balik uap kopi panas.
Sementara Zaki, ia menyandarkan punggungnya ke tiang gubuk.
Hatinya telah penuh. Ia menyesap sisa kopinya dengan kedamaian yang paripurna.
Zaki menyadari, pencariannya telah usai.
Di gubuk kecil yang diisolasi oleh hujan deras ini, Zaki yakin seyakin-yakinnya bahwa ia telah menemukan belahan jiwanya.
.....
.....
.....
Tanpa Zaki tahu sepenuhnya (karena sekarang dirinya sudah benar-benar terlepas ikatannya dengan Sekar Mayang)...
Di belahan daerah lain, di Jawa Timur ini...
Tepat di pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon...
Sekar Mayang yang sudah menjadi perewangan Nisa, bersama Dayang Putri, mereka berdua sedang menyiapkan perlindungan gaib tingkat tinggi untuk Nisa.
Karena di alur waktu yang sama, di pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon itu...
Sebentar lagi akan datang seorang anak gadis yang membawa misi untuk mencari tumbal bagi pesugihan Bapaknya.
DIALAH GENDIS...
YANG KELAK AKAN MENJADI ANAK ANGKAT PERTAMA NISA...
Dan, 6 tahun ke depan, Zaki pun akan menjadi calon Ayah angkat anak itu pula.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya