Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesibukan di pagi Senin yang baru
Keesokan harinya, Senin pagi datang dengan ritme yang jauh lebih tenang namun bertenaga. Tidak ada lagi sisa-sisa badai emosional dari minggu lalu. Kami menyambut hari baru ini dengan kepala tegak, persis seperti nasihat Bapak.
Waktu bergulir dengan cepat, melompati hari, minggu, dan bulan, hingga tak terasa beberapa tahun telah berlalu. Roda kehidupan keluarga kami terus berputar di atas landasan keberanian dan keteguhan hati yang malam itu kami ikrarkan bersama.
Kini, aku sudah duduk di bangku kelas 2 SMP, sementara Kakak sudah menginjak kelas 2 SMA.
Meskipun seragam kami sudah berganti ukuran dan buku pelajaran di tas kami semakin tebal, suasana hangat di rumah ini tidak pernah berubah. Atap seng rumah kami masih setia mengeluarkan bunyi gemertak saat siang menyengat, dan gerobak tua Bapak masih menjadi pahlawan yang menghidupi impian-impian kami. Namun, ada sesuatu yang jauh berbeda pada diri kami hari ini: kedewasaan dan cara kami memandang masa depan.
Pagi itu Suara sapu lidi Ibu di halaman samping masih menjadi alarm alami yang paling ampuh. Namun pagi ini, rutinitas kami sudah jauh lebih mandiri.
Kakak Di kamarnya, Kakak sedang merapikan seragam putih-abu-abunya. Di usia kelas 2 SMA, dia bukan lagi gadis remaja yang rapuh dan mudah ciut oleh bisikan tetangga. Tatapan matanya kini tajam dan penuh fokus. Di mejanya, buku rumus matematika SMP yang dulu ia pelajari kini telah berganti dengan tumpukan buku persiapan masuk perguruan tinggi negeri. Targetnya sudah jelas, dan dia tidak ragu lagi.
Aku sebagai anak kelas 2 SMP, aku sudah bisa diandalkan untuk urus Membantu Ibu.
"Ris, dasinya jangan sampai miring. Kamu itu sudah SMP, harus rapi," tegur Kakak sambil berjalan ke ruang tengah, menyerahkan segelas teh hangat untuk Bapak yang sudah bersiap di dekat gerobak buburnya.
Aku terkekeh, membetulkan letak dasi biru tuaku. "Siap, Kak Yang mau ujian hari ini harusnya lebih fokus nih."
Kakak hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman matang yang memancarkan rasa percaya diri. Kejadian beberapa tahun lalu telah menempa dirinya menjadi pribadi yang sangat tangguh di sekolahnya.
Kami kembali berkumpul di meja makan kayu yang sama. Pagi ini, Ibu memasak nasi goreng sederhana dengan kecap dan potongan dadu tempe sisa kemarin. Di atas meja itu, Bapak yang sudah bersiap semua dagangannya sudah di gerobak. Beliau kemudian berpamit lalu berangkat berjualan.
Tepat pukul 06.30, kami semua bergerak bersama. Bapak mulai mendorong gerobak buburnya keluar pagar dengan langkah yang masih tegap. Di pagi yang masih dingin itu, aku berjalan kaki menuju sekolah dengan semangat.
Saat melewati deretan rumah tetangga yang dulu sempat terasa mengintimidasi, tidak ada lagi rasa canggung. Beberapa tetangga ada yang menyapaku dan aku membalasnya dengan senyuman terbaik. aku telah membuktikan dengan waktu dan prestasi bahwa keluarga kami tidak bisa dijatuhkan oleh prasangka.
Di persimpangan jalan, Kakak berjalan pergi ke sekolahnya. Ia membetulkan tas ranselnya yang berat penuh buku pelajaran, lalu menepuk pundakku persis seperti yang dilakukannya beberapa tahun lalu saat memberiku uang belanja dua puluh ribu.
"Belajar yang bener, Ris. Jangan main game terus setelah pulang sekolah," ancamnya bergurau.
"Aman, Kak. Area operasi SMP hari ini siap ditaklukkan!" jawabku mantap sambil mengacungkan jempol.
Kakak tertawa lepas, lalu melangkah. Langkahnya mulai menjauh. Aku memandangi kepergiannya sejenak sebelum aku berjalan kembali ke sekolahku sendiri.
Hari senin ini, aku melangkah ke kelas baru dengan tantangan yang juga baru. Berharap kisah kali ini tak seperti masa kelas tujuh dulu. tanpa ada lagi kalimat beracun dari Dian yang menyakitkan hati. Sekarang, aku sudah sepenuhnya siap berjuang demi masa depan yang lebih cerah.
Aku melangkah melewati gerbang sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Udara pagi ini terasa bersih, seolah ikut merayakan babak baru dalam hidupku. Di mading utama, selembar kertas besar berisi pembagian kelas baru telah dikerumuni murid-murid. Aku tidak perlu berdesakan terlalu lama untuk menemukan namaku: Riska Kelas 8-B
Harapan besar membumbung di dadaku. Di kelas 8 ini, aku berdoa dalam hati agar dipertemukan dengan teman-teman yang tulus, yang bisa dipercaya, dan tidak memandang seseorang hanya dari latar belakang keluarganya. Aku ingin mengubur dalam-dalam memori kelas 7 yang penuh dengan kalimat beracun dari Dian.
Saat berjalan menyusuri koridor sekolah, suasana sekolah tampak sangat ramai. Hari ini adalah hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk adik-adik kelas 7 yang baru. Melihat wajah-wajah polos mereka yang tampak kebingungan dengan atribut MPLS, aku tersenyum tipis. Waktu benar-benar berjalan cepat; rasanya baru kemarin aku berada di posisi mereka, gemetaran dan merasa terasing.
Langkahku mendadak melambat saat mataku menangkap sesosok wajah yang sangat familier di depan kelas 7E. Itu Fitriani. Dia sedang berjalan beriringan menuju area kelas.
Aku menghentikan langkah dan hanya diam, memilih untuk tidak menyapanya.
Fitriani tidak sendiri. Di sampingnya ada teman akrabnya orang yang sama yang telah bersamanya sejak kelas 5 SD.
Aku menghela napas pendek. Sejak berteman dekat dengan orang itu, sifat Fitriani berubah drastis. Persahabatan kami yang dulu begitu indah, penuh tawa polos masa kecil, perlahan memudar dan terasa asing. Dia bukan lagi Fitriani yang kukenal dulu. Kehadiran teman barunya itu seolah membangun tembok tinggi di antara kami, mengubah kedekatan kami menjadi sekadar dua orang yang saling tahu nama namun tak lagi saling menyapa.
"Sudahlah" bisikku pada diri sendiri, memalingkan wajah dan kembali melangkah menuju tangga. Aku tidak boleh membiarkan nostalgia masa lalu atau rasa kecewa memperlambat langkahku hari ini.
Aku berjalan ke tempat kelas 8 berada. Begitu tiba di depan pintu kelas 8-B, aku mengambil napas dalam-dalam, membetulkan letak tas ranselku, lalu melangkah masuk dengan kepala tegak. Di dalam ruangan, beberapa bangku sudah terisi. Aroma ruang kelas yang baru dicat dan gemuruh obrolan teman-teman baru menyambut ku. Hari ini, perjuangan yang sesungguhnya di kelas 8 dimulai.
Aku melangkah masuk ke dalam kelas 8-B dan langsung merasakan atmosfer yang kontras. Sebagian besar sudut ruangan terasa canggung; banyak murid yang hanya terdiam dan saling pandang karena belum saling kenal. Mereka sibuk merapikan alat tulis atau berpura-pura menatap keluar jendela untuk mengusir rasa canggung. Namun, di sudut dekat papan tulis, terdengar suara tawa yang cukup nyaring dari beberapa murid yang beruntung bisa sekelas lagi dengan geng lama mereka. Mereka asyik bercerita tentang liburan semester kemarin.
Aku mengedarkan pandangan mencari bangku kosong yang nyaman. Namun, langkahku mendadak terkunci saat mataku menangkap sosok yang duduk di barisan tengah.
Jantungku sempat berdegup agak kencang. Ternyata, aku sekelas lagi dengan Dian.
Orang yang paling ingin ku hindari dari masa kelas 7 itu kini berada di ruangan yang sama denganku untuk satu tahun ke depan. Di sana, Dian tampak sedang gencar-gencarnya beraksi. Dengan gaya bicaranya yang lantang, dia tampak sok asyik demi mendapatkan teman baru di kelas ini.
"Eh, kalian tahu enggak? Liburan kemarin aku ke Jogja loh, seru banget! Nanti pulang sekolah kita nongkrong yuk" seru Dian dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, mencoba menarik perhatian anak-anak perempuan di sekitarnya yang masih kelihatan bingung.
Beberapa anak yang awalnya canggung mulai terpancing dan tersenyum menanggapi ceritanya. Dian tampak sangat menikmati perannya sebagai pusat perhatian, seolah-olah dia adalah pemimpin di kelas baru ini.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali nasihat Bapak dan keteguhan hati Kakak tadi pagi. Aku bukan lagi kelas 7 yang mudah ciut oleh bisikan atau tatapan meremehkan. Aku membuang muka, berjalan melewati barisan bangku Dian tanpa memedulikannya, dan memilih duduk di sebuah bangku kosong di barisan belakang dekat jendela.
Saat aku meletakkan tas, dari sudut mata, aku sempat melihat Dian melirik ke arahku. Senyum sok asyiknya mendadak agak berubah, namun dia cepat-cepat memalingkan muka dan kembali mengobrol dengan teman-teman barunya. Tantangan di kelas 8 ini ternyata datang lebih cepat dari dugaan, dan aku sudah siap menghadapinya dengan caraku sendiri lewat prestasi dan ketenangan.
pokoknya harus Sampek ending