NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10,2

Yamada berpikir sejenak, menatap cahaya keemasan pagi yang masuk, cahaya yang sama seperti sore saat dia mati di kehidupan pertama, tapi kini terasa hangat, bukan dingin.

"Kurang lebih. Mimpi buruk, tapi sekarang sudah agak mendingan."

Ibunya tersenyum, senyum yang tulus, senyum yang membuat Yamada yang asli di dalam kepala terasa hangat.

"Turunlah. Sarapan sudah siap. Ayah sudah menunggu di meja makan. Dia bilang dia ingin bicara lagi setelah sarapan, tapi kali ini tidak akan memarahimu."

Yamada mengangguk.

"Baik. Lima menit lagi."

Dia berjalan melewati ibunya, mencium aroma masakan pagi, aroma sup hangat dan roti panggang, aroma yang tidak pernah dia cium di kehidupan pertamanya karena dia selalu bangun siang.

Namun kemudian berhenti di ambang pintu, menoleh.

"Bu." Panggilnya.

"Ya? Ada yang kurang?" Ibunya menoleh.

Yamada menatapnya, untuk sesaat ragu, karena kata-kata itu terasa berat, tapi juga terasa perlu diucapkan, bukan sebagai Yamada yang pendatang, bukan sebagai Yamada yang asli, tapi sebagai Yamada yang sekarang, yang ada di sini, yang hidup.

Kemudian berkata, dengan suara yang pelan tapi jelas,

"Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk melahirkanku... dua kali."

Ibunya terdiam sejenak, tidak mengerti arti 'dua kali' itu, tapi tersenyum, dengan mata yang kembali berkaca-kaca, mengangguk.

"Sama-sama, Nak. Cepat turun, nanti supnya dingin."

Yamada berjalan menuju tangga, langkahnya terasa ringan, meskipun statusnya masih Level 1, meskipun sinkronisasi masih 64%, meskipun memorinya masih 13%.

Dia masih tidak tahu dunia seperti apa yang menunggunya di luar desa ini.

Dia tidak tahu bagaimana menggunakan sistemnya yang ternyata tidak mahatahu.

Tidak tahu siapa perempuan bermata merah berambut putih yang memberinya kontrak lima tahun itu.

Tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh ini selama lima tahun kekosongan itu, siapa yang mengisinya.

Dan tidak tahu apakah dirinya akan bertahan hidup sampai bisa naik ke Level 2, atau akan mati lagi besok karena monster.

Namun ada satu hal yang dia tahu, satu hal yang membuat seorang pemalas seperti dirinya mau bangun pagi jam tujuh, mau latihan pedang dengan Elena, mau bertarung melawan serigala bertanduk.

Kehidupan lamanya telah berakhir, ditabrak truk di persimpangan sore yang malas.

Sekarang dia memiliki kesempatan kedua, kesempatan yang dibayar mahal oleh seorang anak 10 tahun yang berjanji akan kembali, dan oleh seorang perempuan rambut putih yang menjaga kuburan kosong selama lima tahun.

Dan kali ini

dia tidak akan hidup hanya untuk menghindari masalah, menghindari tugas, menghindari latihan.

Dia akan mencari jawabannya. Dia akan mencari siapa dirinya, siapa teman sekamarnya, siapa kakak Ren, siapa monster bermahkota tanduk, dan siapa perempuan rambut putih itu.

Meskipun itu adalah hal paling merepotkan yang pernah ada di dua kehidupannya.

Di luar rumah, matahari mulai terbit sepenuhnya. Cahaya keemasan menyinari desa kecil di kaki Hutan Elaria, menyinari atap-atap kayu, menyinari sawah, menyinari batu nisan kecil di belakang rumah Yamada yang tadi malam menumbuhkan Requiem Flower.

Yamada berhenti sejenak di depan pintu rumah yang terbuka, membiarkan angin pagi yang segar menyentuh wajahnya yang masih pucat. Angin itu membawa bau embun, bau tanah basah, dan bau roti panggang dari dapur ibunya.

Untuk pertama kalinya sejak kematiannya— sejak dia melihat langit jingga sore berubah menjadi gelap karena truk—

dia tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus, bukan senyum malas, bukan senyum kecut, tapi senyum seorang anak 15 tahun yang baru saja memutuskan untuk hidup.

"Selamat pagi, dunia baru." Bisiknya pelan.

Dunia baru menjawabnya dengan suara burung-burung pagi yang berkicau, suara ayam berkokok, dan suara Elena yang berteriak dari kejauhan, "YAMADA! SARAPAN CEPAT! LATIHAN LAGI!"

Namun jauh di tempat lain— jauh dari cahaya matahari pagi yang hangat itu—

di dalam Hutan Elaria, di tempat di mana bahkan cahaya matahari tidak bisa menembus dedaunan yang rapat, di pusat hutan yang terlarang—

perempuan berambut putih itu berdiri di depan sebuah makam tua yang hampir tertutup rumput liar dan akar pohon besar. Makam yang batu nisannya sudah miring, hampir tidak terbaca karena lumut.

Di atas batu nisan itu tertulis satu nama, dengan ukiran yang sudah hampir hilang dimakan waktu, tapi masih bisa dibaca:

YAMADA

Bukan makam kecil di belakang rumah Yamada. Makam yang berbeda. Makam yang jauh lebih tua.

Perempuan itu menyentuh batu nisan itu dengan tangan pucatnya, dengan lembut, seperti menyentuh pipi anaknya sendiri.

"Dia sudah kembali." Bisiknya, dengan suara yang pelan, yang membuat burung-burung di sekitar hutan diam.

Bayangan hitam besar muncul di belakangnya, bayangan monster bermahkota tiga tanduk yang tadi malam bertemu Yamada. Bayangan itu berlutut, menundukkan kepalanya yang besar.

"Apakah waktunya sudah tiba, Nyonya? Apakah kita harus membawanya kembali sekarang? Kontrak lima tahun sudah selesai."

Perempuan itu menggeleng pelan, rambut putihnya bergoyang.

"Belum." Jawabnya.

"Kenapa? Bukankah tubuh itu sudah siap? Bukankah jiwanya sudah masuk?"

Dia tersenyum, senyum sedih yang sama seperti saat dia membuat kontrak dengan anak 10 tahun itu lima tahun lalu.

"Karena dia belum mengingat semuanya. Dia baru ingat 13%. Dia masih berpikir dia adalah Yamada yang mati ditabrak truk, dan dia masih berpikir teman sekamarnya adalah Yamada yang mati lima tahun lalu."

Perempuan itu menatap langit-langit hutan yang gelap, di mana tidak ada langit, hanya dedaunan.

"Dan selama dia belum mengingat semuanya... bahkan sistem itu tidak akan tahu siapa yang sebenarnya telah bereinkarnasi ke dalam tubuh itu. Sistem itu mengira dia melindungi Yamada yang salah."

Mata merahnya bersinar pelan dalam kegelapan hutan.

"...bahkan sistem tidak akan tahu bahwa yang kembali bukanlah Yamada. Tapi kakaknya."

Di dalam rumah kayu kecil di pinggiran desa, Yamada yang baru saja menginjak anak tangga pertama menuju ruang makan, tiba-tiba bersin keras.

"Hacchiu!"

[Main Quest Unlocked.]

Jendela sistem yang baru, yang berbeda dari semua jendela sebelumnya, muncul di depannya dengan warna keemasan yang megah, dengan suara lonceng yang merdu, bukan alarm.

[The Second Life - Prologue Complete.]

Objective: Live. Survive in this new world.

Secondary Objective: Recover your memories - Current Progress 13%.

Hidden Objective: Discover your true identity - Who are you, really?

Reward: Unknown.

Failure: Unknown.

Bonus: New World Map Unlocked - Elaria Region.

Yamada tidak melihat pesan terakhir itu, karena dia sedang sibuk mengusap hidungnya yang gatal karena debu.

Namun di bagian paling bawah sistem, di bagian log yang paling dalam, di bagian yang bahkan tidak bisa dilihat oleh Yamada, bahkan tidak bisa dilihat oleh perempuan rambut putih, bahkan tidak bisa dilihat oleh monster bermahkota—

terdapat satu kalimat log sistem yang tertulis dengan huruf abu-abu kecil, hampir transparan, yang ditulis oleh sistem itu sendiri lima tahun lalu, saat sistem pertama kali dipasang ke tubuh kosong itu.

Satu kalimat yang menjelaskan kenapa sistem selalu bilang Insufficient Authority, kenapa sistem selalu error saat monster bermahkota itu datang, kenapa sistem menyuruh untuk tidak percaya pada kesadaran kedua.

[System's original mission: Protect the true Yamada (Age 10) until he returns. Keep the body alive for 5 years.]

[Mission status: Failed. True Yamada did not return alone. An irregular soul from another world has entered. Dual consciousness detected. Body now belongs to neither.]

[New Mission: Adapt. Protect both irregular souls until true owner returns.]

Dan di bawahnya, dengan tulisan yang baru saja ditambahkan pagi ini, setelah Requiem Flower mekar:

[Warning: The true owner is waking up.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!