Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 22
Pagi harinya Cattleya hanya sarapan berdua saja dengan Leoric. Dia tersenyum tipis. Ternyata keberadaan Lucien sudah merupakan hal yang biasa bagi dirnya, sehingga ketika pria itu tidak ada, rasanya menjadi sedikit berbeda.
"Ibu, apa ayah peldi?"
Leoric menghentikan tangannya menyendok makanan dari piringnya. Bocah kecil itu menatap ke arah Cattleya dengan tatapan penuh tanya.
Ada hal yang sedikit mengganggu pada hati Cattleya yakni kedekatan Lucien dan Leoric. Putranya menjadi sangat dekat dengan Lucien yang jujur saja membuat Cattleya takut.
Semua kenyamanan yang didapatkannya jelas tak akan bertahan lama. Suatu hari nanti suka atau tidak suka dia akan meninggalkan tempat ini, cepat atau lambat.
"Sayang, Tuan Cien itu bukan ayah Leo. Tuan Cien adalah seorang saudagar. Kan ibu sudah bilang bahwa ayah Leo sudah tidak ada."
Cattleya memberi penjelasan kepada putranya. Kembali mengingatkan bahwa Lucien bukanlah ayahnya. Cattleya tak ngn Leo memiliki pengharapan yang lebih kepada Lucien. Itu tidak boleh terjad.
"Tapi Ibu, dia memang ayah ku. Olang itu adalah ayah," jawab Leoric tenang. Bocah itu tidak bcara dengan nada merajuk. Dia hanya berkata tegas bahwa Lucien adalah benar ayahnya.
Cattleya menghela nafasnya panjang. Dia memilh diam dan tak lagi membahasnya. Cattleya hanya berpikir bahwa Leoric hanyalah anak-anak yang menginginkan sosok ayah. Jadi dia tak perlu mengatakan apa-apa lagi.
"Ayah, maafkan Ibu ya Nak. Mungkin selamanya kamu tak akan memilkinya. Ibu tak mungkin bisa mewujudkan itu. Ibu tak mungkin mempertemukan kamu dengan ayah kandungmu. Karena jika itu terjadi, maka sama saja dengan mengantarkan nyawa. Tidak, tidak boleh. Kaisar kejam itu juga tidak boleh menemukan Leoric. Aku tak bisa melihat anakku hidup dalam pengasingan dan kesendirian."
Plot novel yang sudah berbuah banyak tersebut tak serta merta membuat Cattleya melupakan tentang kesengsaraan Leoric dalam cerita aslinya. Dia masih terpaku pada cerita novel tersebut dimana Leoric akan diasingkan, dibenci dan berakhir mati dengan kesendirannya.
Membayangkan saja sudah membuat tubuh Cattleya bergetar takut. Dan dengan hal tersebut dia semakin bertekad untuk menjauh sepenuhnya dari lingkup kekaisaran Kallistar.
"Ibu, kenapa ibu membenci ayah?"
Pertanyaan yang belum pernah ditanyakan oleh Leoric dan cukup membuat Cattleya terhenyak.
"Kenapa ya? Karena mungkin Ayah tidak mencintai Ibu, dan Ibu bukanlah orang yang ayah mu ingnkan berada di sisi nya. Ibu bukan orang yang tepat berdiri di sisi ayahmu. Jadi hal yang paling benar dilakukan adalah tidak usah mencarinya. Kita berdua saja sudah bahagia kan?"
Leoric menatap Cattelay dalam. Jawaban dari Cattleya membuat bocah itu terusik. Sebuah pertanyaan kembali hadir dalam benak Leoric. "Apa yang tidak pantas dari ibuku untuk berdiri di sisi ayah?"
Namun Leoric tak melanjutkan pertanyaan tersebut. Dia memilh diam dan kembali memakan makanannya. Tapi dalam hati bocah itu bertekad, dia akan bertanya kepada sang ayah tentang apa yang dikatakan oleh ibunya tadi.
Selepas makan pagi, Leoric bermain bersama seorang pelayan yang sebenarnya adalah pengasuh. Tak hanya bermain namun Leoric juga diajak belajar.
Cattleya membiarkan hal tersebut, akan bagus bagi Leoric untuk mendapatkan pembelajaran yang mana mungkin akan sulit diberikan olehnya jika sudah tak berada di tempat ini.
Sedangkan Cattelya sendiri, dia kembali berjalan-jalan mengelilingi kastel. Matanya berbinar ketika melihat tempat latihan para kesatria dengan berbagai macam senjata di dalam nya.
"Waah ini hebat sekali. Ada tombak dan juga pedang. Apa aku bisa memainkannya?"
Cattleya menyentuh dan mengusap sebuah tombak. Dia mengambilnya, melemparkannya lalu kembali menangkapnya.
"Sempurna, ringan tapi kokoh. Mungkin aku akan mencobanya nanti," gumamnya lirih.
Apa yang dilakukan oleh Cattleya, ternyata dilihat oleh kepala pasukan kesatria. Mata orang itu membelalak melihat seorang wanita yang merupakan nona bangsawan bisa memegang senjata dengan lincah.
"Apa mungkin Nyonya bisa menggunakannya?" gumamnya lirih.
TBC