Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Kedua — 03
"Selir Xue diminta menghadap Nyonya Su. Sekarang juga dikediaman pribadinya." katanya, suaranya bergetar.
Karina merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya.
Pemeriksaan di Aula Kecil beberapa hari lalu setidaknya dilakukan di hadapan banyak saksi, sebuah bentuk keadilan semu yang setidaknya membatasi apa yang bisa terjadi.
Namun panggilan menghadap secara pribadi, tanpa saksi, adalah hal yang sama sekali berbeda, dan di istana seperti ini, perbedaan itu bisa berarti hidup atau mati.
Ia tidak punya pilihan selain patuh.
Menolak panggilan Nyonya Su, seorang wanita yang mengendalikan seluruh urusan dalam istana selama lebih dari dua dekade, sama saja dengan menandatangani surat kematiannya sendiri secara terbuka.
...----------------...
Kediaman Nyonya Su terletak di sayap tersendiri dari istana bagian dalam, jauh lebih sederhana dibandingkan paviliun paviliun selir yang lebih dicintai.
Karina berlutut segera setelah memasuki ruangan, menundukkan kepala dalam dalam. "Saya menghadap, Nyonya Su."
"Duduklah." Kata Nyonya Su, suaranya tenang, jauh berbeda dari nada resmi yang ia gunakan di Aula Kecil beberapa hari lalu.
"Tidak perlu berlutut. Ini bukan pemeriksaan."
Kalimat itu, alih alih menenangkan, justru membuat kewaspadaan Karina semakin tinggi.
Kalimat yang disampaikan dengan nada bersahabat di tempat seperti ini seringkali menyimpan jarum yang jauh lebih tajam dibandingkan ancaman terang terangan.
Karina duduk dengan hati hati di kursi yang ditunjukkan, menjaga posisi tubuhnya tetap sopan, pandangannya tidak berani menatap langsung wajah wanita di hadapannya.
Nyonya Su menuangkan teh untuk mereka berdua, gestur yang jelas tidak lazim dilakukan seseorang berkedudukan tinggi kepada selir tingkat sembilan.
"Kau tau, sudah bertahun tahun aku mengabdi di istana ini." katanya memulai percakapan tanpa terburu buru, seolah waktu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
"Cukup lama untuk belajar membedakan mana selir yang benar benar sesederhana yang terlihat, dan mana yang menyimpan sesuatu di balik kesederhanaan itu."
"Saya tidak sepenuhnya paham apa maksud Nyonya." jawab Karina hati hati, memilih untuk tidak mengakui atau menyangkal apa pun yang belum jelas arahnya.
"Tidak perlu paham sekarang." Nyonya Su tersenyum tipis, menyesap tehnya sendiri.
"Aku hanya ingin bicara sedikit tentang malam pemeriksaan itu."
Karina menjaga wajahnya tetap tenang, meski jantungnya mulai berdegup lebih kencang. "Saya sudah menyampaikan semua yang saya ketahui, Nyonya."
"Aku yakin begitu." Nyonya Su mengangguk, namun matanya tidak menunjukkan keyakinan pada kata katanya.
"Tapi izinkan aku bertanya satu hal lagi, bukan sebagai bagian dari pemeriksaan resmi, melainkan sekadar rasa ingin tahu seorang wanita tua."
Karina tidak menjawab, hanya menunggu, menyadari bahwa apa pun yang akan ditanyakan berikutnya kemungkinan besar adalah inti dari seluruh pertemuan ini.
"Apakah menurutmu….." lanjut Nyonya Su, nada suaranya tetap ringan seolah membicarakan cuaca.
"Seorang selir tingkat rendah, yang tidak pernah sekali pun dipanggil menghadap Yang Mulia, memiliki alasan untuk berjalan jalan sendirian di taman yang gelap?”
“Pada malam ketika seorang pangeran sedang dicari cari oleh seluruh penjaga istana?"
Pertanyaan itu jatuh seperti pisau yang diasah halus, dibalut kelembutan yang justru membuatnya lebih berbahaya.
Karina menyadari, dalam sepersekian detik, bahwa Nyonya Su setidaknya menduga apa yang sesungguhnya terjadi malam itu.
Namun cara pertanyaan itu diajukan, seolah sekadar renungan filosofis dan bukan tuduhan langsung, memberi Karina sedikit ruang untuk tidak mengaku secara gamblang tanpa harus berbohong secara terang terangan pula.
“Saya hanya mencari udara segar, dab kebetulan waktu itu bertepatan dengan kegajian keracunan itu."
Nyonya Su menatap wanita didepannya ini lekat lekat. "Kebetulan…..Istana ini penuh dengan kebetulan semacam itu, bukan begitu?"
"Saya tidak berani berandai andai tentang hal yang di luar pengetahuan saya, Nyonya." jawab Karina, tetap menunduk.
Keheningan menggantung sejenak di antara mereka, hanya suara desisan air yang dituang ke cangkir teh mengisi ruang itu.
"Aku akan mengatakan sesuatu kepadamu." kata Nyonya Su akhirnya, meletakkan cangkirnya perlahan.
"Istana ini." lanjut Nyonya Su, suaranya merendah. " Tidak peduli pada kebenaran.”
“Istana ini hanya peduli pada siapa yang berhasil membuat kebohongannya terdengar lebih meyakinkan daripada kebenaran orang lain.”
“Seseorang yang mengetahui hal yang tidak seharusnya diketahui, tidak akan diselamatkan oleh kejujurannya, melainkan oleh kepandaiannya menyembunyikan pengetahuan itu sampai waktu yang tepat untuk mengungkapkannya."
Kalimat itu meskipun disampaikan tanpa menyebut satu nama tetap terasa begitu tepat sasaran hingga Karina merasa seolah tembok di antara mereka telah menipis, meski tidak sepenuhnya runtuh.
"Saya akan mengingat nasihat Nyonya."
"Kau boleh pergi." kata Nyonya Su kembali ke nada resminya yang datar.
"Dan Xue Lan—"
Karina berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit.
"Jaga langkahmu baik baik." lanjut Nyonya Su, tanpa ekspresi.
"Musim ini, angin di istana bertiup sangat kencang. Yang tidak berakar kuat mudah tumbang, tapi yang berakar terlalu dalam di tempat yang salah juga bisa tercabut bersama badai."
Karina membungkuk sekali lagi, kemudian mundur keluar dari kediaman itu dengan langkah yang dijaga tetap tenang meski pikirannya berkecamuk hebat.
Sebelum benar benar melangkah pergi, Karina sempat menoleh sekilas ke arah meja kecil di sudut ruangan Nyonya Su, tempat sebuah kotak kayu berukir sederhana tergeletak, tidak terkunci, seolah sengaja dibiarkan terbuka sedikit.
Dalam padangan sekilasnya ia menangkap sepotong kain sutra dengan warna yang sama persis dengan jubah gelap yang dikenakan Mu Ran malam itu.
Seharusnya benda itu tidak mungkin berada di tempat ini kecuali seseorang telah mengambilnya, atau justru seseorang tengah menyimpannya sebagai bukti, atau jaminan.
Karina memaksa dirinya untuk tidak menatap terlalu lama, khawatir keingintahuannya sendiri akan menjadi bukti yang memberatkan.
Ia membungkuk sekali lagi, kemudian melangkah keluar dengan kepala tetap tertunduk, meski pikirannya kini dipenuhi pertanyaan baru yang tidak berani ia ajukan kepada siapa pun.
Dalam perjalanan kembali ke Paviliun Bunga Layu, Karina mencoba mengurai makna di balik setiap kalimat yang baru saja ia dengar.
Nyonya Su tidak pernah sekali pun menyebut nama Mu Ran, tidak pernah secara terbuka menyatakan pengetahuannya tentang kebenaran di balik kematian Jenderal Han Wei, namun setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti peta yang sengaja digambar dengan tinta yang hanya bisa terlihat jika dipandang dari sudut yang tepat.
“Yang tidak berakar kuat mudah tumbang” pikirnya mengulang kalimat itu dalam hati.
“Tapi yang berakar terlalu dalam di tempat yang salah juga bisa tercabut bersama badai.”
Apakah itu peringatan bagi dirinya sendiri, seorang selir tanpa kekuatan yang mencoba menyelamatkan seorang pangeran yang tidak berdaya?
Ataukah itu sebuah isyarat tentang sesuatu yang lebih besar?
Karina tidak berani menyimpulkan apa pun secara tergesa. Ia hanya tau, pertemuan itu ntah tlah menambah sekutu yang tidak terduga, ataukah justru menambah satu lagi pihak yang kini mengawasinya.
Sesampainya di paviliun, Karina mendapati Yuan sedang menunggu di depan pintu dengan wajah gelisah.
"Ada apa, Yuan?" Ia berusaha menjaga suaranya tetap ringan meski hatinya masih dipenuhi kegelisahan dari pertemuan sebelumnya.
"Tidak ada apa apa, Selir." jawab Yuan cepat sambil matanya melirik ke kanan dan kiri sebelum melanjutkan dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Hanya saja... tadi sore, seorang kasim dari kediaman Nyonya Su datang mencari kabar tentang Selir. Bukan tentang pemeriksaan. Katanya, ia hanya ingin memastikan Selir baik baik saja sepulang menghadap."
Perhatian semacam itu, dari seorang kasim yang bertugas di kediaman kepala pelayan istana, bukanlah hal yang lumrah diberikan kepada seorang selir tingkat sembilan yang bahkan tidak pernah sekali pun dipanggil menghadap Kaisar.
Kemungkinan Nyonya Su benar benar menaruh perhatian tersendiri kepadanya, entah sebagai sekutu tersembunyi atau justru sebagai target pengawasan.
"Terima kasih sudah memberitahuku." Ia tersenyum meski pikirannya masih berkecamuk. "Tidak perlu dikhawatirkan lebih jauh."
Yuan mengangguk meskipun raut wajahnya belum sepenuhnya tenang, sebelum akhirnya berpamitan untuk melanjutkan tugasnya yang lain, meninggalkan Karina sendirian dengan pikirannya yang semakin dipenuhi teka teki yang belum terpecahkan.
Malam harinya, ketika Karina sedang menyusun kembali ingatannya tentang pertemuan itu.
Seorang dayang mengetuk pintunya, membawa sepucuk pesan resmi yang dibubuhi cap kerajaan.
Sesuatu yang sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, sampai ke tangan seorang selir tingkat sembilan.
Karina membukanya dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil. Isinya singkat, ditulis dengan bahasa resmi yang kaku.
Seluruh penghuni istana bagian dalam diperintahkan untuk menghadiri sidang terbuka tiga hari ke depan, di mana tuduhan resmi terhadap seorang anggota keluarga kerajaan akan dibacakan di hadapan dewan penasihat dan Kaisar sendiri.
”Tiga hari.” batinnya, dadanya mencelos menyadari betapa singkatnya waktu yang tersisa.
Ia melipat kembali surat itu dengan hati hati, menyimpannya di tempat yang tidak akan menarik perhatian siapa pun yang mungkin memeriksa kamarnya sewaktu waktu, sebagaimana yang telah diajarkan kewaspadaannya selama berhari hari terakhir ini.
Pikirannya berkelana pada kotak kayu berukir di kediaman Nyonya Su, pada kain sutra gelap yang mungkin saja hanya kebetulan mirip, pada nasihat tentang akar yang tercabut bersama badai.
Semua potongan itu terasa penting, namun tidak satu pun dari dirinya sendiri yang berani menyimpulkan bagaimana semuanya saling terkait, apalagi bagaimana ia harus bertindak dengan waktu yang tersisa sedemikian sempit.
Di kesunyian Paviliun Bunga Layu, Karina menatap layar tembus pandang yang muncul dengan pembaruan yang membuat dadanya semakin berat.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 19.100 / 100.000.]
[Poin diberikan atas kehati hatian yang ditunjukkan pengguna dalam menghadapi pertemuan pribadi berisiko tinggi dengan pihak yang belum dapat dipastikan kesetiaannya.]
[Catatan penting: subjek bernama Nyonya Su menunjukkan indikasi kuat mengetahui lebih banyak dari yang diungkapkan, namun kesetiaannya tidak dapat dipastikan sepenuhnya berpihak kepada pengguna maupun subjek utama misi.]
[Peringatan mendesak: sidang terbuka telah dijadwalkan dalam tiga hari, jauh lebih cepat dari estimasi awal Sistem.]
[Waktu untuk menyusun strategi pertahanan sangat terbatas.]
[Disarankan untuk tidak bertindak sendirian memastikan lebih dulu siapa yang dapat dipercaya di antara pihak pihak yang telah menunjukkan perhatian terhadap pengguna maupun subjek.]
“Aku harus menemukan cara, secepat mungkin, tanpa membuat langkah yang salah.”
buang aja,karina mati lagi aja