NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Tua yang Datang

Pintu kamar terbuka saat senja mulai turun.

Suara langkah yang terburu-buru terdengar dari koridor, disusul suara perempuan yang nyaris menangis.

“Alya?”

Alya membuka mata.

Di ambang pintu berdiri ibunya, Bu Ratna. Rambutnya tampak lebih banyak memutih daripada terakhir kali Alya melihatnya. Wajahnya pucat, matanya merah, dan tangannya gemetar saat memegang tas kecil.

Di belakangnya, ayah Alya, Pak Pramono, berdiri dengan ekspresi tegang. Lelaki itu tampak lebih tua dari yang Alya ingat. Punggungnya sedikit membungkuk, dan tangannya yang dulu kuat kini terlihat gemetar.

“Mama…” bisik Alya.

Bu Ratna langsung mendekat ke ranjang.

Ia memeluk Alya hati-hati, seolah takut menyentuhnya terlalu kuat akan membuat putrinya sakit. Namun pelukan itu tetap hangat. Hangat sampai Alya tidak bisa menahan air matanya lagi.

“Mama,” isaknya. “Maaf.”

Bu Ratna menarik diri sedikit dan memegang wajah Alya dengan kedua tangan. “Maaf untuk apa, Nak?”

“Aku nggak bilang aku sakit.”

“Kamu tidak perlu minta maaf karena sakit.” Suara ibunya bergetar. “Kamu harus bilang. Kamu harus biarkan Mama tahu.”

Alya menutup mata.

Air mata mengalir lebih deras.

Selama ini ia selalu berusaha terlihat kuat di hadapan orang tuanya. Ia tidak ingin mereka merasa bersalah karena perjodohan itu. Ia tidak ingin ibunya menyalahkan diri sendiri. Ia tidak ingin ayahnya merasa gagal melindungi putrinya.

Namun saat ini, di hadapan orang tuanya, Alya tidak lagi sanggup berpura-pura.

Pak Pramono mendekat perlahan. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Putri,” panggilnya.

Alya membuka mata.

Ayahnya jarang memanggilnya dengan sebutan itu sejak ia menikah. Nama itu membawa Alya kembali ke masa kecilnya, ketika ia masih kecil dan ayahnya menggendongnya di halaman rumah sambil menunjukkan bunga melati yang baru mekar.

“Ayah,” jawab Alya.

Pak Pramono menggenggam tangan putrinya. “Kenapa tidak bilang ke Ayah?”

“Aku takut Ayah khawatir.”

“Ayah memang khawatir.” Suara lelaki itu berat. “Tapi Ayah lebih takut kalau kamu sendirian menghadapi semua ini.”

Alya menatap ayahnya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa seperti anak kecil lagi. Bukan istri yang harus selalu kuat. Bukan menantu yang harus menjaga nama baik keluarga. Bukan perempuan yang harus diam agar tidak menyusahkan siapa pun.

Ia hanya Alya.

Putri dari Pak Pramono dan Bu Ratna.

Arga berdiri di dekat jendela, membiarkan keluarga Alya mendekati istrinya. Ia tidak ingin mengambil ruang yang bukan miliknya. Namun ketika melihat Alya menangis di pelukan ibunya, ada rasa berat yang menekan dadanya.

Ia menyadari satu hal.

Alya tidak pernah benar-benar sendirian.

Ia hanya terlalu sering memilih untuk tidak meminta pertolongan.

Dan Arga adalah salah satu alasan mengapa Alya belajar untuk diam.

***

Bu Ratna duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan putrinya.

“Dokter bilang apa?” tanyanya hati-hati.

Alya menoleh ke Arga.

Lelaki itu segera mendekat. “Belum ada diagnosis pasti, Bu. Dokter sedang menunggu hasil lengkap pemeriksaan sumsum tulang. Kondisi Alya masih perlu dipantau.”

Bu Ratna menatap Arga.

Ada sesuatu dalam tatapan ibu mertuanya yang membuat Arga tidak mampu menatap balik.

“Kamu tahu Alya sering sakit?” tanya Bu Ratna.

Arga terdiam.

“Sering lemas, sering pusing, sering tidak makan?” lanjut ibunya.

“Aku baru tahu beberapa hari ini.”

Bu Ratna menghela napas panjang. “Alya itu tidak pernah mau merepotkan siapa pun. Sejak kecil, kalau dia sakit, dia selalu bilang tidak apa-apa. Kalau dia sedih, dia selalu bilang dia hanya capek.”

Alya menunduk.

“Tapi Mama tahu,” lanjut Bu Ratna. “Mama tahu kalau dia diam terlalu lama, artinya dia sudah terlalu sakit untuk bicara.”

Air mata Alya jatuh lagi.

“Mama,” bisiknya.

Bu Ratna memeluknya lagi.

“Mama di sini,” katanya. “Ayah juga di sini. Kamu tidak perlu menahan semuanya sendiri lagi.”

Pak Pramono menoleh kepada Arga.

“Arga,” panggilnya.

Arga menoleh. “Iya, Pak.”

“Apa yang terjadi selama ini?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi berat.

Arga menatap Alya yang sedang memejamkan mata di pelukan ibunya. Ia tahu ia bisa menjawab dengan kalimat yang aman. Bisa mengatakan bahwa Alya kecapekan. Bisa mengatakan bahwa mereka sedang sibuk dengan pekerjaan.

Namun ia sudah terlalu sering berbohong.

“Aku gagal menjaga Alya,” jawabnya pelan.

Pak Pramono menatapnya tajam.

“Maksud kamu?”

Arga menarik napas. “Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan kondisinya. Aku tahu dia sering lemas, tapi aku menganggap itu hal kecil.”

Bu Ratna menatap putrinya, lalu kembali ke Arga.

“Dan?” tanyanya.

Arga mengatupkan rahang.

Ia tahu pertanyaan itu belum selesai.

Ia tahu Bu Ratna dan Pak Pramono mungkin sudah menduga ada sesuatu yang salah dalam pernikahan mereka.

“Dan aku tidak pernah menjadi suami yang Alya butuhkan,” lanjutnya.

Hening.

Pak Pramono menatapnya lama.

“Kamu tahu kenapa kami menitipkan Alya kepada keluarga kalian?” tanya lelaki itu.

Arga mengangguk. “Karena kerja sama bisnis.”

“Bukan hanya itu.” Suara Pak Pramono berat. “Kami menitipkan Alya karena kami percaya keluarga kalian akan menjaganya. Kami percaya kamu akan menjaganya.”

Rasa bersalah itu kembali menekan dada Arga.

“Iya, Pak.”

“Kamu boleh tidak mencintai Alya sejak awal,” lanjut Pak Pramono. “Perjodohan memang tidak selalu mudah. Tapi kamu menikahinya. Kamu berjanji di depan Tuhan dan keluarga. Itu bukan hal yang bisa kamu anggap enteng.”

Arga menunduk.

“Aku tahu, Pak.”

“Kalau kamu tahu, jangan hanya bilang.” Suara Pak Pramono meninggi sedikit, lalu ia menahan diri ketika melihat Alya yang mulai gelisah. “Jaga dia. Jangan buat dia menyesal sudah mempercayai hidupnya kepada kamu.”

Arga menatap Pak Pramono.

“Aku akan berusaha.”

Pak Pramono menatapnya lama.

“Berusaha tidak cukup kalau kamu tetap memilih pergi setiap kali ada kesulitan,” katanya.

Kalimat itu menggantung di udara.

Arga tidak menjawab.

Karena ia tahu Pak Pramono tidak hanya membicarakan penyakit Alya.

Ia juga membicarakan Keisya.

***

Malam itu, Bu Ratna tetap tinggal di sisi ranjang Alya.

Pak Pramono duduk di sofa dekat jendela, sesekali menatap putrinya dengan wajah khawatir. Arga duduk di kursi seberang, diam. Tidak ada yang banyak bicara.

Alya tertidur setelah minum obat.

Namun tidurnya tidak nyenyak. Beberapa kali ia menggeliat, wajahnya mengernyit, dan napasnya terasa berat. Bu Ratna langsung memegang tangannya setiap kali itu terjadi.

“Mama di sini, Nak,” bisiknya.

Alya tidak bangun.

Tetapi jemarinya bergerak lemah, seolah mencari kehangatan ibunya.

Arga memperhatikan itu.

Dulu ia mengira Alya tidak membutuhkan siapa-siapa karena perempuan itu selalu terlihat tenang. Sekarang ia sadar, Alya hanya terlalu terbiasa menyembunyikan ketakutannya.

Ponsel Arga bergetar.

Ia melirik layar.

Pesan dari Keisya.

**Keisya:** *Kamu benar-benar tidak akan keluar dari rumah sakit?*

Arga menatap pesan itu.

Ia mengetik balasan.

**Arga:** *Alya masih kritis. Aku tidak bisa pergi.*

Balasan datang beberapa menit kemudian.

**Keisya:** *Aku ngerti. Tapi kamu juga tidak bisa terus mengabaikan hidupmu.*

Arga menatap kalimat itu.

Hidupnya.

Selama ini, ia pikir hidupnya adalah perusahaan, rapat, investasi, dan Keisya. Alya hanyalah bagian dari rumah—seseorang yang selalu ada ketika ia pulang, meski ia jarang pulang.

Namun sekarang, ketika Alya terbaring lemah di ranjang rumah sakit, Arga baru sadar bahwa hidupnya mungkin sudah lama hancur tanpa ia sadari.

Ia mengetik balasan.

**Arga:** *Aku tahu. Tapi sekarang aku harus ada untuk Alya.*

Keisya tidak langsung membalas.

Beberapa menit kemudian, pesan masuk lagi.

**Keisya:** *Kamu bilang itu karena rasa bersalah atau karena kamu benar-benar mau memilih dia?*

Arga menatap pertanyaan itu.

Ia ingin menjawab dengan yakin.

Ia ingin berkata bahwa ia memilih Alya.

Namun ia tidak ingin berbohong lagi.

Jadi ia hanya mengetik:

**Arga:** *Aku masih belajar memilih.*

Pesan itu terkirim.

Keisya tidak membalas lagi.

Arga memasukkan ponselnya ke saku.

Ia menatap Alya yang tertidur.

Lalu ia berdiri dan mendekat ke ranjang.

Bu Ratna menoleh kepadanya.

“Aku bisa gantikan kamu duduk sebentar,” kata Arga pelan.

Ibu mertuanya menatapnya sejenak. “Kamu mau apa?”

“Menemani Alya.”

Bu Ratna tampak ragu.

Namun kemudian ia mengangguk pelan. “Jangan bangunkan dia.”

“Tidak.”

Arga menarik kursi dan duduk di sisi ranjang.

Ia menatap wajah Alya yang pucat. Rambutnya tergerai di atas bantal. Bibirnya kering. Tubuhnya terlihat semakin kurus di balik selimut rumah sakit.

Arga mengangkat tangan, hendak menyentuh rambut Alya, tetapi berhenti.

Ia tidak yakin apakah Alya ingin disentuhnya.

Akhirnya ia hanya menggenggam ujung selimut dekat tangan Alya.

“Alya,” bisiknya.

Perempuan itu tidak bangun.

Arga menunduk.

“Aku minta maaf,” katanya pelan. “Aku minta maaf karena baru sekarang aku belajar melihat kamu.”

Di luar, hujan turun lagi.

Dalam kamar itu, Bu Ratna menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca.

Ia tidak berkata apa-apa.

Namun Arga tahu, perempuan itu sedang menilainya.

Dan untuk pertama kalinya, Arga tidak merasa tersinggung.

Ia merasa pantas dinilai.

Karena selama ini, ia memang belum pernah benar-benar menjadi suami bagi Alya.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!