NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Janji Pohon Mangga dan Kaca yang Pecah

Kamar bernuansa putih bersih itu terasa sangat sunyi.

Fino duduk di tepi ranjangnya, menatap sebuah kotak kayu kecil yang usang di pangkuannya.

Di dalam kotak itu, tersimpan sebuah foto polaroid tua yang warnanya sudah memudar.

Foto seorang anak laki-laki pucat berwajah murung, berdiri berdampingan dengan seorang anak perempuan berambut kepang dua yang tersenyum sangat cerah hingga matanya menyipit.

Ibu jari Fino mengusap wajah anak perempuan di foto itu dengan sangat lembut.

"Lo udah nemuin pelabuhan lo ya, Lily?" bisik Fino lirih, dadanya terasa sesak mengingat tatapan Amira dan Alfian di koridor siang tadi.

Mata teduh Fino perlahan terpejam.

Ingatannya melayang jauh melintasi waktu, menembus batas belasan tahun yang lalu, kembali ke sebuah desa asri yang menjadi saksi bisu cinta pertamanya.

(Flashback - 10 Tahun yang Lalu)

Udara desa di sore hari itu terasa sangat sejuk, berbanding terbalik dengan kondisi fisik Fino kecil yang ringkih.

Fino yang saat itu baru berusia delapan tahun, duduk bersandar lemas di teras rumah neneknya.

Napasnya sering kali berbunyi karena asma bawaan yang parah, membuatnya harus diasingkan dari hiruk-pikuk ibukota demi udara yang lebih bersih.

Bagi Fino kecil, dunia itu tidak adil. Ia kesepian, sakit, dan merindukan saudara kembarnya, Alfian, yang bisa berlarian bebas di Jakarta.

"Hei! Kamu anak kota yang penyakitan itu ya?!"

Suara melengking itu membuat Fino menoleh.

Di balik pagar kayu rumah neneknya, berdiri seorang anak perempuan bertubuh mungil, memakai dress bunga-bunga yang ujungnya kotor oleh lumpur.

Di tangannya, ia memegang sebuah ketapel kayu.

"Aku nggak penyakitan! Aku cuma lagi istirahat!" balas Fino kecil membela diri, meski suaranya pelan dan serak.

Anak perempuan itu mendengus, lalu tanpa permisi memanjat pagar kayu dan melompat masuk ke halaman.

"Nama aku Amira. Tapi kata Bapak, aku ini secantik bunga lili. Jadi kamu boleh panggil aku Lily!" celoteh gadis kecil itu dengan penuh percaya diri.

Fino hanya menatapnya heran.

"Namaku Alfino..."

"Al-fi-no? Kepanjangan!" potong Lily cepat.

Gadis kecil itu menatap langit sore yang biru cerah, lalu menunjuk ke atas sana.

"Kata Bapakku, langit itu luas dan bisa bikin orang tenang. Mulai sekarang, aku panggil kamu Sky aja, ya! Biar kamu nggak sedih terus!"

Sejak hari itu, dunia Fino yang suram mendadak dipenuhi warna.

Lily adalah matahari kecilnya. Gadis itu selalu datang setiap sore, membawakan buah-buahan, menceritakan dongeng konyol, dan memaksa Fino tertawa meski napasnya sesak.

Puncaknya adalah saat sore terakhir sebelum keluarga Fino datang menjemputnya kembali ke Jakarta.

"Sky, lihat! Aku bawa biji mangga arumanis dari kebun Bapak, buahnya manis banget lho!" seru Lily berlari memeluk sebuah biji mangga yang sudah dibersihkan.

Di bawah pohon rindang di belakang rumah Nenek, mereka berdua menggali tanah dengan tangan kosong.

"Kalau kita tanam ini, nanti pas mangganya berbuah, kamu harus janji balik lagi ke sini buat makan bareng aku, ya?" pinta Lily, mengulurkan jari kelingkingnya yang kotor oleh tanah.

Fino kecil tersenyum, menyambut kelingking itu dengan kelingkingnya sendiri.

"Aku janji, Lily."

Sebagai tanda perpisahan, Fino merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kalung tali hitam dengan bandul bintang berwarna emas yang bercahaya.

Itu adalah kalung couple miliknya dan Alfian, tapi Alfian tidak pernah mau memakainya.

"Ini buat kamu. Jaga baik-baik, ya. Biar kalau kita ketemu lagi pas udah gede, aku bisa langsung ngenalin kamu," ucap Fino memakaikan kalung itu ke leher Lily.

Lily tersenyum sangat lebar, memeluk bandul bintang itu di dadanya.

"Tunggu aku balik, Lily," bisik Fino sebelum masuk ke dalam mobil jemputannya keesokan paginya.

Namun, janji masa kecil itu harus hancur berkeping-keping di atas jalan tol yang basah oleh hujan deras.

Fino duduk di kursi belakang mobil, bersebelahan dengan Alfian yang sedang tertidur pulas memakai headphone.

Kedua anak kembar itu memakai baju yang berbeda; Fino memakai kemeja kotak-kotak, sementara Alfian memakai kaus polos.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sebuah truk kontainer besar kehilangan kendali akibat pecah ban.

Truk itu menerjang pembatas jalan dengan kecepatan mengerikan, melayang tepat ke arah mobil keluarga Fino.

Suara klakson yang memekakkan telinga...bersamaan dengan jeritan histeris Diana dari kursi depan.

Lalu... benturan keras yang menghancurkan segalanya.

BRAK!!!

Kaca jendela pecah berhamburan. Logam berderak hancur.

Mobil mereka berguling beberapa kali di atas aspal basah sebelum akhirnya terbalik dengan posisi yang mengenaskan.

Pandangan Fino memburam oleh darah yang mengalir dari pelipisnya.

Napasnya sesak, dadanya terhimpit sabuk pengaman dan jok yang ringsek.

Di sebelahnya, Alfian tergeletak tak sadarkan diri dengan luka benturan keras di kepalanya.

"Al... Fian..." rintih Fino, mengulurkan tangannya yang gemetar meraih tangan saudara kembarnya.

Namun kesadaran Fino perlahan meredup. Rasa sakit itu merenggut segalanya, dan yang terakhir ia ingat sebelum dunianya menjadi gelap total adalah wajah Lily yang tersenyum.

Fino koma selama hampir tiga bulan.

Saat ia akhirnya membuka mata di sebuah rumah sakit di Singapura, dunia telah berubah.

Tulang rusuknya patah, paru-parunya hancur, memaksanya menjalani belasan operasi menyakitkan selama bertahun-tahun.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah luka fisiknya.

Melainkan fakta bahwa Alfian, saudara kembar yang sangat ia sayangi, mengalami amnesia traumatis dan melupakan eksistensinya sama sekali demi melindungi saraf otaknya yang rusak.

Demi keselamatan Alfian, keluarga mereka memutuskan untuk memisahkan si kembar, menyembunyikan masa lalu hingga Alfian benar-benar siap.

Dan selama bertahun-tahun berjuang melawan rasa sakit di ranjang rumah sakit yang dingin... hanya satu hal yang membuat Fino bertahan hidup.

Harapan untuk kembali melihat senyum Lily di bawah pohon mangga mereka.

(End of Flashback)

Fino membuka matanya.

Setetes air mata jatuh membasahi layar polaroid di tangannya.

Cowok itu menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.

Ia tidak bisa marah pada Alfian. Alfian adalah korban trauma yang sama sepertinya.

Tapi ia juga tidak bisa merelakan Amira begitu saja. Tidak setelah ia bertaruh nyawa untuk kembali.

"Maaf, Fian. Tapi kali ini, gue nggak bakal ngalah," gumam Fino dengan sorot mata yang mengeras, menyimpan tekad yang tak tergoyahkan.

...***...

Amira sedang merapikan buku-bukunya di perpustakaan saat jam istirahat.

Ia sengaja menghindar dari kantin hari ini, merasa belum siap menjadi sorotan setelah kejadian dramatis kemarin.

Sret.

Sebuah buku tebal ditarik dari rak di depan wajah Amira, menampilkan sosok Fino yang berdiri di lorong seberang rak.

Amira tersentak kaget.

"Fino..." panggil Amira pelan.

Fino tersenyum hangat, berjalan memutar rak dan menghampiri Amira.

"Nggak usah panik gitu, Lily. Gue nggak bakal gigit kok," kekeh Fino lembut.

Cowok itu bersandar di rak buku, menatap Amira lekat-lekat.

"Boleh gue minta waktu lo sepuluh menit aja? Gue janji, setelah ini gue nggak akan maksa lo kalau lo emang nggak mau."

Melihat raut wajah Fino yang memelas, hati Amira tidak tega untuk menolak.

Ia akhirnya mengangguk pelan.

Mereka berdua berjalan menuju taman kecil di belakang perpustakaan yang sangat sepi.

Amira duduk di bangku batu, sementara Fino memilih berdiri di depannya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Gue mau minta maaf soal kemarin," buka Fino memecah keheningan.

"Gue terlalu egois karena mikir lo bakal nungguin gue selama belasan tahun tanpa perubahan."

Amira menunduk, meremas roknya.

"Bukan salah kamu, Fin. Waktu itu merubah banyak hal," bisik Amira penuh rasa bersalah.

Fino menarik napas panjang, menatap dedaunan pohon yang bergoyang tertiup angin.

"Lo tahu nggak, Lily? Kenapa gue nggak pernah nepatin janji gue buat balik pas mangga kita berbuah?"

Amira mendongak, menatap Fino dengan rasa penasaran yang selama ini mengganjal di hatinya.

"Kenapa...?"

Dengan suara yang sangat tenang namun sarat akan kepedihan, Fino mulai menceritakan segalanya.

Tentang kecelakaan truk itu. Tentang komanya. Tentang Alfian yang kehilangan ingatan. Dan tentang tahun-tahun menyiksa di rumah sakit yang harus ia lalui sendirian.

Mata Amira melebar.

Air mata seketika luruh membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan.

Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya dengan rentetan tragedi yang menimpa si kembar ini.

"Astaga... Fino..." isak Amira, hatinya hancur membayangkan Fino kecil harus melewati semua penderitaan itu.

Sementara ia di sini, dulu sempat membenci cowok itu karena merasa dikhianati.

"Fian nggak ingat apa-apa soal gue, Lily," lanjut Fino dengan senyum getir.

"Dia tumbuh jadi cowok yang dingin dan arogan karena sebagian dari jiwanya hilang akibat kecelakaan itu. Gue nggak pernah nyalahin dia. Dia saudara gue."

Fino berjongkok di depan Amira, menyamakan tinggi wajah mereka.

Cowok itu mengulurkan tangannya, mengusap air mata di pipi Amira dengan ibu jarinya yang lembut.

"Gue cerita ini bukan buat bikin lo kasihan, Lily," ucap Fino menatap mata gadis itu dalam-dalam.

"Gue cerita ini biar lo tahu... kalau alasan gue bisa selamat dari kematian, adalah karena gue janji bakal ketemu lo lagi."

Deg.

Tangis Amira semakin pecah.

Beban rasa bersalah menghantam dadanya bertubi-tubi.

Fino menarik tangannya perlahan.

"Gue nggak minta lo langsung ninggalin Fian buat gue," ucap Fino bangkit berdiri.

"Gue cuma minta satu kesempatan yang adil. Izinin gue buat tetap ada di dekat lo. Izinin gue buat nunjukin, kalau Sky yang lo tunggu itu pantas buat lo pertimbangkan lagi."

Fino tersenyum manis, senyum yang tak menyimpan arogansi sedikit pun.

"Gue nggak bakal pakai cara kasar kayak kapten kulkas lo itu. Gue bakal berjuang dengan cara gue sendiri," final Fino dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana.

Cowok itu menepuk puncak kepala Amira dengan sayang dua kali, lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan taman perpustakaan.

Amira tertinggal di sana, menangis sesenggukan dengan pikiran yang luar biasa kacau.

Satu sisi hatinya telah jatuh pada Alfian yang berhasil mendobrak gengsinya.

Namun di sisi lain, ia baru saja menyadari bahwa ia adalah satu-satunya alasan Fino bertahan hidup dari neraka masa lalunya.

Bagaimana mungkin Amira bisa memilih, tanpa harus menghancurkan salah satu dari si kembar yang sama-sama terluka ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!