Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Saksi yang harus hidup
Keempat prajurit itu saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Tak ada seorang pun yang berani menggerakkan jemari.
Pria yang berdiri di hadapan mereka seharusnya sudah menjadi mayat yang terbujur kaku. Merekalah yang menyeret tubuhnya di atas tanah lumpur, dan merekalah yang menyaksikan sendiri bagaimana darah segar tak henti-hentinya mengucur dari luka robek di perutnya.
Mustahil... Sungguh mustahil manusia mampu selamat dari maut semacam itu.
Jayengrana mengambil satu langkah maju. Seketika, keempat prajurit itu spontan menyurutkan langkah.
"Aku tidak akan mengulang pertanyaanku untuk ketiga kalinya," ucap Jayengrana, suaranya dingin menembus kabut. "Di mana Wiradipa?"
Prajurit tertua menelan ludahnya yang terasa pahit. "D-dia... sudah kembali ke Kotaraja, Kanjeng."
"Kapan?"
"Semalam. Usai membuang tubuh Kanjeng..."
Jayengrana mengangguk pelan. Jadi, Wiradipa bahkan tidak sudi tinggal lebih lama hanya untuk memastikan kematian sahabatnya. Kesombongan telah membuat pengkhianat itu terlalu percaya diri—atau mungkin, ia yakin tak ada satu pun makhluk hidup yang sanggup bertahan dari tebasan keris Kyai Kalasrenggi.
"Siapa lagi yang terlibat dalam pengkhianatan ini?" cecar Jayengrana.
Keempat prajurit itu kembali membisu. Sorot mata mereka goyah disentuh ketakutan. Sebagai prajurit berderajat rendah, menjawab berarti mengkhianati pimpinan; namun menolak menjawab berarti mengundang amukan pria misterius di hadapan mereka.
"Kami..." prajurit yang paling muda akhirnya memberanikan diri angkat bicara. "Kami tidak tahu banyak, Kanjeng Senopati. Kami hanya menjalankan perintah."
"Perintah siapa?"
"Pamantri Wiradipa sendiri."
"Hanya dia?"
Pria itu mengangguk cepat. "Kami tidak pernah dilibatkan dalam rapat para petinggi!"
Jayengrana mengamati gestur mereka satu per satu. Pengalamannya bertahun-tahun memimpin bentrokan membuatnya paham betul cara membedakan kebohongan dan kejujuran. Kali ini, mereka tidak berdusta. Merekalah bidak polos yang ditarik ke dalam permainan catur para penguasa.
Ia menghela napas panjang. "Pergilah."
Keempat prajurit itu melotot tak percaya. "S-senopati... tidak membunuh kami?"
Jayengrana berbalik, membelakangi mereka. "Aku menghujat senjata pada mereka yang mengangkat pedang kepadaku. Bukan membantai prajurit yang sudah kehilangan keberanian."
Mereka saling tatap dengan rasa tak percaya, hingga prajurit tertua memberanikan diri menyela, "Jika Kanjeng melepas kami... bagaimana kalau kami melaporkan keberadaan Kanjeng yang masih hidup?"
Langkah Jayengrana terhenti. Tanpa memutar tubuhnya, ia menjawab datar, "Justru itu yang kuinginkan."
"Apa...?"
"Biarkan Wiradipa tahu bahwa aku masih bernapas," bisik Jayengrana. "Biarkan ia kehilangan tidur nyenyaknya. Biarkan tiap detak angin dan gesekan langkah di kegelapan malam membuatnya terbayang bahwa aku telah berdiri di balik pintunya."
Ia jeda sejenak sebelum melanjutkan, "Ketakutan yang menggerogoti pikiran... jauh lebih menyiksa daripada tebasan pedang."
Usai mengutarakan hal itu, Jayengrana melangkah pergi menyusuri kerapatan hutan tanpa sekalipun berpaling.
Keempat prajurit itu terpaku cukup lama hingga bayangan sang Senopati benar-benar ditelan kerimbunan pohon. Prajurit termuda mengembuskan napas lega yang tertahan sejak tadi. "Kita... benar-benar dibiarkan hidup."
Prajurit tua menatap lurus ke arah jalan setapak. "Senopati tetaplah Senopati. Bahkan setelah ia bangkit dari alam kubur."
Tanpa membuang waktu, mereka segera berbalik dan berlari kencang menuju Kotaraja.
Namun, tak seorang pun dari mereka tahu...
Di balik baju zirah hitamnya yang terkoyak, Jayengrana sedang memicu penderitaan luar biasa. Bekas luka tanda kontrak di dadanya mendadak berdenyut hebat. Rasa hangat yang mulanya menjalar tiba-tiba berubah menjadi sensasi terbakar yang menyengat.
Ia terhuyung dan terpaksa berhenti di tepi sebuah alir sungai kecil. Napasnya memburu.
"Ugh... Kenapa ini...?"
Rasa panas membara itu merayap cepat menelusuri lengan kanannya. Pembuluh-pembuluh darahnya menegang dan menyembul jelas di permukaan kulit. Di sela-sela lipatan ototnya, memancar garis-garis samar berwarna merah keemasan—mirip bara api yang merayap samar di bawah daging.
Jayengrana merintih halus lalu mencelupkan tangan kanannya ke dalam air sungai yang dingin.
Ssssss...
Seketika, air di sekeliling telapak tangannya mengepulkan uap panas!
Ia buru-buru menarik tangannya kembali dari air. Seiring dengan dinginnya uap yang menghilang, garis-garis merah redup di lengannya bertahap meredup dan sirna.
"Ini... bukan sekadar demam biasa," gumamnya dengan dada kembang kempis.
Memori suaranya langsung teringat pada peringatan Penunggang Api: Setiap kekuatan selalu menuntut harganya.
Jayengrana menunduk, memandangi pantulan bayangan dirinya di atas permukaan air yang tenang. Paras wajahnya memang masih sosok Raden Jayengrana yang dulu. Namun, jauh di balik jaringan daging dan jiwanya... ia menyadari ada suatu entitas gaib yang telah terbangun.
Bukan sekadar amarah, bukan pula semata dendam—melainkan sebuah manifestasi kekuatan kelam yang kini mengendap, menantikan momentum yang tepat untuk mengepakkan sayapnya.