Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Just Plain Water
"Mau masuk gak?"
Mendengar ancaman itu, Billby refleks mengikuti pergerakan mobil yang mulai mundur pelan. "Eh... eh... jangan ditinggalin dong, Om!" pekiknya panik.
Jack menyunggingkan senyum kemenangan. Ia segera menginjak pedal rem dan menghentikan mobilnya. Tanpa membuang waktu lagi, Billby buru-buru menyelinap masuk ke dalam kabin, menutup pintu dengan rapat, dan langsung memasang seat belt-nya. Drama terabaikan sejenak demi keselamatan.
"Mau makan nasi Padang yang di mana?" tanya Jack seraya mulai melajukan mobilnya membelah jalanan.
Billby menoleh antusias. "Di mana aja boleh. Yang penting ada label 'SA'-nya!"
Setahu Billby, tingkatan warung nasi Padang di perantauan itu terbagi menjadi tiga kasta. Dan kasta tertinggi adalah yang memiliki label 'SA', alias Sederhana Asli. Bagi Billby, logo itu adalah jaminan mutlak bahwa sang pemilik merupakan orang Minang asli, yang berarti rasa masakan mereka tidak perlu diragukan lagi.
Mobil Jack akhirnya berhenti di sebuah warung makan nasi Padang yang luar biasa ramai. Antreannya bahkan mengular sampai ke area parkir.
Begitu masuk, Billby langsung berjinjit di depan etalase kaca, menatap deretan lauk-pauk yang tertata rapi dan sangat menggugah selera.
"Mau lauk apa?" tanya Jack yang berdiri di belakang keponakannya. Melihat postur mungil Billby yang kepayahan melihat lauk, ia menawari, "Mau digendong?"
Billby langsung melotot tajam, lalu kembali memfokuskan matanya pada makanan. "Aku mau ayam gulai, rendang, perkedel, sama... samaaa... samaaaa... sama nasi deh!" seru Billby heboh, sebelum akhirnya kebingungan sendiri ingin memilih lauk apa lagi karena semuanya tampak enak.
Jack mendengus geli. "Huh... ya udah, sana cari tempat duduk."
"Aku diusir?" tanya Billby dengan sepasang mata bulatnya yang mendadak berkedip polos.
"Enggak, Bocil... maksudnya kamu amankan meja dulu. Ini tempatnya ramai banget, takutnya kita gak kebagian bangku," jelas Jack sabar.
Billby tidak segera bergerak, ia malah mendongak lagi. "Om gak nanya aku mau minum apa?"
Jack menghela napas panjang, mencoba memanggil sisa-sisa kesabarannya yang mulai menipis. Kan tinggal bilang saja mau minum apa, kenapa harus pakai sesi tanya jawab dulu?
"Billby sayang... kamu mau minum apa?" tanya Jack dengan nada selembut mungkin, meski terdengar sekali kalau itu sangat dipaksakan.
Billby bergumam panjang sambil mengetuk dagunya. "Emmm, apa ya? Kalau Om sendiri minum apa?"
"Om es teh," balas Jack setengah hati.
"Aku gak mau es teh," ujar Billby cepat.
"Gak ada yang nyuruh kamu milih es teh juga, Billby..." tutur Jack, menekan setiap suku kata. Stok kesabarannya resmi menyentuh angka nol.
"Jadi aku minum apa dong?"
Jack mengembuskan napas gusar, frustrasi menghadapi keponakannya. "Udah deh, sana kamu duduk aja. Nanti Om sekalian pesenin minumannya."
"Gak mau, aku mau pilih sendiri!"
Ingin rasanya Jack berteriak sekuat tenaga di dalam rumah makan itu. Ia memang teramat menyayangi Billby, tetapi menghadapi keponakan ajaibnya ini benar-benar bisa menguras batas kewarasan.
"Ya udah... Billby mau minum apa? Teh gak mau, terus mau apa? Jus jeruk? Jus mangga? Atau jus alpukat?" tanya Jack, nadanya terdengar manis namun penuh tekanan secara bersamaan.
Billby kembali bergumam. "Mmmmmmm... aku mau air putih aja deh. Soalnya tadi, kan, habis minum boba yang manis. Kalau minum yang manis lagi nanti enek," pintanya dengan alasan yang sangat luar nalar setelah membuat perdebatan panjang.
Setelah mengucapkan itu, Billby melenggang pergi dengan santai mencari meja kosong. Sementara Jack hanya bisa mengelus dada, sangat bersyukur karena setidaknya sesi drama melelahkan dari bocil kesayangannya telah berakhir.
***
Keesokan harinya...
Kringgg! Kringgg!
Billby terbangun dari tidur nyenyaknya akibat pekikan nyaring dari jam weker unik di atas nakas. Jam itu adalah pemberian dari Vahan beberapa hari yang lalu. Setelah mematikan tombol alarmnya, Billby meregangkan otot sejenak lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Sebenarnya, Billby tidak pernah memiliki kebiasaan memasang alarm. Jam weker itu berbunyi karena ulah Jack yang setiap malam diam-diam menyusup ke kamarnya hanya untuk menyalakan alarm tersebut. Anehnya, Billby tidak pernah terpikir untuk menyembunyikan jam itu dari jangkauan pamannya. Barang yang selalu sukses mengusik waktu tidurnya yang berharga.
Mungkin karena jam weker itu adalah barang pertama yang pernah ia terima dari orang lain di luar lingkaran keluarganya. Apakah seistimewa itu? Entahlah, Billby tidak tahu pasti.
Seperti biasa, setelah menghabiskan waktu puluhan menit di kamar mandi, Billby keluar untuk memakai produk perawatan wajah, menikmati sarapan paginya, lalu bersiap berangkat ke sekolah.
Sebelum mobil Jack tiba di gerbang sekolah, Billby meminta pamannya berhenti di sebuah minimarket kompleks. Ia melangkah masuk dan mengambil beberapa jajanan. Uniknya, masing-masing camilan itu ia ambil dua buah dengan varian yang sama.
Melihat isi keranjang belanjaan keponakannya saat di kasir, Jack mengernyitkan kening penuh selidik. "Kenapa belinya serba dua begitu?"
Billby yang mendadak diinterogasi langsung diserang rasa panik. Jantungnya berdegup kencang seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
Belum sempat Billby merangkai kata untuk menjawab, Jack sudah menembakkan pertanyaan lanjutan yang membuat darahnya berdesir dingin. "Kamu... punya teman di sekolah?"
Billby langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Namun, gerakan gelengan yang kaku dan terkesan dipaksakan itu tidak luput dari amatan tajam sepasang mata Jack.
Ting!
Sebuah penyelamat datang tepat waktu. Ponsel di saku seragam Billby bergetar memunculkan notifikasi belanja. Tanpa membuang waktu, Billby segera mengecek layarnya. Ternyata itu hanya notifikasi dari aplikasi Shopee yang mengingatkannya untuk berbelanja karena hari ini adalah tanggal cantik 2.2 yang penuh dengan potongan harga.
Mendapatkan stimulasi dari notifikasi tersebut, sebuah ide cemerlang langsung melintas di otak jenius Billby. Ia mendongak dan menyunggingkan senyum polos tanpa dosa.
"Om tahu gak kalau hari ini tanggal cantik 2.2? Aku sengaja beli jajanan kembar begini karena mau bikin aesthetic story di Instagram dengan tema serba dua!" alibi Billby cerdas.
Jack terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang kebenaran ucapan keponakannya sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Oh... ya udah, ayok bayar. Ada lagi yang mau dibeli?"
Billby diam-diam membuang napas lega di dalam hati. Untung saja pamannya yang posesif itu mudah percaya. Namun, dampak dari pertanyaan Jack tadi ternyata berbuntut panjang. Sepanjang sisa perjalanan menuju sekolah, Billby mendadak bertransformasi menjadi patung. Ia hanya terdiam seribu bahasa, menatap kosong ke luar jendela mobil.
Padahal biasanya, mulut mungil itu tidak pernah berhenti mengoceh tentang apa saja sampai membuat telinga Jack puyeng.
Jujur saja, Billby membeli jajanan kembar tadi memang diniatkan untuk dirinya dan Vahan. Ia sendiri tidak tahu mengapa bisa kepikiran melakukan hal itu untuk teman semejanya. Sejak kapan dirinya menjadi sok akrab dan peduli pada orang lain? Namun, yang paling mengusik ketenangannya saat ini adalah kecurigaan Jack. Jangan sampai pamannya tahu rahasia sekolahnya.
"Kamu kenapa diam aja dari tadi? Lagi sakit?" tanya Jack cemas. Tangan kirinya terangkat dari kemudi, meletakkan telapak tangannya di dahi Billby untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu.
Billby dengan cepat menepis tangan omnya. "Enggak... tadi aku cuman lagi ngelihatin manusia silver di persimpangan sana. Katanya kerja begitu panas banget, ya? Aku cuma lagi mikir, apa dia gak bisa nyari pekerjaan lain yang lebih nyaman?"
Mendengar alasan random itu, Jack yang tadinya sudah mulai tenang kini kembali melemparkan tatapan curiga yang mendalam. Manusia silver? Itu adalah sebutan untuk orang-orang yang mengecat seluruh tubuhnya dengan warna perak di lampu merah.
Setahu Jack, para pekerja jalanan seperti mereka tidak akan berkeliaran sepagi ini di kawasan kompleks perumahan. Apa gadis kecil di sebelahnya ini sedang menyembunyikan sesuatu?
Dalam hati, Billby merutuki kebodohannya sendiri. *Bodoh banget kamu, Billby! Kenapa gak bisa cari alasan yang lebih masuk akal?!* Lebih baik tadi ia mengaku sedang sakit sariawan saja. Namun mengingat sepanjang pagi sebelum ke minimarket ia terus mengoceh tanpa henti, rasanya tidak mungkin ia mendadak sariawan dalam waktu lima menit. Argh!
Untuk menetralisasi suasana, Billby terpaksa memaksakan diri mengucapkan beberapa kalimat acak. Ia berusaha bersikap sealami mungkin agar tidak terkesan dibuat-buat. Sebab jika ia mendadak kembali cerewet setelah interogasi tadi, keadaan justru akan terlihat semakin janggal di mata paman posesifnya itu.
***
Sementara itu, di salah satu sudut koridor Paradise High School...
"Han... pokoknya hari ini Lo harus ngomong sama dia!" ujar Mex dengan nada mendesak yang terkesan memaksa.
"Gue kan kemarin udah nyoba," balas Vahan santai, bersandar pada dinding kelas dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana abu-abunya.
"Ya Lo harus nyoba terus sampai dia mau buka suara! Sampai dia mau maafin kita semua," tambah Afghan ikut menimpali dengan raut wajah cemas.
Vahan menegakkan tubuhnya, menatap kedua sahabatnya itu bergantian dengan pandangan dingin. "Kenapa cuman gue sendiri yang maju? Kenapa gak Lo berdua aja yang coba langsung ngomong dan minta maaf ke dia? Ini kan memang murni kesalahan kalian berdua."
Napas Vahan berembus pelan sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalian berdua yang udah ngomongin hal yang enggak-enggak tentang dia di belakang. Padahal kalau dipikir-pikir, kelakuan kalian juga gak sebaik itu. Bedanya cuman satu; dia bertingkah terang-terangan di depan semua orang, sedangkan kalian mainnya sembunyi-sembunyi di belakang."
Ocehan panjang yang meluncur dari bibir Vahan seketika membungkam atmosfer di sekitar mereka. Vahan memang terkenal sebagai murid yang irit bicara. Namun sekali cowok itu angkat suara dengan kalimat panjang dan logis seperti ini, semua orang pasti akan langsung terbungkam, meskipun nada bicaranya terdengar sedatar air di dalam gelas.
Mex dan Afghan saling melemparkan pandangan sekilas. Raut wajah mereka menyiratkan rasa keberatan atas teguran telak dari Vahan. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki keberanian untuk membantah ucapan cowok itu.
"Nanti biar gue dulu yang coba ngomong sama dia. Barangkali kalian bisa langsung dimaafin." tutur Vahan.
Bagaimanapun juga, Vahan memahami gengsi dan rasa keberatan yang dialami sahabat-sahabatnya jika harus langsung bersujud meminta maaf. Apalagi orang yang harus mereka hadapi adalah... Billby.
Sebuah ironi yang cukup lucu. Mex dan Afghan masih saja memusingkan insiden pertengkaran kemarin hari dengan perasaan bersalah yang menggunung. Padahal di sisi lain, Billby kemungkinan besar sudah melupakan masalah itu sepenuhnya. Bahkan pagi ini, gadis jenius itu sempat berniat untuk membagi jajanan minimarketnya dan mengajak Vahan makan bersama.
Begitu Vahan melangkah masuk ke dalam ruang kelas, hal pertama yang ditangkap oleh pandangannya adalah sosok Billby yang sudah duduk manis di bangkunya. Gadis itu tampak sedang menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja.
Vahan berdeham pelan untuk memecah keheningan. Ia melangkah mendekat, lalu menarik kursi kosong di sebelah Billby dengan sangat hati-hati dan perlahan, seolah-olah gerakan kasar sedikit saja dari kursi itu bisa menggores luka yang lebih dalam di hati sang gadis.
Padahal, tentu saja tidak ada hubungannya antara kehati-hatian kursi dengan perasaan Billby.Vahan berdiri bergeming, menatap punggung kecil gadis itu cukup lama dari posisinya. Setelah mengumpulkan seluruh mentalnya yang sempat tercecer, cowok itu akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.
"Lo... masih marah?"
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.
good story