Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pintu Darurat dan Batuk Palsu
Keesokan harinya, lantai marmer lobi Menara Utama Nugroho Group berkilau ditimpa sinar mentari pagi. Arga Dewa Putra melangkah pelan melakukan patroli rutin di sekitar area turnstile gate. Seragam Satpamnya terpasang rapi, topi pet ditarik sedikit rendah, dan masker kain hitam tebal tetap membungkus setengah wajahnya. Setelah ketegangan kemarin siang saat insiden toilet pos keamanan, Arga bertekad ekstra waspada dan menjaga jarak sejauh mungkin dari radar sang CEO.
Namun, nasib tampaknya senang bermain-main dengan daya tahan saraf Arga.
Saat Arga baru saja berbelok di dekat selasar timur menuju koridor lift eksekutif, pintu kaca utama mendadak terbuka. Nadia Nugroho melangkah masuk dengan gaya anggun yang dingin, didampingi Rina yang berjalan setengah tindak di belakangnya seraya menggenggam erat tablet kerja.
Nadia yang baru saja berniat menuju lift pribadinya langsung menyipitkan mata saat pandangannya menangkap sosok Satpam tegap bermasker hitam yang sedang berdiri tak jauh dari tombol lift VIP.
Di balik wajah es dan ekspresi datarnya, ada letupan kegirangan yang membuncah di dalam hati Nadia. Laki-laki ini lagi! batin Nadia bersorak pelan. Sejak kemarin, ingatan tentang gestur tubuh Satpam baru bernama "Arga" ini terus membayangi pikirannya. Nadia sendiri merasa sangat bingung dan heran pada dirinya sendiri. Kenapa seorang CEO dingin yang biasanya acuh tak acuh terhadap hal-hal kecil mendadak bisa seantusias ini hanya demi mengonfirmasi identitas seorang petugas keamanan? Rasa penasaran yang luar biasa itu benar-benar mengusik naluri analitisnya.
Arga yang baru menyadari keberadaan Nadia seketika membeku. Matanya melebar di balik masker. Sial! Kenapa gue malah belok ke area lift VIP jam segini?! jerit Arga histeris dalam hatinya. Ia buru-buru membungkuk hormat, bersiap memutar tumit untuk segera pergi.
"Selamat pagi, Bu Nadia," ucap Arga dengan suara yang sengaja diparaukan.
"Tunggu di situ, Kamu," panggil Nadia dengan nada dingin yang menahan langkah Arga seketika.
Nadia melangkah mendekati lift VIP khusus eksekutif. Ketika pintu lift berbahan stainless steel mengilap itu terbuka dengan suara ding yang halus, Nadia tidak langsung masuk. Ia berdiri di ambang pintu, menoleh penuh ke arah Arga.
"Ikut saya masuk ke dalam lift," perintah Nadia singkat tanpa kompromi.
Mata Arga melotot sempurna. "M-maaf, Bu Nadia? Saya sedang jadwal patroli keliling lobi..."
"Ini perintah. Masuk," potong Nadia tegas, tatapan matanya menusuk tajam dari balik bulu matanya yang lentik.
Arga menelan ludah yang terasa sangat mengganjal di tenggorokannya. Dengan langkah kaki serasa seberat timah, Arga terpaksa melangkah masuk ke dalam ruang lift VIP yang luas dan harum aroma lavender tersebut. Rina menyusul masuk di samping Nadia, sementara pintu lift berlapis kaca tebal itu perlahan merapat memisahkan mereka dari area lobi.
Keheningan yang mencekam menyelimuti kabin lift yang bergerak naik secara perlahan. Arga berdiri kaku di sudut kanan belakang, memandangi angka lantai yang merayap naik, sementara napasnya mulai tertahan di balik masker.
Nadia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, berdiri tepat menghadap Arga. Matanya yang tajam mengunci sepasang mata Arga tanpa berkedip.
"Arga, kan?" tanya Nadia datar.
"S-siap, betul Bu Nadia. Saya Arga Dewa Putra," jawab Arga serak, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Nadia mengamati lipatan kain masker tebal yang menutupi hidung hingga dagu Arga. Rasa penasaran di dadanya sudah berada di puncaknya. Ia tidak suka ada teka-teki yang menggantung di dalam wilayah kekuasaannya.
"Lepas maskermu sekarang," ucap Nadia penuh penekanan, sedikit memaksa.
Pernyataan itu bagaikan petir yang menggelegar tepat di atas kepala Arga. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari rongga dadanya. Jika ia melepas maskernya sekarang, penyamarannya sebagai "Bimo Palsu" akan terbongkar seketika di depan wanita yang mengancam akan menghancurkan perusahaan keluarga Bimo ini.
"M-maaf banget, Bu..." bisik Arga terbata-bata. "Saya... saya lagi flu berat, Bu. Nanti flu saya malah nular ke Ibu..."
"Saya tidak peduli. Lepas maskermu sekarang, Arga. Ini perintah langsung dari CEO," pangkas Nadia dengan nada bicara yang makin dingin dan mengintimidasi, melangkah satu tindak mendekati Arga.
Kepanikan tingkat tinggi menguasai otak Arga. Dalam hitungan milidetik, tanpa sempat berpikir panjang atau memperhitungkan logika, Arga memutuskan untuk mengeksekusi rencana darurat yang terlintas di kepalanya.
Arga mendadak membungkukkan badannya dalam-dalam, memegang dadanya dengan kedua tangan, lalu mulai batuk dengan suara yang sengaja dibuat sangat keras, parah, dan histeris.
"UHUK! UHUK! UHUK-UHUK! WADUH... MAAF BU! UHUK! ALERGIBUS BUSUK SAYA KUMAT PARAH! UHUK!" jerit Arga sengaja memutar suaranya menjadi sangat kacau dan berlebihan.
Nadia refleks melangkah mundur setengah tindak, matanya melebar terkejut melihat reaksi ekstrem dari Satpam di depannya. Rina di sebelahnya spontan menutup hidung dan mulutnya menggunakan ujung lengan bajunya karena kaget.
Kebetulan yang sangat ajaib, lift berhenti di Lantai 2 untuk area ruang rapat komunal dan pintunya berdenting terbuka. DING!
Tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi Nadia untuk bersuara atau bereaksi, Arga yang masih berpura-pura batuk terbahak-bahak langsung menerobos keluar dari pintu lift yang baru terbuka separuh.
"MAAF BU NADIA! SAYA TIDAK BOLEH MENULARKAN VIRUS INI! PERMISI BU!" teriak Arga seraya berlari kencang membelah koridor lantai dua.
"Hei! Arga! Berhenti!" panggil Nadia kaget, melangkah keluar pintu lift seraya merentangkan tangannya.
Namun Arga sudah tidak memedulikan apa pun lagi. Dengusan napasnya memburu dibakar kepanikan luar biasa. Ia melompati dua ubin sekaligus, menyasar sebuah pintu besi tebal berwarna merah menyala di ujung koridor yang bertuliskan TANGGA DARURAT.
Dengan satu dorongan kuat menggunakan bahunya, Arga membuka pintu besi tersebut. BRAK!
Arga langsung menyusup masuk ke dalam lorong tangga darurat yang sepi, menghilang dengan cepat di balik pintu tebal yang perlahan menutup kembali secara otomatis. BLEK!
Di depan pintu lift Lantai 2, Nadia berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka. Ia memandangi pintu tangga darurat di ujung koridor yang baru saja tertutup rapat dengan tatapan tak percaya sekaligus kebingungan setengah mati. Seorang Satpam baru saja melarikan diri darinya hanya demi mempertahankan sebuah masker kain tebal.
Rina yang berdiri di belakang Nadia berusaha keras menahan tawa yang sudah berada di ujung tenggorokannya. Bahunya sampai berguncang pelan membayangkan betapa absurdnya kejadian yang baru saja berlangsung di depan matanya.
"Bu... Bu Nadia..." panggil Rina dengan suara yang tertahan dan sedikit gemetar karena menahan geli. "Itu... Satpamnya kenapanya ya, Bu? Kok... aksinya dramatis banget kayak di sinetron?"
Nadia menoleh perlahan ke arah sekretarisnya dengan tatapan tajam, membuat Rina seketika menelan kembali sisa tawa menggelitiknya dan kembali berwajah tegar.
Nadia kembali mengalihkan pandangannya ke arah pintu tangga darurat di ujung lorong. Rasa bingung, heran, dan penasaran kini bercampur aduk menjadi satu di dalam benaknya. Perilaku Satpam bermasker itu terlalu mencurigakan dan terlampau absurd untuk ukuran seorang petugas keamanan biasa.
"Arga..." gumam Nadia pelan seraya menyilangkan tangan di dada. "Kamu pikir kamu bisa lari terus dari saya di dalam gedung ini?"
Sementara itu, di balik pintu tebal tangga darurat yang gelap dan bergema, Arga terduduk di atas anak tangga semen yang dingin. Ia bersandar pada dinding tebal, melepas topi petnya, dan menghembuskan napas panik yang tersengal-sengal di balik masker hitamnya yang kini lembap oleh keringat. Jantungnya masih berdegup kencang seperti drum yang ditabuh tanpa henti.