Seorang CEO tampan dan mematikan, jatuh cinta dengan seorang desainer muda, mungkin itu kisah biasa tapi ini lain.. setiap rintangan mereka lalui bersama, terpisahkan dan bersama kembali, pertengkaran hingga perkelahian mereka hadapi.
Sampai suatu hari mereka dapat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alister Weis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Kenangan
Tulip cafe- Istambul- Turkey
"Jadi, wanita yang kamu kejar kejar dulu sudah kamu lupakan?"
"Maksutmu apa?"
"Bicara dengan orang amnesia, gak bakal sampai keotak!"
Ya, sekarang Kabir sedang bersama kedua sahabatnya, Rio dan Max.
Menikmati secangkir kopi dengan pembicaraan serius tentang masa lalu Kabir.
"Jadi, berikan aku penjelasan!"
"Penjelasan tentang apa?"
"Tentang Shofia mungkin, kenapa tubuh wanita itu sangat ringkih?"
"Dia baru saja mengalami keguguran akibat obat entah apa, karena pihak keluarga tak mengijinkanku memeriksanya"
"Bagaimana bisa?"
"Dia diculik oleh seorang psikopat yang terobsesi padanya"
"Lalu?"
"Setelah pemberian obat itu, Shofia dipaksa oleh si lelaki untuk bersetub*h"
"Nama lelaki itu?"
"Tristan Alexander"
Kabir terdiam. Dia merasa sangat familiar dengan nama itu. Dia kenal dimana?
"Saat kejadian itu, aku dimana?"
"Mengalami kecelakaan di sungai Hudson"
"Kamu ingat sesuatu?"
"Entahlah, aku hanya bingung... eh- Rio... Kau kemarin memeriksa obatku, bukan? Apa hasilnya?"
"Kamu ingin tahu? Obat itu jika kau minum dalam jangka panjang, kau bisa kehilangan akal dan menjadi boneka"
"Boneka? Maksutmu, aku dapat dikendalikan oleh Celline?"
"Seperti itu"
"Sial!"
"Aku akan bantu membalaskannya, emm"
Max yang sedari tadi terdiam, dia berbicara dengan santai. Ya, dia sangat tak suka dengan Celline dari dulu.
"Tak usah, biarkan saja dia mendapat karmanya sendiri"
"Ah! Kamu sangat religius, Rio!"
"Daripada anak kecil sudah menjadi bajing*n sepertimu!, oh iya, Celline datang besok?"
"Tidak, dia sudah nyaman di Prancis"
"Kamu beri apa?"
"Credit card"
"Pilihan yang tepat!"
Mereka bertiga sedikit menggelengkan kepala saat menyadi betapa bodoh wanita itu.
Ya, perasaan wanita itu bisa dikalahkan oleh uang yang hanya beberapa ratus ribu dollar.
"Oh iya, adik iparmu itu sangat posesif"
"Maksutmu?"
"Kamu tak tahu ya, kalau dia mengerahkan pengawal terlatih untuk acara sederhana itu"
"Berapa banyak?"
"200 personil, padalah hanya pernikahan dihalaman belakang, apa yang dia khawatirkan!?"
"Kamu tak tahu saja dia siapa"
"Memang siapa?"
"Tanya saja padanya"
"Cih~ lama tak kesini, banyak yang berubah"
"Apa yang berubah?"
"Ya, yang paling menonjol selain budaya yaitu hanya berita"
"Berita?"
"Dulu laman koran atau majalah, terdapat budaya budaya tapi sekarang hanya berita politik dan kriminalitas"
"Kriminalitas memang tinggi"
"Bukan, tapi seorang dengan nama Kang Lin Chui menyerahkan 100 kg obat obatan terlarang"
Seketika Kabir tersedak kopi yang dia minum.
"Kamu kenapa?"
"Tak apa, Kang Lin Chui itu bukannya seorang mafia, kenapa menyerahkan obat obatan terlarang"
"Menurut rumor dia kebal hukum dan dia seorang mafia senjata dan bodyguard bayaran"
"Tapi aku dengar dia seorang anak bangsawan tapi sudah terbuang"
"Mungkin, dia ingin balas dendam"
"Mungkin..."
Kabir terdiam.
Kabir tahu siapa Kang Lin Chui itu, dia adalah Sean Jordan calon adik iparnya.
Dulu dia menjadi pengawal tingkat rendah di keluarga Dominic padahal dia seorang bangsawan Italia. Dan sekarang dia menjabat jadi ketua mafia besar dan dan pemilik Sea Transport, yang bergerak di transportasi kelautan.
Banyak rahasia yang disembunyikan oleh Sean.
"Aku akan pergi lebih dulu"
"Tak ingin pergi ke club terkenal?"
"Tidak, aku akan pergi dengan Kakek"
"Baiklah... hati hati"
"Oke"
Kabir segera berdiri dan pergi begitu saja.
Melajukan mobilnya kearah mansion.
Hari ini, tak ada orang dirumah hanya ada para pelayan tak ada anggota keluarga. Mungkin dia bisa sedikit bersatai.
Sampai di mansion, dia segera masuk dan mendudukkan tubuhnya di ruang makan, dia sangat haus.
Tapi sebelum dia meminum air putih ditangannya, dia mencium wangi masakan.
Saat menoleh, ada seorang wanita yang memakai dress floral memakai apron sedang memasak.
Dia adalah Shofia.
"Kamu memasak apa?"
Kabir segera beranjak, dan menghampiri Shofia.
"Kamu sudah pulang? Aku sedang memasak pasta, mau?"
"Boleh.. akan aku tunggu dimeja"
"Silahkan"
Shofia tersenyum dengan manis dan senyuman itu membuat Kabir salah tingkah.
Shofia selalu memiliki sifat berubah ubah menurut Kabir. Sebelum ini dia seperti tak acuh padanya dan setelahnya dia begitu baik bahkan tersenyum dengan tulus pada Kabir.
Tak berapa lama, Shofia sudah ada disampingnya membawa dua piring pasta dan segera diberikan pada Kabir.
"Ini.."
"Terima kasih"
"Emmb"
"Oh iya, bagaimana badanmu? Masih sakit?"
"Sudah membaik, tak terlalu sakit"
"Oh... apa perlu periksa ke rumah sakit?"
"Tak perlu, aku sudah tak apa apa"
"Baiklah"
Kabir lekas menyuapkan pastanya dan seketika ada suatu rasa yang pernah dia rasa dulu, sangat familiar dan enak.
Kabir merasa ada sekelebat kenangan tentang rasa masakan Shofia.
"Kapan kembali ke Prancis?"
"Entah... mungkin secepatnya"
"Apa ada kekasih yang menunggu?"
"Kekasih~?"
Shofia terdiam, berhenti memakan pastanya. Menatap Kabir sejenak dan berpikir.
"Aku kenyang"
Shofia berdiri begitu saja dan pergi, tanpa menoleh kearah Kabir.
Kabir sedikit terkejut. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya?
Kabir akhirnya juga sedikit termenung. Ada sekelebat tawa diingatannya, tawa yang begitu ceria.
"Kabir,, terima kasih telah mencintaiku"
Kabir terperanjat. Siapa wanita yang mengatakkan kalimat itu? Sangat familiar dan menenangkan.
"Apa Shofia? Ya Tuhan, aku harus bagaimana?"
Kabir juga beranjak dari duduknya, dan lekas kekamarnya untuk istirahat.
Sedangkan Shofia memilih duduk dibalkon kamar, menatap jalanan kota Istambul yang lumayan ramai.
"Kalau aku boleh memilih, aku tak ingin dikehidupan yang menyakitkan ini..."
Shofia menangis sedih. Memikirkan kehidupan yang sangat menyedihkan, da dia harus tetap tersenyum.
××××
"Kabir... kamu begitu dikagumi oleh para wanita! Aku cemburu!"
"Apa sebegitu tampan aku, kalau begitu kurung saja aku dikamarmu!"
"Ih,, kamu mesum!"
"Hahahaha..."
Kabir dan Shofia sedang berjalan jalan di mall, menemani Shofia berbelanja sangat simple karena selera fashionnya tak terlalu aneh.
"Kabir... baju bayi itu sangat lucu"
"Jangan dibeli sekarang"
"Kenapa?"
"Beli kalau sudah akan lahir saja"
"Tapi ini lucu, kalau habis bagaimana?"
"Akan aku pesankan khusus..."
"Baiklah, aku ingin yang lucu lucu"
"Iya, kita harus tahu jenis kelamin anak kita sebelum membelikan perlengkapannya"
"Baiklah..."
Shofia tersenyum saat Kabir mengelus perut ratanya.
"Apa begitu kesusahan saat kau hamil?"
"Tidak... hanya saja aku cemas"
"Kenapa?"
"Sebentar lagi, aku akan kembali ke Brooklyn"
"Lalu?"
"Itu hanya 30 menit perjalanan"
"Tapi pasti tak setiap hari bertemu"
"Aku akan usahakan sesering mungkin menjengukmu.. aku yang lebih khawatir"
"Kenapa?"
"Kamu setiap pagi atau memakan makanan yang tak cocok pasti muntah, siapa yang akan menenamanimu?"
"Ada kak Morgan dan kak Luna.."
"Baiklah, aku percaya pada mereka.. tapi kalau ada apa apa segera menghubungiku ya"
"Iya..."
"Aku ingin pernikahan kita tanpa drama apapun"
"Iya, aku juga... terima kasih telah menerimaku"
"Aku juga berterima kasih telah mau menemaniku dan juga memberiku sebuah kado spesial yang sangat berharga"
"Ya.. kamu harus ingat kalau kamu memiliki aku dan anak ini"
"Tentu..."
***********
lanjut Thor..
aku hampir lupa Weh..🤭🤭🤣🤣
mana gua tau, elu aja gak kasih tau...🙄🙄🙄
bahkan gua pun tak bs seperti mereka.., cantik..😑
lah ini, elu cowok dah🗿 brasa gmn gitu🤭🤭🤭
baru juga di komen, udh ad POV nya, ehehehehe😂😂🤭🤭🤭
jdi penasaran aku tuh, sama POV nya 🤭🤭🤭