Saat membuka matanya, Clarissa Wilson tidak mengingat, kapan dia telah menikah dengan Stephen Sylvester, lelaki yang sudah lama ia suka.
Clarissa ingat, kalau ia baru saja menyatakan rasa sukanya pada Stephen, di acara kelulusan Sekolah mereka, tapi.. kenapa tiba-tiba saat membuka mata, ia sudah memiliki seorang putri berusia lima tahun bersama Stephen?
Apa yang sebenarnya terjadi? Clarissa merasa ada yang ia lewatkan, begitu ia terjatuh saat ingin memeluk Stephen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 2.
Clarissa mengedipkan matanya, ia tidak dapat melihat Stephen lagi, yang sudah pergi membawa gadis kecil dalam gendongan Stephen.
Clarissa melemparkan pandangan matanya melihat sekitarnya, dan ia baru menyadari, kalau ia sama sekali tidak mengenal kediaman itu.
Sebuah vila mewah dengan halaman yang luas, dan kelihatannya vila salah satu keluarga konglomerat dikota mereka.
"Astaga! ini dimana? rasanya aku belum pernah datang ke daerah sekitar sini!" gumam Clarissa kebingungan melihat sekitarnya.
"Nyonya!!"
Tiba-tiba seorang wanita tua sekitar usia lima puluhan memanggil dari bawah, dan memandangnya dengan gestur tubuh yang terlihat sopan padanya.
"Hah??" mata Clarissa lekat memandang wanita tua itu bingung.
"Apa Nyonya sudah ingin makan sekarang?" tanya wanita tua itu sembari menunjukkan raut wajah yang ramah memandang Clarissa dari bawah.
"Hahhh???"
Kembali Clarissa kebingungan mendengar wanita tua memandang ke arahnya, membuatnya sontak menoleh ke belakang, apakah kira-kira ada wanita lain berdiri di dekatnya.
Ia tidak melihat siapa pun berdiri di belakangnya, maupun di samping kiri dan kanannya.
Hanya ia sendiri yang berdiri di balkon tersebut.
"Nyonya sedang bicara dengan ku??" tanya Clarissa kepada wanita tua itu kebingungan.
"Iya, kamu Nyonya!!" jawab wanita tua itu menganggukkan kepalanya.
Ba.. bagaimana mungkin??
Clarissa menggosok-gosok wajahnya dengan kuat, untuk merasakan dirinya tidak sedang bermimpi.
Saat ini, ia sekarang telah duduk di kursi makan, dan wanita tua yang memanggilnya tadi dengan panggilan 'Nyonya', tengah meletakkan menu makanan, yang baru selesai di masak ke atas meja tepat di hadapannya.
"Aduh.. duh.. duhh.. sakit! sakit!!" ringis Clarissa setelah ia menggosok pipinya dengan kuat.
Ia kemudian mengelus pipinya dengan lembut untuk menghilangkan rasa sakit yang ia buat sendiri.
"Nyonya, apakah kamu baik-baik saja?" tanya wanita tua itu memandang Clarissa, melihat sikap Clarissa yang terlihat aneh.
Ini bukan mimpi! bisik hati Clarissa tidak percaya.
Ia seperti orang bodoh terpaku di tempat duduknya.
Wanita tua yang menyajikan makanan untuk Clarissa, bediri di samping Clarissa memandang Clarissa yang terpaku seperti orang linglung.
"Ternyata aku Nyonya rumah mewah ini!" gumam Clarissa tidak percaya, "Kenapa aku tiba-tiba jadi wanita yang sudah bersuami? aku ini masih delapan belas tahun, dan calon suamiku itu Stephen Sylvester!"
Clarissa kembali memandang sekitarnya sembari berpikir, apa yang sudah terjadi dengannya.
"Ohhhh.. aku tahu!" katanya setelah berpikir sebentar, kenapa dia bisa jadi istri seorang pria kaya raya.
Wanita tua yang berdiri di sampingnya sedikit tersentak, mendengar Clarissa yang tiba-tiba seperti mengingat sesuatu.
Ia memandang Majikannya itu dengan tatapan bingung.
Setelah Clarissa mengerti, kenapa dia bisa tidak mengingat apa pun mengenai dirinya, yang tiba-tiba menjadi seorang Nyonya disebuah rumah mewah, ia bangkit berdiri dari duduknya.
"Aku masuk ke dalam cerita novel!!" katanya setelah akhirnya menemukan jawaban, kenapa dia bisa tidak mengingat apa pun.
Mendengar apa yang dikatakan Clarissa, wanita tua yang berdiri disamping Clarissa, memandang Clarissa dengan raut wajah ingin tertawa.
Clarissa yang sudah tahu jawaban tentang dirinya, berjalan mondar-mandir memikirkan, kalau seseorang masuk ke dalam novel akan ada petunjuk diberikan padanya.
"Kalau aku masuk ke dalam novel, pasti ada sistem yang menjadi pemandu ku!" katanya berpikir sembari terus jalan mondar-mandir.
Setelah merasa yakin, kalau ia masuk ke dalam buku novel, Clarissa pun melihat ke ruang hampa di depannya.
"Kalau begitu, aku akan coba dulu!" katanya dengan yakin.
Clarissa pun kemudian naik ke atas kursi.
Wanita tua yang memperhatikan apa yang ia lakukan, dan gumam kan sedari tadi, hampir terhuyung melihat Clarissa naik, dan berdiri di atas kursi.
Bersambung.......
ihhh gemesss deh kenapa gk saling jujur gtu. atau komunikasi kek bir gk salah paham... 😭
memang benar sekertaris nya ettan berbohong.baru aj mulai baikan udah mau salah paham lagi...