NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Peringatan merah yang berkedip-kedip di tepi pandangan Ren memantulkan bias cahaya berdarah di atas hamparan salju yang membeku. Di hadapannya, sorot lampu mercusuar ganda dari kereta patroli berat milik Korporasi Frost-Guard membelah kegelapan malam, menyapu butir-butir es dengan suara mesin diesel berkapasitas masif yang menggetarkan tanah. Suara derit roda baja di atas rel membentur rel terdengar semakin nyaring, membawa ancaman maut yang bergerak lurus ke arahnya.

Bagi Ren yang dulu, suara itu adalah lonceng kematian—tanda untuk berlari menyelamatkan diri, bersembunyi di balik tumpukan es, atau berserah diri pada takdir dingin yang merenggut nyawa Lily. Namun, kini, di dalam dadanya, The Core Engine berdenyut dengan ritme berat yang konstan, memompa energi panas ke seluruh pembuluh darahnya. Tidak ada kepanikan yang mencengkeram tenggorokan. Yang ada hanyalah kalkulasi dingin yang disuplai langsung oleh sistem.

[Peringatan: Jarak Unit Patroli Berat-300 Meter...]

[Rekomendasi Rute Evakuasi Alternatif: Bergeser ke Jalur Rel Mati sektor 4-B. Mencegah Konfrontasi Langsung].

Ren melirik sekilas ke arah bayangan gelap rel tua yang bercabang ke arah tebing curam di sebelah kanannya—sebuah jalur buntu menuju Stasiun Periferi No. 4 yang telah ditinggalkan bertahun-tahun lalu. Tanpa membuang waktu, ia melompat turun dari gundukan salju, berlari cepat menyusuri jalur rel mati tersebut, memanfaatkan kelengahan patroli musuh yang masih terfokus pada puing-puing kendaraan sebelumnya.

Langkah kakinya ringan namun bertenaga. Berkat peningkatan atribut Agility dan Endurance, terpaan angin badai yang biasanya mampu merobohkan seorang pemulung dewasa kini terasa seperti embusan angin biasa yang menepis jubah compang-campingnya.

Kurang lebih dua puluh menit ia berlari menembus badai, bayangan struktur beton dan besi tua yang tertimbun tumpukan es abadi mulai tampak di hadapannya. Itulah Stasiun Periferi No. 4—sebuah peninggalan era sebelum es membekukan dunia, tempat di mana gerbong-gerbong rongsokan dibuang untuk berkarat bersama waktu. Di sinilah bangkai kereta miliknya dan Lily ditinggalkan pasca serangan pertama yang menghancurkan segalanya.

Ren memperlambat langkahnya saat ia tiba di pelataran stasiun yang sunyi. Suara angin yang menderu di antara kerangka atap baja yang runtuh menciptakan melodi kesunyian yang menusuk hati. Di tengah rel utama stasiun, gerbong uap tua mereka teronggok mengenaskan. Sisi kiri gerbong hancur lebur akibat hantaman plasma, jendelanya pecah berkeping-keping, dan bagian dalam ruang kendalinya hangus menghitam, menyisakan bau jelaga dan kenangan pahit tentang hari di mana Lily direnggut darinya.

Ren berdiri terpaku di depan pintu palka yang menganga. Dadanya mendadak terasa sesak, bukan karena kekurangan oksigen, melainkan karena memori visual yang berkelebat begitu cepat di kepalanya: tawa kecil Lily saat memegang kaleng sup hangat, suara gadis itu memanggil namanya, dan senyuman terakhir sebelum bilah plasma merobek dadanya.

Ia mengepalkan tangan kanannya erat-erat hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya. Rust-Bite Blade di pinggangnya bergetar pelan, seolah ikut merasakan gelombang amarah yang bergejolak di dalam jiwa sang Kapten.

"Aku akan perbaiki kamu," bisik Ren pelan, suaranya serak namun penuh determinasi yang mutlak. "Dan aku akan menyeret mereka yang membunuhmu ke tempat ini."

Begitu ia melangkah masuk ke dalam gerbong yang hancur, panel antarmuka di hadapannya menyala otomatis, memproyeksikan data kondisi infrastruktur kereta yang sangat mengenaskan:

[ANALISIS KERUSAKAN KERETA: 84% Kondisi Kritis]

• Sistem Pengerak (Engine): Hancur Total. Membutuhkan Inti Reaktor Darurat.

• Struktur Lambung (Armor): Rusak Berat, Tingkat Ketahanan Di bawah Standar Aman Zona Luar.

• Sistem Navigasi & Komunikasi: Offline.

• Status Kelayakan Operasional: Tidak Layak Jalan. Kereta Tidak dapat Meninggalkan Zona Periferi.

Ren menghela napas panjang. Melihat deretan data kerusakan tersebut, ia menyadari sepenuhnya bahwa sekadar memperbaiki kerangka besi ini dengan tangan kosong adalah hal yang mustahil. Untuk bisa bertahan hidup di luar zona aman, menembus badai yang lebih ganas, dan memburu faksi korporasi, kereta ini membutuhkan perbaikan total. Lebih dari itu, ia tidak bisa melakukannya sendirian. Kereta sebesar ini, dengan segala kerumitan mesin, navigasi, dan manajemen energinya, membutuhkan sebuah kru—orang-orang spesialis yang memiliki keahlian khusus untuk menghidupkan kembali mesin maut ini.

Namun, sebelum ia bisa memikirkan soal mencari kru atau melakukan modifikasi besar-besaran, ada satu masalah mendesak yang harus ia selesaikan malam ini juga: bertahan hidup.

Ia tidak punya makanan. Persediaan air bersih di dalam gerbong telah membeku total atau tumpah saat penyerangan terjadi. Stamina tubuhnya memang telah disokong oleh The Core Engine, tetapi sel-sel biologisnya tetap membutuhkan nutrisi fisik dan pasokan energi eksternal untuk menjaga stabilitas HP dan kapasitas Energy Core. Selain itu, persenjataan yang ia miliki saat ini hanyalah sebuah pedang karat pemula; jika ia berpapasan lagi dengan regu elit korporasi, pedang itu tidak akan cukup untuk menahan terjangan peluru plasma jarak jauh.

Ren berbalik, melangkah keluar menuju ruang penyimpanan logistik stasiun yang terletak di bawah peron utama—sebuah area yang dulunya digunakan sebagai gudang suplai logistik para pekerja rel sebelum dunia membeku.

Pintu besi gudang tersebut macet tertutup es tebal. Ren tidak ragu-ragu. Ia mengangkat Rust-Bite Blade, menyalurkan sedikit tenaga dari inti di dadanya, lalu menghantamkan mata pedang tersebut tepat pada gagang kunci pintu.

Brak!

Logam tua itu berderit patah, dan pintu gudang terbuka lebar dengan dorongan kuat dari bahunya. Kepulan debu tebal bercampur uap dingin berhamburan keluar. Ren melangkah masuk menyalakan senter kecil yang ia ambil dari jasad prajurit sebelumnya.

Cahaya senter menyapu ruangan yang dipenuhi rak-rak berkarat. Sebagian besar kotak pasokan telah hancur atau dijarah oleh para pemulung lain, tetapi di sudut paling gelap ruangan, di balik reruntuhan beton, ia menemukan beberapa barang yang masih utuh dan sangat berharga.

Ren berlutut, memeriksa satu persatu temuannya:

• Makanan Darurat Militer Kering: Paket Korporasi sektor 3: Tiga Bungkus makanan padat nutrisi tinggi yang disegel / dibungkus dengan rapat. Meskipun rasanya dipastikan hambar dan dingin, kandungan kalorinya cukup menopang kebutuhan energi tubuh selama beberapa hari kedepan.

• Air Murni dari penggunungan Everest Portabel: Sebuah tabung filter mini yang dapat melegakan tenggorokan setelah makan.

• Komponen Elektronik & Kabel Konduktor: Sisa sisa kabel tembaga dan modul sirkuit mini yang sangat dibutuhkan siapapun mekanik yang nantinya akan memperbaiki sistem kelistrikan Kereta.

• Modul Amunisi Darurat (2 Buah Granat Kejut / Shock Grenade): Senjata peledak portabel berdaya ledak non-letal yang mampu melumpuhkan sistem saraf sementara pada musuh atau melumpuhkan kendaraan ringan.

Ren memasukkan semua barang tersebut ke dalam ransel tua yang ia temukan di lantai gudang. Ia menarik ritsleting tas itu rapat-rapat, lalu menyandangkannya di bahu kanannya. Keberadaan perbekalan ini memberikannya sedikit ruang bernapas untuk merancang langkah berikutnya.

Ia kembali naik ke atas peron stasiun, berdiri di samping lokomotif keretakannya yang memancarkan bayangan kelam di bawah cahaya bulan yang pucat. Ia tahu, tinggal lebih lama di Stasiun Periferi No. 4 adalah tindakan bunuh diri. Jejak pertempurannya dengan regu patroli sebelumnya pasti akan segera terdeteksi oleh radar pusat korporasi. Ia harus segera menarik bangkai kereta ini keluar dari stasiun menuju jalur tersembunyi yang lebih aman di balik lembah es.

Ren mendekati bagian depan lokomotif, memasang rantai baja penarik ke kait utama besi, lalu bersiap untuk menarik keretanya secara manual menggunakan kekuatan sistem Vanguard-nya.

Tepat saat ia membungkuk untuk mengaitkan rantai besi tersebut, udara di sekitar stasiun mendadak terasa berubah drastis. Suhu udara anjlok secara instan, membuat napasnya mengepulkan uap putih yang tebal.

Bukan karena badai salju biasa.

Di ujung rel yang membentang di luar area stasiun, dari balik tirai badai yang pekat, sebuah titik cahaya biru terang mendadak muncul, disusul oleh suara derit logam rel yang bergetar hebat dengan frekuensi tinggi—suara yang jauh lebih berat, lebih besar, dan jauh lebih mematikan daripada kereta patroli biasa.

Sistem di dalam dada Ren langsung bergetar keras, memicu alarm darurat berwarna merah darah yang memenuhi seluruh lapis pandangannya:

[PERINGATAN MUTLAK: Mendeteksi Anomali Energi Tinggi di Luar Perimeter...]

[Identifikasi Target: Kereta Lapis Baja Berat Korporasi - Kelas Komando (The Frost-Juggernaut).]

[Peringatan: Jarak Target 150 Meter dan Terus Mendekat. Kemungkinan Peluang Selamat Berhadapan Langsung: 3.4%]

Ren terpaku di tempatnya. Ia perlahan menegakkan tubuhnya, memegang erat gagang Rust-Bite Blade di pinggangnya, sementara di hadapannya, dari balik badai salju yang mengamuk, siluet raksasa sebuah kereta tempur berlapis baja hitam dengan meriam plasma ganda yang berputar perlahan mulai menampakkan wujudnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!