Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.
Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.
Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.
"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: PERJALANAN DI LAPISAN DALAM
Wuuush!
Bayangan hitam melesat cepat di antara rimbunnya vegetasi wilayah dalam Alam Rahasia Kuno. Pijakan kaki Xuan Chen terasa begitu padat dan ringan, dengan mudah menepis tekanan gravitasi ekstrem yang menindas atmosfer sekitar.
"Tidak buruk..." gumam Xuan Chen pelan di sela-sela pergerakannya.
Mendapatkan akumulasi waktu kultivasi selama lima puluh tahun secara instan bukanlah pencapaian kecil. Hal itu menghemat banyak waktu dan sumber daya yang seharusnya ia habiskan hanya untuk menempa ketahanan fisik fana.
Namun, di balik kepuasannya, kecermatan Xuan Chen sama sekali tidak memudar.
Ia paham betul bahwa semakin dalam ia melangkah masuk ke dalam kawasan peninggalan ini, lawan yang akan ia hadapi—baik dari faksi suci maupun sesama praktisi jalan demonic—akan berada di tingkatan yang jauh lebih mengerikan.
Batu Giok Hitam yang terukir di papan altar bawah tanah tadi memang menjadi petunjuk berharga baginya. Namun untuk saat ini, fokus utamanya adalah menjelajahi dan menguasai medan wilayah dalam Alam Rahasia Kuno terlebih dahulu.
Xuan Chen merogoh bagian dalam jubahnya, menarik keluar gulungan peta kulit binatang hasil rampasan dari Yan Ge. Ia membuka gulungan itu seraya melesat, meneliti titik-titik lokasi dan jalur peta wilayah dalam yang tertera di permukaannya.
Sementara itu, di mulut gua bawah tanah yang baru saja ditinggalkan Xuan Chen...
Zhang Hai dan Xia Hua melangkah keluar secara beriringan. Hawa segar wilayah dalam menyapa wajah mereka, diiringi keheningan lereng yang ditinggalkan oleh pemuda jubah hitam tadi.
"Sepertinya dia memang sangat suka menyendiri," ucap Xia Hua pelan seraya menatap ke arah jalur tempat Xuan Chen menghilang.
Zhang Hai menyunggingkan senyum tipis, pandangannya lurus menyapu hamparan pegunungan di hadapan mereka.
"Jalan demonic itu sangat kejam dan sadis, Nona Xia," sahut Zhang Hai tenang. "Bagi penganut jalan seperti mereka, berteman dengan seseorang hanya akan menjadi beban yang membahayakan nyawa."
"Tapi setidaknya di dalam ruang rahasia tadi kita terjebak bersama dan mendapatkan manfaat bersama, bukan?" balas Xia Hua dengan nada lembut yang polos.
"Cih... Praktisi jalan demonic tetaplah makhluk menjijikkan!" potong sebuah suara sinis dari arah belakang.
Cheng Yun melangkah maju dengan kasar, berjalan melewati Zhang Hai dan Xia Hua tanpa menyembunyikan wajah gusarnya.
"Meskipun berjalan bersama, mereka hanya akan mengkhianati kita, menusuk dari belakang, atau memanfaatkan kita demi kepentingan mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang picik yang tak layak dikasihani!" lanjut Cheng Yun dengan nada penuh kebencian yang mendalam.
Namun, tanpa disadari oleh Cheng Yun sendiri, aura di dalam tubuhnya perlahan mulai berubah. Rasa iri, dendam, dan kemarahan tak terkontrol yang terus dipeliharanya sejak gagal mendapat manfaat maksimal di batu ujian telah mengotori Dantiannya. Ia mulai menyimpang dari ajaran kebenaran dan kesucian yang dianut sektenya.
Zhang Hai, yang kini telah menginjakkan kaki di Ranah Pengumpulan Qi dan memiliki kepekaan spiritual jauh lebih tinggi, menjadi satu-satunya orang yang menyadari perubahan berbahaya tersebut.
Sepasang mata Zhang Hai menyipit tajam menatap punggung Cheng Yun.
"Sudah cukup, Cheng Yun!" tegur Zhang Hai dengan suara berat dan penuh penekanan.
Cheng Yun menghentikan langkahnya, menoleh dengan raut wajah tidak terima.
"Kau sudah terlalu banyak menyimpan kebencian di dalam hatimu," lanjut Zhang Hai tegas, menatap lurus mata Cheng Yun. "Jika kau tidak segera membersihkan pikiran dan hatimu dari rasa dengki itu... kau sendiri yang akan terperosok dan terjebak ke dalam jalan demonic!"
Teguran keras itu bagaikan tamparan yang menghantam telak di udara. Udara di lereng gua seketika berubah tegang dan kaku.
Cheng Yun mendelik lebar, dadanya naik turun menahan emosi yang kian membara di dalam dirinya.
"Dan juga, tidak semua penganut jalan demonic seperti yang kau pikirkan," tambah Zhang Hai seraya melangkah maju satu tapak. "Bahkan mereka sering kali jauh lebih jujur dengan niat mereka, tanpa perlu kepicikan yang bersembunyi di balik nama kebenaran."
Cheng Yun mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga bukunya memutih. Ucapan Zhang Hai rasanya menelanjangi kepalsuan dan kedengkian yang sedang menggerogoti jiwanya saat ini.
Tanpa mempedulikan respon Cheng Yun yang membisu akibat menahan murka, Zhang Hai berbalik menghadap Xia Hua.
"Nona Xia, apa kau tertarik menjelajah wilayah dalam denganku, sampai kau menemukan murid lain dari sekte mu?" tawar Zhang Hai dengan nada bicara yang sopan.
Xia Hua, yang sempat merasa agak panik oleh ketegangan perdebatan di antara kedua pria tersebut, perlahan mengembuskan napas lega. Sebuah senyuman lembut terukir di wajah cantiknya saat ia mengangguk pelan.
"Ya, tentu saja. Maaf jadi merepotkanmu, Senior Zhang," balas Xia Hua penuh rasa terima kasih.
Zhang Hai mengangguk tipis, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Cheng Yun.
"Dan bagaimana denganmu, Cheng Yun?" tanya Zhang Hai datar.
"Aku tidak tertarik!" potong Cheng Yun dingin tanpa sudi menatap Zhang Hai maupun Xia Hua.
Tanpa menunggu balasan apa pun lagi, Cheng Yun menghentakkan kakinya ke tanah basah. Tubuhnya melesat cepat menembus rimbunnya hutan wilayah dalam, meninggalkan Zhang Hai dan Xia Hua di belakang.
Menariknya, arah yang dituju oleh Cheng Yun secara kebetulan sama persis dengan rute perjalanan yang baru saja dilalui oleh Xuan Chen.
Xia Hua menatap bayangan Cheng Yun yang kian menjauh dengan pandangan khawatir.
"Haaaah... Sudah lah, mari kita biarkan saja," desah Zhang Hai pelan seraya membuang napas panjang. Ia mengerti bahwa memaksakan seseorang yang sedang diracuni oleh kedengkian jiwanya hanya akan membawa bahaya bagi kelompok.
"Mari kita ambil rute yang berbeda," lanjut Zhang Hai.
Zhang Hai dan Xia Hua kemudian berbalik, melangkah bersama menelusuri rute lain untuk menjelahi wilayah dalam Alam Rahasia Kuno yang dipenuhi misteri.
Sementara itu, beberapa mil di depan mereka...
Dari jarak beberapa mil, Xuan Chen perlahan menurunkan kecepatan melesatnya. Pendengarannya yang makin tajam serta insting fisiknya di Lapisan Lima Awal menangkap desiran angin yang abnormal di jalur belakang.
Ia dapat merasakan ada keberadaan yang sedang mengikuti rutenya secara langsung.
Srak!
Xuan Chen akhirnya menghentikan langkahnya sepenuhnya. Ia berdiri tegap di atas sebuah bongkahan batu besar, membelakangi jalur hutan seraya melipat kedua tangannya di dalam lipatan jubah hitam.
Hanya dalam kurun waktu sepuluh tarikan napas, dari kejauhan terlihat siluet tubuh berbalut jubah putih bersulam benang hijau melesat membelah semak belukar.
Cheng Yun muncul di area lapang tersebut, berhenti tepat beberapa belas tapak di hadapan Xuan Chen dengan napas yang sedikit memburu dan mata yang memancarkan kilatan kebencian murni.
tapi so cerita nya menarik.