Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Tanda Tangan Palsu
Keesokan paginya, Ratri tiba di Kantor Hukum Sinar Sentosa sebelum sebagian besar karyawan menyalakan komputer.
Baskara turun dari mobil yang sama.
"Kenapa Anda ikut?" tanya Ratri.
"Saya sedang menganggur."
"Itu bukan alasan memasuki kantor saya."
"Saya bisa membantu."
Ratri memandangnya dari kepala sampai kaki. "Keahlian Anda?"
"Membawa map. Membuat kopi. Duduk diam kalau diminta."
Wira yang berdiri di belakang mereka memalingkan wajah, pura-pura memeriksa area parkir.
"Kalau mengganggu, saya suruh satpam mengeluarkan Anda."
"Baik."
Baskara mengambil dua kotak dokumen dari bagasi sebelum Ratri sempat melarangnya.
Mbak Lia sudah menunggu di ruang kerja bersama tiga pengacara senior. Di atas meja tersusun akta pengalihan saham pertama, salinan baru yang beredar kepada pemegang saham minoritas, contoh tanda tangan asli Ratri, catatan akses ruang arsip, dan surat permintaan rapat umum pemegang saham luar biasa.
"Kami menghubungi kantor notaris yang tercantum," lapor Mbak Lia. "Mereka mengakui nomor aktanya berasal dari buku register mereka, tetapi mengaku minuta asli belum ditemukan."
"Bukan belum ditemukan," kata Ratri. "Tidak pernah ada."
Ia mengenakan sarung tangan tipis dan meletakkan tiga dokumen tanda tangan berdampingan.
Baskara menaruh kotak di lantai, lalu benar-benar duduk di sofa tanpa suara.
Ratri mengambil kaca pembesar.
"Lihat ujung huruf terakhir."
Ketiga pengacara mendekat.
"Pada tanda tangan asli, tekanan tangan saya berkurang sebelum garis naik. Tinta menipis. Di dokumen palsu, garis akhirnya sama tebal dari awal sampai akhir karena dibuat perlahan sambil meniru bentuk."
Mbak Lia mengangguk. "Tekanan pena tidak alami."
"Kesalahan pertama."
Ratri menunjuk tanggal penandatanganan. "Dokumen menyebut saya hadir di kantor notaris kawasan Menteng pukul dua siang. Pada jam yang sama, saya memimpin sidang mediasi daring dengan pengadilan. Ada rekaman video, daftar hadir elektronik, dan tanda tangan digital."
"Kesalahan kedua," kata salah satu pengacara.
"Sekarang nomor register."
Mbak Lia membuka salinan buku notaris pada layar. Nomor sebelum dan sesudah akta tersebut dibuat untuk transaksi tanah. Satu nomor di tengah dipakai untuk pengalihan saham Ratri, tetapi jenis akta dan kode dokumennya tidak mengikuti urutan pencatatan.
"Nomor ini disisipkan setelah halaman selesai dibuat," kata Ratri. "Lihat jarak tinta dan posisi cap. Mereka memakai nomor kosong, tetapi lupa kode register tidak bisa berubah dari akta tanah menjadi saham dalam satu seri."
Ruangan hening.
Tiga cacat. Satu tanda tangan yang ditiru, satu alibi waktu yang bisa dibuktikan, dan satu catatan notaris yang dimanipulasi.
Ratri membagi tugas tanpa meninggikan suara.
"Kirim somasi pelestarian dokumen kepada kantor notaris. Minta salinan digital buku register, rekaman kamera, daftar tamu, dan log akses sistem pada tanggal itu. Jangan menuduh siapa pun sebelum data asli diamankan."
Seorang pengacara mencatat cepat.
"Laporkan dugaan pelanggaran administrasi kepada Majelis Pengawas Notaris setelah kita menerima tanda terima. Tim lain siapkan permohonan pemeriksaan laboratoris terhadap tinta, tekanan pena, dan cap. Semua berkas bergerak dengan berita acara. Tidak ada yang dibawa pulang dalam tas pribadi."
"Bagaimana dengan pemegang saham yang menerima uang?" tanya Mbak Lia.
"Jangan hubungi mereka dulu. Catat aliran dan waktunya. Orang yang dibayar akan panik kalau pihak pembayar merasa aman."
Baskara mengangkat satu jari dari sofa.
Ratri menatapnya. "Apa?"
"Mereka mungkin tidak membeli saham. Hanya kuasa untuk hadir dan memberikan suara. Lebih murah, lebih cepat, dan tidak perlu perubahan daftar pemegang saham sebelum rapat."
Tiga pengacara memeriksa ulang tangkapan layar penawaran. Salah satu kalimat memang berbunyi `kompensasi atas pemberian kuasa suara`, bukan jual beli saham.
Ratri menyandarkan punggung. "Anda tahu cukup banyak tentang pengambilalihan perusahaan untuk orang yang mengaku pengangguran."
"Saya pernah membaca."
"Buku apa? Cara Merampas Perusahaan Istri untuk Pemula?"
"Kalau ada, saya akan membelinya. Supaya tahu cara mencegah orang lain mencoba."
Ratri mengabaikan jawaban itu, tetapi mengubah instruksi. "Pisahkan dua jalur. Pengalihan saham palsu dan pembelian kuasa suara. Kita biarkan mereka membawa keduanya ke rapat, lalu patahkan satu per satu."
Mbak Lia mengangguk. "Berarti undangan rapat tidak kita tolak."
"Tidak. Pastikan prosedurnya sah agar mereka tidak punya alasan mengulang."
Tak satu pun orang di ruangan itu meragukan rencananya lagi.
"Mereka cukup bodoh," ujar Baskara dari sofa.
Ratri meliriknya. "Bukankah tugas Anda duduk diam?"
"Saya sedang gagal di bagian itu."
"Keluar kalau ingin berkomentar."
Baskara langsung menutup mulut.
Lima menit kemudian ia berdiri lagi, mengambil gelas air, dan meletakkannya di sisi tangan Ratri.
"Saya tidak meminta minum."
"Sudah dua jam kau tidak berhenti bicara."
"Baru empat puluh menit."
"Terasa dua jam karena saya mencemaskanmu."
Salah satu pengacara senior tiba-tiba sangat sibuk membaca halaman yang terbalik. Mbak Lia menunduk, menyembunyikan senyum.
Ratri memindahkan gelas itu menjauh. Baskara mengembalikannya ke posisi semula.
"Minum."
"Jangan mengatur saya."
"Tiga teguk. Setelah itu saya duduk diam."
Ratri minum tiga teguk agar rapat bisa kembali berjalan.
Baskara menepati janji selama sebelas menit.
"Akses cap pribadi Bu Ratri pada tanggal itu hanya dimiliki empat orang," kata Mbak Lia. "Saya, kepala administrasi, petugas arsip yang sudah dinonaktifkan, dan anggota keluarga yang pernah menerima surat kuasa terbatas."
"Anin," kata Wira.
"Dia punya akses melalui berkas kuliahnya yang pernah kita bantu urus," jawab Ratri. "Bimo mendapatkan kartu kamar dari tangan yang sama."
"Kita panggil dia sekarang?"
"Tidak."
Ratri menutup map bukti. "Kalau kita menekan Anin sebelum semua orang di belakangnya bergerak, mereka akan mengganti cara. Biarkan mereka percaya dokumennya masih berguna."
"Jadi kita tidak membantah rapat?" tanya salah satu pengacara.
"Kita hadir. Kita catat siapa yang memakai dokumen palsu, siapa yang menerima uang, dan siapa yang berani bersaksi."
Baskara menatap Ratri dengan kebanggaan yang tidak berusaha ia sembunyikan.
Ia mengenal perempuan yang dulu memilih diam untuk menghindari pertengkaran. Ratri yang sekarang membiarkan musuh membangun panggung, lalu menunggu semua pelaku berdiri di atasnya sebelum mencabut penyangga.
"Kenapa melihat saya seperti itu?" tanya Ratri.
"Tidak boleh?"
"Mengganggu konsentrasi."
Baskara menunduk kepada dokumen, tetapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Pintu ruang kerja terbuka. Mbak Lia baru saja kembali dari menerima surat elektronik resmi.
"Bu Ratri, jadwal rapat sudah ditetapkan tiga hari lagi. Mereka mengklaim dukungan lebih dari sepersepuluh hak suara dan meminta pemungutan suara untuk memberhentikan direksi."
Ia menyerahkan daftar pemohon.
Di bawah nama beberapa pemegang saham minoritas terdapat satu tanda tangan yang tidak mungkin salah dikenali.
Suryani Adiningrat.
Ratri membaca seluruh halaman, lalu menutupnya.
"Bagus," katanya. "Tiga hari lagi, kita lihat siapa saja yang ingin masuk penjara bersama-sama."