Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Setelah Badai dan Pesan dari Luar Angkasa
Keheningan pagi di perumahan Griya Indah Permai disambut oleh kicauan burung dan wangi nasi goreng mentega yang menyengat dari arah dapur.
Di teras depan, halaman yang tadi malam menjadi "area tempur" kini sudah bersih tanpa sisa. Tiga agen Laboratorium Utama yang pingsan telah dievakuasi secara tak kasat mata—separuh diretas jalurnya oleh satelit Pentagon milik Chiko agar ditangkap polisi lalu lintas, dan separuh sisanya dibersihkan oleh jaringan Black Crimson milik Mila yang menyamar sebagai petugas kebersihan kota.
Chiko duduk di meja makan dengan piyama garis-garisnya, tampak menguap lebar-lebar sambil meminum kopi hangat. Dari luar, ia terlihat seperti pria kantoran biasa yang malas bangun pagi.
"Papa mengantuk sekali ya pagi ini?" tanya Mila ramah seraya meletakkan piring berisi nasi goreng di depan Chiko. "Padahal kan hari ini Papa ada rapat penting di kantor."
"E-eh... iya, Bunda," sahut Chiko canggung sambil membetulkan posisi kacamata tebalnya. "Tadi malam sepertinya Papa mimpi buruk. Rasanya seperti habis ikut lomba lari maraton!"
Mila tertawa renyah, menutup mulut dengan jemari lentiknya. ‘Mimpi buruk katamu? Tadi malam kamu melempar cangkir porselen tepat ke dahi agen musuh sambil pura-pura mengindau!’ batin Mila tertawa geli di dalam hati, walau raut wajahnya tetap tampak sangat polos.
"Sama, Papa. Bunda juga mimpi ada tiga kucing hitam mencoba masuk lewat jendela, tapi untungnya mereka terpeleset meja kayu dapur," balas Mila manis.
Lala, yang sudah rapi mengenakan seragam St. Starling Academy, menyendok nasi gorengnya dengan lahap. Bando telinga pandanya sesekali bergoyang halus.
‘Papa mimpi maraton, Bunda mimpi kucing terpeleset... Padahal semalam Lala yang capek-capek mematikan helm mereka pakai gelombang sonik!’ batin Lala menjerit riang di dalam hati.
Tiba-tiba, suara denting lembut berbunyi dari dalam tas sekolah Lala.
Ting!
Layar display transparan pada kotak pensil panda raksasa milik Lala menyala redup. Sebuah pesan terenkripsi tingkat tinggi—kali ini datang langsung dari Pimpinan Pusat Laboratorium Utama (Proyek Pandora)—berhasil meretas celah frekuensi darurat.
Lala melirik layar kecil itu secara diam-diam saat Papa dan Bundanya sedang mengobrol.
[Pesan Khusus untuk Subject 04:]
[Kami tahu kamu dilindungi oleh dua agen tingkat atas. Agen Siska dan Tim Pengintai Malam telah gagal, tetapi Ketua Dewan Proyek Pandora sendiri yang akan turun tangan di Kota ini dalam waktu 48 jam.]
[Menyerahlah secara sukarela, atau kami akan menghancurkan seluruh kompleks perumahan tempat tinggalmu.]
Mata bulat Lala menyipit tipis. Untuk sepersekian detik, binar kepolosan anak empat tahun pada wajah Lala menguap total, berganti menjadi aura kejeniusan mutlak yang sangat dingin dan berbahaya.
‘Pimpinan Pusat mau datang sendiri ke sini?’ batin Lala, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil yang amat cerdik. ‘Bagus! Daripada Lala capek-capek cari markas mereka yang tersembunyi, malah penjahat utamanya yang datang menyerahkan diri!’
Lala mengetuk telinga pandanya dua kali. Tanpa menyadarkan Chiko maupun Mila, sebuah balasan sinyal kuantum langsung terkirim kembali ke layar monitor Utama Proyek Pandora:
[Balasan dari Subject 04:]
[Silakan datang, Paman Tua! Tapi jangan lupa bawa biskuit panda edisi terbatas rasa keju seribu kotak. Kalau tidak bawa, Papa dan Bunda bakal buat Paman tidak bisa pulang lagi! :p]
BZZZZT!
Sinyal itu langsung mengunci dan memutus seluruh jalur akses pencarian Laboratorium Utama, membuat komputer pusat organisasi jahat itu mengalami korsleting total!
Lala menghabiskan sendok terakhir nasi gorengnya, lalu melompat turun dari kursi sambil menggendong tas pandanya.
"Papa! Bunda! Ayo berangkat! Nanti Papa bisa terlambat ke kantor Leonhart Tower, dan Lala terlambat masuk kelas melukis!" seru Lala riang, kembali berakting menjadi bocah mungil yang imut dan menggemaskan.
Chiko dan Mila memandang putri kecil mereka dengan binar kasih sayang hangat.
Chiko bergegas menghabiskan kopinya, bersiap mengubah wujudnya dari "suami penyayang yang canggung" menjadi CEO raksasa bisnis Leonhart Enterprises yang memegang kendali penuh atas jaringan siber kota. Sementara Mila tersenyum anggun, siap menggerakkan seluruh jaringan bawah tanahnya demi memastikan tidak ada satu pun penjahat yang bisa melukai keluarga kecil mereka.
Bersambung..