Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kontrak Darah
Belum sempat Su Yu bereaksi lebih lanjut, tiba tiba suara burung itu terdengar lagi.
"Hei!"
Su Yu tidak bergerak.
"Kau mendengarku atau tidak?" Burung itu mengepakkan sayapnya dan mulai terbang mendekat. "Jangan berpura-pura tuli hanya karena kau melihatku lemah."
Su Yu akhirnya menoleh. Tatapannya jatuh kepada burung itu.
"Kau makhluk yang sebelumnya melukai Nona Cangle, bukan?" tanyanya tenang. "Jika demikian... mengapa aku harus memperdulikan keadaanmu?"
Burung biru itu mendarat di depan batu, lalu menyilangkan kedua sayapnya di depan dada dengan gaya angkuh yang terasa janggal pada tubuhnya yang kecil.
"Kau benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi." Ia mengangkat dagu. "Lagi pula, apa yang kau ketahui mengenai daging seorang peri? Rasanya manis, dan daging seperti itu dapat disimpan selama bertahun-tahun."
Su Yu mengangkat alis, lalu tanpa memberi kesempatan kepada burung itu untuk melanjutkan perkataannya, tangannya bergerak cepat.
Tap!
Burung tersebut langsung tertangkap di telapak tangannya.
"Hei! Lepaskan aku!"
Su Yu membalikkan tubuh dan mulai berjalan.
Burung itu meronta keras. "Kau tidak boleh memperlakukan burung mulia seperti ini! Aku adalah makhluk agung yang pernah menguasai langit!"
Su Yu terus berjalan. "Sudahlah. Aku sedang lapar, dan setelah mendengar ocehanmu sejak tadi... mungkin daging burung tidak terlalu buruk."
Tubuh burung itu mendadak kaku.
"Eh?"
Burung tersebut langsung meronta lebih keras.
"Tunggu sebentar! Kita masih dapat membicarakannya dengan baik, bukan? Jadi tolong, lepaskan tanganmu dahulu!"
Su Yu berhenti. Ia mengangkat burung itu sejajar dengan wajahnya dan menatap lurus ke arahnya.
"Kalau begitu, katakanlah sesuatu yang menurutmu baik."
Burung itu segera mengangguk berkali-kali.
"Begini saja..." katanya cepat. "Karena aku memiliki kemurahan hati yang luar biasa, aku bersedia menerimamu sebagai bawahanku."
Su Yu diam.
Burung itu semakin bersemangat ketika melihat pemuda tersebut tidak segera menjawab.
"Kau menjadi pengikutku, sedangkan aku menjadi tuanmu. Dengan kekuatanku dan kemampuanmu yang tidak seberapa, kita dapat menjelajah seluruh dunia dan menaklukkan banyak wilayah. Bukankah itu jauh lebih baik?"
Su Yu menggeleng.
"Saya tidak tertarik."
Burung itu terdiam.
Su Yu menambahkan, "Tapi jika kau bersedia melakukan kontrak darah, aku bisa mempertimbangkan untuk melepaskanmu. Tetapi setelah kau menjadi peliharaanku dan aku menjadi tuanmu."
Mata burung tersebut membesar.
"Apa?"
Ia mulai meronta kembali.
"Kau menyebut itu sebagai tawaran?" bentaknya. "Itu penghinaan besar! Aku tidak akan menerima hal seperti itu. Lepaskan aku, bocah!"
Su Yu menatap tajam burung itu, dan saat itu juga terjadi sesuatu. Pupil matanya perlahan berubah menjadi putih terang.
Ia sendiri tidak menyadari perubahan tersebut. Baginya, ia hanya sedang menatap burung yang terus berteriak di tangannya.
Namun burung itu melihat sesuatu yang sama sekali berbeda.
Sekeliling mereka mendadak tampak gelap.
Burung itu membeku.
Di tengah kegelapan yang hanya dapat dilihat olehnya, sesosok burung raksasa muncul di belakang Su Yu. Mata makhluk itu berwarna putih terang dan menatap lurus kepadanya.
Tubuh burung itu mulai gemetar.
"Berhenti! Aku bersedia!"
Su Yu berkedip melihat reaksi itu, dan bersamaan dengan kedipan itu pupilnya kembali hitam normal.
Burung itu segera menambahkan, "Baiklah... anda menjadi tuan saya, dan saya menjadi peliharaan anda. Saya menerima kontrak itu, jadi sekarang lepaskan saya!"
Su Yu menghela napas lega. "Bagus. Tapi aku tidak tahu cara membuat kontrak darah."
Burung itu menatapnya tidak percaya.
"Anda bahkan tidak tahu?"
"Aku baru mempelajari kultivasi."
"Baiklah... tetapi ingat, nama saya Xioutian." Burung itu memejamkan mata sebentar, lalu mengangkat salah satu sayapnya. "Karena saya sudah terlanjur memilih jalan ini, maka kali ini saya akan mengajarinya. Cepatlah, saya tidak mempunyai banyak waktu."
"Xioutian." Su Yu mengangguk. "Baik."
Xioutian kemudian menjelaskan cara membentuk kontrak, mulai dari mengalirkan energi spiritual menuju darah, menyatukan jejak jiwa dengan tanda kontrak, hingga menyelesaikan pengikatan antara tuan dan peliharaan. Su Yu mengikuti setiap petunjuk tanpa menyela, sementara Xioutian beberapa kali menghentikannya untuk membetulkan arah aliran energi.
"Jangan salurkan terlalu banyak energi di sana," ujar Xioutian. "Jika anda salah mengatur aliran, tanda kontrak bisa gagal terbentuk."
Su Yu mengurangi alirannya.
"Seperti ini?"
"Benar... pertahankan."
Cahaya biru perlahan muncul di antara telapak tangan Su Yu dan tubuh Xioutian. Tanda itu berputar beberapa kali sebelum masuk ke tubuh burung tersebut.
Xioutian menutup matanya.
"Sudah selesai."
Cahaya itu menghilang.
Sejak saat itu, burung pemangsa langit yang sebelumnya dikenal sebagai makhluk yang mampu menguasai langit telah terikat secara resmi melalui kontrak darah dengan Su Yu.
Xioutian mengepakkan sayapnya, kemudian terbang dan mendarat di bahu Su Yu.
"Tuan..." katanya dengan nada yang masih terdengar enggan. "Karena saya sekarang telah menjadi bawahan anda, saya ingin bertanya mengenai burung yang tadi."
"Burung yang mana?"
"Yang muncul di belakang anda tadi."
"Saya tidak tahu."
Xioutian terdiam.
Su Yu tidak lagi memperhatikan kebingungan bawahannya tersebut. Ia menundukkan tubuh dan mulai mengumpulkan ranting kering yang tersebar di sekitar anak sungai. Setelah mendapatkan cukup banyak, ia menyusunnya menjadi tumpukan kecil di atas tanah.
Xioutian tetap bertengger di bahunya.
"Tuan... anda benar-benar tidak tahu?"
Su Yu tidak menjawab.
Ia mengangkat satu tangan, kemudian energi spiritual tipis berkumpul di ujung jarinya. Api segera menyala di antara ranting-ranting yang telah disusun.
WUSSS!
Nyala api mulai membesar.
Su Yu mengambil sebagian daging rusa malam, menusukkannya pada batang kayu, lalu meletakkannya di atas api. Tangannya bergerak perlahan untuk membalik daging tersebut agar matang secara merata.
Xioutian memperhatikan api itu, tetapi pikirannya masih tertuju kepada sosok yang sebelumnya muncul di belakang Su Yu.
'Apakah itu leluhur?'
Ia segera menggeleng dalam hati.
'Tidak... kalau itu benar-benar leluhur, bagaimana mungkin tekanan yang aku rasakan bisa sebesar itu?'
Xioutian menatap Su Yu dari samping.
'Kalau begitu... apa sebenarnya yang kulihat tadi?'
Pertanyaan itu terus berputar di dalam pikirannya.
Sementara itu, Su Yu sama sekali tidak memperdulikan kebingungan burung kontrak tersebut. Ia hanya membalik daging rusa di atas api, kemudian menunggu hingga aroma daging yang mulai matang memenuhi udara di sekitar anak sungai.
Setelah menikmati makanan ini nanti, dia akan kembali pada kenyataan sebagai Su Yu. Namun sebelum menghadapi semua itu, dia perlu mengisi perut dan memenangkan pikirannya.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔