NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Welcome to the Tianyu Kingdom

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah kisi-kisi jendela kayu Kediaman Fenghua, membiaskan garis-garis cahaya ke emas di atas lantai porselen. Ye Xinyue berdiri di depan cermin perunggu berukir burung phoenix, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna hijau muda yang sederhana.

Di dalam hatinya, Xinyue tidak berhenti berdecak mengagumi ketenangan tempat ini. Tanpa alarm ponsel pukul enam pagi, tanpa revisi bab lima yang harus dikirim sebelum siang, dan tanpa dosen yang mendadak minta bimbingan. Tempat ini rasanya bagaikan surga penangkaran untuk jiwa yang hancur akibat skripsi!

Namun, Xinyue sadar betul bahwa surga ini dikelilingi oleh tembok istana yang penuh dengan duri beracun. Hari ini adalah hari pertamanya benar-benar melangkah keluar dari tempat tidur setelah masa pemulihan. Berdasarkan alur cerita dalam webtoon yang diingatnya, dunia Tianyu bukanlah sekadar kerajaan biasa. Kerajaan ini berdiri di atas pilar kekuatan militer yang ditakuti, dikelilingi oleh klan-klan bangsawan berpengaruh yang saling menjatuhkan demi memperebutkan takhta dan pengaruh.

"Yang Mulia Selir Ye," panggil Mingzhu lembut seraya memasangkan jepit rambut dari perak dengan hiasan batu giok kecil di sanggul Xinyue. "Apakah Anda benar-benar yakin tidak ingin mengenakan gaun sutra merah sulam benang emas dari pemberian Ibunda Ratu? Hari ini adalah jadwal penyesuaian catatan harian di Paviliun Anggrek. Semua selir akan berkumpul di sana."

Xinyue menggelengkan kepalanya perlahan, menjaga agar ekspresi wajahnya tetap tenang dan lembut sesuai dengan pembawaan pemilik tubuh asli. "Tidak perlu, Mingzhu. Gaun ini sudah sangat nyaman. Lagi pula, warna yang terlalu mencolok hanya akan membuat mataku lelah."

Dan yang paling penting, tambah Xinyue dalam hati, warna mencolok adalah magnet kematian di dunia ini! Gaun merah? Sulaman emas? Itu sama saja seperti memasang target panah di punggungku dan berteriak pada para selir senior: 'Ayo racuni aku sekarang!'

Xinyue melangkahkan kakinya keluar dari Kediaman Fenghua. Udara pagi Kerajaan Tianyu terasa begitu segar, membawa aroma bunga melati dan tanah basah. Dari jalan setapak berkerikil putih yang dilaluinya, Xinyue bisa melihat megahnya arsitektur Istana Tianyu. Atap-atap bangunan berujung runcing dengan ukiran naga meliuk, tembok-tembok tinggi berwarna merah tua yang kokoh, serta taman-taman luas yang dipenuhi tanaman langka.

Semuanya tampak persis seperti panel-panel artistik yang pernah ia lihat di layar ponselnya. Bedanya, kali ini ia berada di dalam lukisan itu secara langsung.

Saat menyusuri koridor panjang menuju Paviliun Anggrek, Xinyue mengamati sekeliling dengan cermat. Langkah kakinya sengaja diperlambat, dibuat sehalus dan sekecil mungkin agar tidak menarik perhatian para penjaga istana yang berdiri tegap dengan zirah besi yang mengkilap. Senjata-senjata tajam di pinggang para pengawal itu mengilatkan cahaya matahari, menjadi pengingat dingin bahwa tiran yang memimpin kerajaan ini tidak segan-segan menumpahkan darah.

Selamat datang di Kerajaan Tianyu, Xinyue, batinnya pahit. Dunia di mana nyawa manusia kadang hanya seharga selembar kertas titah kaisar.

"Lihat siapa yang datang," sebuah suara bernada tinggi dan sedikit menyindir terdengar ketika Xinyue tiba di halaman Paviliun Anggrek.

Seorang wanita berpakaian mewah dengan gaun berlapis-lapis berwarna ungu tua berdiri di dekat kolam teratai. Di sampingnya, dua selir lain tampak terkikik pelan sambil mengibaskan kipas lipat mereka. Itu adalah Selir Liang, selir peringkat ke-12 yang terkenal dengan wataknya yang suka merendahkan selir-selir berpangkat rendah.

"Kudengar Selir Ye jatuh ke kolam dan pingsan berhari-hari. Aku kira kepalamu terbentur batu sampai lupa cara berjalan ke sini," ujar Selir Liang dengan senyum miring, menatap gaun hijau sederhana yang dikenakan Xinyue dari atas sampai bawah dengan pandangan meremehkan.

Xinyue menarik napas pelan. Sabar, Xinyue, sabar. Ini baru ujian kecil. Jangan keluarkan argumen hukummu, jangan gunakan pasal-pasal pencemaran nama baik. Pakai strategi terbaik: pura-pura bodoh dan penakut.

Xinyue segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyatukan kedua tangannya di depan dada, dan membuat tubuhnya sedikit gemetar seolah-olah ia sangat terintimidasi.

"Maafkan hamba, Kakak Selir Liang," ucap Xinyue dengan suara bergetar yang dibuat-buat, persis seperti watak asli Ye Xinyue yang penakut. "Hamba baru saja sembuh dan tubuh hamba masih terasa lemah. Hamba tidak bermaksud membuat Kakak Selir menunggu atau terganggu."

melihat reaksi Xinyue yang langsung mengalah dan tampak ketakutan, Selir Liang bersedekap dengan wajah puas. Rasa ingin menyerangnya mendadak hilang karena menganggap Xinyue terlalu lemah dan tidak berpotensi menjadi ancaman.

"Hmph! Memang dasar tidak berguna. Sudah berpangkat rendah, penakut pula. Lebih baik kamu duduk di pojok sana dan jangan banyak bicara," cibir Selir Liang seraya berbalik dan berjalan meninggalkan Xinyue bersama para pengikutnya.

Begitu Selir Liang membelakanginya, sudut bibir Xinyue terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat puas. Berhasil! Sempurna! Menjadi penakut di mata musuh adalah perlindungan terbaik. Biarkan mereka menganggapku sampah tidak berguna, yang penting aku selamat!

Xinyue berjalan menuju sudut paling belakang Paviliun Anggrek, tempat di mana terdapat sebuah bangku kayu di bawah naungan pohon bambu yang rindang. Di sana, ia bisa melihat seluruh suasana paviliun tanpa perlu terlibat dalam percakapan apa pun. Pelayan paviliun menyajikan kue beras dan teh hangat di mejanya.

Xinyue menyesap tehnya perlahan, menikmati rasa pahit manis yang menenangkan di lidahnya, seraya matanya terus bergerilya mengamati situasi.

Dari tempat duduknya, ia bisa melihat peta kekuatan istana yang sebenarnya. Di tengah ruangan, para selir tingkat tinggi sedang saling melempar senyuman manis yang beracun, bertukar kata-kata pujian yang sebenarnya berisi sindiran tajam tentang kekuasaan klan keluarga masing-masing. Ini adalah arena perang tanpa pedang, di mana satu kesalahan kecil dalam berucap bisa berujung pada hukuman pengasingan atau bahkan hukuman mati.

Kerajaan ini indah di luar, tapi busuk di dalam, pikir Xinyue seraya mengunyah kue berasnya dengan nikmat. Semua orang di sini bertaruh nyawa demi mendapatkan lirikan dari Kaisar Tianyu. Padahal, Kaisar itu sendiri adalah seorang sosiopat tampan yang bisa memenggal kepala orang sambil tersenyum.

Xinyue mengingat kembali adegan di webtoon. Kaisar Zhao Fengting tidak pernah benar-benar mencintai selir-selirnya. Bagi pria itu, wanita-wanita di istana belakang ini hanyalah bidak catur politik untuk menjaga keseimbangan kekuatan para pejabat di balairung istana. Siapa pun yang terlalu menonjol atau berusaha memanipulasinya pasti akan disingkirkan tanpa belas kasihan.

Maka dari itu, aturan utamaku di Kerajaan Tianyu ini sangat jelas, tekad Xinyue semakin mantap di dalam hatinya. Jadilah selir yang transparan. Jangan sampai namaku pernah diucap oleh Kaisar, jangan sampai wajahku pernah diingat olehnya. Aku hanya ingin menikmati teh ini, makan kue gratis setiap hari, dan menonton drama istana ini dari jarak aman sampai bab terakhir berakhir!

Namun, tepat saat Xinyue baru saja hendak mengambil potongan kue beras keduanya, embusan angin kencang mendadak bertiup melintasi paviliun. Suasana yang tadinya bising oleh celoteh para selir mendadak hening seketika. Suara langkah kaki yang berat, teratur, dan bergema dari arah koridor utama membuat seluruh orang di dalam paviliun menahan napas.

Keheningan yang mencekam itu jatuh seperti tirai besi, menandakan kedatangan seseorang yang paling ditakuti di seluruh negeri.

Xinyue membeku dengan kue beras yang masih berada di antara jarinya, hatinya mendadak berdesir cemas. Tunggu... suasana ini... kenapa rasanya ada yang salah?

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!