NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatap Mata Di Ujung Koridor

Aroma antiseptik bercampur bau kayu jati tua memenuhi lorong menuju Klinik Pesantren Al-Ikhlas. Shanum melangkah dengan ritme yang teratur, tumit sepatu pumps miliknya mengetuk lantai semen dengan bunyi yang tegas. Di sampingnya, Ning Layla berjalan lebih santai, membawa nampan berisi kasa steril dan cairan antiseptik yang baru.

"Layla," panggil Shanum pelan, memecah keheningan di antara mereka. "Kamu benar-benar yakin dia tidak berbahaya? Luka tembak itu bukan sesuatu yang biasa dialami orang awam."

Ning Layla menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap sepupunya sekaligus sahabat lamanya itu dengan senyum tipis. "Mbak Shanum, dari segi medis, tubuhnya memang menyimpan banyak bekas luka lama. Tapi dari cara dia bersikap... dia tidak menunjukkan gestur mengancam sama sekali. Waktu aku mencabut pelurunya tanpa bius total, dia bahkan tidak mengerang."

Shanum mengernyitkan alisnya. "Itu justru aneh. Orang biasa pasti sudah berteriak atau pingsan. Ketahanan fisik seperti itu biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang yang terlatih secara militer... atau dunia hitam."

"Siapa pun dia, Mbak, saat ini dia hanyalah seorang pasien yang butuh pertolongan," jawab Layla lembut namun mantap. "Abah juga sudah memberi izin."

Shanum menghembuskan napas pelan. Kebijaksanaan Kyai Syahuri memang kerap kali melampaui logika kehati-hatian yang biasa ia terapkan di dunia bisnis. Namun bagi Shanum, kewaspadaan adalah harga mutlak untuk keselamatan.

Layla mendorong pintu kayu klinik yang sedikit berderit.

Di dalam ruangan, Aran sedang duduk bersandar di tepi ranjang periksa. Pria itu sudah mengenakan baju koko putih bahan katun milik pesantren yang tampak sedikit kebesaran di bahu kekarnya, dipadu dengan perban tebal yang menyilang di bawah kain tersebut.

Begitu pintu terbuka, mata Aran yang tajam secara refleks mengunci keberadaan Shanum dan Layla dalam hitungan milidetik. Tidak ada rasa terkejut di raut wajahnya. Aran dengan tenang membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegap, menyandarkan punggungnya pada dinding dengan gestur yang sangat teratur.

"Selamat pagi, Dokter Layla," sapa Aran lebih dulu. Suaranya berat, tenang, dan terdengar amat sopan. Pandangannya kemudian beralih ke arah Shanum. "Selamat pagi, Mbak."

Shanum berdiri beberapa langkah di depan ranjang, Bersedekap tangan dan menatap pria di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di mata Shanum, Aran tampak begitu asing—tubuh kekar dengan garis wajah tegas dan rahang yang kaku, tetapi dibalut baju koko bersahaja serta tutur kata yang teramat santun.

"Pagi," balas Shanum singkat. Matanya menatap lurus pada iris mata Aran yang berwarna kelam. "Bagaimana keadaan Anda sekarang?"

"Sudah jauh lebih baik, Mbak. Terima kasih," jawab Aran santai. "Dokter Layla menangani luka saya dengan sangat baik."

Ning Layla tersenyum kecil seraya meletakkan nampannya di atas meja. "Saya periksa sebentar ya, Mas Aran. Mau ganti perban dulu."

Aran mengangguk pelan. "Silakan, Dok. Maaf kalau merepotkan lagi."

Sementara Layla menyiapkan peralatan, Shanum mengambil satu langkah lebih dekat. Rasa ingin tahunya yang tinggi bercampur ketakutan akan keselamatan pesantren membuatnya tidak tahan untuk membuka percakapan yang lebih spesifik.

"Saya Shanum," ucapnya memperkenalkan diri, meski intonasinya tetap menyimpan jarak yang kaku. "Keluarga saya sudah lama menjadi bagian dari pesantren ini."

"Saya Ardebaran, Mbak Shanum. Bisa dipanggil Aran," sahut Aran datar, membalas perkenalan itu tanpa keraguan.

"Mas Aran..." Shanum menggantungkan kalimatnya sejenak, memilih kata-kata yang tepat agar tidak terdengar seperti interogasi kepolisian. "Jarang ada musafir yang terdampar di sungai perbatasan dengan dua luka tembak segar di tubuhnya. Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Anda?"

Layla yang sedang membersihkan pinggiran luka Aran sempat menghentikan tangannya sejenak, melirik ke arah Shanum dengan tatapan memperingatkan. Namun Shanum tidak bergeming.

Aran tidak mengalihkan pandangannya. Ia menatap Shanum dengan ekspresi netral—tidak defensif, tidak pula menunjukkan tanda-tanda kebohongan yang kentara.

"Saya hanya seorang pekerja lapangan di bidang pengawasan jalur logistik, Mbak," ujar Aran dengan nada santai, seolah sedang menceritakan cuaca pagi ini. "Ada kesalahpahaman teknis di wilayah perbatasan semalam. Beberapa faksi lokal terlibat bentrok, dan saya kebetulan berada di koordinat yang salah pada waktu yang tidak tepat."

Shanum menaikkan sebelah alisnya. Jawaban yang sangat rapi, pikirnya. "Kesalahpahaman teknis sampai membuat Anda harus melompat ke sungai deras dengan peluru di rusuk?"

"Kadang-kadang, pilihan taktis yang tersisa memang cuma melompat, Mbak," balasan Aran meluncur dengan tenang, diiringi senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Tetapi saya bisa pastikan, saya tidak membawa masalah atau pengejar ke area pesantren ini."

"Anda bisa menjamin hal itu?" kejar Shanum tegas. "Pesantren ini tempat yang tenang. Banyak anak-anak dan santri di sini. Saya tidak ingin kehadiran seseorang dengan latar belakang misterius justru membawa bahaya bagi Kyai dan Layla."

Ruangan hening sejenak. Suara denting alat medis yang disentuh Layla terdengar agak menyaring.

Aran tidak menunjukkan kepanikan atau rasa tersinggung. Sebagai mantan eksekutor puncak, ia sudah terbiasa dinilai sebagai ancaman. Sebaliknya, Aran justru mengamati cara Shanum berdiri dan berbicara—seorang wanita muda yang terbiasa memegang kendali, memiliki protektivitas tinggi, namun memikul beban kecemasan di balik sikap tegasnya.

Aran menganggukkan kepalanya pelan, menyuntikkan nada bicara yang jauh lebih santai namun tetap terikat kesopanan yang mutlak.

"Saya sangat memahami kecemasan Mbak Shanum," kata Aran pelan, matanya menatap Shanum dengan ketulusan yang dingin. "Kyai Syahuri dan Dokter Layla sudah menyelamatkan nyawa saya tanpa meminta imbalan apa pun. Saya tahu diri. Saya bukan orang yang akan membalas kebaikan dengan membawa malapetaka."

Aran jeda sejenak, memperbaiki posisi tangannya yang tertaut di atas pangkuan.

"Begitu Dokter Layla menyatakan luka saya cukup stabil untuk berjalan, saya akan segera angkat kaki dari sini. Mbak Shanum tidak perlu khawatir."

Kalimat itu diucapkan Aran tanpa intonasi tinggi, tanpa rasa dendam, dan penuh penekanan kata yang sangat teratur. Justru kesopanan dingin yang ditunjukkan Aran membuat Shanum merasa ganjil. Biasanya, orang yang dicurigai secara terang-terangan akan menunjukkan reaksi defensif atau marah, tetapi pria bernama Aran ini merespons tuduhannya seolah-olah tuduhan itu adalah hal yang sangat lumrah.

Shanum terdiam sejenak, kehabisan argumen untuk menekan lebih jauh.

"Bagus kalau Anda paham," ujar Shanum akhirnya, berusaha mempertahankan wibawanya seraya merapikan ujung blazer kremnya. "Saya hanya menyampaikan apa yang perlu diwaspadai."

"Terima kasih atas Peringatannya, Mbak Shanum. Saya hargai itu," balas Aran lembut, lagi-lagi menyertakan anggukan sopan yang menohok ego Shanum.

Layla yang baru saja selesai merekatkan plester perban baru menggelengkan kepala melihat interaksi kaku di depannya. "Sudah selesai, Mas Aran. Lukanya jangan kena air dulu ya. Nanti siang saya antar makan siang dan obatnya."

"Terima kasih banyak, Dokter Layla. Maaf sudah merepotkan," sahut Aran tulus.

Shanum membalikkan badan, berniat melangkah keluar lebih dulu. Namun sebelum kakinya melewati ambang pintu, ia sempat menoleh sedikit ke arah Aran yang kini kembali menatap lurus ke depan dengan pandangan matanya yang sukar dibaca.

Ada sesuatu dari diri Aran yang membuat kalkulasi bisnis dan logika Shanum merasa terganggu. Pria itu tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja lolos dari maut—sebuah ketenangan yang tidak lahir dari rasa aman, melainkan dari kepasrahan dan pengalaman menghadapi bahaya tingkat tinggi.

" Caranya bicara seperti robot saja" Bisik Shanum dalam hati.

"Layla, aku tunggu di kediaman Abah," kata Shanum pelan sebelum melangkah pergi menyusuri lorong dengan langkah cepat.

Di dalam klinik, Aran mengawasi kepergian Shanum melalui pantulan kaca jendela di sampingnya. Ia menarik napas pendek yang teratur, meresapi sisa rasa sakit di rusuknya.

"Wanita yang cukup tajam," gumam Aran pelan pada dirinya sendiri.

Aran tahu, pertemuannya dengan Shanum Al-Maktoum pagi ini bukanlah yang terakhir. Di dalam benak taktisnya, Aran mulai menyusun analisis singkat mengenai sosok wanita tersebut—sebuah analisis yang tanpa ia sadari akan menjadi fondasi dari garis takdir baru yang menunggunya di luar batas dinding pesantren.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!