Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Libur bekerja karena kejadian kemarin
Alex meraih ponselnya, jarinya bergerak cepat menekan nomor Damian. Panggilan itu tersambung hanya dalam dua deringan.
"Pak?" suara Damian terdengar di seberang, tenang seperti biasa.
"Aku baru baca laporanmu," kata Alex, suaranya tetap datar meski jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari yang seharusnya. "Ceritakan lebih detail. Apa yang terjadi di ruang arsip?"
"Menurut keterangan staf pemeliharaan gedung, Nona Lauren turun sendiri ke ruang arsip lantai bawah tanah sore tadi, sekitar jam lima," jelas Damian. "Dia menggunakan tangga untuk mengambil sesuatu di rak atas, tapi lantainya licin. Tangganya tergelincir, dan rak di sampingnya ikut roboh menimpanya."
Rahang Alex mengeras, tapi suaranya tetap terkendali sempurna. "Dia turun sendiri? Kenapa?"
"Saya belum dapat keterangan pasti soal itu, Pak," jawab Damian jujur. "Staf arsip sudah pulang lebih dulu saat kejadian, jadi tidak ada saksi langsung. Dugaan saya, dia turun untuk mengambil berkas, mengingat posisinya di divisi administrasi sering berurusan dengan dokumen lama."
Alex terdiam sejenak, mencoba menata pikirannya yang mulai kacau, meski wajahnya di depan cermin besar ruang kerjanya tetap menunjukkan ekspresi yang sama dinginnya seperti biasa, tidak menyisakan sedikit pun retakan yang bisa terlihat orang lain.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Alex, suaranya tetap rendah dan terkendali.
"Sudah ditangani tim medis gedung, Pak. Menurut laporan, hanya terkilir di bagian pergelangan kaki, tidak ada patah tulang. Dia sudah dijemput temannya dan dibawa pulang."
Sesuatu di dalam dada Alex mengendur sedikit mendengar itu, meski tidak sepenuhnya. "Kenapa aku baru tahu sekarang? Kejadian itu sudah berjam-jam lalu."
"Laporan insiden baru diteruskan ke divisi keselamatan kerja sekitar satu jam lalu, Pak, sesuai prosedur standar. Saya langsung meneruskannya ke Anda begitu menerimanya," jawab Damian, nadanya tetap profesional meski jelas memahami ketegangan yang tersirat dari suara atasannya.
Alex mengusap wajahnya sekali, satu-satunya gestur yang menunjukkan sedikit keretakan dari ketenangannya, sebelum kembali menegakkan tubuhnya, suaranya kembali setegas biasanya. "Aku ingin laporan lengkap soal kondisi ruang arsip itu. Kenapa lantainya bisa licin, kenapa rak setua itu masih dipakai tanpa pengecekan berkala. Aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas pemeliharaan area itu."
"Baik, Pak. Akan saya tindaklanjuti malam ini juga," jawab Damian.
"Dan besok pagi," lanjut Alex, suaranya tetap dingin meski setiap kata terdengar lebih tegas dari biasanya, "aku ingin ruang arsip itu diperiksa ulang sepenuhnya. Pastikan tidak ada risiko serupa yang bisa terjadi lagi pada siapa pun."
"Baik, Pak. Saya akan atur pemeriksaan menyeluruh mulai besok."
Alex mengakhiri panggilan itu tanpa basa-basi lebih jauh, meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan gerakan yang sengaja ia perlambat, menahan diri agar tidak terlihat terburu-buru meski di dalam dadanya masih menyimpan kegelisahan yang sulit ia jelaskan bahkan pada dirinya sendiri.
Ia berdiri di tengah ruangannya yang kini sunyi, menatap kota London yang berkelip di kejauhan, mencoba menata kembali topeng ketenangannya yang biasa. Bertahun-tahun ia terlatih untuk tidak pernah menunjukkan kepanikan di hadapan siapa pun, tidak peduli seberapa besar tekanan yang ia hadapi, tapi malam ini, sendirian di ruangannya, ia merasakan sesuatu yang jarang sekali mengusiknya seperti ini, kekhawatiran yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya hanya dengan kemauan.
Ia ingin sekali langsung pergi menemui Lauren malam ini juga, memastikan dengan matanya sendiri bahwa gadis itu benar-benar baik-baik saja. Tapi ia juga tahu, itu bukan pilihan yang bijak, tidak setelah kesepakatan menjaga jarak yang baru saja mereka buat siang tadi, tidak dengan risiko yang mungkin muncul kalau ada yang melihatnya muncul tiba-tiba di apartemen kecil Lauren di Camden.
Alex duduk kembali di kursi kerjanya, menghela napas panjang, memaksa dirinya untuk tetap tenang meski setiap sel dalam tubuhnya menginginkan hal yang berlawanan.
"Besok," pikirnya, menegaskan keputusan itu dalam hati. "Besok aku akan pastikan sendiri dia baik-baik saja, tanpa perlu terlihat berlebihan di depan siapa pun."
******
Pagi itu Lauren terbangun dengan pergelangan kaki yang masih terasa kaku dan nyeri, jauh lebih parah dari yang ia perkirakan semalam. Ia mencoba turun dari tempat tidur perlahan, meraih kruk yang disandarkan di dekat nakas, tapi begitu kakinya menapak lantai, rasa sakit langsung menjalar tajam hingga membuatnya meringis keras.
"Aduh," rintihnya, buru-buru bertumpu penuh pada kruknya, menahan diri agar tidak jatuh.
Ivy yang mendengar rintihan itu dari dapur segera bergegas masuk ke kamar Lauren, wajahnya langsung dipenuhi kekhawatiran begitu melihat sahabatnya berdiri sempoyongan di sisi tempat tidur. "Astaga, Lauren, pelan-pelan! Kau yakin bisa jalan sendiri?"
"Sepertinya masih sulit," jawab Lauren, mencoba melangkah beberapa langkah dengan kruknya, tapi setiap gerakan kecil membuat wajahnya meringis menahan sakit. "Lebih parah dari semalam rasanya."
Ivy menyilangkan tangan di dada, menatap Lauren dengan raut serius. "Kau tidak mungkin kerja hari ini dengan kondisi begini. Bayangkan saja, di kantor kau harus bolak-balik, fotokopi dokumen, ambil berkas ke ruangan lain, naik turun lift. Kau bahkan baru bisa berdiri saja sudah kesakitan begini."
"Tapi aku baru beberapa bulan kerja di sana," Lauren mencoba membantah, meski suaranya sendiri terdengar ragu. "Rasanya tidak enak izin secepat ini."
"Kesehatanmu lebih penting," kata Ivy tegas, tidak mau kalah. "Lagi pula ini kecelakaan kerja, bukan kau sengaja bolos. Perusahaan sebesar itu pasti punya aturan soal cuti sakit. Kirim saja email atau telepon atasanmu langsung, jelaskan kondisimu apa adanya."
Lauren menghela napas, menyadari kebenaran dalam kata-kata sahabatnya itu. Ia duduk kembali di tepi tempat tidur, meraih ponselnya dari nakas, membuka aplikasi email kantor yang sudah terpasang sejak hari pertama ia bekerja.
Jarinya bergerak pelan mengetik pesan singkat ditujukan kepada Della, menjelaskan kondisinya dari awal. Ia teringat Della sudah pulang lebih dulu kemarin sore sebelum kejadian itu terjadi, jadi kemungkinan besar Della belum tahu sama sekali soal insiden di ruang arsip.
"Selamat pagi, Della. Maaf mengganggu pagi-pagi. Kemarin sore sepulang kau duluan, aku sempat turun ke ruang arsip untuk ambil berkas, tapi ada kecelakaan kecil, rak arsip roboh dan menimpa kakiku. Sudah ditangani tim medis gedung, tapi pergelangan kakiku masih sangat sakit sampai sekarang, belum bisa berjalan normal. Aku mohon izin tidak masuk kerja hari ini. Mohon disampaikan juga ke atasan terkait. Terima kasih banyak atas pengertiannya."
Ia membaca ulang pesan itu sekali sebelum akhirnya menekan tombol kirim, menghela napas lega begitu email itu terkirim. Tidak lama kemudian, balasan singkat dari Della masuk ke kotak pesannya, penuh tanda seru yang menunjukkan keterkejutannya.
"APA?! Aku baru tahu soal ini, kau tidak apa-apa?! Tentu saja izinmu tidak masalah, jangan dipaksakan! Istirahat yang cukup yah. Nanti aku bantu jelaskan ke tim kalau ada yang tanya. Semoga cepat sembuh, kabari aku kalau butuh apa-apa."
Lauren tersenyum tipis membaca balasan itu, meletakkan ponselnya kembali ke nakas, merasa sedikit lega meski masih ada rasa tidak enak yang mengganjal di dadanya, tidak terbiasa mengambil izin secepat ini padahal baru beberapa bulan bekerja.
"Sudah kirim izinnya?" tanya Ivy, muncul lagi di pintu kamar membawa segelas air putih dan sebutir obat pereda nyeri.
"Sudah," jawab Lauren, menerima gelas dan obat itu dari tangan Ivy. "Della bilang tidak masalah."
"Bagus. Sekarang minum obatnya, lalu istirahat total hari ini," perintah Ivy, duduk di tepi tempat tidur sambil mengawasi Lauren menelan obat itu. "Aku akan tetap di rumah pagi ini sebelum berangkat kerja, pastikan kau sudah aman dulu."
"Kau tidak perlu repot begitu," kata Lauren, meski merasa terharu dengan perhatian sahabatnya.
"Diam dan terima saja bantuanku," balas Ivy, tersenyum jahil meski nada suaranya masih menyimpan kekhawatiran. "Sekarang berbaring lagi, angkat kakimu ke atas bantal biar bengkaknya cepat turun."
Lauren menurut, berbaring kembali ke tempat tidurnya, membiarkan Ivy membantu menopang kakinya dengan bantal tambahan.
Ia menatap langit-langit kamarnya, menghela napas panjang, mencoba menerima kenyataan bahwa hari ini ia harus benar-benar beristirahat penuh, jauh dari rutinitas kerja yang belakangan sudah mulai terasa nyaman baginya.
Ivy berdiri di ambang pintu kamar, tas kerjanya sudah tersampir di bahu, mantelnya rapi terpakai. "Aku berangkat sekarang. Air minum dan obatmu sudah kutaruh di nakas, jangan lupa diminum sesuai jadwal."
"Baik, Bu Ivy," goda Lauren, tersenyum kecil dari atas tempat tidurnya.
"Jangan macam-macam, telepon aku kalau butuh apa-apa," balas Ivy, mengedipkan mata sebelum akhirnya menutup pintu kamar, melangkah keluar apartemen dan meninggalkan Lauren sendirian dalam keheningan pagi yang mulai terasa sepi.