NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: RS Mentari Global

Tulisan RS Mentari Global di badan ambulans itu membuat mata Rangga menyipit.

Jarak dari lokasi tabrakan ke RSUD Harapan Bangsa tidak sampai tujuh menit jika sirene dibuka. RS Persatuan Nusantara pun berada di jalur utama yang lebih dekat daripada rumah sakit swasta itu.

Namun ambulans yang pertama tiba justru dari tempat yang lebih jauh.

Terlalu cepat untuk kebetulan.

Rangga tidak punya waktu memikirkan itu lebih lama.

Perempuan muda di kursi penumpang mulai merintih. Napasnya dangkal. Darah dari pelipis bisa ditekan, tetapi masalah paling besar ada di sisi kanan tubuhnya.

Bagian pintu yang ringsek mendorong rangka logam ke perut bawah dan paha. Sepotong besi menancap cukup dalam sehingga gerakan yang salah dapat menjadi bencana, meski ujungnya belum menembus tubuh sepenuhnya.

"Semua mundur!" suara Rangga memotong kerumunan. "Jangan goyangkan mobil."

"Saya dokter!"

Seorang pria muda berjas putih berlari dari sisi jalan, napasnya terengah. Wajahnya tampak asing, tetapi kartu identitas yang tergantung di dadanya jelas.

dr. Fajar Ramadhan.

RS Persatuan Nusantara.

"Saya baru keluar dari apotek seberang," katanya cepat. "Butuh tangan?"

"Tahan leher. Jangan sampai rotasi. Cek pupil dan respons verbal."

"Siap."

Fajar langsung masuk dari celah pintu pengemudi, menstabilkan kepala korban dengan dua tangan. Gerakannya rapi. Tidak banyak bicara. Untuk seorang dokter muda dari rumah sakit besar, ia tidak membawa sikap angkuh sedikit pun.

Rangga menekan perdarahan di pelipis, lalu memeriksa abdomen korban melalui celah yang tersisa.

"Bu, nama Ibu siapa?"

Perempuan itu membuka bibir.

Tidak ada suara jelas.

Fajar melirik pupilnya.

"Respons menurun. Napas cepat. Nadi lemah."

"Kemungkinan perdarahan internal. Logam jangan dicabut. Kita butuh potong pintu, stabilkan benda, lalu transfer ke rumah sakit terdekat."

Seorang petugas pemadam kebakaran datang membawa alat hidrolik.

"Dok, kami buka pintu?"

"Potong rangka luar. Jangan tarik besi yang masuk ke tubuh. Sisakan bagian yang menancap, kita fiksasi saat evakuasi."

Petugas itu mengangguk.

Suara mesin pemotong menjerit. Percikan kecil menyala di udara malam. Warga menahan napas. Beberapa orang mengangkat ponsel, merekam dari jarak yang makin lama makin dekat.

Rangga tidak melarang.

Di dunia sekarang, kadang rekaman warga lebih cepat daripada laporan resmi.

Pintu mobil akhirnya terbuka sebagian. Besi yang menancap masih dibiarkan di tempat, distabilkan dengan kain tebal dan perban sementara. Fajar mempertahankan imobilisasi leher. Rangga terus memantau nadi.

Saat itulah seorang dokter dari ambulans RS Mentari Global mendekat.

Usianya sekitar empat puluh. Rambut rapi, kemeja mahal di balik jas dokter, wajahnya menunjukkan rasa terganggu sebelum melihat pasien secara utuh.

"Siapa yang memimpin di sini?" tanyanya.

Rangga tidak melepas tangan dari pasien.

"Saya. Pasien tidak boleh digeser kasar. Ada benda asing menancap, risiko perdarahan internal. Rumah sakit terdekat harus jadi tujuan."

Dokter itu melirik kartu nama di dada Rangga.

"Rangga. Oh. Dokter viral itu."

Nada suaranya membuat Fajar menoleh.

"Saya dr. Hartono, kepala UGD RS Mentari Global. Pasien ini akan kami bawa."

"Ke RS Mentari Global?" tanya Rangga.

"Ya."

"RSUD Harapan Bangsa lebih dekat. RS Persatuan Nusantara juga lebih dekat dan punya trauma center lengkap."

Hartono tersenyum tipis.

"Ambulans kami sudah tiba. Tim kami lengkap. Jangan memperlambat evakuasi."

"Yang memperlambat bukan saya. Yang saya cegah adalah transfer ke tempat yang lebih jauh tanpa indikasi."

Warga mulai berbisik.

Fajar berkata dingin, "Saya dari RS Persatuan Nusantara. Secara rute, pasien ini lebih aman dibawa ke tempat kami atau RSUD Harapan Bangsa."

Hartono menatapnya sekilas.

"Terima kasih masukannya, Dokter muda. Tapi keputusan pra-rumah sakit ada pada tim ambulans yang mengambil pasien."

Rangga menatap lurus.

"Kalau begitu catat di laporan Anda: pasien trauma berat, benda asing abdomen-paha, dugaan perdarahan internal, disarankan transfer ke rumah sakit terdekat. Keputusan membawa ke RS Mentari Global diambil oleh dr. Hartono."

Wajah Hartono berubah sedikit.

Ia tidak suka ada kalimat yang bisa menjadi bukti.

"Jangan bermain kata, Dokter Rangga. Kalau pasien ini kenapa-kenapa karena Anda menahan evakuasi, kamu yang tanggung jawab!"

Kalimat itu keluar keras.

Beberapa ponsel warga langsung mengarah lebih dekat.

Rangga masih tidak menaikkan suara.

"Saya tidak menahan evakuasi. Saya menahan tindakan bodoh."

Udara di sekitar mobil mendadak panas.

Hartono memberi isyarat kepada dua perawat ambulansnya.

"Angkat."

"Pelan," kata Rangga.

Perawat pertama mencoba menggeser korban. Besi di paha bergerak sedikit. Korban menjerit.

"Berhenti!" Rangga membentak.

Fajar ikut menahan brankar.

"Sudah saya bilang, fiksasi dulu!"

Hartono mendesis, lalu akhirnya membiarkan mereka memasang penyangga sementara dan balutan tekan tambahan. Wajahnya makin gelap karena di depan warga, timnya terlihat kalah paham.

Butuh lima menit untuk memindahkan korban dengan cara yang seharusnya dilakukan sejak awal.

Saat korban masuk ambulans, Rangga hendak ikut naik.

Hartono menghalangi pintu.

"Maaf, ambulans kami tidak menerima dokter luar."

"Saya yang menstabilkan pasien."

"Dan sekarang pasien di bawah tanggung jawab kami."

"Saya ikut sebagai dokter pendamping. Atau bawa pasien ke fasilitas terdekat."

Hartono mendekat, suaranya rendah tetapi tajam.

"Dokter Rangga, jangan kira semua tempat akan memberi panggung untuk Anda. Ini pasien kami sekarang."

Fajar menahan bahu Rangga agar konflik tidak berubah fisik dan menunda pertolongan pasien.

Rangga menatap perempuan yang terbaring di dalam ambulans. Monitor portabel menunjukkan nadi cepat, tekanan turun perlahan.

Ia memaksa diri mundur satu langkah.

"Kalau ada penurunan tekanan mendadak, jangan cabut benda asing. Kontrol perdarahan, laparotomi eksplorasi segera. Jangan buang waktu dengan pencitraan panjang."

Hartono menutup pintu.

"Kami tahu pekerjaan kami."

Ambulans melaju.

Sirenenya memotong jalan, meninggalkan bau bahan bakar dan darah di udara.

Warga masih merekam.

Salah satu dari mereka berkata cukup keras, "Loh, RS Mentari jauh, kan? Kenapa dibawa ke sana?"

Yang lain menyahut, "Tadi dokter yang viral sudah bilang rumah sakit dekat sini ada."

Dalam waktu kurang dari satu jam, potongan video mulai menyebar.

Judul-judulnya muncul dengan cepat:

Ambulans RS Mentari Global Ambil Pasien Kecelakaan, Padahal Ada Rumah Sakit Lebih Dekat?

Dokter Rangga Diadang Saat Mau Dampingi Korban.

Siapa Yang Berhak Menentukan Rumah Sakit Pasien Trauma?

Di RSUD Harapan Bangsa, Pak Hendra menonton video itu dengan wajah makin lama makin hitam.

"Mereka ini cari perkara," gumamnya.

Pak Bambang berdiri di sampingnya.

"Bukan cari perkara. Cari pasien mahal."

Rangga diam di depan jendela. Tangannya masih terasa lengket oleh darah, meski sudah dicuci berkali-kali.

"Kita tidak tahu kondisi pasien sekarang," katanya.

Pak Hendra menoleh.

"Kamu masih memikirkan pasien itu?"

"Dia belum lewat masa kritis."

Di sisi lain kota, ruang rapat RS Mentari Global terang benderang.

dr. Hartono berdiri dengan jas operasi bernoda darah di depan layar yang menampilkan foto CT dan hasil lab. Wajahnya tidak lagi sesombong di lokasi kejadian.

Di ujung meja, Pak Gunawan, direktur RS Mentari Global, mengetuk meja dengan jari.

"Jelaskan kenapa tekanan darah pasien terus turun."

"Ada perdarahan intraabdomen. Kami sudah masuk operasi."

"Lalu?"

Hartono menelan ludah.

"Ada fragmen logam kecil yang tertinggal di jaringan dalam. Jalurnya lebih rumit dari perkiraan. Area sekitar mulai terkontaminasi. Kami sedang coba kontrol."

"Coba?"

Satu kata itu membuat seluruh ruangan membeku.

Pak Gunawan memandang layar, lalu memandang video warga yang sedang viral di ponsel staf humasnya.

Di video itu, Rangga terdengar jelas berkata, Jangan cabut benda asing. Transfer ke rumah sakit terdekat.

Pak Gunawan menutup mata sebentar.

Mereka ingin mengambil pasien VIP trauma untuk citra dan pendapatan.

Sekarang pasien itu mungkin mati di meja mereka, sementara publik sudah memegang rekaman awal.

"Telepon RSUD Harapan Bangsa," katanya akhirnya.

Hartono terkejut.

"Pak Direktur?"

"Telepon Rangga."

"Tapi..."

Pak Gunawan membuka mata.

"Kalau pasien ini mati, UGD kamu dan nama RS Mentari Global ikut terbakar. Telepon dia."

Lewat tengah malam, ponsel Rangga berdering.

Pak Hendra yang menelepon.

Suaranya berat.

"Rangga, RS Mentari Global meminta kamu datang membantu. Operasi mereka kacau. Pasien hampir tidak bertahan."

Rangga memejamkan mata beberapa detik.

Di koridor, lampu malam rumah sakit menyala redup.

Ia masih ingat wajah perempuan muda itu di kursi penumpang.

"Saya pergi," katanya.

Pak Hendra menghela napas.

"Kamu yakin?"

Rangga membuka mata.

"Bukan untuk mereka, Pak. Untuk pasiennya."

1
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
Amiera Syaqilla
hello author🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!