Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 - WANITA SELALU BERMUKA DUA
Pertanyaan itu akhirnya lolos juga dari mulut Wulan — pertanyaan menohok tentang apakah pria ini benar-benar berniat tidur begitu saja pada malam pertama mereka. Jawabannya tidak datang dalam bentuk kalimat. Nalendra hanya terkekeh pelan, suara rendah yang bergemuruh samar dari dada yang ia sandangi, dan tawa yang tersembunyi di ujung bibirnya itu justru membuat wajah Wulan memerah hingga ke leher. Tetapi gadis ini menolak menyerah. Baginya, malam ini adalah penebusan atas segala sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya; ia tidak akan lagi membiarkan pria ini menghabiskan malam sambil menatap langit-langit sendirian, sebagaimana yang dulu ia biarkan berlangsung bertahun-tahun tanpa peduli.
Ada hal lain yang baru malam itu ia ketahui: suhu tubuh Nalendra memang lebih rendah daripada orang kebanyakan, kesejukan khas seperti embun pagi di puncak gunung. Dingin itu menyapa kulitnya ketika bahu mereka bersentuhan tanpa sengaja, dan anehnya Wulan tidak mundur. Ia justru merapat sedikit lagi, menyerap kesejukan yang ternyata mampu menenangkan jantungnya yang berdebar, sampai sadar bahwa rasa aman tidak selalu harus berarti panas. Di dekat pria ini, segala takut yang selama ini bersarang di dadanya mencair perlahan, seperti embun yang dikeringkan matahari pagi.
Di luar jendela, bulan purnama telah bergeser jauh di antara awan tipis ketika Wulan akhirnya mengangkat wajah dengan tekad yang barusan saja ia kumpulkan dari serpihan-serpihan keberanian. Ujung selimut brokat dipilin bolak-balik di antara jemarinya yang gugup. Dulu, di kehidupan yang lama, daftar penyesalannya panjang sekali — dan hampir semuanya adalah hal-hal yang tak pernah ia berani lakukan. Malam ini tidak akan masuk ke daftar itu. Pipinya boleh panas seperti dibakar, tetapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, bahkan untuk orang yang beruntung hidup dua kali.
"Jika kau menganggapku istrimu," gumam Wulan nyaris berbisik, "maka perlakukan aku seperti itu. Jangan seperti aku anak kecil yang hanya perlu diselimuti dan disuruh tidur." Matanya tajam dan jujur, menatap Nalendra tanpa menghindar meski pipinya masih bersemu merah. Ia tahu kata-kata itu terdengar lancang, tetapi ia tidak peduli. Sudah dua kehidupan ia tidak berani menyuarakan keinginannya, dan malam ini ia akan mengubah segalanya. Ia tidak ingin menjadi istri yang pasif, yang selalu menunggu perintah suaminya. Ia ingin menjadi pasangan yang setara, yang berani memperjuangkan kebahagiaannya sendiri.
Nalendra terdiam sejenak, menimbang-nimbang kata-kata gadis di sampingnya. Kehangatan yang mengalir di dadanya saat mendengar keluhan itu jauh lebih besar daripada yang ia perkirakan. Ia mengangkat tangan, menyentuh pelipis Wulan dengan lembut, dan menarik napas panjang seolah sedang mengendalikan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Sebagai panglima Bala Senja, ia terbiasa mengendalikan segalanya dengan tenang, tetapi di hadapan gadis ini, seluruh kendali itu seakan hilang. Ia tersenyum dalam hati — selama ini ia selalu menganggap dirinya kuat, tetapi ternyata Wulan mampu merobohkan semua pertahanannya hanya dengan satu kalimat. Dan yang lebih mengejutkan, ia justru menikmatinya.
Sosoknya berhenti sejenak. Ia seakan menenangkan napasnya sebelum menarik tangannya kembali, lalu dengan gerakan yang hati-hati ia menarik selimut brokat merah dan membungkus Wulan erat-erat seperti membungkus harta yang paling berharga. Setelah beberapa saat ia menghela napas, mengusap kepala gadis itu, dan berkata dengan suara rendah, "Baiklah, jangan dipaksakan." Kata-kata itu keluar begitu saja, tetapi di dalamnya tersimpan ribuan makna. Ia tidak ingin mengecewakan Wulan, tetapi ia juga tidak ingin melangkah terlalu jauh sebelum gadis itu benar-benar siap. Baginya, cinta yang sejati bukanlah tentang menuntut, melainkan tentang memberi waktu.
"Jangan... dipaksakan?" Wulan tertegun, menatap Nalendra dengan tatapan tidak mengerti, seolah ingin memastikan telinganya tidak keliru menangkap. Kilau kecewa dan bingung bercampur di matanya yang berbinar oleh cahaya lilin yang nyaris padam. Ia tidak menyangka pria itu akan benar-benar berhenti. Ia mengira, setelah ia menyatakan keinginannya sejelas itu, Nalendra akan mengerti. Tapi yang terjadi justru sebaliknya — pria itu semakin menahan diri. Apakah ia salah menebak? Apakah Nalendra sebenarnya tidak ingin dekat dengannya? Pikiran-pikiran negatif mulai merayap masuk, dan Wulan menggigit bibirnya untuk menahan rasa frustrasi.
Padahal ia hanya bercanda gengsi. Siapa sangka pria pendiam ini justru mengambilnya serius begitu saja? Ia kira malam ini akan menjadi milik mereka berdua, tetapi pria itu justru seperti orang yang sedang menahan diri terlalu keras, bahkan rela mundur demi melindunginya. Apa yang sebenarnya ada di kepala pria itu? Apakah ia masih meragukan perubahan perasaan Wulan? Atau justru sebaliknya — ia terlalu menghargainya sehingga tidak berani mengambil risiko? Apa pun alasannya, Wulan merasa kesal bercampur tersentuh. Ia tidak tahu harus marah atau menangis.
Melihat Nalendra benar-benar berniat melepaskan diri, Wulan buru-buru membebaskan dirinya dari selimut yang membungkusnya, lalu menahan tangan pria itu erat-erat. Ia menggigit bibirnya, menunduk sebentar, kemudian mengangkat wajahnya dan berkata dengan setengah malu setengah kesal, "Wanita selalu bermuka dua. Aku hanya sengaja menolak, jangan benar-benar pergi..." Suaranya mengecil di akhir kalimat, tetapi genggaman tangannya justru semakin erat. Ia tidak akan membiarkan pria itu berpikir bahwa penolakannya adalah sesuatu yang nyata. Kalau Nalendra berani mundur sekarang, ia akan mengejarnya sampai ke ujung dunia.
Masih tersenyum, Nalendra benar-benar terhibur oleh kelakuan gadis itu. Ia tidak bisa menahan tawa yang selama ini ia pendam, tawa yang rendah dan dalam, yang membuat dada Wulan ikut bergetar karena berada begitu dekat. Pangeran Senja yang dingin dan tak pernah tersenyum itu, pada malam itu, tertawa karena ulah istrinya sendiri. Para panglima Bala Senja pasti tidak akan percaya jika melihat pemimpin mereka tertawa sehangat ini. Tetapi di hadapan Wulan, semua topeng yang ia kenakan selama bertahun-tahun terasa begitu ringan untuk dilepas.
"Sudah kupikirkan baik-baik?" Suara Nalendra rendah dan sedikit serak, namun di dalamnya tersimpan nada menggodanya yang jarang sekali ia perlihatkan pada siapa pun. "Kali ini, kau tidak akan bisa melarikan diri lagi, bahkan jika kau menginginkannya." Kata-kata itu diucapkan dengan tenang, tetapi ada tekad yang bulat di baliknya — janji bahwa kali ini ia tidak akan pernah membiarkan Wulan pergi. Matanya menatap Wulan dengan dalam, dan untuk sesaat, Wulan merasa seakan seluruh dunia ikut berhenti berputar. Ia tahu, mulai malam ini, hidupnya akan berbeda selamanya.
Wulan menatapnya lama, merasakan detak jantungnya yang seakan menyatu dengan detak jantung Nalendra. Malam itu akhirnya tidak lagi diisi dengan ragu-ragu, melainkan dengan dua insan yang saling berjanji dalam bisikan-bisikan pelan di bawah cahaya rembulan. Nalendra menangkupkan kedua tangannya di wajah Wulan, menatapnya seolah ingin mengabadikan bayangan gadis itu selamanya, lalu berbisik bahwa sejak malam ini ia akan menjaganya sampai akhir hayat. Dan untuk pertama kalinya, Wulan percaya bahwa dirinya memang pantas untuk dicintai. Ia memejamkan mata, membiarkan janji itu meresap ke dalam relung hatinya yang paling dalam, dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, ia tidur dengan tenang, tanpa mimpi buruk, tanpa penyesalan.