NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 JEJAK MENUJU LEMBAH TERLARANG

Lin Mo melangkah keluar dari gerbang Kota Benteng Awan saat senja mulai menyapu langit dengan warna jingga yang memerah perlahan. Di dalam dadanya, rasa syukur bercampur dengan tekad yang semakin mengeras. Ia tidak menyangka bahwa perjalanan singkat ke kota perbatasan itu justru membawanya pada petunjuk yang begitu penting. Jimat berbentuk bulat merah tua milik Jiang Xiong ternyata adalah salah satu pecahan Peta Kuno Lembah Naga — tempat asal kekuatan yang kini mengalir di dalam nadinya. Di dalam benaknya, pengetahuan kuno terus menyusun potongan-potongan informasi yang tersisa, namun masih banyak bagian yang belum lengkap dan samar. Ia harus menemukan pecahan-pecahan lainnya secepat mungkin sebelum pihak-pihak yang berniat buruk menyadari keberadaan peta itu dan berusaha mengumpulkannya lebih dulu.

Sesampainya di tepi hutan pinggiran kota, bayangan besar kelabu tua itu segera muncul dari balik rimbunan pepohonan seakan telah menunggunya sejak lama. Binatang buas itu melangkah mendekat dengan tatapan setia dan menundukkan kepalanya menyambut kedatangan tuannya. Lin Mo menepuk kepala binatang itu pelan dengan senyum tipis yang tulus.

"Mari kita berangkat," ucap Lin Mo pelan sambil menaiki punggung lebar binatang itu. "Kita tidak boleh tinggal di tempat ini lebih lama dari yang diperlukan. Jejak yang kutemukan mengarah ke tempat yang jauh lebih berbahaya dan jauh lebih tua."

Binatang itu seakan mengerti beban yang kini memikul hati tuannya. Ia melesat membawa Lin Mo menembus kegelapan malam yang mulai merayap menyelimuti hutan belantara. Angin malam berhembus dingin menerpa wajah Lin Mo, namun hatinya tetap tenang dan jernih. Di dalam benaknya, ia terus merenungi petunjuk yang tersirat dari pengetahuan kuno yang diterimanya. Peta Kuno Lembah Naga terbagi menjadi empat pecahan. Satu berada di Kota Benteng Awan yang baru saja ia ketahui. Sedangkan tiga pecahan lainnya tersembunyi di tempat-tempat yang penuh bahaya dan dijaga oleh kekuatan-kekuatan kuno yang tak ingin diganggu.

Dari gambaran samar yang muncul di kesadarannya, arah yang dituju oleh pecahan pertama itu mengarah ke pegunungan berkabut tebal yang terletak jauh ke utara. Tempat itu dikenal oleh penduduk sekitar sebagai Lembah Terlarang — wilayah yang sejak ratusan tahun lalu dihindari oleh siapa pun karena dikutuk dan dipenuhi makhluk-makhluk buas yang berbahaya. Konon, tak ada satu pun orang yang berani masuk ke sana dan kembali hidup-hidup. Namun bagi Lin Mo, tempat itulah kemungkinan besar menyimpan pecahan kedua peta kuno yang ia cari.

"Jika aku ingin mengetahui kebenaran sepenuhnya tentang asal-usul Darah Naga yang mengalir di tubuhku... aku harus pergi ke sana," gumam Lin Mo pelan kepada dirinya sendiri. "Bahaya yang menantinya pasti tak terbayangkan. Namun aku tidak boleh mundur. Karena semakin lama peta itu terpecah-pecah, semakin besar pula bahaya yang akan datang jika jatuh ke tangan yang salah."

Perjalanan itu berlangsung selama tiga hari tiga malam. Binatang buas itu melesat terus tanpa henti menembus hutan lebat dan sungai deras, membawa Lin Mo semakin jauh menjauhi peradaban manusia. Semakin jauh mereka melangkah, semakin tebal kabut yang menyelimuti udara, semakin dingin suhu yang menyentuh kulit, dan semakin sunyi suasana di sekelilingnya. Hening yang menyelimuti hutan itu begitu berat hingga suara langkah kaki binatang buas pun terdengar samar dan teredam seakan ditelan kabut tebal.

Pada pagi hari keempat, Lin Mo akhirnya melihat batas wilayah yang dituju. Di hadapannya terbentang sebuah lembah luas yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi yang puncaknya tertutup kabut abadi. Udara di lembah itu tampak kelabu dan suram, dipenuhi kabut tebal yang berputar perlahan seakan memiliki kesadaran sendiri. Tanah di sana berwarna gelap dan gersang, tak tampak tumbuh tanaman yang hijau dan segar. Hanya semak berduri dan pepohonan tua yang batangnya melengkung bengkok menuju ke bawah seakan tak berani menengadah ke langit. Dari kejauhan saja, lembah itu sudah memancarkan aura yang dingin, kuno, dan penuh peringatan agar siapa pun menjauh.

Binatang buas itu berhenti melangkah di tepi lembah. Ia menolak melangkah lebih jauh dan menatap ke dalam kabut tebal itu dengan mata yang tampak takut dan gelisah. Tubuhnya yang besar dan kuat itu kini gemetar hebat sekujur tubuhnya, seakan naluri yang dimilikinya memperingatkan bahwa bahaya maut menanti di dalam sana.

Lin Mo melompat turun dari punggung binatang itu. Ia menatap ke dalam kabut tebal yang menyembunyikan isi lembah itu dengan pandangan yang tenang namun tak tergoyahkan. Ia paham betul ketakutan yang dirasakan binatang itu. Bahkan udara di lembah itu pun terasa berbeda — penuh dengan energi kuno yang berat dan tak ramah. Namun ia tidak memiliki pilihan lain. Jejak yang ia ikuti berakhir tepat di sini. Pecahan kedua Peta Kuno Lembah Naga pasti tersembunyi di suatu tempat di dalam lembah yang suram ini.

"Tetaplah menungguku di sini," ucap Lin Mo pelan sambil menepuk kepala binatang itu dengan lembut. "Jangan ikut masuk ke dalam. Bahaya di sana terlalu besar untukmu. Aku akan masuk sendirian. Dan aku berjanji... aku akan kembali."

Binatang itu menatap Lin Mo dengan tatapan yang penuh kecemasan. Ia mengeluarkan suara rintihan rendah seakan berusaha mencegah tuannya melangkah masuk. Namun Lin Mo hanya tersenyum tipis dan mengangguk meyakinkan, lalu berbalik dan melangkah masuk perlahan ke dalam kabut tebal itu sendirian.

Begitu melangkah melewati batas kabut, pandangan Lin Mo seketika menjadi terbatas. Kabut kelabu itu begitu pekat hingga ia nyaris tak mampu melihat jalannya sendiri di bawah kakinya. Namun panca inderanya yang telah ditingkatkan oleh kekuatan Naga Abadi tetap bekerja dengan sangat baik. Pendengarannya menangkap suara aliran air yang lambat dan berat, suara dedaunan kering yang berdesir pelan, serta detak jantung makhluk-makhluk yang bersembunyi di balik kegelapan kabut. Energi murni yang mengalir di dalam tubuhnya pun terus merespons lingkungan di sekelilingnya, memberi peringatan jika ada bahaya yang mendekat.

Lin Mo melangkah perlahan ke dalam, membiarkan kesadarannya menuntun jalannya. Cahaya keemasan samar melingkar tipis di sekeliling tubuhnya, tidak menyilaukan mata namun cukup untuk melindunginya dari energi gelap yang menyusup perlahan dari tanah dan udara. Semakin jauh ia melangkah ke tengah lembah, semakin berat tekanan yang menindih tubuhnya. Suara-suara samar mulai terdengar berbisik di telinganya, berusaha mengganggu pikirannya dan menyesatkan langkah kakinya. Namun Lin Mo terus memantapkan hatinya. Ia memejamkan mata sebagian dan membiarkan kesadaran yang bersumber dari Darah Naga menuntunnya.

Tak lama kemudian, bisik-bisik itu lenyap seketika. Kabut tebal di hadapannya perlahan menipis dan terbuka menampakkan sebuah bangunan batu kuno yang berdiri kokoh di tengah lembah. Bangunan itu berbentuk persegi panjang yang sederhana namun megah, terbuat dari batu-batu besar yang tersusun rapi tanpa sambungan yang tampak. Dindingnya dipenuhi ukiran-ukiran kuno yang telah lapuk dimakan waktu, namun tetap memancarkan keagungan masa lalu yang tak terhapuskan. Di bagian depan bangunan itu terdapat pintu batu raksasa yang tertutup rapat, dan tepat di tengah pintu itu terdapat sebuah lubang kunci yang berbentuk persis sama dengan jimat berbentuk bulat merah tua milik Jiang Xiong.

Lin Mo melangkah mendekati pintu batu itu perlahan. Ia menatap ukiran-ukiran kuno di dinding yang menggambarkan sosok naga raksasa yang terbang melintasi langit dan bumi, menyebarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru dunia. Hatinya bergetar hebat melihat gambaran itu. Ia merasa seakan sedang melihat bayangan masa lalu leluhurnya sendiri — sosok Naga Agung yang menjadi asal-usul kekuatan yang kini mengalir di dalam nadinya.

Namun tepat saat ia hendak melangkah lebih dekat ke pintu batu itu, tiba-tiba suara desisan panjang terdengar dari atas bangunan batu itu. Sesosok bayangan hijau melesat cepat turun dari atap bangunan dan mendarat tepat di hadapan pintu batu itu, menghalangi jalan Lin Mo. Itu adalah makhluk raksasa yang menyerupai ular namun memiliki sisik hijau berkilauan tajam dan dua tanduk pendek di kepalanya. Matanya yang besar bersinar merah menyala menatap Lin Mo dengan pandangan penuh niat membunuh. Napas yang keluar dari mulutnya berbau menyengat dan beracun, menyebarkan kabut tipis yang berdesis saat menyentuh tanah.

Lin Mo berhenti melangkah. Ia menatap makhluk itu dengan tenang. Dari pengetahuan kuno yang ia miliki, Lin Mo mengenali jenis makhluk itu. Itu adalah Ular Berduri Kabut — makhluk penjaga yang hidup beratus-ratus tahun dan memiliki kekuatan yang sangat besar serta racun yang mematikan. Makhluk itu telah diperintahkan sejak zaman purba untuk menjaga bangunan batu kuno itu agar tak ada orang asing yang masuk dan mengganggu tempat suci tersebut.

Makhluk itu melengkungkan tubuhnya tinggi ke udara lalu meluncur cepat menyerang Lin Mo dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat oleh mata biasa. Lin Mo tidak mundur. Ia berdiri diam di tempatnya hingga makhluk itu berada tepat di hadapannya. Saat taring tajam yang beracun itu hendak menyambar tubuhnya, Lin Mo akhirnya bergerak. Dengan gerakan yang tenang dan mantap, ia mengangkat telapak tangannya dan menempelkannya tepat di dahi makhluk itu. Cahaya keemasan yang murni memancar seketika dari telapak tangannya.

Aura keagungan Naga yang terpancar dari tubuh Lin Mo seketika menyapu ke seluruh tubuh makhluk itu. Ular Berduri Kabut itu tiba-tiba membeku di udara. Matanya yang merah menyala seketika melemah dan tampak penuh rasa hormat sekaligus takjub. Ia merasakan kekuatan tertinggi yang berasal dari penguasa segala makhluk suci — aura Naga Agung yang sejak dulu dihormati dan ditakuti oleh seluruh makhluk keturunannya. Makhluk itu perlahan menurunkan kepalanya yang besar dan beracun itu hingga menyentuh tanah di hadapan kaki Lin Mo, seakan tunduk dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada sosok yang membawa darah leluhurnya sendiri.

Lin Mo menatap makhluk itu dengan pandangan yang lembut namun penuh wibawa. Ia tidak menyakiti makhluk itu. Sebaliknya, ia justru mengusap kepala makhluk itu pelan dengan penuh rasa hormat.

"Aku tidak datang untuk merusak atau mengganggu tempat ini," ucap Lin Mo pelan suaranya terdengar lembut namun penuh kekuasaan yang tak terbantahkan. "Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi milikku demi menyatukan kembali warisan leluhurku. Biarkanlah aku lewat... dan biarkanlah aku menyelesaikan apa yang belum selesai sejak ratusan tahun yang lalu."

Makhluk itu seakan mengerti maksud ucapan Lin Mo. Ia mengangkat kepalanya perlahan lalu menatap pintu batu raksasa di hadapannya. Dengan gerakan perlahan, ia meluncur ke samping dan memberi jalan bagi Lin Mo untuk melangkah masuk. Namun tepat saat Lin Mo melangkah mendekati pintu batu itu dan hendak melihat apa yang tersembunyi di dalam sana, tiba-tiba suara dentuman keras terdengar dari arah belakang. Pintu batu itu perlahan terbuka perlahan menampakkan cahaya merah yang memancar dari dalam kegelapan. Dan di dalam sana, Lin Mo melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdetak kencang tak terduga. Sebuah benda bulat berwarna merah tua persis sama dengan jimat milik Jiang Xiong melayang perlahan keluar dari dalam ruangan batu itu, seakan menyambut kedatangannya sendiri. Namun di belakang benda itu, tergambar bayangan sosok naga yang terlihat berbeda — berwarna hitam pekat dan memancarkan aura yang mengerikan serta penuh dengan kejahatan purba.

Lin Mo terpaku di tempatnya. Cahaya merah itu semakin terang benderang, dan suara berat yang bergema di seluruh ruangan batu itu perlahan terdengar jelas di telinganya.

"Selamat datang... keturunan Darah Naga Putih... Warisanmu... dan warisanku... kini akhirnya bertemu kembali..."

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!