NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 Pria yang Tidak Mau Mengalah

Hari pertama Naira Alesha bekerja ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan.

Bahkan sebelum pukul delapan pagi, ia sudah berdiri di depan butik dengan rambut yang diikat sederhana dan sebuah tas besar di bahu.

Di dalam tas itu ada beberapa buku desain, alat gambar, botol minum, dan bekal yang dibuat ibunya pagi tadi.

Naira menatap papan nama butik di atas kepalanya.

"Baiklah."

Ia menarik napas panjang.

"Hari pertama."

Tangannya mengepal kecil.

"Aku pasti bisa."

Naira mendorong pintu kaca. Bel kecil di atas pintu berbunyi.

"Selamat pagi."

Seorang perempuan yang sedang merapikan beberapa pakaian menoleh. "Oh, Naira."

"Iya, Bu Dinda."

"Kamu datang lebih awal."

Naira tersenyum. "Saya takut terlambat, bu."

Dinda melihat jam tangannya. "Bagus. Pertahankan ya."

Naira mengangguk. Namun belum sempat ia meletakkan tas, Dinda sudah menunjuk beberapa kotak besar di sudut ruangan.

"Ini kain yang baru datang. Tolong periksa satu per satu dan cocokkan dengan daftar."

Naira melihat tumpukan kotak itu. "Semua?"

"Iya Nai. Semuanya."

Naira menelan ludah. "Baik, bu."

Ia mulai bekerja. Satu kotak. Dua kotak. Tiga kotak. Awalnya masih menyenangkan. Naira bahkan sempat menikmati aroma kain baru yang memenuhi ruangan.

Namun setelah satu jam, punggungnya mulai terasa pegal. Setelah dua jam, rambutnya mulai berantakan.

Setelah tiga jam, ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri apakah menjadi desainer fashion memang harus dimulai dengan memindahkan puluhan gulungan kain.

"Naira."

"Iya, bu?"

Dinda berdiri di belakangnya. "Kain warna krem ini salah."

Naira melihat kain di tangannya. "Yang ini?"

"Iya. Di daftar tertulis warna champagne."

Naira langsung memeriksa kembali. "Maaf, Bu. Saya akan pisahkan."

Dinda mengangguk lalu pergi.

Naira menghela napas. "Belum sehari sudah salah."

Namun ia tidak menyerah. Ia memeriksa ulang semua kain, kali ini satu per satu. Tidak boleh ada kesalahan lagi.

Menjelang siang, butik mulai ramai. Naira membantu pelanggan memilih pakaian, merapikan rak, mencatat pesanan, sampai membantu seorang penjahit memperbaiki ukuran gaun.

Ia bahkan hampir tidak sempat makan. Ketika akhirnya mendapat waktu istirahat, Naira duduk di belakang butik sambil membuka bekalnya.

Ia baru menyuap nasi ketika ponselnya berbunyi. Pesan dari ibunya: "Bagaimana hari pertama?"

Naira tersenyum. Ia mengetik: "Capek banget. Tapi aku suka." Kemudian ia menambahkan: "Aku belum menyerah."

Ia mengirim pesan itu lalu kembali makan. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk: "Bagus. Jangan mudah menyerah. Ibu bangga."

Naira menatap pesan itu cukup lama. Senyumnya mengembang. Ada perasaan hangat di dadanya.

Mungkin hidup memang sedang mengajarinya sesuatu. Tidak semua yang ia inginkan harus tentang Ravian. Ada hal lain yang juga pantas ia perjuangkan. Mimpinya.

 **************

Sementara itu, di sebuah kantor mewah di pusat kota, Mikael Arsen baru saja selesai menghadiri rapat. Ia berjalan menuju ruang kerjanya sambil membuka kancing jas.

"Rapat satu jam untuk membicarakan hal yang sebenarnya bisa selesai dalam sepuluh menit," gerutunya.

Sekretarisnya yang berjalan di belakangnya menahan senyum. "Pak Mikael."

"Ya, ada apa?"

"Ada beberapa portofolio yang dikirim untuk proyek baru."

"Taruh saja di meja."

"Yang satu ini direkomendasikan oleh Pak Ravian."

Mikael berhenti berjalan. "Ravian?"

"Iya, Pak."

Mikael kembali berjalan. "Taruh paling atas."

Sekretarisnya meletakkan beberapa map di atas meja. Mikael duduk.

Ia mengambil map pertama, tidak menarik. Map kedua, biasa saja.

Map ketiga, ia hanya melihat sekilas.

Sampai akhirnya tangannya mengambil map terakhir.

Nama desainer tertulis di bagian depan, Naira Alesha.

Mikael membuka map itu. Halaman pertama berisi beberapa sketsa pakaian. Ia berhenti. Matanya menyipit. Satu desain.

Lalu desain berikutnya. Mikael membalik halaman dengan lebih cepat. Gaun malam. Busana kasual. Gaun pesta.

Semuanya memiliki karakter yang berbeda, tetapi tetap terlihat sederhana. Tidak berlebihan. Tidak berusaha menunjukkan kemewahan. Justru itu yang membuat Mikael tertarik.

Ia mengambil salah satu lembar desain dan memperhatikannya lebih dekat. "Menarik."

Sekretarisnya yang masih berdiri di depan meja menoleh. "Bagus?"

Mikael mengangguk. "Ya, bagus." Ia kembali melihat gambar itu. "Siapa yang merekomendasikannya?"

"Pak Ravian."

Mikael tersenyum tipis. "Selera dia ternyata tidak buruk."

Sekretarisnya tertawa kecil.

Mikael mengambil pulpen lalu menunjuk salah satu desain. "Ini bisa dikembangkan."

"Berarti diterima, Pak?"

"Belum." Ia menutup map. "Aku mau melihat desain lainnya."

Sekretarisnya mengangguk. "Baik, Pak."

Setelah sekretarisnya pergi, Mikael kembali membuka map itu. Entah mengapa ia merasa penasaran dengan perempuan yang membuat semua desain tersebut.

Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Ravian. Telepon diangkat setelah beberapa dering.

"Yo Mik. Ada apa?"

"Aku sudah melihat portofolio yang kamu kirim."

"Bagaimana menurutmu?"

"Bagus."

Ravian terdengar puas. "Aku sudah bilang."

"Tapi aku mau bertemu dengannya."

"Untuk apa?"

"Aku ingin melihat apakah dia memang sebagus desainnya."

Ravian tertawa. "Kamu selalu begitu."

"Memangnya kenapa?"

"Kamu tidak pernah percaya sebelum melihat orangnya sendiri."

"Itu namanya profesional."

Mikael bersandar di kursinya.

"Baiklah."

Ravian terdiam sejenak. "Nanti aku kenalkan."

"Kenapa nanti?"

"Karena sekarang dia sedang sibuk."

Mikael mengangkat alis. "Sepertinya kamu cukup peduli padanya."

Ravian tertawa kecil. "Dia teman lama."

"Hanya teman?"

"Iya."

Mikael tersenyum. "Baiklah."

Ia menutup telepon, kemudian kembali melihat nama di map itu. Naira Alesha. Nama itu tidak asing, tetapi Mikael belum pernah benar-benar memperhatikannya.

Ia lupa bahwa perempuan yang portofolionya sedang ia pegang itu adalah gadis yang selama bertahun-tahun sering diceritakan Ravian.

Gadis yang dulu selalu datang bersama adik Ravian.

Mikael lupa semua itu. Yang ia tahu hanyalah, desain Naira sangat menarik, dan ia ingin bertemu dengan pemiliknya.

Sore menjelang ketika Naira akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Ia berdiri di depan cermin kecil di ruang belakang.

 Rambutnya sudah berantakan. Kemejanya sedikit kusut. Tangannya bahkan masih memegang gunting kain. Naira menatap dirinya sendiri.

"Sepertinya aku masih hidup." Ia tertawa kecil, kemudian mengambil tas.

Saat keluar dari butik, Dinda memanggilnya. "Naira."

Naira berbalik. "Iya, Bu?"

"Besok kamu datang lebih pagi ya."

Naira mengangguk. "Baik, bu."

"Dan satu lagi."

"Ya bu, ada apa?"

"Jangan takut membuat kesalahan."

Naira terdiam.

Dinda tersenyum. "Kamu masih belajar."

Naira membalas senyumnya. "Terima kasih, Bu."

Ia kemudian berjalan pulang. Langkahnya memang lelah, tetapi hatinya terasa jauh lebih ringan.

Di tempat lain, seorang pria sedang melihat portofolio Naira untuk kedua kalinya.

Mikael Arsen tersenyum tipis sambil menutup map.

"Aku harus bertemu gadis ini."

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!