Gara-gara keserakahan manusia merobek batas dimensi, bumi kiamat dan peradaban malah mundur ke abad pertengahan yang kejam. Dua ratus tahun kemudian, ras manusia dianggap sebagai makhluk paling lemah di dunia baru ini.
Tapi aturan itu tidak berlaku bagi Leo, Cheeta, dan Rheno tiga pemuda yatim piatu super nekat dari Lembah Karat. Ambisi mereka awalnya sederhana: bertahan hidup, menjarah, dan jadi kaya raya! Sialnya, gara-gara tergiur harga jual buah magis yang selangit, aksi nekat Leo malah menyeret mereka ke dalam takdir misterius.
Tanpa disadari, kekuatan purba Equilibrium yang terkunci di dalam darah mereka mulai terbangun. Bersiaplah mengikuti perjalanan epik yang seru, kocak, dan penuh kejutan dari trio penjarah amatir ini dalam mengocok isi dunia atas dan bawah!
Gaya Cerita: Santai & Humoris. Pas buat kamu yang suka petualangan fantasi seru tapi bikin ngakak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hero yang Bodoh
Sebuah nasib yang teramat tragis kini menanti Grim, Snap, Rocky, dan Mona. Aura mencekam yang memancar dari tubuh kekar Lucifer mengunci seisi aula kuil, mempersempit jalan keluar mereka hingga mustahil untuk melarikan diri.
Namun, alih-alih menyerah pada ketakutan, keputusasaan itu justru memicu nekat yang luar biasa di dalam hati mereka. Mengetahui nasib buruk sudah di depan mata, mereka memutuskan sekalian mencoba peruntungan terakhir.
"Kita sudah gagal!" ucap Grim dengan gigi ter geram rapat, menyadari misi rahasia mereka untuk keluar dengan ingatan utuh telah hancur berantakan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Rocky dengan keringat dingin yang mulai membanjiri pelipisnya.
"Daripada pasrah, kita kalahkan saja Lucifer!" seru Grim lantang, menyuarakan kegilaan yang mendadak membakar isi kepalanya. "Itu jauh lebih baik daripada mati dengan penyesalan!" lanjutnya berapi-api.
Bersamaan dengan teriakan itu, energi magis di dalam tubuh Grim bergejolak hebat hingga memancarkan aura hitam pekat yang berputar-putar di sekujur tubuhnya.
Melihat tekad sang ketua, Snap, Rocky, dan Mona pun membulatkan tekad mereka. Mengikuti jejak Grim, ketiganya menarik paksa seluruh kekuatan tersembunyi dari buah magis mereka. Seketika itu juga, aura hitam pekat milik mereka berempat mulai berpendar liar, memenuhi aula kuil dengan hawa kegelapan yang pekat.
Lucifer berdiri tegak tanpa bergeser satu sentimeter pun dari posisi mendaratnya. Sepasang mata iblisnya yang tajam memperhatikan perubahan drastis tersebut dengan pandangan menilai yang teramat tenang.
"Pemakan buah magis yang cenderung menyerap energi magis dunia bawah," ucap Lucifer datar, menganalisis jenis kekuatan yang sedang dihadapi di depannya.
"Buah magis itu pada dasarnya bersifat netral. Kecenderungan sifat jahat dari dalam diri kalian sendirilah yang membuat proses penyerapan energi itu condong ke arah dunia bawah," lanjutnya dengan nada santai, seolah sedang menceramahi anak kecil.
"Aku tidak mau mendengar ocehan itu dari mulut seorang iblis!" balas Grim ketus dengan urat leher yang menegang.
Sandiwara telah usai, dan pertempuran hidup mati pun pecah. Snap menghentakkan kakinya ke lantai batu, menggenggam tangannya erat-erat hingga seketika tercipta sebuah tombak hitam pekat berenergi magis padat. Dengan satu dorongan kuat, ia melemparkan tombak itu secepat kilat lurus ke arah dada Lucifer.
Tak mau kehilangan momentum, Grim melompat tinggi ke udara melintasi pilar, mengayunkan belatinya kuat-kuat demi melancarkan tebasan gelombang hitam vertikal.
Mona pun tidak tinggal diam; ia merentangkan kedua tangannya ke depan, memanggil bola api hitam keunguan yang ukurannya jauh lebih besar dan lebih membara dari serangan sebelumnya, menghantam tepat ke titik koordinat berdirinya Lucifer.
*BOOOM!!!*
Ledakan energi magis yang dahsyat mengguncang seluruh aula kuil, memicu kepulan asap dan uap panas yang membumbung tinggi. Kelompok Grim sempat mengira serangan kombinasi barusan berhasil melukai atau setidaknya mendesak sang pelindung kota. Namun, harapan itu pupus dalam sekejap mata.
Dari arah depan, membelah kepulan asap ledakan, sebuah sabit energi hitam raksasa menerjang maju dengan kecepatan yang mengerikan ke arah mereka.
"Awas!" teriak Rocky panik. Dengan refleks instan, ia menghantamkan kedua telapak tangan ke lantai kuil, mengerahkan seluruh sisa energinya untuk menciptakan dinding batu tebal yang sangat keras demi memblokir serangan balasan Lucifer.
*PRAAAKKK!*
Benturan itu terjadi begitu cepat. Namun, pertahanan batu milik Rocky tidak berarti apa-apa di hadapan kekuatan mutlak sang panglima tertinggi.
Serangan standar dari sabit energi Lucifer langsung menghancurkan dinding batu keras itu hingga berkeping-keping dalam sekali tebas. Sisa gelombang kejutnya yang luar biasa besar menghantam tubuh mereka berempat sekaligus tanpa ampun.
Grim, Snap, Rocky, dan Mona terlempar sangat jauh hingga menabrak barisan pilar kuil di sudut ruangan. Tubuh mereka terjatuh lemas ke atas lantai dengan napas yang terengah-engah dan pakaian yang koyak.
Meski demikian, berkat dinding pelindung Rocky yang sempat meredam sebagian besar daya hancur tadi, mereka berempat setidaknya masih selamat dari luka fatal yang bisa merenggut nyawa secara instan.
Di sisi lain, Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely sedang berlari kencang membelah kegelapan jalanan kota demi menjauh dari aura mencekam kuil pusat. Langkah kaki mereka terdengar terburu-buru, sampai tiba-tiba saja Leo menghentikan gerakannya secara mendadak.
Akibat aksi impulsif sang ketua, seketika itu juga Cheeta, Rheno, dan Ely terpaksa ikut mengerem paksa langkah kaki mereka hingga menciptakan bunyi gesekan sepatu di atas tanah.
"Hei, Leo! Kenapa malah berhenti di sini?!" protes Cheeta sembari menoleh panik ke arah belakang.
Leo terdiam sejenak, menatap Red Diamond yang masih digenggam erat di tangannya. Raut wajah ugal-ugalan yang biasanya penuh kesombongan kini tampak sedikit serius.
"Ini hanyalah perebutan barang curian," ucap Leo pelan, memecah keheningan malam. Ia kemudian menatap lurus ke arah teman-temannya. "Kita tidak boleh meninggalkan Grim dan kelompoknya di sana sendirian menghadapi iblis sangar itu."
Mendengar kalimat tersebut, Cheeta dan Rheno saling bertukar pandang. Bukannya marah atau mengomeli kebodohan ketua mereka, seulas senyuman tipis justru perlahan terukir di wajah keduanya.
Cheeta menghela napas lega lalu mengangguk mantap, sementara Rheno memberikan anggukan lempeng tanpa dosa seperti biasanya.
Bagi mereka bertiga yang bertumbuh bersama sejak kecil di jalanan Lembah Karat, kode etik profesi penjarah adalah segalanya. Pikiran mereka saat ini masih sangat sederhana dan terbatas: ini hanyalah persaingan berebut barang jarahan mahal, dan tiba-tiba saja ada seekor iblis liar berwajah sangar yang datang mengacaukan area tersebut.
Mereka sama sekali belum menyadari bahwa mereka baru saja dimanfaatkan, dan mereka tidak tahu sedikit pun jika sosok iblis itu sebenarnya adalah Lucifer yang sedang melindungi rahasia Castra Metropolis.
Namun, reaksi yang sama sekali berbeda ditunjukkan oleh Ely. Langkah kaki sang putri bangsawan Elf itu mendadak terpaku di tempatnya. Otak rasionalnya berputar liar, mencoba menghubungkan semua keanehan yang terjadi sejak kemarin.
Mengingat kembali bagaimana iblis yang sama di hutan kemarin ternyata mengejar-ngejar dirinya hanya demi mengembalikan batu magis yang terjatuh, sebuah realitas besar mendadak menghantam pikiran Ely.
Iblis sekuat itu... bersikap malas di medan perang... suka menolong... dan mengembalikan barang milik orang lain...
"Tunggu!" seru Ely dengan mata terbelalak lebar, badannya gemetar saat potongan teka-teki sejarah yang pernah ia dengar mendadak menyatu. "Mungkin dia adalah Luci..."
"Ayo kembali!" potong Cheeta cepat dengan nada bersemangat, melangkah maju dan langsung memotong kalimat penting dari Ely tanpa sengaja.
Detik berikutnya, tanpa sempat memberikan kesempatan bagi Ely untuk menyelesaikan penjelasannya, Leo, Cheeta, dan Rheno langsung melesat kencang kembali menuju arah kuil dengan kecepatan maksimal, berniat melakukan aksi heroik konyol demi menyelamatkan Grim, Snap, Rocky, dan Mona dari amukan sang pelindung kota.
Ely yang ditinggalkan hanya bisa mendesah pasrah dan buru-buru menyusul di belakang mereka.
BERSAMBUNG