Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENAKLUKAN BENTENG KE5
Setelah tiba di wilayah Benteng Keempat, aku, Doka, dan Hayabusa segera membahas rencana penyerangan besar-besaran terhadap Benteng Kelima.
Aku berencana melancarkan serangan sore ini.
Namun, sebelum memulai semuanya, aku ingin memastikan satu hal.
Serangan malam ini harus berhasil seratus persen.
Di meja rapat, aku mengumpulkan semua orang untuk membicarakan strategi penyerangan.
Serof kemudian memberikan pendapatnya.
"Menurutku, serangan malam akan jauh lebih efektif dibandingkan sore hari, Tuan. Saat sore, cahaya matahari masih cukup terang."
Aku mengangguk.
"Aku juga memikirkan hal yang sama. Namun, kita sedang dikejar waktu. Perang ini bisa memakan waktu sangat lama karena jumlah musuh terlalu banyak."
Doka kemudian angkat bicara.
"Tuan, serangan awal serahkan kepadaku. Aku akan memimpin serangan terbuka untuk menghancurkan gerbang belakang Benteng Kelima. Pada saat yang sama, Hayabusa dan pasukan ninjanya akan menyelinap masuk."
Hayabusa mengangguk.
"Aku setuju dengan rencana ini. Namun, kemungkinan besar pasukan musuh tidak akan keluar dari benteng. Mereka mengetahui kondisi rawa yang mengelilingi Benteng Kelima."
Doka menjawab dengan tenang.
"Soal rawa, aku bisa membekukannya."
Ia mengangkat salah satu tangannya.
"Aku akan menggunakan sihir es berskala luas untuk membekukan seluruh rawa dan membuat permukaannya menjadi keras. Dengan begitu, pasukan dapat menyeberang dengan mudah."
Aku hanya diam sambil mendengarkan mereka.
Hmm...
Aku mulai memikirkan berbagai kemungkinan.
Kemudian aku memberikan perintah.
"Doka, aku akan memberikanmu 3.000 skeleton Rank A. Kurasa jumlah itu cukup untuk serangan awal."
Aku kemudian menoleh kepada Hayabusa.
"Untukmu, aku juga akan memberikan sepuluh pasukan summon baru. Latih mereka menjadi ninja seperti dirimu."
Doka dan Hayabusa menjawab bersamaan.
"Baik, Tuan."
Serof kemudian bertanya,
"Kenapa kita tidak mengajak Huloo? Bukankah dia sangat kuat? Dengan tubuh sebesar itu dan kemampuannya mengendalikan pohon, bukankah dia cukup untuk menghancurkan benteng?"
Aku mengangguk.
"Benar. Huloo bisa sangat berguna."
Aku berhenti sejenak.
"Namun, bukan untuk sekarang. Hayabusa pernah melihat bahwa para Orc mampu menggunakan panah api. Aku takut pasukan pohon yang dipimpin Huloo justru akan terbakar dengan mudah."
Serof mengerutkan kening.
"Hmm... benar juga."
Ia kemudian bertanya,
"Lalu, apa rencana Tuan berikutnya?"
"Aku hanya punya rencana itu."
Aku menunjuk ke arah peta.
"Aku dan huloo juga akan memimpin pasukan pohon untuk mengepung gerbang depan. Aku akan melewati wilayah pegunungan besar yang berada di sekitar Benteng Kelima."
Aku menjelaskan jalur yang akan kugunakan.
"Aku hanya perlu bergerak memutar agar bisa melewati benteng tanpa diketahui musuh."
Semua orang mulai merenungkan strategi tersebut.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya menyetujuinya.
Namun, sebelum rapat berakhir, aku mengingatkan mereka.
"Jangan lengah."
Semua orang menatapku.
"Jumlah Orc Hitam yang berada di Benteng Kelima sangat mencurigakan. Mereka terlihat seperti memiliki seorang pemimpin yang mengatur semuanya."
Aku menatap peta dengan serius.
"Jadi, jangan pernah menganggap remeh mereka."
"Baik, Tuan."
Aku kemudian melirik Serof.
"Serof."
"Ya, Tuan?"
"Mulai sekarang, kau akan menjaga Benteng Keempat secara permanen. Jangan sampai ada masalah dengan keamanan benteng ini."
Serof menundukkan kepala.
"Baik, Tuan."
Beberapa jam kemudian, sore pun tiba.
Doka dan 3.000 pasukan skeleton telah berbaris di depan Benteng Kelima.
Suara terompet perang mulai terdengar.
PRUUUUUUT!
Dari dalam Benteng Kelima, 20.000 Orc Hitam juga mulai bersiap.
Para Orc mengambil senjata mereka dan menempati posisi pertahanan di atas tembok.
Doka dan Hayabusa kembali memastikan rencana mereka.
"Ketika aku membekukan rawa, kau langsung bergerak."
Hayabusa mengangguk.
"Aku mengerti."
Doka kemudian mengangkat tangannya dan memberikan aba-aba kepada pasukannya.
"Semuanya!"
Ribuan skeleton mengangkat senjata.
"Hari ini kita akan meraih kemenangan untuk dipersembahkan kepada Raja kita!"
"HAAAAAA!"
Teriakan ribuan skeleton mengguncang medan perang.
Beberapa detik kemudian...
Doka merapalkan sihir es.
WUUUSSSHHHH!
Gelombang es melesat menuju rawa.
Dalam sekejap, seluruh permukaan rawa mulai membeku.
KRAKKK!
Es menyebar dengan cepat.
Dalam waktu singkat, rawa yang sebelumnya menjadi pertahanan alami Benteng Kelima berubah menjadi hamparan es yang keras.
Para Orc yang berjaga di atas tembok langsung murka.
Pertahanan utama mereka telah berhasil dinetralkan.
Doka mengangkat tangannya.
"SEMUA SERANG!"
"SERAAAAANG!"
Gelombang pertama skeleton langsung berlari menuju Benteng Kelima.
Pada saat yang sama, Hayabusa dan sepuluh pasukan ninjanya bergerak cepat melalui sisi medan perang untuk menyelinap masuk.
Doka memperhatikan Hayabusa dari kejauhan.
Semoga berhasil.
Sekitar 1.000 skeleton bergerak sebagai umpan.
Komandan Orc yang berada di atas tembok langsung memberikan perintah.
"Siapkan panah api!"
Para Orc menarik busur mereka.
"LEPASKAN!"
FWOOSH! FWOOSH! FWOOSH!
Ribuan anak panah api melesat dari atas tembok menuju pasukan skeleton.
Sebagian skeleton langsung hancur terkena panah api.
Namun, sebagian lainnya terus bergerak.
Panah hanya menembus tulang mereka tanpa menghentikan langkah.
Komandan Orc semakin murka.
"Kurang ajar!"
Ia akhirnya memberikan perintah untuk membuka gerbang.
KREEEKKK!
Gerbang Benteng Kelima terbuka.
Dari dalamnya keluar pasukan Orc yang menunggangi serigala purba berukuran besar.
Mereka langsung melesat menuju pasukan skeleton.
Ketika jaraknya semakin dekat, para Orc mengarahkan tombak mereka.
SWOOOSH!
KRAK!
KRAK!
Tombak menghantam tubuh para skeleton.
Tabrakan antara pasukan Orc dan skeleton tidak dapat dihindari.
Perang besar pun pecah di tengah rawa yang telah membeku.
Sementara itu, Hayabusa berhasil mencapai tembok Benteng Kelima bersama sepuluh pasukannya.
Mereka berhasil menaiki tembok dan mulai bergerak ke bagian dalam benteng.
Namun, rencana mereka segera diketahui.
"ADA PENYUSUP!"
Pasukan Orc langsung mengejar mereka.
Hayabusa dan sepuluh ninja lainnya bergerak cepat sambil menghadapi para Orc yang menyerang dari berbagai arah.
Rencana awal mereka gagal.
Melihat hal tersebut, Doka tidak lagi menunggu.
"Pasukan kedua!"
Ia mengangkat senjatanya.
"MAJU!"
2.000 skeleton yang tersisa langsung bergerak menuju Benteng Kelima.
"SERANG!"
"HAAAAAA!"
Doka ikut menerjang bersama mereka.
Sementara itu, aku sudah berada jauh dari medan perang.
Aku berjalan memutari gunung besar bersama Huloo dan pasukan pohon.
Suara pertempuran masih terdengar dari kejauhan.
Huff...
Semoga mereka bisa mengulur waktu.
Namun, aku tahu bahwa perang di Benteng Kelima tidak akan mudah.
Di sisi lain, pertempuran semakin brutal.
Hayabusa mulai kerepotan karena dikepung ratusan Orc.
Ia hanya memiliki sepuluh pasukan bersamanya.
Namun, jumlah musuh tidak membuatnya mundur.
Hayabusa menghunus pedangnya.
"Habisi mereka."
SLASH!
Satu Orc terjatuh.
Kemudian ninja lainnya bergerak.
SLASH!
CRAK!
Mereka mulai membantai para Orc yang menyerang dari segala arah sambil terus bergerak maju.
Sementara itu, pasukan Doka berhasil mendorong pasukan Orc mundur.
Para Orc mulai mengamuk.
Beberapa dari mereka menyerang Doka secara brutal.
Namun, semua serangan itu berhasil ditangkis oleh keempat tangannya.
CLANG!
CLANG!
Doka menggunakan empat senjata sekaligus.
Satu tebasan.
Dua tebasan.
Tiga.
Empat.
Lima!
SLASH! SLASH! SLASH!
Para Orc mulai kewalahan menghadapi gerakannya.
Namun, Komandan Orc kemudian mengeluarkan kartu terakhirnya.
"Bawa para Ogre!"
Dari dalam benteng, para Ogre raksasa mulai keluar.
DUAR!
Satu hantaman membuat beberapa skeleton terlempar.
BOOM!
Pasukan yang dipimpin Doka mulai terpental ke berbagai arah akibat kekuatan para Ogre.
Doka menatap mereka.
"Begitu..."
Ia mengangkat tangannya.
FWOOSH!
Sihir es mulai menyelimuti tubuhnya.
Doka kemudian menyerang para Ogre satu per satu.
SLASH!
Setiap tebasan yang mengenai tubuh Ogre langsung membekukan luka mereka.
KRAKKK!
Es menyebar dari luka menuju seluruh tubuh.
Satu demi satu Ogre membeku.
Beberapa jam kemudian, malam akhirnya tiba.
Aku sampai di depan gerbang Benteng Kelima.
Aku menatap benteng yang menjulang tinggi di hadapanku.
Sialan... kita memakan waktu empat jam.
Aku dan Huloo mulai mengamati pertahanan benteng.
Jumlah Orc Hitam yang berjaga masih sangat banyak.
Namun, aku menoleh kepada Huloo.
"Huloo."
"Ya, Tuan."
"Pimpin pasukan pohon. Hancurkan gerbang depan."
Huloo mengangguk.
Kemudian ia mengeluarkan suara raungan yang sangat keras.
ROOOOOAAARRR!
Suara itu menggema di seluruh wilayah.
Burung-burung yang berada di pepohonan langsung beterbangan.
Para Orc Hitam yang menjaga gerbang mulai panik.
"Musuh!"
"Siapkan pertahanan!"
Namun, sebelum Komandan Orc sempat memberikan perintah...
DUAAAAAR!
Sebuah batu besar menghantam tubuhnya.
Tubuh Orc itu terlempar dan hancur.
Orc yang berada di sampingnya terkejut.
Namun, sebelum ia sempat bereaksi...
CRAK!
Akar pohon menembus tubuhnya.
Pasukan pohon mulai menyerbu.
Para Orc dibantai satu per satu.
Huloo terus bergerak maju.
DUAAAR!
Tubuh raksasanya menghantam tembok.
Hujan panah langsung dilepaskan dari atas benteng.
FWOOSH! FWOOSH!
Namun, semua itu tidak mampu menghentikan Huloo.
Aku kemudian melompat dari tubuh Huloo.
BOOM!
Aku mendarat di antara para Orc.
Aku mencabut pedang besarku.
"Pergi."
SLASH!
Satu Orc tertebas.
Aku mulai berlari masuk ke dalam benteng.
Para Orc langsung mengepungku dari segala arah.
Anehnya...
Aku sama sekali tidak merasa takut.
Justru sebaliknya.
Darahku terasa mendidih.
Ini...
Menarik.
Para Orc menyerang secara bersamaan.
Aku menghindari serangan mereka satu per satu.
CLANG!
Pedangku beradu dengan perisai Orc.
KRAK!
Perisai itu langsung hancur.
SLASH!
Orc yang berada di hadapanku terbelah menjadi dua.
Aku melihat armor dan pedang yang kukenakan.
Tidak ada satu pun goresan yang terlihat.
Bahkan serangan mereka tidak mampu menembus armor ini.
Perang besar pun semakin meluas di seluruh wilayah Benteng Kelima.
Namun, beberapa menit kemudian...
DUAAAAAR!
Sebuah hantaman keras mengenai tubuhku dan membuatku terlempar.
BUAAAKKK!
Tubuhku menghantam tembok.
Aku terbatuk.
"Ugh..."
Aku menoleh.
Di sana berdiri seekor Orc yang sangat berbeda dari yang lainnya.
Tubuhnya jauh lebih besar dan berotot.
Tangannya menggenggam sebuah kapak raksasa.
Aku terkejut ketika melihat kekuatannya.
Orc ini... berbeda.
Bahkan beberapa pasukan pohon yang menyerangnya berhasil dibelah menjadi dua hanya dengan satu ayunan kapaknya.
Orc tersebut kemudian menerjangku.
DUAR!
Aku berguling ke samping.
BOOM!
Kapaknya menghantam tanah.
Aku terus menghindari serangan demi serangan.
Namun, setiap serangan Orc tersebut terasa semakin kuat.
Aku menoleh ke arah Huloo.
Huloo sendiri ternyata juga mulai kerepotan menghadapi para Orc.
Sialan...
20.000 Orc di dalam benteng ternyata benar-benar merepotkan.
Aku kemudian berlari lebih dalam menuju Benteng Kelima.
Aku bergerak menuju alun-alun.
Namun, Orc yang membawa kapak besar itu terus mengejarku bersama pasukannya.
Aku melirik ke belakang.
"Sialan..."
Aku melihat jumlah musuh.
Aku dikepung dari segala sisi.
Jumlah mereka sekitar 1.000 Orc.
Aku tidak punya banyak pilihan.
Aku mengaktifkan sistem.
[Pemanggilan Skeleton Tersedia.]
Aku langsung menggunakan pemanggilan tersebut.
WUUUSSSHHH!
100 skeleton muncul di hadapanku.
"Serang!"
Aku dan 100 skeleton langsung menerjang.
Aku menghindari serangan para Orc sambil terus maju.
Namun, saat perhatianku terfokus pada Orc yang membawa kapak besar...
DUAAAAAR!
Tiba-tiba muncul satu Orc lain yang wajah dan tubuhnya hampir persis sama dengan Orc sebelumnya.
Ia menghantam perisaiku.
BOOM!
Tubuhku kembali terlempar.
Aku langsung bangkit.
"Sialan..."
Bukan cuma satu?
Ada banyak dari mereka?!
Aku kemudian mendengar suara sistem.
[Pemberitahuan Sistem]
[Kekuatan fisik pengguna telah mencapai batas maksimum.]
[Apakah pengguna ingin melakukan evolusi?]
Aku melihat hologram sistem.
Di hadapanku hanya terdapat dua pilihan.
[YA]
[TIDAK]
Aku tidak berpikir panjang.
"YA."
Tiba-tiba...
WUUUUSSSHHHH!
Kegelapan pekat bercampur merah seperti darah mulai masuk ke dalam tubuhku.
Tubuhku bergetar.
[Penyerapan Jantung Naga Rank SSR berhasil.]
[Level meningkat.]
[Kekuatan fisik meningkat.]
[Kecepatan meningkat.]
[Pertahanan meningkat.]
[Seluruh atribut meningkat secara drastis.]
Aku merasakan sesuatu berubah di dalam tubuhku.
Mata emas yang selama ini kumiliki perlahan berubah.
Menjadi...
Merah.
Sistem kembali memberikan informasi.
[Evolusi ras berhasil.]
[Ras pengguna telah berevolusi menjadi Ras Naga.]
Aku terdiam.
Tubuhku terasa jauh lebih ringan.
Rasa sakit yang sebelumnya kurasakan menghilang sepenuhnya.
Aku mengepalkan tangan.
Tubuh ini...
Rasanya seperti tubuh yang berbeda.
Aku kemudian melirik ke arah para Orc.
Mereka telah berhasil menerobos barisan skeleton dan kembali berlari ke arahku.
Salah satu Orc mengangkat kapaknya.
DUAAAAAR!
Hantaman keras mengenai armor tubuhku.
Namun...
Tidak terjadi apa-apa.
Aku bahkan tidak bergeser.
Perisai dari kalung mithril yang telah aktif selama 24 jam berhasil menahan serangan tersebut dengan mudah.
Aku terdiam beberapa detik.
Kemudian...
Aku tersenyum.
"Hahahaha..."
Senyumku semakin lebar.
"HUAHAHAHAHAHA!"
Aku menggenggam pedangku lebih erat.
Tubuhku terasa begitu ringan.
Gerakanku terasa begitu cepat.
Setiap ayunan pedang terasa seperti tidak memiliki beban sama sekali.
Ini...
Rasanya seperti mimpi.
Aku menghilang dari tempatku berdiri.
SWOOOSH!
Dalam sekejap, aku sudah berada di depan para Orc.
Pedangku kembali terayun.
SLASH!
Pembantaian pun dimulai.
Malam itu, Benteng Kelima dipenuhi suara pertempuran.
Teriakan para Orc bergema di seluruh benteng.
Dan di tengah kegelapan malam...
Raja Iblis yang baru saja berevolusi mulai menunjukkan kekuatan sebenarnya.