Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Peringatan Keras Kakek Algra
Di sisi lain kamar, Reval berdiri dalam diam. Ia memandangi istrinya yang semakin lemah. Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak menunjukkan kepuasan ataupun kemarahan. Hanya sebuah ekspresi sulit dibaca.
“Ada apa dengan perasaan ini?” gumam Reval pelan.
Ditengah lamunannya, tiba-tiba suara Kakek Algra terdengar, “Reval, Kakek ingin bicara denganmu. Temui Kakek diruang kerjamu setelah mengantar Tuan Adrian pergi.”
“Baik, Kek!” balas Reval yang segera mengenyahkan pikirannya tentang Jenara.
Reval menghela napas, sebelum berjalan mendekati Adrian yang tengah menunggunya untuk berpamitan. Sebagai anak buah yang baik, Dhana terus berjalan mengikuti Reval dibelakangnya. Meski hatinya dilanda kemarahan kepada Reval dan Adrian, tetapi ia sebisa mungkin berusaha menahan dan menyembunyikannya.
Bahkan setelah mengetahui Jenara dan bayinya hampir celaka, kedua pria itu masih masih saja membahas tentang kerjasama mereka sebelumnya. Adrian berjanji akan menggunakan kekuasaannya sebagai Kepala Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan untuk memperlancar bisnisnya Reval.
“Kau tenang saja, Menantuku! Aku jamin semuanya akan berjalan seperti semula dalam tiga hari,” ucap Adrian sebelum masuk ke dalam mobil mewahnya.
“Tentu saja, anda memang yang selalu bisa saya andalkan dalam hal ini, Ayah mertua!” balas Reval.
“Hahaaa… Jaga cucuku dengan baik, karena dia akan menjadi asset berharga kita di masa depan.” Adrian berpesan sebelum pergi.
Namun, Reval tidak menjawabnya ataupun memberi tanggapan. Ia hanya mengisyaratkan kepada supir untuk segera menjalankan mobilnya. Mobil itu pun mulai melakju perlahan meninggalkan area Mansion.
Reval berbalik untuk masuk menemui Kakeknya yang sudah menunggu di ruang kerjanya. Namun, saat pandangannya tertuju pada Dhana. Reval tiba-tiba berkata, “Kau mendengarnya, bukan? Dia ingin kau menjaga cucunya dengan baik, Dhana.”
Dhana terdiam sesaat, ia jelas tahu maksudnya. Dhana pun hanya menjawab, “Saya mengerti, Tuan.”
Reval tidak menanggapinya lagi dan terus berjalan menuju ruang kerja yang selama ini tidak pernah ia pakai.
...****************...
Setibanya di ruang kerja suasana terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Reval berdiri di hadapan meja besar itu dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya. Sejak dipanggil beberapa menit lalu, Kakek Algra belum mengatakan apa pun. Lelaki tua itu hanya duduk di kursinya, menatap Reval dengan tatapan yang sulit ditebak.
Hingga akhirnya, sebuah map tipis diletakkan di atas meja. "Jadi," suara Kakek Algra terdengar berat, "kamu masih menganggap kejadian yang menimpa Jenara itu hanya sebuah kecelakaan kecil seperti yang dikatakan pelayan?"
Reval mengangkat wajah. "Kakek tahu sesuatu?"
Kakek Algra tidak langsung menjawab. Jemarinya mengetuk permukaan meja sekali. "Dari awal aku sudah curiga."
Reval mengerutkan kening. "Curiga tentang apa?"
"Bahwa hampir gugur janin di dalam perut Jenara bukan semata-mata karena kondisi tubuhnya saja."
Jantung Reval seakan berhenti berdetak. Kakek Algra menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku sudah mencari tahu siapa yang berada di sekitar Jenara sebelum kejadian itu. Siapa yang menemuinya. Siapa yang berbicara dengannya. Dan siapa yang memiliki alasan untuk membuatnya tertekan."
Reval mulai merasa tidak nyaman. "Kakek..."
"Vara."
Satu nama itu jatuh begitu saja, tetapi terasa seperti hantaman keras. Reval terdiam, ia belum tahu bahwa Vara datang menemui Jenara tanpa ijin darinya. Ia sedang sibuk mengurus masalah klan miliknya yang terus saja muncul gangguan tak terduga.
Tatapan Kakek Algra semakin tajam. "Perbuatan Vara yang membuat Jenara mengalami tekanan sebesar itu. Dia sengaja melakukan sesuatu yang membahayakan kondisi Jenara dan bayinya."
"Itu tidak mungkin." Jawaban Reval keluar terlalu cepat.
Kakek Algra menyipitkan mata. "Kau membelanya?"
"Bukan begitu, Kek. Aku hanya—"
"Kamu hanya belum siap menerima kenyataan bahwa kekasihmu sendiri hampir mencelakai wanita yang sedang mengandung anakmu."
Reval membeku. Kalimat itu menusuk jauh lebih dalam daripada yang ingin dia akui. Dia menundukkan kepala. Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain detak jam di dinding. Meski bayi dikandungan Jenara saat ini bukan miliknya, tetapi ia yang bertanggung jawab atas kehamilan wanita itu demi tujuannya sendiri.
"Apakah..." Reval menelan ludah. "Apakah Jenara yang mengatakannya?"
"Yang menjadi pertanyaanku justru, apakah kamu tahu bahwa kekasihmu itu berulah diluar batasnya?"
Reval mengangkat wajah. Kakek Algra bangkit perlahan dari kursinya. "Aku tidak peduli seberapa besar perasaanmu kepada Vara. Itu urusanmu. Tapi sejak hari ini, aku tidak ingin mendengar alasan apa pun tentang dia."
Nada suaranya tetap rendah, tetapi setiap kata terdengar tegas. "Kalau Vara benar-benar mencintaimu, ajari dia bagaimana caranya menghormati orang lain. Ajari dia batas-batas yang tidak boleh dilewati. Terutama terhadap Jenara."
Reval mengepalkan tangannya. Jelas sekali Kakeknya sedang memberi peringatan keras agar wanita itu tidak bertindak bodoh lagi. Sudah cukup Kakek Algra membiarkan hubungan kotor itu terus berlanjut, tetapi jika berani menyentuh Jenara dan calon bayinya. Sepertinya Kakek Algra tidak akan mungkin diam saja lagi.
"Kalau dia sampai sekali lagi mencoba menyakiti Jenara—" Kakek Algra berhenti tepat di hadapannya. "Maka aku tidak segan yang turun tangan sendiri."
Reval menatap kakeknya dalam diam.
"Aku memberimu kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab," lanjut Kakek Algra. "Bicara dengan Vara. Tegur dia. Pastikan dia memahami bahwa Jenara bukan musuhnya atau wanita yang bisa dia sentuh sesukanya."
Tatapan lelaki tua itu mengeras.
"Dan dengarkan baik-baik, Reval. Kalau setelah peringatan ini Jenara kembali terluka karena perbuatan Vara, jangan harap aku masih menganggap itu sebagai masalah hubungan kalian."
Ruangan mendadak terasa semakin sunyi ketika Kakek Algra melanjutkan, "Itu akan menjadi urusan keluarga."
Reval menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa persoalan ini jauh lebih besar daripada kecemburuan seorang perempuan kepada kekasihnya. Vara sudah bertindak terlalu jauh, Reval tidak bisa mengabaikan kebenaran itu.
Kakek Algra menatapnya beberapa detik sebelum kembali ke kursinya. "Jaga Jenara." Dua kata sederhana itu justru terasa seperti perintah paling berat yang pernah Reval terima. "Dan jaga anakmu."
Reval mengangguk perlahan. "Iya, Kek."
Namun saat berbalik meninggalkan ruangan, pikirannya hanya dipenuhi satu nama yaitu Vara. Untuk pertama kalinya, Reval mulai bertanya-tanya apakah perempuan yang selama ini dia bela benar-benar masih pantas mendapatkan kepercayaannya.
Reval baru saja hendak membuka pintu ketika suara Kakek Algra kembali menghentikan langkahnya. "Satu lagi."
Reval menoleh. Kakek Algra bersandar di kursinya, tetapi tatapannya masih sama tajamnya. "Mulai malam ini, kau tinggal bersama Jenara."
Reval terdiam. "Maksud Kakek?"
"Kau dengar dengan jelas."
"Kek, aku—"
"Jenara baru saja mengalami kejadian yang hampir merenggut bayinya. Kondisinya belum benar-benar stabil. Aku tidak ingin dia sendirian."
"Tapi ada perawat dan—"
"Aku tidak sedang meminta pendapatmu."
Bersambung….