Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Tengah Malam
Nara
Selama tiga hari, aku mencoba tidak memperhatikan Sekar.
Usaha itu gagal sebelum sarapan setiap pagi.
Aku tahu dia menggendong Arka setelah pukul delapan, mencatat susu pukul sepuluh, lalu menghilang sekitar setengah jam menjelang Zuhur. Aku tahu pekerjaan kasarnya berkurang karena Ibu lebih percaya kepadanya. Aku juga tahu dia tetap mengambil nasi terlalu sedikit meski Bu Nah sudah menambah lauk.
Tak satu pun seharusnya kuingat.
Namun ingatanku menyimpan semuanya dengan ketelitian yang biasanya hanya kuberikan pada angka proyek.
Sejak makan malam ketika aku membelanya, Ratih memang berhenti mencari perkara di depan keluarga. Di belakang, aku beberapa kali melihatnya memberi Sekar pekerjaan tambahan. Sekar selalu menerimanya tanpa protes. Perempuan itu seolah yakin keselamatannya bergantung pada seberapa kecil ruang yang dia ambil.
Aku membenci keyakinan itu tanpa mengerti alasannya.
Siang tadi, Ibu memanggilku ke ruang kerja keluarga. Dia menyodorkan laporan Arka sambil bertanya apakah aku yang meminta beberapa pekerjaan Sekar dialihkan.
"Bukan," jawabku. Itu benar. Sampai saat itu aku belum melakukan apa pun.
"Kau terlalu sering memperhatikan urusan dapur belakangan ini."
"Saya tinggal di rumah ini."
Ibu menatapku melewati bingkai kacamatanya. "Kau tinggal di sini sejak lahir dan baru sekarang peduli berapa banyak nasi yang dimakan pekerja."
Aku menutup buku jadwal Arka. "Kalau orang bekerja dari pagi sampai malam, dia perlu makan cukup. Itu bukan urusan pribadi."
"Pastikan memang bukan."
Peringatannya masih terngiang ketika aku melihat Sekar sore itu. Dia membawa keranjang kain dua kali lebih besar daripada tubuhnya. Saat aku mendekat hendak membantu, dia justru berbelok ke lorong lain seolah takut berada terlalu dekat denganku.
Jarak yang dia buat seharusnya melegakan. Yang kurasakan malah kesal.
Malam hari kesembilan, udara Surabaya terasa pengap meski pendingin kamar menyala. Aku sudah membaca dokumen yang sama tiga kali dan tetap tidak memahami satu paragraf pun. Di kepalaku hanya ada botol kaca yang dipeluk Sekar di lorong.
Kalau isinya sekadar ramuan bayi, mengapa dia pucat ketika kutanya?
Mengapa aroma yang sama muncul dari kulitnya?
Aku menutup laptop pukul setengah satu. Alasan yang kuberikan kepada diri sendiri sederhana: aku haus.
Ada air di kamar mandi. Aku tetap turun ke dapur.
***
Rumah sudah sunyi. Lampu malam membentuk jalur pucat sepanjang tangga menuju sayap belakang. Aku mengambil segelas air, meminumnya setengah, lalu berdiri terlalu lama di depan wastafel.
Kamar Sekar tidak berada di jalan menuju tangga utama.
Kakiku tetap membawaku ke sana.
Aku mengatakan pada diri sendiri bahwa aku hendak memeriksa pintu samping setelah kejadian Roy. Itu tugas wajar pemilik rumah. Ketika sampai di lorong pekerja, aku bahkan sempat memeriksa kunci jendela untuk membuat kebohongan itu terasa masuk akal.
Lalu aroma manis menyentuh udara.
Lebih kuat daripada di belakang rumah. Lebih hangat daripada di lorong ketika botolnya hampir jatuh.
Pintu kamar Sekar tidak tertutup rapat. Seberkas cahaya keluar dari celah. Aku mendengar air diperas ke dalam baskom dan napas yang berat.
Aku berhenti.
Seharusnya aku mengetuk dari jarak aman. Seharusnya aku pergi.
Sebelum sempat memilih, bayangan di dalam bergerak. Melalui celah sempit itu, aku melihat Sekar membelakangiku, masih berpakaian lengkap dengan kain panjang dan kaus tipis. Dia membasuh tengkuk serta lengan dengan kain dingin, seolah sedang menurunkan demam. Bahunya naik turun. Ikatan kain yang biasa menyamarkan tubuhnya tergeletak di kursi.
Aku langsung mengalihkan pandangan ke dinding.
Rasa panas naik ke wajahku, diikuti rasa bersalah yang lebih tajam. Aku tidak berhak melihat ruang pribadinya, sekalipun pintu terbuka tanpa sengaja.
Namun saat dia bergerak mengambil handuk, sesuatu berkilat di pinggangnya.
Botol kaca kecil itu.
Botol, kebiasaan menghilang, tubuh yang lemas, air dingin, dan aroma yang berubah sesuai keadaannya. Potongan-potongan yang selama ini terpisah mendadak membentuk pola.
Sekar tidak sekadar memakai ramuan untuk Arka. Ramuan itu terkait langsung dengan kondisinya sendiri.
Yang lebih menggangguku adalah caranya membasuh kulit dengan air dingin. Bukan seperti seseorang yang sedang merawat diri, melainkan seperti seseorang yang hendak menghapus jejak. Dia menggosok tengkuk sampai memerah. Bahkan sendirian, tanpa tatapan orang lain, dia memperlakukan tubuhnya sebagai sesuatu yang harus dihukum.
Aku ingin mengetuk dan menyuruhnya berhenti. Keinginan itu datang begitu cepat hingga membuatku takut pada diriku sendiri.
Aku bukan keluarganya. Bukan suaminya. Bahkan bukan orang yang dia pilih untuk dipercaya. Aku hanya putra majikan yang kebetulan berdiri di tempat yang salah.
Aku mundur. Tumit sepatuku menyentuh kaki meja kecil di lorong dan menimbulkan bunyi pelan.
Gerakan air di dalam berhenti.
"Siapa?"
Aku menahan napas. Berbohong bukan kebiasaanku, tetapi mengaku berdiri di depan pintunya pada tengah malam akan membuatnya ketakutan dan menimbulkan masalah yang lebih besar.
"Kucing," jawab seorang pekerja dari kamar ujung, masih setengah tidur. "Tadi masuk dari jendela dapur."
Sekar tidak menyahut lagi. Air kembali beriak.
Aku mundur sampai tikungan lorong, baru mengembuskan napas.
Tanganku masih memegang gelas kosong. Jari-jariku mengencang di sekelilingnya sampai buku-bukunya sakit.
Apa sebenarnya yang dia lakukan pada dirinya?
***
Aku kembali ke kamar, tetapi tidak menyalakan laptop. Kubuka pintu balkon agar udara malam masuk. Dari sini, atap bagian pekerja tampak gelap. Tak ada yang menunjukkan bahwa di bawah sana seorang perempuan sedang berjuang menyembunyikan sesuatu dari seluruh rumah.
Aku mengingat piringnya yang setengah kosong.
Kemungkinan pertama, ramuan itu berbahaya dan dia kecanduan. Namun tangannya tidak pernah gemetar kecuali saat ketakutan. Dia bekerja stabil, merawat Arka dengan prosedur rapi, dan tidak pernah terlihat kehilangan kesadaran.
Kemungkinan kedua, dia punya penyakit yang disembunyikan karena takut kehilangan pekerjaan. Itu lebih masuk akal, tetapi tidak menjelaskan aroma yang muncul dari kulitnya atau mengapa dia sengaja menahan makan.
Kemungkinan ketiga, seluruhnya berkaitan dengan alasan dia melarikan diri dari desa.
Aku mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Bayu. Dia kepala keamanan keluarga sekaligus satu dari sedikit orang yang tidak akan menyebarkan urusan pribadi.
Jempolku berhenti di atas papan ketik.
Memeriksa latar belakang pekerja rumah adalah hal wajar. Mengusut masa lalu seorang perempuan diam-diam karena aku tidak bisa berhenti memikirkannya adalah hal berbeda.
Aku membuka data pegawai yang dikirim pengelola rumah. Nama lengkapnya Sekar Ayu Lestari. Dua puluh dua tahun. Alamat KTP masih di Desa Sukorejo. Kontak darurat hanya Bu Tumi, bukan ayah atau saudara. Kolom riwayat pekerjaan kosong.
Tidak ada surat pengalaman. Tidak ada rekening bank sebelum dibuatkan untuk gaji. Tidak ada keluarga yang mengantar. Seolah dia muncul di Surabaya hanya dengan satu tas lusuh dan tekad untuk tidak kembali.
Aku menutup file itu. Informasi resmi tidak menjelaskan apa pun, tetapi ruang kosongnya berbicara cukup keras.
Aku mengetik: Besok pagi, temui aku sebelum ke kantor.
Pesan terkirim.
Balasan Bayu datang satu menit kemudian: Siap. Ada masalah keamanan?
Aku tidak menjawab.
Di atas meja, laporan proyek menunggu. Aku memaksa diri membaca, tetapi kalimat-kalimatnya kembali kabur. Yang terlihat justru cara Sekar memeluk botol itu, seolah benda kecil tersebut satu-satunya pagar antara dirinya dan bencana.
Jika dia menyembunyikan penyakit, aku perlu memastikan Arka aman.
Jika dia terancam seseorang, aku perlu tahu seberapa dekat ancaman itu.
Jika dia menipu keluarga kami, aku akan menemukannya.
Alasan terakhir seharusnya paling kuat. Anehnya, justru itu yang paling sulit kupercaya.
Pukul dua, aku turun lagi. Kali ini bukan untuk air. Aku ingin memastikan pintu samping terkunci, sungguh-sungguh, lalu kembali tanpa melewati kamarnya.
Lorong belakang sepi. Aroma manis telah memudar. Ketika sampai dekat kamarnya, lampu di dalam padam dan pintu kini tertutup.
Tanganku menyentuh gagang pintu di sisi lorong, bukan pintu kamarnya. Logamnya dingin. Kunci samping terpasang dengan benar.
Aku berdiri di sana sambil menatap daun pintu kamar Sekar dari kejauhan.
Tiga hari lalu, aku memilih membiarkannya menyimpan botol karena wajahnya meminta waktu. Malam ini, waktu itu habis.
Aku tidak akan mempermalukannya di depan siapa pun. Aku juga tidak akan merebut barangnya atau memaksanya bicara di tengah malam. Namun besok, aku akan mencari fakta. Setelah itu, aku akan menanyakannya langsung.
Pagi nanti Bayu bisa mulai dari pemeriksaan yang tidak melanggar batas: memastikan apakah ada laporan orang hilang, utang yang membawa ancaman ke rumah, atau pihak desa yang sedang mencarinya. Aku tidak memerlukan gosip tentang tubuh atau masa lalunya. Aku hanya perlu mengetahui bahaya mana yang mungkin mengikuti langkahnya sampai gerbang kami.
Setidaknya itulah batas yang kutetapkan malam ini.
Aku menggenggam gagang pintu sampai telapak tangan mendingin.
Di balik pintu kamar yang tertutup, terdengar satu batuk kecil, lalu sunyi. Tubuhku bergerak setengah langkah sebelum akal sehat menghentikannya. Aku tidak mengetuk. Aku hanya berdiri sampai yakin tidak ada suara lain, kemudian memaksa diri kembali ke tangga.
Besok aku tidak akan lagi mengandalkan dugaan, aroma, atau satu pandangan curian yang seharusnya tidak kulihat. Aku akan meminta fakta, lalu memberinya kesempatan menjelaskan dengan caranya sendiri.
Apa pun yang Sekar sembunyikan, aku harus mengetahui kebenarannya sebelum rahasia itu melukai dirinya atau orang lain lebih jauh lagi nanti.