Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Davina Marah pada Adit
Pagi Hari di Rumah Davina
Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah gorden, jatuh tepat di wajah Zahra yang masih terlelap. Davina sudah bangun sejak subuh. Ia duduk di tepi tempat tidur, ponselnya masih tergenggam erat meski layarnya sudah gelap. Notifikasi dari Adit semalam masih membekas di memorinya, seolah-olah kata-kata itu tertulis permanen di retina matanya.
“Vina...”
Panggilan itu terasa seperti sentuhan fisik, hangat namun membakar. Davina menghela napas panjang, mencoba mengusir bayangan masa lalu yang tiba-tiba menyerbu masuk ke ruang aman kehidupannya sekarang. Ia bangkit pelan agar tidak membangunkan Zahra, lalu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Aroma kopi yang diseduh menjadi satu-satunya penghibur di keheningan pagi itu.
Namun, ketenangan itu pecah ketika ponselnya bergetar lagi. Bukan pesan teks kali ini, melainkan panggilan masuk. Nama 'Adit' kembali muncul di layar, disertai foto profil lamanya yang belum pernah ia ganti—foto mereka berdua di wisuda, tersenyum lebar tanpa beban tujuh tahun penyesalan.
Davina menatap layar itu. Jantungnya berpacu. Ia tahu ia harus mengangkatnya. Menunda hanya akan membuat kecanggungan itu menumpuk seperti debu yang tak tersapu. Dengan tangan gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo..." suaranya serak, belum sepenuhnya pulih dari tidur.
"Vina." Suara Adit terdengar berat, tapi ada nada lega yang tak bisa disembunyikan. "Kamu akhirnya angkat."
"Aku... aku baru bangun, Dit. Maaf," jawab Davina, matanya terpaku pada lantai dapur.
"Tidak apa-apa. Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja setelah... setelah kemarin." Jeda sejenak terdengar di ujung sana. "Dan soal lamaran kerja itu. Kamu sudah kirim?"
Pertanyaan itu mengalihkan suasana dari ranah emosional ke ranah praktis, sebuah tameng yang sering mereka gunakan dulu saat canggung. Tapi kali ini, Davina merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ada urgensi dalam suara Adit, seolah pekerjaan itu bukan sekadar tawaran karir, melainkan alasan sah bagi mereka untuk tetap terhubung.
"Sudah, Dit. Kemarin malam sebelum tidur," ucap Davina jujur.
"Bagus." Helaan napas Adit terdengar jelas. "Kalau begitu... nanti siang, bisakah kita bertemu sebentar? Di kafe dekat kantor lama kita? Aku ingin membahas detailnya. Dan... mungkin kita bisa bicara sedikit. Tanpa tekanan."
Davina menggigit bibir bawahnya. Bertemu lagi? Setelah malam yang penuh dengan pesan-pesan yang tak terbalas dan perasaan yang bergejolak? Tapi di sisi lain, menolak berarti menutup pintu yang baru saja diketuk dengan ragu oleh takdir.
"Baiklah," bisiknya akhirnya. "Jam berapa?"
"Jam 12. Aku tunggu."
Sambungan terputus. Davina menurunkan ponselnya, menatap pantulan dirinya di jendela dapur. Wajah itu terlihat lelah, tapi ada seberkas harapan kecil yang mulai menyala, rapuh namun nyata.
Apartemen Adit – Siang Hari
Adit berdiri di depan cermin kamar mandi, merapikan kerah kemejanya untuk kesekian kalinya. Ia merasa seperti remaja yang hendak pergi kencan pertama, padahal usianya sudah kepala tiga dan hatinya sudah berkali-kali patah. Pertemuan tadi siang bukan sekadar pertemuan bisnis atau pembicaraan masa lalu; ini adalah ujian. Ujian apakah tembok tujuh tahun itu benar-benar bisa ditembus, atau hanya ilusi sesaat.
Ia mengecek ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan baru dari Davina sejak konfirmasi tadi pagi. Rasa gelisah itu masih ada, tapi kini bercampur dengan tekad. Ia tidak akan membiarkan egonya merusak kesempatan kedua ini. Tujuh tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk disia-siakan hanya karena gengsi pria yang terluka.
Saat ia melangkah keluar apartemen, udara Jakarta terasa panas, tapi dadanya terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia memiliki tujuan yang jelas: bukan untuk menuntut penjelasan, bukan untuk menagih janji, tapi untuk memahami wanita yang kini bernama Davina, bukan lagi Vina miliknya dulu.
Kota A – Apartemen Rio
Rio duduk di meja makan, menatap botol suplemen vitamin yang diletakkan Siska di atasnya. Botol itu masih tertutup rapat, labelnya mengkilap terkena cahaya lampu dapur. Pesan Siska semalam masih terngiang di kepalanya, kalimat-kalimat yang penuh perhatian namun juga penuh dengan pengorbanan diam-diam.
"Aku takut kau mati."
Kalimat itu sederhana, tapi bobotnya luar biasa. Rio menyadari bahwa selama ini ia hidup dalam gelembung kesendiriannya, membiarkan orang-orang di sekitarnya terutama,Siska berusaha mengisi kekosongan itu dengan cara mereka sendiri. Ia menerima perhatian Siska bukan karena cinta yang membara, tapi karena rasa terima kasih dan kebutuhan akan kehadiran seseorang yang tidak menuntut balasan emosional yang sama.
Ia membuka botol vitamin itu, menelan dua kapsul dengan segelas air. Rasanya pahit, tapi ia telan bulat-bulat. Sama seperti perasaannya terhadap Siska: pahit karena bukan cinta sejati, tapi perlu ditelan agar ia bisa terus berfungsi, terus bertahan di kota asing ini jauh dari Davina dan masa lalunya.
Ponselnya berdering. Nama 'Siska' muncul di layar. Rio menatapnya sejenak sebelum mengangkat.
"Halo, Sis."
"Rio... kamu sudah minum vitaminnya?" Suara Siska terdengar ceria, penuh harap.
"Sudah. Terima kasih, Sis. Kamu nggak perlu repot-repot antar setiap hari, aku bisa ambil sendiri kalau habis."
Ada jeda singkat di ujung sana. Siska mungkin sedikit kecewa karena penolakannya yang halus, tapi ia cepat-cepat menyembunyikannya. "Nggak repot kok, Rio. Aku kan memang mau ke daerah situ. Lagipula... aku senang bisa bantu kamu."
Rio tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Kamu terlalu baik, Sis. Suatu hari nanti, kamu akan menemukan seseorang yang pantas menerima kebaikanmu sepenuhnya. Bukan pria rusak sepertiku."
"Jangan bilang begitu, Rio," potong Siska lembut. "Kamu bukan rusak. Kamu cuma... sedang proses. Dan aku nggak keberatan menunggu proses itu."
Rio terdiam. Kata-kata Siska selalu begitu menenangkan, sekaligus menyesakkan. Ia tahu Siska tulus. Dan justru ketulusan itulah yang membuatnya merasa bersalah setiap hari. Ia menggantungkan hidupnya pada wanita yang mencintainya, sementara hatinya masih tersangkut di masa lalu bersama Davina—wanita yang bahkan tidak lagi memanggil namanya dengan sayang.
"Aku harus kerja dulu, Sis. Nanti aku kabari ya."
"Oke, Rio. Hati-hati. Aku doakan harimu lancar."
Setelah sambungan putus, Rio meletakkan ponselnya di meja. Ia menatap botol vitamin itu lagi. Proses, pikirnya. Ya, mungkin ini memang prosesnya. Proses belajar menerima cinta yang berbeda bentuk, proses belajar melepaskan masa lalu, atau mungkin... proses menunggu sampai ia benar-benar siap untuk mencintai lagi. Entah itu Siska, atau siapa pun yang takdir siapkan untuknya.
Kafe Dekat Kantor Lama – Jam 12.00
Davina datang lima menit lebih awal. Ia memilih meja di sudut, jauh dari keramaian, tempat di mana mereka bisa bicara tanpa merasa diawasi. Tangannya memegang tas jinjingnya erat-erat, jari-jarinya memutih. Ia sudah memesan teh hangat, uapnya mengepul pelan, menari-nari di udara dingin ruangan ber-AC.
Ketika bel pintu berbunyi, Davina langsung menoleh. Adit masuk, langkahnya mantap tapi matanya langsung mencari-cari. Saat pandangannya bertemu dengan Davina, ada kilatan sesuatu di matanya—kejutan, kelegaan, dan mungkin sedikit kekaguman yang tertahan. Davina terlihat berbeda dari tujuh tahun lalu. Lebih dewasa, lebih tenang, tapi juga lebih tertutup.
Adit berjalan mendekat, menarik kursi di hadapan Davina. "Hai," ucapnya pelan.
"Hai," balas Davina, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang.
Mereka saling memandang sejenak, mengukur jarak tujuh tahun yang terbentang di antara mereka. Tidak ada pelukan, tidak ada jabat tangan yang canggung. Hanya tatapan mata yang berusaha membaca cerita di balik wajah masing-masing.
"Kamu... kelihatan baik, Vina," ucap Adit akhirnya, memecah keheningan.
"Davina," koreksi Davina lembut, tanpa nada menegur. "Sekarang aku Davina."
Adit mengangguk perlahan, menerima koreksi itu sebagai bagian dari proses pengenalan ulang. "Maaf. Davina. Kamu kelihatan baik."
"Kamu juga, Dit."
Pelayan datang membawa menu, memberi mereka jeda sejenak untuk bernapas. Setelah pelayan pergi, Adit membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebuah folder tipis. "Ini detail posisi yang aku tawarkan. Gajinya sesuai standar industri, benefit lengkap, dan... lokasinya tidak jauh dari sekolah Zahra."
"Aku ingin memastikan tawaran ini benar-benar cocok untukmu. Bukan sekadar lowongan kosong yang butuh diisi."
Davina menatap Adit, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan kemarin, ia melihat pria yang dikenalnya dulu ,pria yang peduli, yang memperhatikan detail, yang berusaha memahami sebelum bertindak. Air matanya hampir menetes, tapi ia tahan. Ia tidak ingin menangis di sini, tidak sekarang.
"Terima kasih, Dit," ucapnya, suaranya bergetar halus. "Ini... sangat berarti bagiku."
"Bukan untukmu saja, Davina," lanjut Adit, menatap mata Davina lekat-lekat. "Tapi untuk Zahra putrimu. Untuk memulai lagi. Bukan terbelenggu di masa lalu dengan mantan suamimu.
"Darimana ....kamu tahu?" Ucap Davina dahinya mengkerut bibitnya terasa kelu saat mengucapkan kata itu.Belum banyak yang tahu kalau ia sudah berpisah dengan Rio mantan suaminya.
Adit yang tidak sadar, ia menggali lobang kematian untuk dirinya sendiri.Adit menghela napas panjang.
"Aku hanya menebak saja " Ucap Adit.
"Menebak katamu, bohong ! Ucap Davina marah.
Raut wajah kini berubah jadi jutek, Davina marah terhadap Adit.Davina terkejut adit tahu darimana.Ia mengepalkan tangannya menahan sesuatu.
Adit gelagapan saat itu juga, Ia menatap dalam manik mata Davina.Mata davina sudah mulai berkaca - kaca dan itu adalah ulah dirinya sendiri.
Suasana semakin tegang, Adit mulai menjelaskan bagaimana ia bisa tahu.Adit mengatakan semua dengan jujur.Tanpa ada sedikit yang terlewat dan tidak ada kebohongan didalamnya.Adit mengakui bahwa ia mencari tahu segalanya tentang Davina.
" lain kali tolong jangan ikut campur urusan orang! " permisi....Ucap Davina.
Davina berdiri, matanya dan adit saling bertemu.Adit telah membuat gemircik api terhadap Davina , dan membuka luka itu kembali.
Di luar kafe, kota Jakarta terus bergerak, sibuk dengan jutaan cerita manusia lainnya. Tapi di dalam kafe kecil itu, dua jiwa yang pernah terpisah oleh waktu dan luka, Adit telah menggali lobang kematian untuk dirinya sendiri.
Dan di suatu tempat di Kota A, seorang pria menelan vitamin pahit sambil memikirkan wanita yang ia cintai,apalagi ia sudah terlalu ikut campur. sementara di kediaman Siska, seorang wanita tersenyum pada ponselnya, puas dengan kemajuan kecil yang ia capai hari ini.
Cerita mereka belum berakhir. Mungkin justru baru saja dimulai, dengan babak baru yang penuh ketidakpastian, tapi juga penuh kemungkinan.