NovelToon NovelToon
Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Sikap Sang CEO Utama

Pagi hari di kantor pusat Baskoro Group Sudirman dimulai dengan atmosfer yang terasa jauh lebih hangat bagi tim DKV Surabaya. Meski proyek rebranding visual anak perusahaan mereka tetap berjalan di bawah standar eksekutif yang ketat, ketegangan dingin yang sempat mengunci ruang rapat utama kini telah mencair seutuhnya. Rekonsiliasi emosional antara Anya dan keluarganya semalam seolah-olah membawa energi baru yang mengikis habis perisai es di lantai tertinggi gedung pencakar langit tersebut.

Pukul sembilan pagi, Anya duduk di ruang kerja transparan yang disediakan khusus untuk tim inti mahasiswa. Dia sedang mencocokkan beberapa dokumen cetak warna primer untuk kemasan kontainer logistik yang baru. Penampilannya hari ini memancarkan aura wanita dewasa yang cerdas sekaligus memikat. Anya mengenakan blus sutra berwarna putih gading dengan kerah v-neck yang elegan, dipadukan dengan rok span hitam di atas lutut yang menonjolkan tinggi badannya yang proporsional 165 cm dengan berat 55 kg. Rambut panjang lurusnya yang hitam legam dibiarkan tergerai rapi, jatuh melewati bahunya yang putih cerah.

"Anya, coba lihat ke arah meja resepsionis depan koridor kita," Ririn tiba-tiba menyenggol lengan Anya dengan wajah penuh binar penasaran dan senyuman menggoda.

Anya mendongak, mengalihkan pandangannya dari layar tablet grafis. Di depan pintu kaca ruang kerja mereka, seorang staf katering dari restoran kelas atas sedang menata beberapa kotak boks makanan premium berwarna hitam emas, lengkap dengan dua teko termos berisi kopi premium dan jus stroberi segar.

"Itu kiriman dari meja CEO utama, Nona Anya," ujar staf katering tersebut dengan sikap hormat setelah mengetuk pintu. "Pak Edgard berpesan agar seluruh tim inti menikmati sarapan dan kopi ini sebelum melanjutkan pengerjaan desain maket siang nanti. Beliau juga menitipkan ini khusus untuk Anda."

Staf itu meletakkan sebuah cangkir keramik khusus berwarna merah marun di atas meja kerja Anya, bersebelahan dengan kotak sus kecil yang masih hangat—kue sus rasa stroberi kesukaannya. Begitu teko termos dibuka, aroma manis buah stroberi segar langsung memenuhi seisi ruangan, mengusir sisa keheningan ruangan yang dingin.

Ririn langsung menangkupkan kedua tangannya di dagu dengan wajah berseri-seri. "Wah, Pak Edgard benar-benar luar biasa! Kemarin membela kita habis-habisan di depan Dewan Komisaris, lalu sekarang mengirimkan sarapan mewah untuk satu tim. Nya, sepertinya perhatian beliau ini sudah tidak bisa dibilang sekadar urusan profesional kemitraan bisnis Papa lagi, deh."

Anya melirik cangkir merah marun dan kue sus stroberi di hadapannya. Sebuah senyuman tipis yang manis dan tulus—senyuman yang selama setahun lebih menghilang dari wajah cantiknya selama di Surabaya—perlahan mengembang di bibirnya. Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan denyutan hangat yang menyenangkan mulai bertahta kembali di ulu dadanya.

"Sudahlah, Rin. Habiskan saja makananmu, jangan banyak mengoceh," jawab Anya dengan nada suara baritonnya yang tenang namun terdengar sangat lembut, menyembunyikan rona merah samar yang mulai muncul di kedua pipi putih cerahnya.

Pukul dua siang, agenda evaluasi tengah proyek resmi digelar di ruang rapat utama dewan direksi. Anya berdiri di depan podium digital dengan kepercayaan diri yang mutlak, memaparkan hasil simulasi visual logo baru Baskoro Logistic yang akan dipasang pada armada truk kontainer jalur lintas Jawa-Sumatra. Penjelasannya yang taktis dan lugas berkali-kali membuat dua orang manajer operasional yang hadir mengangguk puas.

Edgard Baskoro duduk di kepala meja eksekutif dengan setelan jas hitam custom-tailored yang melekat sempurna pada tubuh tegap atletisnya. Struktur wajahnya yang tampan dengan garis rahang tegas khas keturunan oriental-modern mirip Daniel Henney tampak sangat berwibawa. Namun, siang ini, sepasang mata elangnya yang biasanya tajam dan sedingin es tidak lagi memancarkan keangkuhan korporat. Tatapan Edgard terkunci sepenuhnya pada sosok Anya dengan sorot mata yang sarat akan kehangatan, kebanggaan, dan debaran rasa suka yang teramat dalam—sebuah tatapan dari seorang pria dewasa yang kini telah bertransformasi menjadi sosok yang sepenuhnya "bucin" secara elegan.

Setiap kali Anya membalik salindia presentasi, atau saat jemari lentik wanita itu merapikan helai rambut panjang lurusnya yang jatuh di dekat rahang, sudut bibir Edgard akan melengkung membentuk senyuman tipis yang teramat tulus. Dia tidak lagi membelakangi Anya seolah-olah wanita itu adalah pengganggu; sebaliknya, Edgard kini bertindak sebagai pelindung utama yang siap memastikan tidak ada satu pun orang di ruangan ini yang berani meragukan kapasitas kerja sang ketua tim desain.

"Konsep eksekusi ini sudah sangat matang. Pihak operasional bisa langsung memulai proses pencetakan stiker vinil skala besar mulai besok pagi," titah Edgard dengan suara baritonnya yang berat dan penuh penekanan mutlak, menutup rapat evaluasi sore itu.

Setelah para manajer dan anggota tim mahasiswa yang lain melangkah keluar dari ruang rapat untuk merapikan alat cetak, keheningan yang nyaman kembali menyelimuti ruangan yang luas itu, menyisakan Anya dan Edgard yang masih berdiri di dekat podium digital.

Anya memasukkan laptopnya ke dalam tas ransel kulit hitamnya dengan gerakan yang teramat anggun. Dia mendongak perlahan, mengunci pandangan matanya tepat pada manik mata elang Edgard yang kini berjalan mendekatinya dengan langkah tegap yang teratur.

"Terima kasih atas kiriman sarapan dan kue sus stroberinya pagi tadi, Pak Edgard," ucap Anya. Nada suaranya tidak lagi menggunakan penekanan sarkas atau sedingin es seperti hari-hari lalu di Surabaya; suaranya kini terdengar begitu tenang, dewasa, namun memiliki kelembutan yang samar.

Edgard menghentikan langkahnya tepat satu meter di hadapan Anya. Aroma maskulin yang khas bercampur wangi kopi premium dari tubuh tegapnya seketika memenuhi udara di sekitar mereka. Dia menatap wajah cantik Anya dengan senyuman lembut yang menghapus seluruh sisa keangkuhan masa lalunya.

"Sama-sama, Anya," jawab Edgard dengan suara yang serak dan bergetar tulus. "Saya hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak lagi melewatkan sarapan pagi seperti saat awal-awal kamu tiba di Surabaya dulu. Dan mengenai panggilan 'Pak'... apakah perisai di hatimu benar-benar belum bisa mengizinkan saya untuk mendengar kamu memanggil nama saya seperti dulu kembali?"

Anya tertegun sejenak mendengar permohonan tulus dari seorang CEO utama yang paling ditakuti di dunia bisnis ibu kota itu. Dia memandangi garis wajah kokoh Edgard yang tampak melunak di bawah bias cahaya senja Jakarta yang temaram menerobos dinding kaca besar. Keretakan pada dinding es di hati Anya kini telah runtuh sepenuhnya, menyisakan ruang hangat yang siap menerima babak baru perjuangan cinta mereka.

Anya menyandang tas ransel kulitnya di pundak, lalu melangkah berjalan melewati Edgard menuju pintu keluar. Namun, tepat saat tubuh proporsionalnya berada di samping bahu tegap Edgard, Anya menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh.

"Terima kasih untuk semuanya... Kak Edgard," bisik Anya dengan nada suara yang sangat lirih namun teramat manis, sebelum melanjutkan langkah kakinya berjalan keluar dari ruang rapat dengan keanggunan yang memikat.

Mendengar panggilan 'Kak Edgard' kembali keluar dari bibir indah Anya setelah empat ratus hari lamanya terkurung dalam keheningan dingin, Edgard Baskoro terpaku di tempatnya berdiri. Jantung pria dewasa itu berdegup dengan ritme yang sangat liar, memancarkan rasa bahagia yang begitu membuncah di dalam dadanya. Dia berbalik menatap pintu yang tertutup dengan binar mata elang yang menyala terang, menyadari bahwa di bawah langit Jakarta malam ini, langkah awal perjuangannya untuk memenangkan kembali hati sang mantan pengagum rahasia telah membuahkan hasil yang teramat manis, dan dia bersumpah tidak akan pernah melepaskan wanita itu lagi dari pelukan hidupnya.

1
Adinda
visualnya bule thor
Alia Chans
Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭
Irene: 😍🤭🤭 judulnya apa ya?
total 1 replies
Skyline Scribe
mampir kak
semangat nulisnya 💪
Irene: Terimakasih kak 😍
total 1 replies
Irene
😍😍😍
Irene
Semangat Anya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!